We Are Together

We Are Together
Tiga puluh empat



Keysa tiba-tiba menjadi was-was sendiri.


Keysa mendorong pintunya dengan kaki kanannya karena kedua telapak tangannya digunakan untuk memegang toples dan botol berisi air mineral.


Sontak Keysa terperanjat kaget, kedua matanya melotot, mulutnya menganga lebar ketika melihat gadis berambut panjang tengah duduk di sofa milik Keysa yang berwarna biru. Keysa tidak tahu gadis itu siapa, karena posisinya sedang duduk membelakanginya. Lidah Keysa mendadak terasa kelu untuk berbicara.


Bukannya tadi di kamar gue nggak ada orang sama sekali, ya?


Tapi kenapa sekarang ada seorang gadis di kamar gue, huh?


Keysa mengerjapkan matanya beberapa kali.


Gadis yang gue lihat itu orang, bukan?


Tidak mungkin jika gadis itu adalah hantu?


Siapa gadis itu?


Apakah gadis itu yang berhasil membangunkan gue dengan cara menoel-noel pipi gue?


Apakah gadis itu juga yang ngeberantakin buku-buku gue?


Dan apakah gadis itu juga yang telah memakan dua bungkus yang berisi snack yang gue taruh di atas nakas, ya?


Seperti itu lah pertanyaan-pertanyaan yang tiba-tiba terlitas dibenak Keysa.


Keysa menutup mulutnya rapat-rapat agar tidak menjerit, dia terlebih dahulu memejamkan matanya sebentar, sebelum mengayunkan kakinya menghampiri gadis berambut panjang yang masih duduk di sofa kamarnya.


Dengan perlahan Keysa membuka kedua kelopak matanya.


Deg.


Refleks jantung Keysa kini mendadak berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Sontak matanya membulat, dahinya mengernyit karena bingung, dan mulutnya menganga lebar karena tidak percaya apa yang terjadi sekarang. Di mana gadis itu? Kenapa tiba-tiba gadis itu menghilang? Ah menakutkan sekali. batinnya.


Keysa mengedarkan pandangannya lagi, tetapi dia tidak kunjung melihat gadis berambut panjang itu lagi. Keysa menelan ludahnya dengan kasar, dia masih tidak percaya apa yang dia lihat. Seketika bulu kuduknya kembali berdiri.


Dia mengeleng-gelengkan kepalanya pelan untuk mengusir pikiran negatifnya. Keysa mengerjapkan matanya beberapa kali untuk menetralkan detak jantungnya yang berpacu lebih cepat dari sebelumnya. Mungkin Keysa hanya sedang berhalusinasi saja?


Tiba-tiba Keysa merasakan kedua tangan seseorang yang melingkari perut ratanya. Tubuh Keysa seketika menegang. Keysa kembali memejamkan matanya kembali, dia berdoa dalam hati. Keysa berusaha menguatkan dirinya sendiri supaya tidak takut. Keysa juga berusaha meyakinkan dirinya kalau yang memeluknya dirinya dari belakang itu adalah orang dan bukan hantu.


"Tegang amat sih, kak," Gadis berambut panjang itu berujar seraya tertawa lebar, sesekali gadis itu mengusapkan kepalanya ke punggung Keysa. Gadis berambut panjang itu sepertinya sangat nyaman dengan posisinya yang sekarang tengah memeluk Keysa dari belakang.


Keysa menatap sofa itu dengan tatapan kosong. Tunggu-tunggu suaranya terasa familiar di telinganya. Ah, ralat, maksudnya sangat familiar. Keysa berusaha mengingat-ingat suara itu, namun dia tidak kunjung ingat.


Gadis cantik berambut panjang itu melepaskan kedua tangannya dari perut rata milik Keysa, lalu dia mengayunkan kakinya menuju di hadapan Keysa, dia tersenyum manis kearah Keysa.


Sementara Keysa? Dia hanya diam membeku diposisinya. Lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan sepatah katapun. Ya, sekarang Keysa ingat. Gadis cantik itu adalah anak perempuan tantenya. Nama lengkapnya adalah Alletta Quenby Zephyr—akrab dipanggil Letta. Seorang gadis cantik nan tomboy yang mempunyai seribu pesona. Dia sekarang masih kelas sembilan SMP, Letta tinggal dan sekolah di Bangkok, Thailand.


Keysa tidak habis fikir dengan Letta, bagaimana bisa dia sekarang berada di kamarnya.


Bukankah dia tinggal di Bangkok, Thailand?


Sejak kapan dia datang ke Indonesia?


Dan sama siapa, huh?


Ah, entah lah, Keysa pun tidak tahu itu.


Letta tersenyum tipis, kedua telapak tangannya terulur untuk mengambil alih toples berisi biskuit butir coklat dan sebotol minuman dingin. "Makasih kak, udah diambilin camilan plus minumannya," ucap Letta seraya mengedipkan salah satu matanya, lalu dia memutar tubuhnya dan berjalan santai menuju sofa milik Keysa.


Sedangkan Keysa? Dia hanya diam seperti orang cengo. Sedetik kemudian Keysa tersadar, bahwa Alletta si gadis cantik nan tengil itu yang telah mengerjai dirinya. Keysa tidak menyangka, bahwa Alletta sekarang sudah besar sudah besar dan sangat cantik mirip dengan mamahnya. Terakhir dia bertemu dengan Alletta saat Alletta masih kelas lima SD.


