
Sherly tersenyum samar, hampir tidak terlihat karena saking samarnya. "Cantik? Iya. Kaya? Iya. Pintar? Lumayan lah. Gue sebenarnya kurang apa sih? Kenapa Darel tidak kunjung cinta sama gue, huh?" tanyanya lirih.
Sherly mengambil sneakers miliknya yang berwarna putih bermotif bunga berwarna merah di rak sepatu lalu di pakainya dengan segera, lalu dia beralih mengambil tas selempang berwarna senada dengan cardigan yang dia pakai sekarang.
"Let's go!" Sherly memekik kecil, gembira.
Sherly yang sudah siap pun langsung membuka knop pintu kamarnya dan menutup pintu kamarnya kembali dari luar, lalu dia berjalan menuruni anak tangga. "Maybe, bang Varo pasti udah pulang dari tadi, sekarang kan hari sabtu, jadi bang Varo nggak latihan basket, pasti sekarang dia sudah berada didalam kamarnya," Sherly bergumam pelan seraya senyum-senyum sendiri.
Varo yang sedang asik memainkan ponselnya, tiba-tiba jadi terganggu akibat suara ketukan pintu di luar kamarnya itu.
Tok tok tok.
"Bang Varo!" Sherly memanggil nama kakaknya berulang kali tetapi tidak ada sahutan dari kakaknya yang sedang asik bermain ponsel itu.
"Berisik Sher, abang udah denger dari tadi, ganggu abang aja sih!" Varo berteriak dari dalam kamarnya, lalu dia menaruh ponselnya diatas nakas dan segera beranjak turun dari kasur king size-nya, dia langsung berjalan menuju pintu kamarnya, lalu dia membuka kunci pintunya, dan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa panggil-panggil abang terus? Pasti lo kangen gue, ya?" Varo bertanya dengan percaya diri seraya menaik turunkan alisnya.
Sherly memutar bola matanya dengan jengah, "Idih, ge-er banget lo bang!" Sherly menyahut, kesal.
Varo mengerutkan keningnya saat menatap adiknya keatas sampai kebawah. Dia heran, kenapa adiknya kali ini rapih sekali?
"Eh, sore-sore gini lo mau kemana, Sher?" Varo bertanya penasaran.
Sherly tersenyum. "Nah, itu dia bang, gue mau ijin pergi dulu sama lo,"
Varo menaikan alis tebalnya. "Emangnya lo mau pergi kemana?"
"Eum, main kerumah Darel, bang," Sherly menyahut bersemangat.
"Ya bang? boleh kan bang?" lanjutnya seraya memasang puppy eyes andalannya.
Jujur saja, Varo mudah luluh saat adiknya memohon seperti ini, apa lagi jika sudah memasang puppy eyes andalannya. Varo tidak ada pilihan lagi selain mengangguk mengiyakan permintaan Sherly, pasalnya dia tidak mau Sherly menjadi sedih, dia ingin adiknya itu selalu bahagia, kalau adiknya bahagia otomatis Varo juga ikut bahagia.
Sherly yang melihat Varo mengangguk pun langsung bersorak gembira, "Makasih abangku tercinta," Sahut Sherly, lalu dia mengecup pipi Varo dengan sayang. Sementara Varo? Dia hanya terkekeh geli melihat Sherly yang sedang gembira, atau bahkan sangat gembira?
"DADAH, BANG!" Sherly berteriak dari kejauhan.
Varo tersenyum seraya melambai-lambaikan tangannya saat melihat Sherly yang sudah berada didalam mobil berwarna orange kesayangannya. Sherly bergegas menancapkan gas dan melesat jauh dan membelah kota Jakarta, kota metropolitan. Sesekali dia menggerutu sebal karena sore hari pasti jalan raya selalu macet, kedua bola matanya tidak henti-henti memandang kendaraan dan orang-orang yang berlalu lalang, dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lima belas menit kemudian, Sherly sudah berada tepat didepan gerbang rumah milik Darel.
"Pak satpam bukain gerbangnya dong!" teriak Sherly yang masih setia duduk manis didalam mobilnya.
"Iya iya neng, sebentar!" sahut pak satpam yang masih asyik menyeruput kopi ekspresonya.
Tidak lama kemudian pak satpam berlari dan membuka gerbang besi berwarna hitam, Sherly segera melajukan mobilnya masuk kedalam halaman depan rumah milik Darel, lalu dia memarkirkan mobilnya diparkiran. Sherly mengedarkan pandangannya keseluruh halaman. 'Sepi.' satu kata itu lah yang terlintas dibenak Sherly sekarang.
Sherly mengayunkan kaki menuju pintu rumah Darel, lalu dia memencet bel berulang kali.
Ting tong!
David yang sedang duduk santai di sofa berwarna abu-abu sambil menonton TV dengan asyik pun langsung menggerutu pelan, terpaksa dia menekan tombol remote untuk mematikan TVnya, pasalnya kupingnya sudah terasa panas saat mendengar bel rumah yang berbunyi berulang kali.
David mengerutkan keningnya, bingung, "Berisik banget sih tu orang! siapa sih yang datang sore-sore begini? Gangguin orang aja,"
David mengerutkan keningnya, bingung, "Berisik banget sih tu orang! siapa sih yang datang sore-sore begini? Gangguin orang aja," David menggerutu kesal sebelum beranjak dari sofa, dia melangkahkan kakinya malas untuk menuju pintu depan, dia membuka knop pintu dengan gerakan pelan.
