
"Iya bu," Darel dan Keysa menjawab jujur dengan kompak.
Rika tidak habis fikir lagi dengan mereka berdua.
Bagaimana bisa mereka bisa terlambat?
Bukankah mereka selama ini tidak pernah terlambat?
Lantas kenapa hari ini mereka terlambat?
Padahal mereka berdua adalah siswa-siswi yang terkenal karena kepintarannya serta memilik paras wajah yang goodlooking. Entahlah Rika sendiripun tidak mengetahui hal tersebut. Lantas Rika memejamkan matanya sejenak seraya memijit pelipisnya menggunakan telapak tangan kirinya, karena telapak tangan kanannya untuk memegang kayu rotan. Kepalanya terasa berdenyut sesaat.
"Sekarang kalian saya hukum, lari keliling lapangan basket lima belas kali!" Rika memberi perintah mantap dengan suaranya yang sedikit meninggi dan berhasil membuat telinga Darel dan Keysa cenat-cenut dibuatnya.
Darel berdeham pelan. "Tapi bu, tadi jalanan ma—" Darel berusaha untuk menjelaskan dengan nada yang dibuat sesopan mungkin.
Tetapi hasilnya nihil! Usahanya benar-benar sia-sia karena setelahnya Rika langsung melotot tajam kearahnya. "Tidak ada tapi-tapian, sekarang cepat lari!" Rika kembali menyahut dengan nada tinggi. Sejujurnya dia adalah tipekal orang yang tidak suka di bantah—apalagi dibantah oleh muridnya sendiri, oh no!
Kalau sudah begini mau bagaimana lagi? Keduanya berpandangan sejenak, jelas keduanya bersumpah serapah dalam hati. Namun keduanya masih saja memasang senyuman terpaksa. Keduanya mengucapkan selamat pagi dan terimakasih. Berikutnya Darel langsung menarik pergelangan tangan kanan Keysa sebelum akhirnya memutuskan untuk berlari menuju lapangan basket yang luasnya minta ampun.
Keysa mengedarkan pandangannya keseluruh penjuru lapangan. Lapangan SMA Merah nampak luas, di sisi-sisinya terdapat bangku panjang yang digunakan untuk berteduh saat murid tengah beristirahat. Begitupun dengan pohon besar yang berada didekat bangku panjang—berguna untuk menghalang panas matahari yang menyengat tubuh. Lapangan tersebut juga terlihat bersih—tidak terdapat sampah organik maupun anorganik.
Kontan Keysa bersyukur dalam hati karena tidak ada segelintir murid yang sedang bermain basket di lapangan. Sebab jika ada pasti muka cantiknya akan memerah seperti kepiting rebus, karena menahan malu. Angin berhembus pelan yang membuat rambut panjang Keysa berterbangan. Dia memejamkan matanya menikmati panas matahari yang mulai meninggi yang menyengat kulit mulusnya, Keysa mendengus sebal. Suasana tampak hening karena keduanya belum berbicara sama sekali saat tiba di lapangan.
"Sekali lagi gue minta maaf ya, Key—"
"—Gara-gara gue, lo jadi telat," lanjut Darel yang berhasil memecah keheningan yang ada.
Lantas Keysa menolehkan kepalanya kearah Darel. Dia lantas tersenyum yang terlihat manis dimata Darel. "Semua ini bukan salah lo dan berhenti untuk menyalahkan diri sendiri, oke?"
"Toh, tadi pagi juga jalanan macet, wajar kalo kita berdua terlambat," lanjutnya seraya tertawa kecil.
Darel tersenyum tipis mendengarnya.
"Cepat mulai berlari atau bu guru tambah hukuman kalian?" Rika kembali berbicara dengan meninggikan suaranya, berusaha agar suaranya terdengar dengan jelas. Perlu diketahui bahwa dirinya sekarang berada di tepi lapangan—mengawasi keduanya. Takut jika kedua muridnya melarikan diri dari hukuman yang dia berikan tadi.
Kontan Darel dan Keysa melotot tak percaya, mereka tidak tahu bahwa mereka sedari tadi sedang diawasi oleh Rika dibelakang sana. Keduanya lantas saling berpandangan. Keysa mendekatkan tubuhnya kearah tubuh jangkung milik Darel. "Burik sekarang sedang ngawasin kita, kita nggak boleh diem aja kayak gini," Keysa berujar dengan lirih.
Darel menunduk menatap rambut Keysa yang berwarna hitam kecoklatan, tangannya terangkat, lantas dia mengacak-acak rambut Keysa dengan gemas. "Semangat, Key!"
Keysa mengangguk seraya tersenyum memamerkan lesung pipinya. Dia tidak terlihat marah walau Darel tadi sempat mengacak-acak rambutnya. "Lo juga, ya?"
Panas banget gila! Bisa gosong gue kalau kelamaan di sini. Keysa membatin kesal dalam hati.
Kurang lebih satu jam—keduanya sudah berhasil memutari lapangan yang ukurannya luas ini sebanyak tiga belas kali. Hanya saja kurang dua kali lagi. Namun tampaknya Keysa sudah terlihat kelelahan begitupun dengan Darel. Kontan Darel segera mengajak Keysa untuk istirahat sebentar dikursi panjang yang disebelahnya terdapat pohon besar yang sangat cocok untuk berteduh, letaknya pun tidak jauh dari lapangan basket.