Alletta tidak menghentikan langkahnya, dia tetap berjalan santai. Dia juga tidak menghiraukan perkataan Keysa barusan, dia hanya terkekeh geli saat mendengar perkataan Keysa.


Keysa mengerucutkan bibirnya dengan lucu, kenapa gadis itu nakal sekali?


Emang Alletta anaknya wajar, ya? Wajib di hajar, maksudnya. Batinnya dalam hati.


Keysa sontak langsung membuntuti Alletta. Sesekali dia menggerutu kesal. Namun matanya tidak lepas dari Alletta yang tengah berjalan santai tanpa merasa bersalah sedikitpun kepada Keysa.


Alletta duduk di sofa, lalu dia membuka toples yang berisi biskuit dan diambilnya salah satu biskuit coklat, Alletta hanya melihat Keysa sekilas seraya memasukan biskuit coklat itu kedalam mulutnya dengan gerakan santai.


Sedetik kemudian Keysa tersenyum tipis. Telapak tangan kanannya terulur untuk mengambil salah satu bantal yang berada diatas ranjang miliknya. Keysa berusaha setenang mungkin agar tangannya tidak terayun melemparkan bantal yang sedang dia pegang kearah Alletta.


Alletta menjulurkan lidahnya kearah Keysa, tanda mengejek dan berhasil membuat Keysa menjadi naik pitam sendiri.


"Dasar anak nakal!"


Keysa menggeram pelan sebelum melemparkan bantal yang dia pegang itu kearah Alleta yang masih terlihat asyik mengunyah biskuit coklat milik Keysa. Keysa mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi lalu dia melemparkannya tepat kearah Alletta. Dengan sigap Alletta menangkap bantal milik Keysa. Dia tertawa lebar saat melihat wajah Keysa yang terlihat kesal. Berikutnya Alletta berjalan mendekat kearah Keysa. Dia menaruh bantal Keysa di tempatnya semula, lalu dia duduk diatas kasur queen size milik Keysa—tepatnya dia kini duduk disamping Keysa.


Keysa mengatur ritme napasnya yang tidak beraturan, kedua telapak tangannya mencengkram erat kasur queen size-nya. Keysa menoleh malas kearah Alletta. "Kok lo kek hantu sih, Ta? Seneng banget deh lihat gue ketakutan. Dasar anak nakal!"


Sontak Alletta langsung menoleh kearah Keysa, dia mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Bagaimana bisa wajahnya yang cantik nan imut ini dibilang mirip hantu, huh? Dia mengeleng-gelengkan kepalanya pelan. Sungguh Keysa benar-benar sangat menyebalkan memang.


Alletta merengek manja. "Ih, kok gue dibilang mirip hantu sih, kak?"


"Kak Keysa jahat!" sambungnya seraya bersedekap dada, lalu dia memalingkan mukanya kesamping.


Keysa mengulurkan tangan kanannya kearah pipi Alletta yang sedikit chubby, lalu dia mencubitnya dengan pelan. "Habisnya lo suka banget bikin gue jantungan, tau nggak?"


Alletta kembali menoleh kearah Keysa lalu dia menyengir kuda. "Kapan lagi bisa buat kak Keysa jantungan?" Alletta bertanya seraya menaik turunkan kedua alisnya, menggoda.


Keysa tersenyum licik lalu dia mengapit pipi Alletta dengan ibu jari dan jari telunjuknya lalu ditariknya dengan pelan. Ya, dia mencubitnya lagi.


"Aw! Udah kak! Udah! Sakit kak!" Alletta berusaha menghentikan cubitan dari Keysa, sesekali dia memukul-mukul pelan lengan Keysa.


Keysa tertawa lebar, dia sangat puas. Ah, ralat, maksudnya sangat puas sekali.


Haha, rasain lo gadis nakal. Batinnya.


Keysa menghentikan cubitannya dari pipi Alletta, terlihat pipi Alletta sedikit memerah karena ulah Keysa. Alletta mengusap-usap pelan pipinya. Sesekali ia meringis kesakitan.


"Makanya jadi gadis itu jangan nakal ya, Sayang? Karma masih berlaku," Keysa memberi saran seraya mengusap-usap pelan punggung Alletta.


Alletta sejenak. Sedetik kemudian dia berlari kecil menuju sofa, diambilnya toples dan botol dan dia kembali duduk dipinggir ranjang milik Keysa.


Keysa mengangkat telapak tangan kanannya untuk mengambil alih toples dari tangan Alletta.


"Lo, kapan kesini? Sama siapa, huh?" Keysa bertanya seraya memasukan biskuit coklat kedalam mulutnya.


Alletta menyengir kuda. "Eum, pengen tau apa pengen tau banget, kak?" Alletta bertanya balik seraya menaik turunkan kedua alisnya, menggoda.


"Nggak jadi." ketusnya seraya memasukan kembali biskuit coklat kedalam mulutnya.


Alletta menyenggol lengan Keysa pelan. "Idih... gitu aja ngambek,"


Keysa menggeleng pelan seraya mengunyah biskuit coklatnya. Alletta mengambil salah satu biskuit coklat didalam toples, lalu memasukannya kedalam mulutnya. "Gue tadi malam baru nyampe ke Indonesia kak, gue ke sini sama mamah,"


Keysa hanya ber-oh ria seraya mengangguk-anggukan kepalanya tanda dia paham.


Keysa menoleh kearah Alletta. "Coba cerita pas lo tadi ngerjain gue,"