
Lagi-lagi Alletta hanya mengangguk tanpa menoleh kearah Keysa.
Keysa hanya mengangguk dan ber-oh ria saja. Keysa menjatuhkan pantatnya di sofa, tepatnya disebelah Alletta. Sesekali Keysa menyelipkan anak rambut Alletta yang terjuntai ke depan.
"Buat lo aja, gue ikhlas lahir batin," Keysa menyahut dengan santainya lalu ia mengambil salah satu potong martabak yang masih tersisa di kotak martabak milik Alletta itu.
"Serius kak? Kok lo nggak marah sih, kak?" Alletta bertanya tanpa menoleh kearah Keysa.
Keysa tersenyum tipis. "Capek gue marahin lo mulu, mending gue baca novel aja dari pada marahin lo,"
Kontan Alletta langsung menoleh kearah Keysa, dia menatap Keysa dengan tatapan tak percaya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Alletta pikir Keysa langsung marah karena perkataannya tadi, namun faktanya salah besar.
Alletta menggembungkan pipinya lucu, dia gagal membuat Keysa darah tinggi.
Keysa terkikik geli dalam hati, dia sudah tahu bahwa perkataan Alletta itu hanya bercanda saja. Lagi pula dia juga sudah tahu bahwa Alletta berkata seperti itu supaya Keysa marah-marah lagi kepadanya.
"Tote bag hitam yang tadi di lkasih Darel lo taruh dimana, huh?"
"Tuh." Alletta menyahut seraya menunjuk meja belajar milik Keysa.
Keysa mengangguk paham. Dia beranjak dari duduknya, dia berjalan menuju meja belajarnya. Keysa menarik kursi kayu miliknya sebelum duduk. Jantung Keysa kembali berdegup kencang saat mengingat tadi siang. Dia kembali teringat saat jalan-jalan bersama Darel. Rekaman memori tadi siang seperti berputar jelas di otaknya. Dia kembali tersenyum tipis saat teringat jelas ketika Darel memeluknya.
Tangan Keysa terulur untuk mengambil tote bag berwarna hitam pemberian Darel tadi siang, entah apa isinya—yang jelas terasa berat. Perlahan tapi pasti, Keysa membuka tote bag tersebut. Seketika matanya berbinar saat melihat isinya. Buku novel best seller yang sedang populer di aplikasi *******, dan novel itu baru terbit dan masih baru alias new.
Keysa mengeluarkan buku novel best seller itu, matanya membulat ketika menghitung buku novel pemberian Darel. Tidak tanggung-tanggung, Darel memberinya novel best seller sepuluh buku dari penulis terkenal yang tentunya berbeda-beda.
Keysa menangkup pipinya, dia menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak percaya dengan apa yang Darel kasih kepadanya. Cowok itu justru mendukung hobinya yang suka membaca novel dengan membelikannya buku novel meski dia tidak meminta. Senyum Keysa lantas kembali mengembang.
Sedangkan Alletta? Dia bergidik ngeri dan pipinya seketika berkedut jijik saat melihat isi tote bag pemberian Darel. Bagaimana tidak jijik coba? Alletta tidak suka membaca, melihat sampul buku saja dia ogah.
Keysa menurunkan kedua telapak tangannya kembali, dia menunduk melihat kalung liontin love yang menghiasi lehernya. Telapak tangan kanannya terangkat untuk menyentuh kalung pemberian Darel itu. Keysa mengecup pelan kalung liontin love.
Keysa kira Darel adalah cowok yang tidak romantis. Eh, ternyata dugaannya salah besar. Nyatanya Darel itu romantis. Ah ralat! Maksudnya sangat romantis.
"Saat jauh darimu
Terlintas tanya dalam anganku
Benarkah di benakmu
Hanyalah diriku yang bertahta?
Akankah ini selamanya?" suara merdu Keysa memenuhi ruang kamarnya.
"Saat 'ku di dekatmu
Bisik hati kecilku bertanya
Benarkah yang kau rasa
Hanyalah diriku yang kau puja?
Akankah ini selamanya?
Ataukah hanya semata?" sambung Alletta saat mendengar Keysa bernyanyi lagu kesukaannya.
Keysa menarik nafasnya dalam-dalam sebelum kembali bernyanyi. "Telah kuberi segalanya
Cinta yang tanpa akhir
Yang hanya tercipta untukmu
Mestinya semua ini
Jadi awal yang indah bagiku..."
"Saat 'ku di dekatmu
Bisik hati kecilku bertanya
Benarkah yang kau rasa
Hanyalah diriku yang kau puja?
Akankah ini selamanya?
Keysa tersenyum tipis. "Telah kuberi segalanya
Cinta yang tanpa akhir
Yang hanya tercipta untukmu
Mestinya semua ini
Jadi awal yang indah bagiku..."
"Haruskah aku bertanya
agar kutemukan jawabnya?" lanjut Alletta.
"Telah kuberi segalanya
Cinta yang tanpa akhir
Yang hanya tercipta untukmu
Mestinya semua ini
Jadi awal yang indah bagiku..." lanjut Keysa yang diakhiri senyuman manis.
Keysa dan Alletta membuang nafasnya bersama sebelum kembali bernyanyi. "Telah kuberi segalanya
Cinta yang tanpa akhir
Yang hanya tercipta untukmu
Mestinya semua ini
Jadi awal yang indah bagiku..."
