We Are Together

We Are Together
Tiga puluh enam



"Ishh... kak Keysa nyebelin deh," sahutnya seraya memalingkan mukanya.


"Lo bocah kepo!"


"Kak Keysa galak,"


"Lo bocah nakal,"


"Kak Keysa kek harimau,"


"Lo kek kucing,"


"Kak Key—"


*


Darel memarkirkan motor ninja berwarna merah berani tepat di halaman rumah milik Keysa, dia turun dari motornya, lalu melepas helm full facenya.


Darel mengedarkan pandangannya keseluruh halaman. Halaman rumah Keysa sangat terasa sangat asri. Banyak rumput hias menghiasi halaman depan rumah Keysa. Bunga hias pun banyak—berjejeran menghiasi halaman yang menyejukkan mata.


Sepi. Satu kata itu lah yang terlintas dibenak Darel sekarang. Matanya memandang rumah bernuansa putih yang berada didepannya, rumah milik Keysa bisa dibilang sedang—tidak kecil, namun juga tidak besar. Tetapi rumahnya sangat bagus.


Darel melangkahkan kaki menuju pintu rumah Keysa seraya menenteng tote bag berwarna hitam polos. Darel tersenyum, lalu dia mengangkat telapak tangan kanannya dan memencet bel rumah Keysa.


*


Ting tong!


Ucapan Alletta terpotong karena suara bel rumah. Lalu Keysa dan Alletta saling berpandangan, sedetik kemudian Keysa memutuskan kontak mata.


"Lo yang bukain ya, Ta," pinta Keysa seraya merapikan rambutnya di depan pantulan cermin.


Alletta hanya berdeham pelan lalu dia mengangguk setuju. Disuruh orang lain itu dapat pahala, bukan? Ya, sudah, Alletta mau saja disuruh, asalkan dia dapat pahala.


Alletta beranjak dari duduknya lalu dia menurunkan kakinya ke lantai, Alletta penasaran dengan orang yang memencet bel rumah Keysa barusan. Dengan berat hati Alletta menuruni anak tangga.


Alletta mengerutkan keningnya, tanda dia sedang bingung. "Ishh, berisik banget sih tu orang! siapa sih yang datang siang-siang kayak gini, huh? Ganggu aja deh," Alletta mengomel samar, saking samarnya hampir tidak terdengar.


Perlahan tapi pasti, Alletta membuka knop pintu dengan gerakan pelan.


Ceklek.


Betapa terkejutnya Alletta saat melihat cowok tampan yang sedang berdiri di depan pintu rumah Keysa. Alletta mendongak seraya tersenyum, matanya tidak berkedip sama sekali, dia tetap memandang wajah tampan Darel.


Oh my god, ini cowok ganteng banget! Mana wajahnya mirip banget sama member BTS lagi. Batinnya.


Darel mengernyitkan dahinya saat melihat gadis yang berada di depannya. Ini beneran rumah Keysa, bukan? Apakah Darel salah alamat?


Darel mengira jika gadis yang berada didepannya sedang bengong. Darel lantas melambai-lambaikan telapak tangan kanannya tepat didepan wajah Aletta.


"Halo?" Panggil Darel dengan suara bariton miliknya yang terdengar beratnya.


Panggilan dari Darel sukses membuat Alletta terlonjak karena kaget. Alletta berdeham pelan untuk mengurangi rasa malunya, dia malu, bahkan sangat malu.


Kenapa suara cowok yang didepan gue begitu seksi, huh?


Darel memutar bola matanya jengah.


Kenapa setiap cewek lihat cowok ganteng jadi bengong? Darel bertanya dalam hati.


Alletta menunduk seraya menautkan jari-jemarinya. Sungguh dia masih sangat malu. Sesekali dia mengerjapkan matanya. Semoga saja Darel tidak mengetahui jika dia tengah menahan malu.


Darel berdeham pelan untuk mengurangi rasa canggungnya. Tidak mungkin kalau Keysa berubah menjadi gadis berponi yang sedang berada didepannya saat ini?


"Ini beneran rumah Keysa, bukan?" Darel bertanya serius.


Refleks Alletta mendongak, dia mengangguk membenarkan. Maybe, dia temannya Keysa. Batinnya. Allettaa menyelipkan anak rambutnya kebelakang telinga yang terjuntai menutupi sebagian wajah karena dia menunduk.


Apa dia pacar kak Keysa ya? Gila, sih! Soalnya gantengnya kelawatan. Batinnya.


"Eum, kakak mau ketemu kak Keysa, ya?" Alletta bertanya antusias.


Darel mengangguk dengan semangat lalu dia melemparkan senyum kearah Alletta, syukurlah kalau cewek yang berada didepannya sudah paham.


Alletta melongo saat melihat Darel tersenyum. Kenapa harus pake tersenyum segala? Apakah dia tidak tahu kalau senyumnya itu manisnya kelewatan?


Alletta mengembalikan badannya, dia segera berlari ke dalam rumah untuk memanggil Keysa. Sungguh dia sudah tidak kuat. Rasanya Alletta ingin menceburkan tubuhnya ke dalam kolam renang saja.


"Kak Keysaaa!" Alletta berteriak nyaring.


