
"Syaratnya—"
Darel sengaja mengantungkan ucapannya, dia kembali membuang nafasnya perlahan. Keysa hanya diam seraya memandangi mata Darel dengan lekat. Jujur saja, Keysa sangat penasaran dengan syarat yang akan dikatakan Darel.
"Lo jadi pacar gue," lanjut Darel dengan mantap.
Sontak mata Keysa melotot dan mulutnya menganga lebar. Dia tidak bergeming, dia masih berusaha mencerna perkataan yang dikatakan Darel barusan. Mata Keysa mengerjap beberapa kali, dia masih belum percaya syarat yang diberikan Darel. Bukankah Darel masih berpacaran dengan Sherly?
Keysa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. "Rel, jangan bercanda dong, bukannya lo masih pacaran dengan Sherly, huh?"
Darel tidak bergeming sejenak, dia meraih telapak tangan Keysa— menggenggamnya—menyalurkan kehangatan. "Gue udah putus, Key. Gue cinta sama lo, bukan cinta dia," jelasnya.
Darel dan Sherly Putus? Tidak mungkin, bukan? Apa perkataan Darel cuma omong kosong doang?
"Jangan bilang lo mutusin Sherly karena gue?"
Darel menarik kedua sudut bibirnya. "Ya, karena lo yang udah bikin gue jatuh cinta, Key,"
Sedetik kemudian kepala Keysa terasa berdenyut-denyut. Keysa bingung dengan Darel, apakah dia tidak pernah memikirkan perasaan Sherly? Seolah Keysa lah sekarang yang paling jahat disini, apakah dia pantas untuk tidak di cap sebagai orang ketiga seperti novel yang pernah dia baca sebelumnya? Memikirkan hal tersebut rasanya kepala Keysa seperti ingin pecah.
"Kasihan Sherly, kok lo tega banget sih?" tanya Keysa pelan, dia memalingkan wajahnya menatap air sungai yang mengalir. Dia marah, meskipun Sherly jahat kepadanya tetapi dia tetap saja merasa kasihan.
Sedetik kemudian Darel tertawa miris. Apakah dia salah memutuskan Sherly? Ingat! Darel tidak pernah mencintai Sherly. Kenapa Keysa sekarang jadi ikut-ikutan menyalahkannya?
Cinta tidak bisa dipaksakan, bukan?
Bukankah cinta itu datang dengan sendirinya?
Darel ikut memandang air yang mengalir di sungai. "Bukankah cinta itu tidak bisa dipaksakan, ya? Gue nggak pernah cinta sama dia, walaupun gue udah pernah nyoba buat mencintai dia tapi tetap aja nggak bisa, Key,"
"Coba lo bayangin, misalnya lo pacaran sama cowok yang nggak lo cintai, gimana? Apa lo nggak merasa tertekan? Jujur aja, gue merasa tertekan banget, Key,"
Lidah Keysa tiba-tiba terasa kelu, dia tidak tahu harus merespon apa, jujur saja, dia juga bingung dengan kisah cinta Darel dan Sherly yang tidak se-indah drama Korea yang pernah dia tonton sebelumnya.
Rumit.
Satu kata itu lah yang tiba-tiba terlintas dibenak Keysa. Sementara Keysa? Dia masih tetap diam.
"Semenjak gue ketemu lo, entah kenapa gue jadi sering mikirin lo... Gue juga jadi sering ke perpustakaan cuma buat ngelihatin lo doang,"
"Tapi sekarang gue sadar, bahwa lo udah bikin gue jatuh cinta, Key." lanjutnya.
Keysa menoleh kearah Darel dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. "Gue nggak bisa nerima lo, Rel,"
Darel mengernyitkan dahinya. Baru kali ini dia ditolak seorang cewek, bahkan sebelumnya dia belum pernah menyatakan perasaannya dahulu kepada seorang cewek. "Kenapa?"
Keysa kembali memalingkan wajahnya lagi. "Karena gue nggak cinta lo,"
Darel tersenyum manis, dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dia tahu jika tadi Keysa membohonginya dengan omong kosong. "Jangan bohong, Key... Gue juga udah tahu bahwa lo itu juga cinta gue, kan?"
Deg.
Jantung Keysa berpacu lebih cepat dari sebelumnya, darahnya kembali berdesir, seperti ada rasa sengatan aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Dia tidak tahu dengan rasa ini. Pipinya bersemu merah karena perkataan Darel tadi—mungkin pipinya sekarang sudah seperti kepiting rebus?
Keysa tetap diam, dia tidak bergeming sama sekali. Rasanya Keysa seperti ingin menceburkan dirinya sendiri ke dalam sungai saat ini juga.
"Kenapa diam aja? Ucapan gue benar, kan?"
Keysa tidak menjawab melainkan menunduk.
Kenapa syarat Darel harus menjadi pacarnya?
Apakah tidak ada syarat lain?
Keysa menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga yang terjuntai menutupi sebagian wajah karena dia sempat menunduk, dia menolehkan ke arah Darel. "Syaratnya ganti dong, please," pinta Keysa seraya memasang puppy eyes andalannya.
Darel beranjak dari duduknya, lalu dia membersihkan celananya yang kotor karena duduk diatas rerumputan yang berwarna hijau. "Kalau nggak mau ya udah, gue nggak jadi maafin lo, simple bukan?"
Darel memutar tubuhnya—melangkahkan kakinya menuju motor ninjanya yang berwarna merah yang letaknya tidak begitu jauh.