*
Bel istirahat telah berbunyi lima menit yang lalu, menyisakan tiga orang yang berada didalam kelas. Tetapi Keysa yang saat ini mengenakan baju seragam berwarna putih dan rok berwarna abu-abu itu tidak ada tanda-tanda untuk beranjak dari duduknya untuk sekedar membeli sebungkus roti maupun sebotol air mineral. Keysa tadi sudah memesan dua bungkus roti pada Nindhi, alhasil dia tidak perlu capek-capek berjalan ke kantin.
Malas.
Satu kata itulah yang sedang melanda Keysa, dia duduk di bangku miliknya. Dibalik buku novel best seller pemberian Darel kemarin yang saat ini Keysa pegang. Sesekali telapak kaki kanan yang terbalut kaus kaki putih dan sepatu berwarna hitam miliknya itu mengetuk lantai kelas.
Kelas 11 IPA3 terasa sepi dan sunyi membuat Keysa menjadi tenang dan bisa mendapatkan feel saat membaca novel yang mengisahkan tentang cinta segitiga. Terkadang mimik wajah Keysa berubah-ubah. Wajahnya terlihat berbinar lalu tersenyum, terkadang juga mimik mukanya terlihat kesal, keningnya mengkerut saat membaca novel yang saat ini dia pegang. Aneh tapi nyata.
Sherly saat ini tengah duduk di bangku miliknya sendiri. Kedua sikunya dia taruh di mejanya—dia gunakan untuk menumpu kedua tangannya dan kedua telapak tangannya dia gunakan untuk menangkup ke dua pipinya. Sesekali dia mencuri pandang kearah Keysa yang sedang duduk di bangku samping kanannya, hanya saja keduanya terhalang satu bangku—sebagai pembatas. Ya, saat ini Keysa dan Sherly memang diharuskan duduk berjejeran.
Sherly kembali mencuri pandang kearah Keysa, manik matanya menatap sinis wajah cantik Keysa. Saat merasa diperhatikan, Keysa lantas menoleh kesamping kirinya—tepatnya kearah Sherly. Sontak Sherly langsung mengalihkan pandangannya kedepan—menatap papan tulis berwarna putih polos yang sama sekali belum ternodai tulisan. Sherly merutuki dirinya sendiri saat tertangkap basah tengah memandangi Keysa.
Keysa hanya mengendikan bahunya acuh, buat apa mengajak ngobrol Sherly? Yang ada nanti jadi baku hantam jadinya. Keysa sudah terlalu malas memperdulikan Sherly. Keysa sama sekali tidak pernah mengobrol dengan Sherly—kecuali saat diharuskan untuk satu kelompok dengannya, seperti minggu kemarin atau saat penting saja, selain itu Keysa terlalu malas jika harus mengajak Sherly ngobrol duluan.
Keysa mematung—menatap kosong buku novel yang sedang dia pegang. Keningnya mengkerut, bingung. Kenapa Keysa baru sadar bahwa Sherly hari senin ini terlihat berbeda? Kantung mata Sherly terlihat menghitam—karena semalam dia tidak kunjung bisa tidur dan matanya juga terlihat membengkak—karena semalam kembali menangis. Hal itu tidak Keysa ambil pusing, Keysa kembali membaca novel best seller yang masih dia pegang, sesekali telapak tangannya membuka lembaran buku tersebut.
Ke dua bola mata Sherly beralih memandangi pintu kelasnya—berharap Darel melewati depan kelasnya—seolah Sherly lupa bahwa kemaren lusa dia sudah disakiti oleh Darel. Sesekali mulutnya bergumam tanpa suara.
Drttt drttt drttt.
Keysa menurunkan buku novelnya saat mendengar getaran di dalam saku roknya. Bukunya dia letakan pada atas meja, tepatnya diposisi tengah. Tangan kanannya terulur untuk mengambil ponsel yang berada di saku rok pendek berwarna abu miliknya. Keysa menarik ke dua sudut bibirnya saat mendapat chat dari Darel—pacar barunya. Keysa menggigit bibir bawahnya yang berwarna merah muda asli tanpa polesan apapun.
Pangeran Kelinciku❤—online.
Pangeran Kelinciku❤: Keysayang, lagi ngapain?
Hati Keysa seketika menghangat, saat membaca chat dari Darel barusan, kenapa Darel masih sempat-sempatnya mengirimkan dirinya pesan saat ini juga, huh? Padahal sekarang keduanya masih berada di sekolah, bukan?
Jari-jemari Keysa bergerak di atas layar ponsel miliknya, senyumnya mengembang—tidak pudar sama sekali. Tiga kata dari Darel mampu membuat Keysa tersenyum. sesekali Keysa menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga yang terjuntai menutupi sebagian wajah karena dia tengah menunduk—memperhatikan ponselnya yang sejajar dengan dagu.
^^^Keysa: Lagi baca novel.^^^
Sherly kembali melirik kearah Keysa yang saat ini sedang senyum-senyum sendiri. Dia mengernyitkan dahinya bingung. Apakah ponsel Keysa begitu lucu hingga membuat Keysa tersenyum begitu? Ah, Sherly tidak peduli dan tidak ingin ambil pusing hal tersebut.
Sepuluh detik kemudian ponsel Keysa kembali bergetar, menandakan ada chat yang kembali masuk. Sontak Keysa kembali menunduk.
Pangeran Kelinciku❤: Coba lihat di depan pintu kelas kamu.