
"Cewek itu kenapa tiba-tiba tertawa begitu keras, huh?" Tiba-tiba ada seorang pengunjung wanita paruh baya yang bertanya seperti itu-pertanyaan klise yang seolah berhasil mewakili isi pikiran semua orang yang berada di café.
'Memalukan.' Satu kata yang terlintas dipikiran Keysa saat ini, dia memaksakan bibirnya untuk tersenyum canggung saat sadar akan kesalahannya. Seketika dia mengedarkan pandangannya keseluruh isi café. 'Maaf.' satu kata itulah yang terucap dari bibir mungilnya.
Tak lama kemudian pengunjung tidak lagi menolehkan wajahnya kearah Keysa dan mulai sibuk lagi dengan kegiatannya masing-masing. Kedua telapak tangan Keysa terangkat untuk menutup mukanya yang sudah memerah karena menahan malu. Kedua sikunya dia gunakan untuk menumpu kedua lengan tangannya. Saat ini sebenarnya dirinya benar-benar malu serta kesal kepada semua orang, terutama kepada David yang sudah memancingnya untuk tertawa keras-keras.
Disamping itu, David terkekeh geli saat melihat sekilas wajah Keysa yang tadi terlihat memerah seperti kepiting rebus. Kenapa Keysa kalau seperti ini jadi terlihat menggemaskan sekali? David bertanya dalam hati.
Satu menit telah berlalu, Nindhi datang-menghampiri keduanya dengan senyuman lebar yang terukir pada wajahnya. Sekarang Nindhi memandang David dan Keysa secara bergantian. "I'm coming guys!" Nindhi memekik dengan pelan dengan suaranya yang terdengar merdu di kedua telinga Keysa dan David.
"Iya Nindhi cantik, silahkan duduk di samping abang ganteng ya," David menyahut seraya melemparkan senyum genit untuk Nindhi.
Nindhi melirik David sekilas, sebelum dia menarik salah satu kursi dan langsung duduk disamping sahabatnya seraya menggerutu dengan sebal. "Emang dasar lo ya, playboy cap alien," Nindhi menyelutuk seraya menunjuk David dengan jari telunjuknya yang lentik. Jujur saja Nindhi sangatlah benci dengan playboy seperti David, menurutnya play boy seperti David itu harus dimusnahkan dimuka bumi ini karena bisa membahayakan para perempuan.
David mencibir pelan seraya menggeleng-gelengkan kepalanya kesana-kemari saat mendengar tiga kata yang menurutnya enggak banget. 'Playboy cap alien?' Sebutan apa itu? Ya, David mengakui kalau dirinya itu seorang cowok playboy, tetapi kenapa semua cewek suka mengecapnya dengan kata 'alien', kenapa harus alien coba? Tidak adakah sebutan yang lebih bagus dari pada 'alien'?
Apakah karena mukanya itu yang seperti alien? Hell no. Muka David sama sekali tidak mirip alien, ya! Yang ada mukanya yang terlihat tampan itu mirip dengan aktor Korea yang kini tengah naik daun, bahkan sangat mirip sekali. Terkadang David juga merasa sedih jika dicap 'alien'. Ya wajar saja dirinya sedih, sebutan 'alien' menurutnya sangatlah jelek, lebih jelek dari apapun itu. Faktanya memang begitu, bukan?
Keysa memutar bola matanya dengan malas, dia mengangguk setuju. "Gue setuju sama lo, Nin," Timpalnya seraya menarik salah satu sudut bibirnya.
David merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin. Dia menyisir rambutnya kebelakang dengan menggunakan jari-jemari tangannya yang kekar. Sedetik kemudian dia menolehkan wajahnya secara bergantian kearah kedua gadis cantik itu. David hanya tersenyum pasrah. "Iya deh, kalian emang selalu benar, dan gue yang selalu salah," timpalnya sebelum menghela nafas berat.
Cowok itu harusnya selalu mengalah dengan cewek, bukan?
Sedetik kemudian Keysa dan Nindhi saling menoleh satu sama lain seraya tersenyum kemenangan. Entah kenapa mereka berdua suka membully David. Bukan membully beneran-hanya sekedar bergurau tidak lebih, dan jangan lupakan mereka berdua sangatlah tidak suka cowok yang super kepedean seperti David.
"Cowok emang kodratnya itu selalu salah!" Keysa menyahut gembira seraya mengetuk-ngetuk meja dengan kuku lentiknya.
Perkataan Keysa barusan memang benar, bukan?
Refleks Nindhi mengangguk setuju.
Sedetik kemudian tawa Nindhi dan Keysa pecah. Mereka berdua tertawa bersamaan. Sedangkan David hanya memutar bola matanya malas, raut wajahnya berubah menjadi kesal. Dia menggerutu didalam hati. Dia terheran-heran dengan apa yang saat ini dia pikirkan. 'Kenapa cewek sangat suka menyalahkan cowok?' Pertanyaan itulah yang tiba-tiba terlintas diotaknya. Apakah cewek tidak sadar jika 'dia' pun juga bersalah? Sungguh, David tidak mengerti lagi dengan cewek zaman sekarang yang menurutnya sangatlah aneh. Tidak mau disalahkan, tetapi selalu menyalahkan.
