
Keysa mengendikan bahunya acuh tak acuh. "Iya jadi gitu deh, Nin,"
Mereka pun melanjutkan langkahnya menuju gerbang sekolah. Gerbang itu tampak terbuka lebar-sementara Sadi berada dekat gerbang tersebut. Mereka mengobrol sepanjang jalan, sesekali tertawa atau tersenyum saat bertukar gosip lucu, atau berbisik-bisik karna menceritakan gosip yang mereka bahas adalah topik yang pribadi.
"Ih, bisa ga sih lo sehari aja ga usah nempel-nempel ke gue mulu?" Nindhi bertanya dengan kesal, detik berikutnya dia kembali menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya dengan kasar. Lengan kekar yang beberapa detik lalu mengapit lehernya membuatnya kembali berdecak kesal.
Sebenarnya lengan kekar itu adalah milik Daffa yang yang akrab dipanggil mas ganteng oleh para kaum hawa disekolahnya. Daffa pun merasa fine-fine aja dipanggil dengan sebutan itu-mengingat bahwa panggilan itu tidaklah buruk, menurutnya panggilan itu cukup bagus. Daffa sama sekali tidak peduli dengan Nindhi yang saat ini tengah menyupah serapahi dirinya.
Daffa menolehkan kepalanya ke samping-tepatnya kearah Keysa. "Kita berdua pamit mau pulang dulu ya, Key," pamitnya seraya menyengir kuda.
Sementara Keysa? Dia hanya berdeham pelan sebagai jawaban, kalau dilihat-lihat dia sudah seperti obat nyamuk saja saat berada didekat keduanya. Dirinya yang tidak punya pacar bisa apa, huh?
"Gue duluan ya, Key!" Nindhi berkata dengan sedikit meninggikan suaranya bersamaan dengan langkah kaki keduanya yang semakin cepat.
Walau begitu Keysa hanya tersenyum saat melihat dua insan itu yang mulai menjauh.
Varo yang baru saja sampai didekat Keysa-lantas langsung tersenyum sedetik kemudian dia mengalungkan lengan kekarnya pada bahu Keysa. "Udah, lo pulang sama gue aja," Sejujurnya tadi Varo sempat mendengar obrolan ketiga adik kelasnya-tentunya dia tidak berniat menguping, hanya saja dia sudah mendengarnya.
Keysa mendongak menatap wajah tampan milik Varo, lalu dia tersenyum manis seraya mengangguk setuju. Kali ini tidak ada alasannya untuk menolak tawaran yang baru saja Varo berikan pada. "Eum, makasih kak. Gue jadi ngerepotin lo melulu," Keysa menyahut lirih seraya tertawa kecil.
"Enggak, lo nggak ngrepotin gue sama sekali, Key,"
"Gue malah seneng bisa bantuin lo, nganterin lo pulang misalnya," lanjutnya seraya tersenyum manis.
Perkataan Varo pun berhasil membuat Keysa terperangah sejenak-namun hal itu tak berlangsung lama. "Kenapa kak Varo nggak pulang bareng Sherly aja?" Keysa bertanya dengan mimik wajah yang terlihat amat penasaran.
Varo berdeham pelan sebelum menjawab pertanyaan dari Keysa. "Sherly katanya sih mau pulang bareng pacarnya,"
Sedetik kemudian Keysa termangu dibuatnya, dia menunduk, menatap jalan dengan pandangan kosong. Tentu Keysa sangatlah tau dengan pacar Sherly-siapa lagi jika bukan Darel? Entah kenapa mendengar hal itu membuat hatinya sedikit teriris. Memanglah benar dengan kalimat ini, 'Lebih baik tidak tahu, dari pada harus tahu. Terkadang ketidak tahuan itu membuat hati kita masih tetap aman.'
...*...
Sore ini, Keysa tengah duduk santai di ujung cafè D'A yang berada didekat jendela besar-dimana tempat ternyaman menurut Keysa. Diatas meja depannya terdapat beberapa buku pelajaran matematika, sementara disampingnya ada secangkir kopi cappuccino, asapnya mengepul di udara tanda bahwa kopi itu masih panas karena baru dibuat.
Keysa sendiri sekarang tengah sibuk berkutat dengan ponsel yang berada ditangan kanannya. Sesekali dirinya menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga yang terjuntai menutupi sebagian wajah karena dia menunduk, memperhatikan ponselnya yang sejajar dengan dagu.
Semula dia ingin pulang ke rumah untuk tidur sebentar, namun niatnya tersebut harus terurung-dikarenakan dirinya harus belajar kelompok. Jari-jemari Keysa tak henti-hentinya bergerak kesana-kemari diatas layar persegi panjang ponsel.
Sesekali jemarinya tak bergerak ketika pikirannya sibuk dengan kata-kata yang akan dia balaskan untuk empat orang yang sedang bercakap dengannya lewat grup chat di aplikasi WhatsApp miliknya. Siapa lagi jika bukan Nindhi, Sherly, Rosa, dan David?
...*...
...-Kerja Kelompok Matematika (Grup Chat)-...
