
Berikutnya mata Varo menangkap wanita paruh baya yang kini berdiri disamping Keysa—dia juga tengah menatapnya seraya tersenyum manis kearahnya. Varo mengernyitkan dahinya bingung, sesaat dia kembali menolehkan kearah Keysa—seolah tengah bertanya 'Dia siapa Key?' pada Keysa.
"Halo, ganteng... Kenalin nama tante Linda, mommy-nya Keysa," Linda yang sudah paham pun langsung memperkenalkan diri seraya mengulurkan telapak tangannya kearah Varo. Senyumnya masih mengembang—seolah Linda tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Varo.
Entah kenapa tiba-tiba dada Varo terasa sesak saat mendengarkan perkataan Linda barusan. Nama mommy-nya Keysa mengingatkannya kepada sang mommy yang juga bernama Linda, kata daddy-nya mommy-nya telah lama pergi meninggalkannya dan adiknya kala keduanya masih sangat kecil. Entah sekarang dimana keberadaan mommy-nya sekarang. Yang pasti dia tidak mengetahui tentang itu.
Sejujurnya Varo tidak pernah tahu rasanya kasih sayang seorang ibu, dia hanya tahu rasanya kasih sayang seorang ayah saja. Varo terkadang iri kepada teman-temannya yang mempunyai orang tua yang lengkap. Varo menertawai dirinya sendiri. Nasibnya begitu malang bukan? Walau dia terlahir dari orang kaya, namun hidupnya tak sebahagia yang teman-temannya katakan.
Kontan Varo langsung berdiri, dia tersenyum tipis. Tangan kanannya terulur untuk menerima jabat tanggan dari Linda. "Hai tante, nama saya Azka Alvaro Jovanka,"
Refleks jantung Linda kini mendadak berdetak dua kali lebih cepat dari sebelumnya. Marga Jovanka? bukannya itu nama mantan suaminya? Tubuh Linda tiba-tiba menegang, dia benar-benar tidak menyangka bahwa setelah sekian lama akhirnya dia bisa melihat anaknya lagi, terakhir dia bisa melihat anaknya itu saat Varo berumur dua tahun. Sungguh sangat masih kecil bukan?
Linda menyeka air matanya yang tak sengaja terjatuh dari pelupuk matanya, antara senang dan sedih, dia senang karena bertemu kembali dengan anaknya dan sedih karena anaknya memanggilnya dengan sebutan tante. Harusnya Varo memanggilnya dengan sebutan mommy bukan sebutan tante.
Linda sungguh tidak menyangka, sekarang anak laki-lakinya sudah besar dan sangat tampan mirip dengan daddy-nya. Sejujurnya dia juga sangat ingin bertemu dengan anak perempuan keduanya yang tinggal bersama mantan suaminya itu, pasti anaknya itu juga cantik dan mungkin mirip dengan Keysa—anak bungsunya.
Sebenarnya Linda ingin sekali memberi tahu Varo, bahwa dia adalah mommy-nya, tetapi tentu saja dia langsung mengurungkan niatnya itu. Saat ini mungkin belum waktu yang tepat untuk memberi tahu rahasia besar yang tentunya hanya dirinya dan mantan suaminya saja yang tahu. Ketiga anaknya belum mengetahui hal tersebut, sungguh. Dia masih belum ingin Varo membenci dirinya, tetapi lambat laun pasti Varo akan tahu dengan sendirinya.
Varo mengerutkan alisnya, bingung. Pasalnya saat dia memperkenalkan dirinya, tiba-tiba senyum yang terpatri di wajah cantik Linda jadi hilang. Dia tiba-tiba menyentuh bahu kanan Linda. "Tante, kenapa? Kok malah nangis, sih?" Varo bertanya khawatir—yang terdengar lembut di telinga Linda dan Keysa.
Entah kenapa dia merasa ikut sedih melihat wanita paruh baya itu menangis seperti saat ini. Sontak saja Keysa langsung menolehkan wajahnya kearah Linda saat Varo berkata seperti itu, bohong jika dia mengatakan tidak. Kenyataannya faktanya memanglah seperti itu. Sebenarnya, dia sendiri pun tidak tahu apa yang membuat Linda jadi menitihkan air matanya.
Sungguh, Keysa benar-benar tak menemukan alasan apa yang sebenarnya membuat mommy-nya menangis. Keysa bahkan nyaris tak pernah melihat mommy-nya menangis semenjak tiga tahun terakhir ini. Tentu saja wajah Keysa berubah menjadi panik.
"Mommy kenapa? Kok malah nangis sih?" Keysa langsung saja melontarkan pertanyaan pada Linda dengan memasang raut wajah yang sangat nampak khawatir.
Keysa menghela nafasnya pelan. Berikutnya Linda mengusap pelan air matanya sendiri yang masih mengalir membasahi pipinya, dia tersenyum samar lalu dia menggelengkan pelan kepalanya. Tentunya dia tidak ingin membuat kedua anaknya khawatir seperti saat ini.