Ceklek.
Betapa terkejutnya David saat melihat Sherly yang sedang berdiri didepan pintu rumahnya, seketika David menjadi cengo, David memandang takjub Sherly dari atas sampai bawah untuk menilai penampilan Sherly yang bisa dikatakan sempurna.
Sherly memutar bola matanya jengah. Kenapa kalau cowok lihat cewek cantik mukanya jadi cengo, sih? Tanyanya dalam hati.
Sherly memandang wajah tampan David seraya tersenyum sinis. "Halo, playboy cap alien, wajah lo kenapa jadi cengo kayak gitu, huh?"
"Ya, enggak lah!" Sherly menyahut kesal.
"Eh, bay the way ... lo ke rumah gue pasti lo mau ketemu gue kan? Kan? Hayo... ngaku nggak lo!" David berkata dengan percaya dirinya seraya menaik turunkan alisnya.
Sherly berusaha setenang mungkin agar tangannya tidak terangkat untuk memukul lengan David dengan kencang. Kenapa playboy cap alien percaya diri sekali? Tanyanya lagi dalam hati.
"Fix, pasti ucapan gue tadi bener, iya kan?" David kembali melontarkan pertanyaan seraya menyibak rambut pendeknya kebelakang.
Sherly menggeram marah, tangannya terangkat untuk memukul lengan David berkali-kali. Sementara David? Dia hanya tertawa terbahak-bahak saat Sherly memukuli lengannya berkali-kali, rasanya tidak sakit sama sekali, malahan dia merasa senang, aneh bukan?
Sherly berhenti memukuli lengan David, dia lalu mengerucutkan bibirnya, apa lah dia yang tenaganya tidak cukup untuk sekedar memukul lengan David.
"Eh, itu bibir minta dicium apa gimana?" David bertanya yang kedua mata yang masih setia memandangi wajah cantik milik Sherly.
Sherly menghentak-hentakan kedua kakinya dengan kesal. "Bacot lo! Dasar playboy cap alien!"
David merentangkan kedua tangannya, ia menarik kedua sudut bibirnya saat melihat Sherly yang mau masuk kedalam rumahnya.
"Eits, lo nggak boleh masuk dulu," David menyergah.
Sherly mengertakan giginya kesal, dia mengusap dadanya berulang kali untuk merendam emosinya yang sudah ke ubun-ubun. "Sabar, Sher, sabar, lo harus sabar menghadapi playboy cap alien ini," Sherly bergumam samar, saking samarnya sampai hampir tidak terdengar.
David mengernyitkan dahinya bingung, "Bicara apa lo barusan, huh?" David bertanya seraya mengangkat sedikit dagunya.
Sherly tersenyum manis lalu menggeleng-gelengkan kepalanya kesana kemari. "Eum, gue nggak bicara apa-apa kok," Sherly mencoba mengeles.
"Awas deh, gue mau masuk, gue mau ketemu kembaran lo!" Sherly berseru seraya menyingkirkan salah satu tangan David yang menghalanginya, dia berusaha sekuat mungkin tetapi hasilnya nihil.
"Ada syaratnya dong!"
Sherly mengerutkan keningnya seraya mengangkat sedikit dagunya, "Syaratnya apaan sih?" Sherly bertanya, kesal.
David menyeringai lebar. "Syaratnya gampang kok, lo tinggal bilang gini—"
"David tampan mirip pacar gue,"
Pipi Sherly seketika berkedut karena jijik, apa-apaan playboy cap alien ini? kenapa dia menyuruh Sherly mengatakan kalimat itu?
David menyilangkan kedua tangannya tepat didepan dadanya, dia mengangguk-anggukan kepalanya. "Oh, jadi lo nggak mau? Ya udah, lo nggak boleh masuk!"
Sherly menahan lengan David saat melihat David saat cowok itu berbalik hendak masuk kedalam rumahnya. David tersenyum samar, dia mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam rumah, dia kembali memutar tubuhnya untuk menatap wajah cantik milik Sherly.
"Eum, Davidtampanmirippacargue," Sherly berkata cepat tanpa ada jeda.
David menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kok lo ngomongnya cepat banget sih, mirip kereta api, anjir!"
David sialan! Kesal Sherly dalam hati.
Sherly menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. "David tampan mirip pacar gue,"
"Udah. Puas lo?" Lanjutnya, kesal.
David tersenyum lebar lalu mengangguk, dia puas, bahkan sangat puas. "Puas, puas banget malahan,"
Sherly kembali memutar bola matanya jengah. "Dasar playboy cap alien!"
"Eh, kenapa lo nggak suka sama gue? Gue kan juga tampan mirip sebelas dua belas lah sama kembaran gue,"
Sherly menoleh kearah David, lalu dia tersenyum, "Gue nggak suka sama lo karena—" Sherly menggantungkan kalimatnya lalu dia berlari menaiki anak tangga, "Lo playboy!" Sherly berteriak ketika dirinya sudah sampai keatas anak tangga.
"What? Ga salah nih? Gue dibilang playboy? HAHA... bener, gue emang playboy,"