Keysa: Kumpul sekarang di café D'A, kita kelompokan disini. Yg kagak mau ikut bodo amat! Gue kagak peduli! @Nindhi @Sherly @Rosa @David
Nindhi: Oke, siap bosque! @Keysa
David: Eh, kok kelompokannya sekarang sih Key?😢 @Keysa
Sherly: ^2 @David
Rosa: ^3 @David
Nindhi: Lo semua ga mau ikut ya? Ya udah sih terserah lo aja, kalau besok kagak dapat nilai kagak usah marah ya!🐒 @David @Sherly @Nindhi
Keysa: Jangan lupa bawa buku pelajaran matematika woe! @Nindhi @Rosa @Sherly @David
David: Iya, Keysa cantik, bang David otw sekarang juga ya!😘 @Keysa
Sherly: Dasar lo, playboy cap alien! @David
Rosa: Omaygat! Gue belom ngapain-ngapain nih, gimana dong? Gue juga belom dandan😓 @Sherly @Keysa @Nindhi @David
Sherly: Gue juga anjir! Emang lo doang apa? @Rosa
NindhiSekali-kali kagak usah dandan napa? Lo berdua kalo dandan tebel banget udah kayak pantat panci aja😒 @Sherly @Rosa
Keysa: ^2 @Nindhi
Sherly: Ga bisa, amjinc!😠 @Nindhi @Keysa
Rosa: ^2 @Sherly
Keysa: Kagak usah ngegas juga keles!😡 @Sherly
Sherly: Suka-suka gue dong, kok lo yang sewot sih? @Keysa
Nindhi: Binyik bicit li! @Sherly
Sherly: 👅@Nindhi
Read.
Setelah melihat chat terakhir dari Sherly—Keysa tidak berniat lagi membalas lagi chatnya. Entah kenapa Keysa tak bisa akrab dengan Sherly, walau keduanya sedari masih kelas satu SMA selalu sekelas. Bukannya Keysa tak mau berteman akrab dengan Sherly, namun Sherly lah yang kelihatannya tidak mau berteman dengannya.
Keysa memejamkan kedua matanya sebentar seraya merapalkan doa dalam hati—berharap supaya keempat temannya datang untuk mengerjakan tugas kelompok. Diletakannya ponsel miliknya yang sedari tadi dia pegang itu diatas meja, tepatnya disamping buku pelajaran matematika.
Sekarang Keysa memfokuskan pandangannya pada secangkir kopi miliknya yang masih utuh. Dia tersenyum, tangan kanannya terulur untuk mengambil kopi yang nampaknya sudah tidak terlalu panas lagi. Keysa menyesap sedikit kopinya yang sudah terasa hangat seraya melihat-lihat para pengunjung yang berlalu lalang dan kian bertambah banyak.
Senyum Keysa kian bertambah lebar saat melihat café milik mommy-nya hampir setiap hari selalu ramai dan tidak pernah sepi. Kebanyakan pengunjungnya itu masih SMA seperti dirinya. Dari mereka kebanyakan datang bersama pacarnya untuk berkencan di café atau hanya datang sendirian saja. Banyak sapaan yang dilontarkan Keysa untuk beberapa pengunjung yang dia kenal.
David sendiri sekarang sudah berada didekat Keysa yang nampak sedang melamun. Tak lama kemudian David menarik salah satu kursi sebelum duduk disalah satu kursi. Tinggal tiga kursi lagi yang masih tersisa dan tentunya masih kosong. "Key?" David berusaha untuk menyadarkan Keysa dengan cara memanggil namanya dengan suara baritonnya yang terdengar berat. Karena tidak ada respon dari Keysa, David kontan mengelus pelan punggung tangan Keysa yang terasa lembut.
Seketika, Keysa terperanjat terkejut akibat sentuhan tangan David dipunggung tangannya yang berhasil membuat lamunannya buyar sekaligus membuatnya bergidik. Keysa mengerjapkan matanya pelan. Barusan sebenarnya Keysa tengah melamun tentang Darel.
'Apa gue cemburu sama Darel, ya?' Pertanyaan seperti itulah sekarang yang menghantuinya dan memenuhi pikirannya karena insiden kecil tadi pagi dan siang tadi. Dia menggeleng pelan. Keysa tak mungkin cemburu kepada Darel, bukan?
David menarik kedua sudut bibir untuk membentuk tersenyum ketika melihat Keysa yang sudah sadar dari lamunannya. "Gue tau! Pasti lo lagi ngelamunin gue kan?" David bertanya dengan percaya diri seraya menaik turunkan alisnya menggoda.
Sejujurnya, David sangatlah suka menggoda semua cewek, apa lagi jika cewek itu berwajah sangat cantik seperti Keysa. Hal tersebut kontan membuat layak dicap playboy oleh semua orang, namun sayangnya David tak peduli dengan hal tersebut. Dia suka melakukan hal tersebut karena hobinya memang begitu.
Keysa tertawa terbahak-bahak setelah mendengar pertanyaan David barusan, kenapa David begitu percaya diri sekali, huh? Entah lah Keysa pun tidak tahu itu. Seluruh pasang mata yang berada didalam café seketika menatap Keysa dengan heran.