
Perlahan tetapi pasti, Darel menggenggam jari jemari Keysa dengan erat seraya memasang puppy eyes andalannya, yang terlihat begitu imut. Jarak mereka berdua sangatlah dekat—mungkin satu meter saja tidak ada. Keysa tidak bergeming sedari Darel berkata tadi.
Keysa hanya diam saja—seolah mulutnya tengah terkunci rapat dan lidahnya terasa kelu untuk berkata—namun kenyataannya tidaklah seperti itu. Dirinya memandang wajah Darel lekat-lekat. Sejujurnya dia harus sedikit mendongakkan kepalanya ketika memandang Darel karena tinggi badannya hanya sampai pada bahu Darel saja.
"Key, lo pilih gue kan?" Darel bertanya sekali lagi.
Kontan Keysa langsung menolehkan kepalanya kearah David yang kini berdiri disebelah kanannya. David menggeleng pelan—mengisyaratkan bahwa Keysa harus menolak Darel lagi. Keysa mengangguk pelan, sedetik kemudian Keysa kembali menatap wajah kearah Darel lagi, Keysa menggeleng pelan mengisyaratkan bahwa dia menolak cinta dari Darel lagi.
Kini, ketiganya tengah berada di taman yang nampak sepi—walau terkadang masih ada beberapa orang yang berlalu lalang melewati ketiganya—namun mereka tidak terlalu mempedulikan ketiganya. Cuaca disiang hari lumayan terik, mengingat bahwa matahari semakin meninggi.
Taman itu tampak terawat, beberapa bunga yang berada dipot pun tampak segar dan tidak layu—beberapa diantaranya ada bunga lily, matahari, dan mawar. Namun sayangnya, latar tanah yang ditumbuhi rerumputan hijau tersebut tampak sedikit kotor—mengingat bahwa adanya dedaunan berwarna cokelat yang lumayan banyak belum disapu.
"Maaf Rel, gue tetap milih David, BUKAN MILIH LO," Keysa sengaja menekankan tiga kata terakhir itu supaya Darel sadar diri. Biarlah jika orang lain menilainya cewek jahat. Karena sejujurnya memang kenyataannya begitu bukan? Tidak ada senyum yang menghiasi wajah cantik Keysa. Wajah Keysa nampak datar tanpa ekspresi.
Darel memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak setelah mendengar perkataan Keysa barusan. Mengingat dirinya sudah ditolak yang kedua kalinya, kontan hatinya terasa seperti ditusuk belati putih, sungguh rasanya sangat menyakitkan ketika ungkapan cintanya sudah di tolak kedua kali oleh sang pujaan hati, bahkan rasanya lebih menyakitkan dari apapun.
Keysa melepaskan genggamannya dari telapak tangan Darel, lalu dia beralih menggenggam jari jemari David. David yang berada disebelah Keysa pun terlihat enggan untuk membuka suaranya. Keysa dan David saling berpandangan seolah keduanya tengah berkomunikasi lewat tatapan mata. Kemudian keduanya berjalan beriringan untuk pergi meninggalkan Darel sendirian ditaman ini.
Sebelum pergi, Keysa sempat memandang wajah tampan Darel untuk terakhir kalinya. David menoleh ke belakang seraya tersenyum mengejek kearah kembarannya. Sejujurnya David puas. Ah, ralat—tepatnya sangat puas karena telah berhasil merebut Keysa dari Darel.
Ya, David sebenarnya dari awal bertemu dirinya sudah mencintai Keysa diam-diam. Saat tahu jika Darel juga mencintai Keysa, kontan David langsung tidak terima, sebab itu dia memilih untuk membuat perhitungan pada kembarannya dengan cara merebut Keysa dari Darel.
"KEY... GUE CINTA SAMA LO KEY... GUE SAYANG SAMA LO... TOLONG JANGAN PERGI... JANGAN TINGGALIN GUE SENDIRI DISINI..." Darel berkata dengan sedikit meninggikan suaranya baritonnya, dirinya kini sudah duduk bersimpuh diatas rerumputan yang berwarna hijau.
Tangan kanannya terangkat untuk memegang dadanya yang terasa masih sakit dan sesak. Darel kembali menatap lurus kedepan memandang sendu kearah Keysa dan David yang masih berjalan untuk pergi meninggalkannya.
Sementara Keysa dan David? Mereka hanya tertawa renyah. Kedua sama sekali tidak menghiraukan perkataan Darel. Ya, keduanya memang mengabaikan Darel dan tetap berjalan pergi meninggalkan Darel seorang. Mereka berdua tidak punya hati memang!
Mereka hanya memikirkan perasaannya diri sendiri, dan tidak memikirkan perasaannya Darel yang sangat terluka akan hal tersebut. Tentunya Darel sangat terpukul ketika dirinya dikhianati oleh saudara kembarnya sendiri.
"Lo jahat, Key!"
"Bodoamat, gue nggak peduli!" Samar-samar Keysa menyahut.
Tiba-tiba Darel terjatuh dari kasur king size-nya, refleks dia langsung membuka kelopak matanya yang sedari tadi terpejam erat. Ya, dia baru saja terbangun. Matanya mengerjap beberapa kali untuk memastikan bahwa kejadian tadi hanyalah mimpi belaka.