Keysa menutup kedua telinganya saat mendengar teriakan Alletta yang kelewat kencang hingga membuat gendang telinganya seperti ingin pecah.


"Eum, anu, kak—"


Keysa menatap tajam Alletta, dia tidak habis pikir lagi dengan Alletta. Kenapa anak nakal itu terus mengganggunya? Apakah tidak ada kegiatan lain yang lebih berfaedah dari pada mengganggunya?


Keysa menurunkan kakinya ke lantai, "Anu anu apa sih? Ngomong yang bener dong!"


"Kak ganteng, nyariin kakak," tuturnya seraya menunjuk lantai bawah.


Sedetik kemudian Keysa memelototkan matanya, lalu dia tertawa terbahak-bahak. "What? Kak ganteng? Gue nggak salah denger nih? Perasaan temen cowok gue nggak ada yang namanya ganteng deh, lo lagi ngehalu, ya?"


Alletta menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dia mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Kenapa Keysa tidak percaya dengan dirinya?


"Eum, gue enggak tau namanya sih, kak... tapi yang jelas cowok itu ganteng banget, jadi gue panggil aja kak ganteng," jelas Alletta, dia kembali tersenyum saat mengingat senyuman Darel yang sangat manis.


Keysa terdiam, dia tidak bergeming. Dia berusaha mencerna perkataan Alletta barusan. Cowok ganteng?


Darel.


Satu nama itu lah yang langsung terlintas dibenak Keysa sekarang. Cowok tampan banyak, tapi yang mau kerumahnya saat ini adalah Darel.


Eum, tapi kenapa Darel bisa tahu alamat rumah Keysa?


Padahal kan Keysa belum sharelook alamat rumahnya kepada Darel? Eum, entahlah, Keysa pun tidak tahu itu.


Keysa menepuk jidatnya sendiri. Sedetik kemudian dia tersenyum kearah Alletta. Tangan Alletta terangkat untuk mencubit pelan pipi sedikit chubby milik Alletta. "Lo turun aja dulu, gue bentar lagi nyusul!"


"Siap, kak Keysa!" sahutnya bersemangat.


Keysa menuju meja riasnya, dia tersenyum saat merasa penampilannya sudah cukup terlihat sempurna. Keysa mengambil pakaian yang tadi telah dia siapkan, setelahnya dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya.


Setelah lima menit berlalu Keysa keluar dari kamar mandinya. Keysa mengambil sneakers miliknya yang berwarna putih bermotif bunga berwarna biru di rak sepatu dan memakainya dengan segera, lalu dia beralih mengambil tas selempang berwarna senada dengan baju yang dia kenakan untuk saat ini.


"Let's go!" Keysa memekik senang.


Keysa yang sudah siap pun langsung membuka knop pintu kamarnya dan menutup pintu kamarnya kembali dari luar, dia berjalan menuruni anak tangga dengan santai.


"Pasti Darel udah didepan rumah gue nih... Maybe, sekarang dia lagi ngobrol sama Alletta?" Keysa bergumam pelan sambil senyum-senyum sendiri.


Keysa menoleh kearah Darel yang sedang duduk di kursi rotan miliknya yang berada teras rumahnya.


"Halo?"


Kontan Darel dan Alletta menoleh kearah Keysa. Darel menatap Keysa dengan wajah berbinar, dan Alletta menatap dengan wajah terkejut. Bagaimana tidak terkejut? Orang Keysa saat ini terlihat begitucantik. Tidak pakai make-up aja udah cantik apa lagi pakai make-up, seperti sekarang?


"Eum, gue aneh, ya?" Keysa bertanya, tidak percaya diri.


Darel beranjak dari duduknya, dia berdiri seraya menggelengkan kepalanya pelan, tanda dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan Keysa barusan. Darel melangkahkan kakinya mendekati Keysa, telapak tangan kanannya dia gunakan menenteng tote bag berwarna hitam. "Lo nggak aneh kok, tapi lo cantik,"


Alletta mengangguk membenarkan. "Oh... jadi kak Keysa mau ke—"


Buru-buru Keysa menutup mulut Alletta dengan telapak kanannya. "Lo diem atau gue usir dari rumah gue?" Keysa bertanya, berbisik.


Alletta berusaha melepaskan telapak tangan Keysa yang menutupi mulutnya. Perlahan tapi pasti, Keysa melepaskan telapak tangan kanannya dari mulut Alletta.


"Nih, buat lo, tapi di bukanya nanti aja, ya?" Darel berbicara lembut seraya menyodorkan tote bag kearah Keysa.


Keysa memicingkan matanya saat melihat tote bag berwarna hitam. "Nggak usah repot-repot, Rel,"


Darel menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, dia tidak setuju dengan perkataan Keysa tadi. Bagi Darel, Keysa tidak pernah merepotkannya sama sekali.


"Kalau dikasih orang jangan di tolak ya, Key? Nggak baik,"  sahutnya diiringi tertawa kecil.


Alletta mengangguk membenarkan. "Iya bener tuh kak, jangan di tolak kak, udah terima aja kak," Alletta ikut menimpali seraya menaik turunkan alisnya, menggoda.


Aletta memang bocah sialan! Dasar tukang kompor.