We Are Together

We Are Together
Tiga puluh



Kenapa adek gue nangis? Perasaan tadi adek gue bahagia banget. Tanyanya dalam hati.


Saat Sherly hendak menaiki anak tangga, tiba-tiba Varo mencekal lengan kirinya, sontak Sherly langsung terperanjat kaget. Varo langsung menarik lengan milik Sherly, dan akhirnya Sherly jatuh dipelukan Varo. Sherly langsung menangis sejadi-jadinya didada bidang Varo, membuat kaos oblong milik Varo menjadi sangat basah karena air mata Sherly yang menangis deras tanpa henti.


Varo mengeratkan pelukannya, dia menaruh dagunya atas rambut milik Sherly, sesekali matanya terpenjam. Varo mengusap-ngusap kepala Sherly dengan sayang, dia berharap supaya adiknya menjadi tenang dan berhenti menangis. Varo sungguh tidak tega jika melihat adik kesayangannya itu menangis. Wajar, karena semua kakak laki-laki tidak ada yang ingin adik perempuannya tersakiti.


Setelah lima menit berlalu, Sherly menjadi agak lebih tenang dari sebelumnya, tangisnya kian mereda, hanya masih terdengar suara isakan. Varo melepaskan pelukannya perlahan, dia memegang kedua bahu milik Sherly, Sherly mendongak untuk menatap kedua mata sang kakak.


Varo menatap lekat-lekat kedua mata Sherly, "Siapa yang bikin kamu nangis kayak gini, huh?"


Sherly menelan ludahnya kasar saat Varo bertanya dengan serius. Sherly menyimpulkan bahwa Varo saat ini sedang marah, karena perkataan yang Varo lontarkan itu sangat serius, tidak ada nada gurauan sama sekali. Sherly tidak mungkin bilang kepada Varo bahwa yang sudah bikin dia menangis adalah Darel, bukan?


Sherly tidak ingin Varo menghajar habis-habisan kekasihnya. Ah, ralat, maksudnya mantan kekasihnya. Dia tidak ingin Darel terluka karena ulah Varo.


Cukup gue aja yang tersakiti, dia jangan. Batinnya.


Sherly tersenyum paksa seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, "Eum, tadi gue nabrak kucing dijalan bang, makanya gue jadi nangis deh... Kasian itu kucing bang, masa gue tabrak sampai berdarah gitu, darahnya juga berceceran dijalan bang, kasihan banget ya, bang?"


Varo menggelengkan kepalanya, dia sungguh tidak percaya dengan jawaban Sherly, tidak mungkin kan Sherly menangis karena hal seperti itu, bukan?


Varo memicingkan matanya, dia tahu kalau Sherly sedang berusaha membohonginya dengan omong kosong. Varo mencengkram erat kedua bahu Sherly membuat tubuh Sherly seketika menegang, dia sontak langsung menunduk—tidak berani menatap sorot mata Varo yang berubah menjadi tajam.


"Tatap mata abang, Sher!" Varo memberi perintah dengan suara pelan tetapi penuh dengan penekanan.


"Abang, nggak pernah ngajarin lo berbohong ya, Sher!"


Perlahan tapi pasti, Sherly mendongakan wajah kembali, sesekali dia memejamkan matanya sebentar.


"Siapa yang udah bikin lo nangis kayak gini?" Varo bertanya sekali lagi.


Sherly berdiri dan membeku. Untuk beberapa detik dia tidak bergeming sama sekali, lidahnya terasa sangat kelu untuk mengucapkan nama seseorang yang dia cintai, dan orang itu adalah Darel.


"Yang buat lo nangis kayak gini pasti Darel, kan?" Varo bertanya serius seraya mengangkat dagunya.


Sherly menggeleng pelan, lalu dia menunduk dan menautkan jari-jemarinya, dia takut, bahkan sangat takut kalau Darel akan dihajar habis-habisan oleh Varo.


Varo menyeringai tajam. Tanpa dikasih tahu oleh Sherly pun Varo sudah terlebih dahulu tahu jawabannya. Siapa lagi jika bukan Darel?


Prinsip Varo, siapapun boleh menyakiti dirinya, tetapi tidak ada yang boleh menyakiti adik perempuan kesayangannya.


Varo melepaskan cengkraman kedua tangannya dari bahu Sherly, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Varo memutar tubuhnya. Air mata Sherly kembali tumpah, kedua telapak tangannya dia gunakan untuk menahan lengan Varo, dia tidak ingin Varo pergi dari rumah.


"Hiks, jangan pergi, bang!" Sherly menyergah seraya terisak.


Berikutnya Varo mengunci mulutnya rapat-rapat, dia tidak bergeming sama sekali saat mendengar perkataan Sherly. "Jangan halangin abang, Sher! Abang mau ngasih pelajaran buat dia!" Varo menyahut dengan sedikit meninggikan suaranya, lalu dia menghempaskan tangan Sherly hingga Sherly jatuh tersungkur.


Sherly duduk bersimpuh di lantai. Perasaannya menjadi sangat berkecamuk. Dia hanya bisa menatap sendu atas kepergian Varo. Sherly berusaha membuang jauh-jauh pikiran negatifnya tentang Varo. Sherly menggeleng pelan, dia tidak ingin negatif thinking kepada Varo, dia berusaha meyakinkan dirinya agar tetap positif thinking.