"Mommy enggak kenapa-kenapa kok, cuma kelilipan aja," dustanya.
Tidak mungkin jika dirinya harus memberitahu kedua anaknya itu bahwa sebenarnya Varo adalah anaknya yang nota bene-nya adalah kakak pertamanya Keysa, bukan? Mengingat bahwasannya saat ini bukanlah situasi yang tepat untuk membongkar rahasia yang sudah lama dia sembunyikan.
Jika saja dia memberi tahu saat ini yang ada kedua anaknya tidak mau bertemu lagi dengannya dan yang lebih parahnya lagi kedua anaknya membenci lebih dari apapun, membayangkannya saja dia sudah setakut ini.
Keysa menyipitkan matanya kearah Linda. Sungguh, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dikatakan Linda barusan, tidak mungkin bukan kalau Linda menangis karena kelilipan saja, bukan? Pasti ada alasan lain yang membuatnya menangis, sayangnya dia tidak mengetahuinya.
"Eum, makasih ya ganteng, udah nganterin anak tante yang cantik ini," Linda berkata tulus seraya menyentuh bahu milik Keysa. Dia tertawa kecil tanpa mengalihkan pandangannya pada Varo.
Anak laki-lakinya sekarang sudah tumbuh besar dan berparas sangat tampan seperti Jovanka—daddy-nya alias mantan suami Linda. Seketika Linda menjadi ingat dengan mantan suaminya.
Jovanka kamu apa kabar?
"Iya, sama-sama tante." Varo menyahut lirih seraya tersenyum tulus. Kedua telapak tangannya dia masukan kedalam kantung celananya—hal tersebut kian membuatnya makin terlihat cool.
Sesekali Varo menjilat bibirnya karena sangat gugup saat berada di dekat Linda—alias mommynya Keysa. Tak bisa dipungkiri bahwa Varo sering mencuri pandang kearah Keysa yang kontan berhasil membuat Keysa menjadi salah tingkah sendiri.
Linda menoleh kearah Keysa yang kini tengah salah tingkah. Linda tertawa kecil setelahnya, sejujurnya dia merasa sedikit heran ketika melihat Keysa yang saat ini tengah menolehkan wajahnya kearah jendela yang lumayan besar. Menatap jalan raya yang jauh dari sepi—seolah semua kendaraan tak pernah lelah berlalu lalang di jalan raya, walau hari sudah mulai petang. Tetapi Linda tidak terlalu mempedulikannya.
"Sayang, mommy tinggal dulu ya? Kamu di sini aja sama Varo, ngobrol-ngobrol dulu," Linda kembali berkata seraya mengusap punggung anak perempuannya dengan sayang.
Keysa kontan langsung menolehkan wajahnya kearah Linda. "Iya pasti mom," Keysa menyahut seraya tersenyum lebar. Sedetik kemudian Linda ikut tersenyum.
Tidak berselang lama Linda segera menolehkan wajahnya kembali kearah Varo. Linda tersenyum tipis sebelum mulai berbicara. "Ya sudah tante mau kebelakang dulu ya, nak? Kamu pokoknya jangan pulang dulu, oke? Nanti tante pasti akan balik kesini lagi,"
Varo mengangguk mengiyakan. "Iya tante." Varo menukas cepat dengan suara bariton miliknya yang terdengar berat.
Linda tersenyum tipis mendengarnya, dia memutar tubuhnya kebelakang sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi menuju kebelakang—meninggalkan mereka berdua di situ sendiri.
Seketika pikiran Varo menjadi berkecamuk lantaran dia mengingat adik perempuannya. Pasti adiknya kini tengah menunggunya di rumah. Dia sudah menduga jika adiknya pasti saat ini tengah mengkhawatirkannya pasalnya hari sudah petang dan dirinya belum juga pulang. Kasihan sekali. Pasti Sherly tengah di rumah sendirian.
Kedua telapak tangan Keysa mengepal. Keysa tengah menguatkan dirinya sendiri supaya tidak kembali salah tingkah, dia memejamkan matanya sebelum mulai berbicara. "Duduk lagi aja kak, kopinya di minum kak, mumpung masih hangat," Keysa memerintahkan Varo seraya tertawa kecil.
Detik berikutnya Keysa duduk di kursi yang letaknya di depan meja yang dibelakangnya terdapat kursi milik Varo, hanya saja kedua kursi itu terhalang oleh meja yang berukuran sedang. Tanpa pikir panjang Varo juga ikut duduk di kursi yang tadi sudah sempat dia tempati.
"Bay the way, makasih loh Key," Varo mulai kembali berbicara seraya mengambil secangkir kopi cappuccino yang tadi sudah Keysa letakan diatas meja. Kopi itu masih terlihat mengepulkan asap tanda bahwa kopi itu masih hangat. Tak lama kemudian Varo mulai mendekatkan secangkir kopi itu pada mulutnya dan menyesap kopi itu dengan pelan, namun matanya tak lepas dari wajah cantik Keysa.
Keysa mengangguk seraya tersenyum manis. "Iya, sama-sama kak."