"Capek banget gila!" Keysa berujar lirih seraya mengipas-ngipaskan wajahnya dengan telapak tangannya, berharap wajahnya terasa sedikit terasa sejuk. Namun usahanya sangatlah sia-sia. Nafasnya terdengar ngos-ngosan, wajar saja karena dirinya habis lari maraton.
Darel mengangguk—menyetujui perkataan Keysa barusan.
Tampaknya Rika sudah tidak berada ditepi lapangan. Kemungkinan besar Rika sudah pergi—mungkin sekarang dirinya sudah berada diruang guru? Entahlah keduanya tidak tahu akan hal tersebut. Tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa keduanya cukup merasa senang karena sudah tidak diawasi oleh guru sekolahnya yang terkenal killer.
Tidak lama kemudian Darel membuka tas ranselnya yang berwarna hitam, diraihnya handuk kecil yang berwarna putih polos miliknya. Tidak sia-sia dia membawa handuk kecil, karena kenyataannya hari ini sangatlah berguna. Perlu diketahui bahwa wajah keduanya sudah dibanjiri oleh peluh yang bercucuran dan terus menetes.
Kini, Darel mendekatkan wajahnya kearah Keysa yang terlihat dari samping. Cantik. Kata itu lah yang tiba-tiba terlintas di pikiran Darel saat ini. Tangan kanan Darel yang sedang membawa handuk kecil kontan terangkat untuk menyeka keringat yang membanjiri wajah cantik Keysa menggunakan handuk kecil miliknya.
Sementara Keysa? Dirinya belum mengetahui bahwa saat ini jaraknya dengan Darel sangatlah dekat. Perlu diketahui bahwa saat ini matanya menatap lurus kedepan. Keysa hanya diam terpaku tatkala merasakan sesuatu yang terasa halus dan lembut menerpa wajahnya. Detik berikutnya Keysa menolehkan kepalanya kesamping. Kenapa dirinya baru menyadari bahwa Darel sedang mengusap peluhnya yang kian banyak, huh?
Kenapa Darel kalau dilihat dari jarak dekat ketampanannya bertambah berkali-kali lipat, huh?
Keysa terlebih dahulu memutuskan kontak matanya dengan Darel. Dia salah tingkah, tentu saja. "Eum, gue bisa sendiri, Rel," Keysa berkata dengan kikuk. Dia jelas tidak enak, mengingat bahwasanya Darel sudah mempunyai seorang pacar. Tidak seharusnya dia berdekatan dengan Darel. Dan jangan lupakan! Dirinya bisa habis jika Sherly melihat dirinya dan Darel seperti saat ini.
Darel menggeleng keukeuh. "Nggak, biar gue aja," sahutnya, sedetik kemudian dia kembali menyeka keringat Keysa yang masih tersisa sedikit.
Bel istirahat sudah berbunyi satu menit yang lalu, tidak butuh waktu lama untuk para murid berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Mereka semua berbondong-bondong meninggalkan kelasnya dan berlarian menuju kantin, kamar mandi, perpustakaan, taman, atau mungkin pergi menuju rooftop? Mungkin hanya segelintir murid saja yang masih berada didalam kelas?
Sherly sendiri terlihat sibuk, berulang kali dia celingak-celinguk kesana-kemari seolah sedang mencari seseorang. Telapak tangan kanannya dia gunakan untuk memegang sebotol air mineral. Dia baru saja keluar dari kantin. Perlu diketahui bahwa saat ini dirinya tengah mencari keberadaan pacarnya sendiri.
Sherly mendesah frustasi. "Babe gue ada dimana sih?"
Berulang kali Sherly menghembuskan nafasnya dengan gusar. Wajahnya nampak terlihat sangat khawatir sekali. Perlu diketahui bahwa Sherly khawatir karena tadi pagi Darel belum memberi dia kabar sama sekali—terlebih lagi saat dirinya tadi mengunjungi kelas Darel—pacarnya tidak ada disana, saat dia menanyakan kepada temannya Darel—temannya bilang bahwa Darel belum datang.
Masih ada tempat yang belum gue datengin, yaitu lapangan basket. Sherly membatin dalam hati.
Sherly segera mengayunkan kakinya untuk berlari kecil menuju lapangan basket. Banyak pasang mata yang tertuju padanya—sayangnya Sherly tidak peduli akan hal tersebut, mengingat bahwa tujuannya sekarang adalah mencari keberadaan pacarnya yang entah kemana. Setelah sampai di tepi lapangan, Sherly langsung mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba saja bola matanya terpaku pada dua insan yang sedang duduk berdampingan.
Babe dan Keysa?
Senyum Sherly kian pudar ketika melihat pacarnya tengah berduaan bersama cewek lain, selain dirinya sendiri. Hatinya terasa teriris—lantas tangannya mengepal begitu saja. Jujur saja, Sherly sangat tidak rela apabila pacarnya berdekatan dengan cewek lain... tetapi, apa boleh buat, huh? Tak lama kemudian Sherly kembali berjalan mendekat kearah Darel.
"Babe, kamu kenapa bisa keringetan seperti ini, huh?" Sherly bertanya dengan wajah yang terlihat sangatlah penasaran.