We Are Together

We Are Together
Dua puluh tujuh



Setelahnya Keysa kembali masuk ke dalam kamarnya, dia berjalan santai menuju meja rias, sebelum dia kembali ke kasur queen size miliknya, dia terlebih dahulu memakaikan skincare untuk wajahnya. Memakai skincare adalah kebiasaan rutin Keysa setiap malam hari yang kerap dia lakukan.


Dia mengambil dua buku novel best seller di rak bukunya. Buku novel tersebut adalah novel yang dia pinjam di perpustakaan kemaren lalu. "Yang ini apa yang ini, huh?" Keysa bertanya dengan dirinya sendiri—menimang-nimang pilihannya sebentar, dahinya mengernyit—tanda dia sedang bingung.


Beberapa detik kemudian Keysa menarik kedua sudut bibirnya, "Eum, yang ini aja deh!" Putusnya, lalu dia mengembalikan novel yang berada ditangan kirinya lagi di rak buku.


Dia menghirup nafasnya dalam-dalam, menghirup pengharum ruangan yang beraroma vanila kesukaannya yang bisa membuat dia jadi bahagia. Keysa merangkak naik keatas kasur queen size-nya, dia menyenderkan punggungnya di kepala ranjangnya, kedua kakinya dia selonjorkan, lalu ditariknya selimut tebal itu sampai sebatas paha.


Tangannya terulur untuk mengambil buku yang semula dia letakan diatas nakas, dia mulai membuka lembar perlembar novel tersebut. Malam itu begitu sunyi, sepi, dan hampa.


Kasur empuk, setoples keripik kentang pedas dan secangkir coffé latte panas, hingga sebuah buku novel best seller adalah kombinasi sempurna untuk menghabiskan malamnya yang sunyi dan sepi ini. Sesekali Keysa memasukan keripik kentang pedas kedalam mulutnya. Terfokus pada bacaan, Keysa membiarkan coffé latte panasnya menjadi dingin.


Tiba-tiba Keysa tertawa lebar, kenapa semua novel yang bergenre romantis pasti nantinya ada orang ketiga? Ah, ya, Keysa dulu pernah searching pertanyaan itu ke Google, katanya kalau tidak ada orang ketiga ceritanya tidak bakal seru dan pastinya ceritanya menjadi datar-datar saja seperti tembok, maybe?


Tetapi kalau pelakor udah muncul pasti Keysa jadi greget banget dan bawaannya ingin marah-marah sendiri seperti orang gila, dia juga merasa ingin mengajak si orang ketiga untuk baku hantam saja.


Keysa menggerutu lagi. "Gara-gara si pelakor dari tadi gue jadi marah-marah nggak jelas, akibatnya kan sekarang tenggorokan gue terasa kering,"


Di letakan novel itu disamping pahanya, dia meraih mengambil secangkir yang coffé latte yang sudah dingin karena dari tadi coffé latte-nya dibiarkan terbuka begitu saja. Keysa memejamkan matanya sembari menyeruput coffé itu. Entah kenapa walau coffé miliknya sudah dingin tetapi rasanya masih sama—yaitu masih tetap enak.


Dileletakan kembali cangkir coffé yang masih tersisa setengah, dia kembali memasukan keripik kentang pedas kedalam mulutnya. Keysa menghela nafasnya dengan kasar. "Eum, kenapa gue nggak gendut-gendut ya? Padahal gue kan suka makan banyak, gue juga tiap hari nyemil terus," gumamnya pelan seraya mengetuk-ngetuk pipinya dengan jari telunjuknya yang lentik, dia heran tentu saja.


Keysa mengendikan bahunya dengan acuh. "Ah, entahlah!"


Keysa kembali mengambil novelnya, lalu dia melanjutkan untuk membaca yang sempat tertunda tadi. "Gue benci cowok kek lo," Keysa berkomentar, matanya berkaca-kaca, namun tatapannya tidak lepas dari novel yang sedang dia pegang.


Kenapa Keysa rasanya jadi ingin menangis saja?


Air matanya tidak bisa dia bendung lagi, alhasil air matanya jatuh begitu saja dari pelupuk matanya. Ya, dia menangis karena tadi sempat membayangkan bagaimana rasanya menjadi tokoh cewek didalam novel yang tengah dia baca—yang tiba-tiba saja pemeran cewek didalam novel yang tengah dia baca diputusin secara sepihak oleh tokoh cowoknya—karena tokoh cowoknya itu lebih memilih bersama orang ketiga dari pada pacarnya sendiri. Keysa tidak habis pikir lagi dengan tokoh cowok itu, kenapa tokoh cowok itu lebih memilih orang ketiga dari pada pacarnya sendiri, huh?


'Pasti rasanya sakit saat menjadi tokoh cewek itu. Ah, mungkin rasanya benar benar sakit?'


Ponsel Keysa bergetar diatas nakas, Keysa meletakan buku novelnya lagi, dia mengusap pelan air matanya yang jatuh kepipi. Tangannya terulur untuk mengambil ponselnya itu, mata Keysa menyipit ketika mendapati chat dari nomer baru, yang belum dia ketahui sama sekali.