Varo mengendarai motor berwarna biru tuanya dengan kecepatan tinggi. Dia mengabaikan umpatan kasar yang dilontarkan pengendara lain yang melihatnya ugal-ugalan seperti saat ini. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di rumah Darel. Setelah sampai didepan rumah milik Darel, dia langsung memarkirkannya didepan rumah yang tidak kalah mewah dengan rumahnya.


Dia melepas helm full face-nya, membiarkan rambutnya berantakan. Toh, dia masih tetap tampan. Varo melangkahkan kakinya menuju pintu rumah yang bernuansa putih. Dia memencet bel rumah itu berulang kali, tetapi pintu itu tidak kunjung dibuka. Varo menggeram marah, dia mengertakan giginya, kedua telapak tangannya mengepal, tanda dia sudah siap melayangkan pukulan bertubi-tubi di wajah Darel.


*


Mata Darel tidak terpejam, dia tengah menatap tanpa minat sketchbook miliknya yang berada diatas meja belajarnya-dia sedang tidak ingin menggambar. Darel beranjak dari tidurnya dengan malas, dia mengedarkan pandangannya, seketika kedua mata Darel berbinar saat melihat ponselnya yang terletak diatas nakas. Dia menurunkan kakinya kelantai, tangan kanannya terangkat untuk mengambil ponsel miliknya, dia lantas berjalan kearah balkon kamarnya seraya tersenyum membawa ponsel.


Darel duduk diatas sofa yang berwarna navy itu, dia mendongak keatas untuk menikmati semilir angin yang menyapu halus wajah tampannya seraya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya untuk melihat langit yang tadinya berwarna biru muda dan putih kian berubah warna menjadi orange dan bercampur pink, dan ungu yang terlihat sangat indah.


Darel tersenyum. 'Indah.' Satu kata itulah yang tiba-tiba terlintas dibenak Darel saat melihat matahari yang kian akan tenggelam. Darel menundukan wajahnya kembali. Alhasil, rambut depannya pun ikut terjuntai kebawah dan berhasil menutupi dahinya. Kedua bola matanya memperhatikan ponselnya yang sejajar dengan dada bidangnya.


Jari jemari Darel bergerak di atas layar persegi ponsel. Jari jempolnya menekan aplikasi WhatsApp-nya. Sontak dia langsung terkejut saat melihat banyaknya chat dan panggilan tidak terjawab dari Sherly—mantan kekasihnya. Bukan hanya itu saja, banyak nomor baru yang mengirimkan dia chat. Darel menghembuskan nafasnya dengan kasar saat melihat foto profil mereka yang terpajang foto cewek. Siapa yang berani menyebarkan nomor Darel seperti ini, huh? Darel sudah tidak heran banyaknya nomor kesasar-dia sudah biasa. Darel mengabaikan chat dari mereka semua, boro-boro dibalas—di read saja tidak sama sekali.


Darel menekan kolom pencarian yang letaknya diatas yang disamping kanannya terdapat titik tiga. Darel terkekeh geli saat jarinya bergerak untuk mengetik nama kontak Keysa.


Keysa-online.


^^^Darel: Key?^^^


Kenapa Darel begitu bar-bar sekali? Dia merutuki dirinya sendiri, bagaimana bisa dia mengirimkan Keysa chat lagi, huh? Bahkan Darel bukan siapa-siapanya Keysa.


"Bodo amat lah, sudah terlanjur juga,"


Satu menit kemudian ponsel Darel bergetar, tanda ada chat yang baru saja masuk. Darel tersenyum simpul, lalu dia segera membuka chat tersebut.


Keysa: Ada apa, Rel? Gada kerjaan ya? Makanya lo chat gue, haha


Darel terkekeh geli saat melihat balasan chat Keysa yang terlihat sedikit ngegas. Tampaknya Darel sekarang sangat suka menjahili Keysa. Darel lebih suka melihat Keysa saat marah. Karena menurutnya itu lucu dan Keysa jadi bertambah kecantikannya kalau dia sedang marah.


^^^Darel: Pinter banget lo, Key^^^


Keysa: Kalau gue pikir-pikir, lo tuh mirip bgt ya sm kembaran lo, tau nggak?


Sesekali jari jemarinya Darel tak bergerak ketika pikirannya sibuk dengan kata-kata yang bisa dia balaskan untuk seorang cewek yang ada di seberang sana yang tengah bercakap-cakap dengannya lewat chat.


^^^Darel: Jelas, Key. Wajah gue itu emang sedikit mirip sm David. Orang dia kan kembaran gue.^^^


Keysa: Ih, maksud gue bukan itu! Maksud gue lo sama-sama playboy kek kembaran lo itu!


Mata Darel seketika melotot tak percaya saat membaca chat dari Keysa barusan. Sedetik kemudian dia tertawa pelan. Apa-apaan ini? Kenapa gue malah dibilang cowok playboy sama kayak kembaran gue? Ya jelas beda jauh. Gue kan orangnya setia, nggak kayak si David yang playboy.