'Pasti mereka dua telat karena dandan dulu, makanya lama banget' Batin Keysa dalam hati
Sherly menarik kursi yang letaknya tepat berada disamping David, dia menatap Keysa, David, dan Nindhi bergantian, dia mengernyitkan dahinya bingung, "Kenapa lo semua lihatin gue kaya gitu, huh?" Sherly bertanya dengan nada yang terdengar sangat angkuh, menatap Keysa dan Nindhi dengan tatapan yang terlihat sinis.
"Bibir lo merah banget anjir, melebihi cabe tau, nggak?" David bertanya dengan gemas. "Masih mending cabe bisa dimakan, lha ini bibir lo gak bisa dimakan, anjir!" lanjutnya terus terang. Tiba-tiba jari telunjuknya terangkat untuk menyentuh bibir merah milik Sherly yang sangat menggoda imannya.
Keysa dan Nindhi hanya mengangguk pelan, menyetujui perkataan David barusan.
Sherly menggeram marah. Sejujurnya dia tidak suka dengan cibiran David yang dilontarkan untuknya. Memang siapa dia yang berani-beraninya mengkritik dirinya, huh? Sedetik kemudian ditepisnya jari telunjuk milik David itu dengan kasar, dia tidak suka disentuh oleh cowok sembarangan, tak terkecuali David.
David menunduk, menatap jari telunjuknya yang terkena sedikit polesan lipstick merah milik Sherly, seketika matanya melebar. "Aduh, jari telunjuk gue jadi merah kan gara-gara lo," David berprotes kesal, nada bicaranya terdengar sangat pank.
Sherly menyeringai tajam, dia menolehkan wajahnya kearah David, lalu dia mengangkat sedikit dagunya dengan angkuh. "Siapa suruh sentuh-sentuh bibir gue," Sherly menyahut dengan santainya. Kedua tangannya dia lipat didepan dada. Sungguh, menurut Sherly semua orang yang sedang bersamanya saat ini sangat menyebalkan, terlebih lagi David. Kecuali Rosa—yang nota bene-nya adalah sahabatnya sendiri.
Rosa melirik sekilas kearah David yang masih memandang jari telunjuknya itu. "Ya iya lah! Orang itu lipstick mahal, ya nggak, Sher?" Tanya Rosa seraya memandang lekat Sherly. Rosa mengangkat salah satu alisnya, meminta persetujuan dari Sherly yang masih menyeringai mengerikan.
Sherly mengangguk setuju. Ya, memang faktanya seperti itu, lip sticknya itu limited edition, yang harganya sangat mahal. Tidak heran jika Sherly suka membeli barang yang mahal, toh daddynya sangat kaya raya, jadi Sherly bebas membeli apa yang dia mau tanpa memperdulikan harganya.
"Ya iya dong," Sherly menyahut dengan nada yang terdengar sombong.
Nindhi memutar bola matanya jengah, dia tidak suka orang yang sombong, bahkan sangat tidak suka. "Idih, sombong banget sih jadi orang, gue juga bisa beli lipstick yang merknya sama kayak punya lo juga keles!" Nindhi menyindir pedas seraya menatap kearah salah satu pelanggan yang sedang asyik mengobrol dengan temannya.
Sherly menoleh kearah Nindhi, lalu dia terkekeh pelan. "Lo nyindir gue?" Sherly bertanya seraya menunjuk dirinya sendiri. Karena sejujurnya dia sudah tahu bahwa selama ini Nindhi sangat membencinya, terlebih membenci kesombongannya. Ya, Sherly akui dirinya itu memang sombong, tetapi masalahnya dengan Nindhi apa, huh?
Nindhi mengendikan bahunya dengan acuh. "Oh, perasaan gue enggak nyindir kok, kalau lo ngerasa sih bodo amat, ya," Nindhi menyahut tidak mau kalah. Namun kedua bola matanya masih saja menatap beberapa pelanggan yang tengah berlalu lalang. Jujur saja, dia sama sekali tidak ingin melihat wajah Sherly yang sekarang memerah karena menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubunnya.
Seketika Sherly menggeram marah, dia tidak terima saat dibilang sombong walaupun faktanya memang seperti itu. Sontak saja Sherly langsung beranjak dari duduknya dan berniat untuk mengajak Nindhi baku hantam di café ini sekarang juga. Sebelum kaki Sherly terayun, David terlebih dahulu mencekal pergelangan tangan milik Sherly. David sudah mempunyai firasat tidak enak. Alhasil Sherly tidak bisa menghampiri Nindhi.
"Lepasin! Jangan pegang-pegang gue!"