^^^Keysa: Siapa?^^^


Mata Keysa seketika melotot tidak percaya saat membaca chat dari pemilik nomer. "Ini gue yang tadi pagi dihukum bareng lo, Key."


Ah, Keysa sudah tahu, nomor baru tersebut adalah milik Darel Arsenio. Satu menit yang lalu Keysa tidak bergeming sama sekali, dia menggigit bibirnya.


"Darel dapat nomor gue dari siapa ya?"


Ah, gue tanya aja langsung dari pada gue jadi kepo kayak gini.


Lima detik kemudian ponsel Keysa kembali bergetar.


Darel: Nyuri nomor lo di ponsel kembaran gue


^^^Keysa: Huh dasar!^^^


Darel: Key, gue mau nanya, boleh? Tapi lo jangan marah ya?


^^^Keysa: Iyaa, nanya aja gpp.^^^


Darel: Ini pagi apa malem, Key?


Darel: Malem too, Key.


^^^Keysa: Ih, apaan sih?!^^^


Darel: Kamu cantik banget tau, tapi sayang


 


^^^Keysa: Sayang kenapa?^^^


Darel: Gpp sayang


^^^Keysa: Anjirlah kena prank lagi gue^^^


Darel: Jangan marah ya? ntar cantiknya jadi hilang


Read.


Keysa tertawa lebar saat chatingan dengan Darel, entah kenapa dia jadi terhibur oleh chat Darel yang menurutnya lucu, atau bahkan sangat lucu?


Hati Keysa seketika kembali menghangat, chatingan dengan Darel sudah mampu membuat mood-nya bagus kembali, walaupun hanya dengan chatingan yang menurutnya receh? Walaupun itu receh tetapi hal tersebut bisa membuat Keysa tertawa lebar.


*


Keysa yang saat ini menggunakan tank top putih dan hot pants jeans berwarna biru tua tengah tidur terlentang diatas kasur queen size-nya, kedua telapak tangannya digunakan untuk memegang ponselnya yang sejajar dengan perut langsingnya, kedua matanya tidak lepas dari layar kaca ponsel itu, sesekali dia mengerjapkan matanya.


Jemari Sherly bergerak diatas layar persegi panjang ponselnya. Sesekali jemarinya tidak bergerak ketika pikirannya sibuk dengan kata-kata yang akan dia kirimkan untuk sang pacar yang berada diseberang sana.


Sherly: Babe, kamu lagi apa?


Sherly: Udah makan belom?


Sherly: Babe, pasti kamu lagi menggambar, ya? Makanya chat aku nggak dibales


Sherly: Babe, jawab dong!


Sherly: Yaudah, aku ke rumah kamu sekarang juga!


Sherly menggerutu dengan sebal saat melihat puluhan chat WhatsApp-nya yang tidak kunjung dibales oleh Darel. Hanya centang abu-abu saja yang tertera disamping chatnya. Dia membuang asal ponselnya kesamping tubuhnya, lantas dia mengusap wajahnya dengan kasar.


Sherly adalah tipekal orang yang sangat penasaran, hal yang bikin dia penasaran pasti selalu dia cari tahu semuanya. Ya, seperti ini lah, dia sangat penasaran karena puluhan chatnya tidak kunjung dibalas oleh pacarnya sendiri.


Sherly menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu dia tertawa miris, menertawakan dirinya sendiri. Kenapa dia begitu bodoh sekali yang selalu mengejar-ngejar Darel yang jelas-jelas tidak menyukainya sama sekali dan tidak pernah menggapnya sebagai pacarnya sendiri. Sangat menyedihkan bukan?


Tetapi Sherly tidak perduli sama sekali apa kata orang yang mengatakan dia bodoh ata bahkan sangat bodoh? Dia sudah terlanjur cinta kepada Darel. karena baginya melupakan itu tidak semudah mengembalikan tangan.


Apa ini yang dinamakan cinta pembodohan?


Sherly melirik sebentar jam dinding yang berwarna putih polos, pukul menunjukan setengah tiga sore. Sherly menurunkan kakinya kelantai, lalu dia mengayunkan kakinya menuju lemari besar yang berwarna putih elegan itu, tangan kanannya terulur untuk membuka lemarinya.


Sherly menyapu pandang kearah pakaian miliknya sendiri, saking banyaknya pakaian, dia jadi bingung sendiri, sedetik kemudian matanya menangkap cardigan rajut yang berwarna merah maroon. Dia tersenyum dan meraihnya cardigan tersebut lalu segera memakainya. Tank top putih, hot pants jeans berwarna biru tua, dan cardigan merah maroon adalah kombinasi yang sempurna.


Sebelum pergi kerumah Darel, Sherly terlebih dahulu menuju meja rias, ia memoleskan bibirnya dengan lipstick mahalnya. Dia bercermin didepan kacanya, mematut-matut dirinya. Kedua sudut bibirnya terangkat keatas, membuat lengkungan yang terlihat manis. Ya, dia tersenyum seraya merapihkan rambut panjangnya tergerai indah di punggungnya. Sherly sangat puas saat merasa penampilannya sudah cukup sempurna.