"Tetapi kenapa mimpi itu sangat terasa nyata bagi gue, ya?" Darel bertanya pada dirinya dengan suara yang terdengar rendah dan serak karena sehabis tidur.
...*...
Matahari sudah mengintip dari balik awan. burung-burung sudah becicit ria di pepohonan di luar jendela Keysa. Sayangnya Keysa Deolinda masih asik bergelung di balik selimutnya biru muda milik. Tak berselang lama setelahnya, tiba-tiba saja terdengar suara wanita paruh baya yang sedang mengetuk pintu sambil berteriak di balik pintu kamar Keysa.
"Keysa? Bangun Sayang. Cepat mandi ya? Kalau udah selesai langsung turun ke bawah untuk sarapan bersama!" Linda berkata dengan sedikit meninggikan suaranya. Mungkin hampir setiap pagi Linda selalu berteriak seperti barusan.
Perlahan tapi pasti. Keysa membuka kedua kelopak matanya yang sedari tadi terpejam. Kedua matanya mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi pada cahaya matahari yang masuk dari celah-celah jendelanya yang berhasil menyilaukan kedua matanya. Telapak tangan kanannya terangkat untuk mengusap kedua matanya. Keysa mendesah pelan sebelum menjawab perkataan Linda.
"Iya mom," Keysa menyahut lirih dengan suara serak khas bangun tidur. Keysa berusaha untuk bangun dari tidurnya. Keysa sekarang duduk bersandar dikepala ranjang. Punggungnya dia senderkan di kepala ranjang. Rambutnya terlihat acak-acakan dan wajahnya juga nampak murung. Wajar saja karena dirinya baru bangun tidur.
Keysa merentangkan kedua tangannya—seolah tengah berusaha meregangkan otot tubuhnya. Telapak tangan kanan Keysa terulur untuk meraih alarm yang berada di atas nakas. Terlihat waktu menunjukan pukul setengah enam pagi Keysa kembali menghela nafas panjang.
Jika dirinya tidak bergegas untuk mandi, kemungkinan besar dirinya akan terlambat ke sekolah, belum lagi dirinya harus menunggu bis yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Di kembalikan alarm itu ke tempat semula, lalu dia menyibak selimut tebalnya itu. Sesekali dia memejamkan kedua matanya kembali.
Keysa menurunkan kedua kakinya kelantai kamar miliknya yang masih terasa dingin. Keysa mengayunkan kakinya, dia berjalan lunglai menuju jendela kamarnya, dibukanya tirai gorden itu, membiarkan cahaya masuk dan menyilaukan kamarnya yang nampak sedikit gelap—wajar karena setiap malam dia hanya menyalakan lampu yang cahayanya terlihat remang.
Keysa segera bergegas menuju kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya—sebelum mandi, dia terlebih dulu mengambil handuk berwarna putih yang berada di lemari besar miliknya. Tidak butuh waktu yang lama, hanya sekitar lima belas menit saja, Keysa keluar dari kamar mandinya dengan handuk putih yang melilit tubuhnya.
Keysa berjalan kearah lemarinya yang berada diujung kamar tidurnya. Tak lama kemudian dirinya membuka lemarinya berwarna putih cerah. Diambilnya baju seragam berwarna coklat muda dan tidak lupa rok berwarna coklat tua itu serta **********. Mengingat bahwa hari ini adalah hari Jum'at maka dia mengenakan seragam yang berwarna cokelat.
Segera dia kembali masuk kekamar mandi untuk memakai seragam pramukanya. Keysa kembali keluar dari kamar mandinya, dia mengayunkan kakinya menuju meja riasnya yang berwarna putih. Dia kemudian duduk di kursi yang berwarna senada dengan meja rias itu. Dia menatap wajahnya sendiri dipantulan cermin yang ukurannya sedang, di sisi-sisi cermin itu terdapat lampu hias yang menambah keindahan tersendiri bagi Keysa.
Cantik. Satu kata itulah yang cocok untuk Keysa saat ini. Keysa tersenyum sumringah, dilepasnya ikat rambut yang terbuat dari karet bulu beludru yang berwarna hitam, lalu dia menyisir rambutnya yang indah itu. Rambutnya yang panjang di biarkan tergerai indah di punggungnya. Dia hanya memakai pelembap wajah dan memoles sedikit bibirnya dengan lip balm.
Dia tidak mau pakai make-up karena ribet dan seperti tante-tante menor katanya, toh dia juga sudah cantik walaupun tidak pakai make-up sama sekali. Detik berikutnya, Keysa mengayunkan kakinya menuju meja belajar. Dia memasukan beberapa buku yang tadi malam dia sempat pelajari kedalam tas ransel berwarna biru muda.
Ya, buku itu adalah mapel pelajaran hari ini, dia mengambil tas ranselnya lalu dipakainya tas itu dikedua bahunya. Keysa bergegas turun menuju ruang makan seraya menenteng sepatu sneakers berwarna hitam. Keysa menuruni anak tangga dengan cepat, karena alasannya dia tidak ingin terlambat. Perlu diketahui bahwa dirinya sebelumnya tidak pernah sekalipun terlambat.
"Pagi mommy-ku sayang," Keysa menyapa dengan suara merdunya.