Sontak Keysa langsung beranjak dari duduknya, dia terlebih dahulu membersihkan rok pendeknya, lalu dia berlari kecil untuk mengejar Darel.
Keysa mencekal lengan Darel, sontak Darel berhenti melangkah, tetapi dia masih tetap memandang lurus ke depan.
"Eum, iya gue mau," cicitnya.
Kedua sudut bibir Darel terangkat. Jujur saja Darel sangat bahagia mendengar jawaban Keysa barusan. Darel kira tadi Keysa tidak akan mengejarnya dan membiarkan pergi begitu saja, namun ternyata dia salah besar. Darel memutar tubuhnya kebelakang, dia lantas memeluk tubuh mungil milik Keysa yang tingginya hanya mencapai bahunya saja.
Darel ingin menyalurkan kebahagiaan dan kehangatannya untuk Keysa. Keysa tidak meronta melainkan menyembunyikan pipinya yang bersemu merah di dada bidang milik Darel. Sontak aroma vanila langsung menyeruak di indra penciuman Keysa. Sungguh Darel sangat maskulin.
Darel memejamkan matanya, dagunya dia letakan diatas bahu milik Keysa. Tubuh Keysa seketika menghangat karena pelukan Darel. Jujur saja Keysa juga bahagia.
"Pipi lo pasti merah kayak kepiting rebus, ya?" tebak Darel dengan benar.
Keysa tidak bergeming sama sekali, dia hanya diam. Keysa menghiraukan perkataan Darel barusan, dia sungguh merasa malu. Sesekali dia mengerjapkan matanya karena nyaman berada dipelukan Darel.
Darel mengusap-ngusap kepala Sherly dengan sayang, dia berharap supaya Keysa tidak merasa malu lagi. Setelah tiga menit berlalu-Darel melepaskan pelukannya perlahan, dia memegang kedua bahu milik Keysa, pelan tapi pasti—Keysa mendongak menatap kedua mata milik Darel.
"Oke, sekarang lo jadi pacar gue, deal?" tanyanya.
Keysa meremas roknya, lalu dia mengangguk setuju. "Deal!" sahutnya pelan, lalu dia segera menunduk seraya menautkan jemari-jemarinya karena gugup.
Darel menyugingkan senyum lalu tangan kanannya beralih untuk mengusap rambut Keysa dengan sayang. "Sekarang panggilnya jangan lo-gue ya?"
Keysa mendongak menatap mata Darel dengan tatapan yang tidak bisa dia artikan. "Eum, bay the way, sekarang kita harus manggil apa?"
Darel berdeham pelan lalu dia mendongak menatap keatas seraya berpikir keras. "Nama panggilan aja gimana? Darel-Keysa?"
Sontak Keysa tertawa terbahak-bahak, gimana tidak tertawa coba? Menurut Keysa panggilan itu hanya cocok untuk anak kecil. Tangan kanan Keysa terangkat untuk menutup mulutnya dan tangan kirinya terangkat untuk mencubit lengan kekar Darel dengan gemas.
Darel mengernyitkan dahinya. "Kenapa kalau cewek ketawa itu pasti tangan kanannya dia gunakan untuk menutup mulut dan tangan kirinya dia gunakan untuk mencubit seseorang yang berada disampingnya?"
Refleks Keysa berhenti tertawa, dia diam dan tidak bergeming sama sekali, dia masih mencerna apa yang Darel katakan. Menurut Keysa perkataan Darel barusan sangat benar. Keysa juga tidak tahu akan hal tersebut.
Keysa mengendikan bahunya dengan acuh. "Eum, entahlah,"
"Kalo kita manggilnya aku-kamu aja gimana?"
Keysa terdiam sebentar, menurutnya itu adalah ide yang bagus. Keysa sekarang rasanya seperti berada di novel-novel saja-ketika cowok dan cewek berpacaran pasti lo-gue berubah menjadi aku-kamu, bukan? Dia terkikik geli dalam hati, lalu dia mengangguk setuju.
"Sekarang tutup mata kamu, jangan dibuka sebelum aku bilang," perintah Darel seraya tersenyum.
Keysa memicingkan matanya. "Lo nggak bakal macem-macem sama gue kan?"
Darel tertawa geli. "Nggak lah,"
"Eh, tapi kamu kok tadi bilang gue lagi? Kan kita udah buat perjanjian manggil aku-kamu," lanjutnya.
Seditik kemudian Keysa menutup mulutnya sendiri, dia merutuki dirinya sendiri, kenapa dia bisa keceplosan bilang gue, huh?
Keysa menyengir lucu. "Maaf, aku soalnya udah terbiasa manggil lo-gue,"
Darel mencubit pipi Keysa yang sedikit chubby dengan gemas. "Iya, aku maafin, Key-sayang," lanjutnya.
"Ih, apaan sih, gaje banget tahu nggak?"
Darel terkekeh, kenapa Keysa begitu menggemaskan sekali?
"Cie... yang pipinya merah lagi," ledek Darel yang berhasil membuat Keysa membuang mukanya kesamping.
"Oke, sekarang kamu tutup mata, ya?"
Keysa hanya mengangguk lalu memejamkan matanya perlahan.
Darel tersenyum lalu merogoh kalung liontin hati kecil didalam saku celana jeansnya. Perlahan tapi pasti, Darel menyibak rambut Keysa yang tergerai indah dengan perlahan-lalu dia memasangkan kalung itu dengan sayang.
Sontak Keysa terkejut saat merasakan geli disekitar lehernya.
"Selesai."
"Sekarang kamu boleh buka mata kamu," lanjutnya.