
Sherly meraih knop pintu kamar milik Darel lalu mendorongnya dengan pelan, dia menyapu pandang ke seluruh ruangan kamar milik Darel, dinding kamarnya bernuansa putih netral. Sherly tersenyum ketika matanya menemukan sosok yang sedang dia cari. Darel tengah tidur terlentang diatas kasur king size-nya, Darel mengenakan kaos oblong berwarna army dan dipadukan dengan celana kolor selutut berwarna hitam.
Rasa penasarannya pun sekarang sudah terbayarkan, Sherly sudah mengerti sekarang, kenapa puluhan chat-nya tadi tidak kunjung dibalas oleh Darel ternyata Darel sedang asyik bermimpi. Berikutnya Sherly berjalan menghampiri kasur king size milik Darel, tetapi matanya tidak lepas memandangi wajah tampan milik Darel yang masih terlelap.
Sherly duduk diujung kasur king size milik Darel, dia membelai halus wajah Darel yang menurutnya tampan. Ah, ralat, maksudnya sangat tampan. Kulit putih, alis tebal, hidung mancung, dan terakhir bibir yang berwarna merah muda alami. Wajah Darel saat tidur terlihat sangat damai, Deru nafasnya pun sangat teratur. Sherly jadi tidak tega sendiri untuk membangunkan kekasihnya.
Mata Sherly beralih memandang sekitar, tiba-tiba bola matanya menangkap sketchbook milik Darel yang berada tepat diatas meja belajar, dia beranjak dari duduknya lalu dia mengayunkan kakinya menuju meja belajar. Tangan kanannya terulur untuk mengambil sketchbook milik Darel, dia membuka lembar perlembar sketchbook itu.
"Kenapa Darel nggak pernah gambar gue, ya?" Sherly bertanya lirih.
Seketika mata Sherly memicing. "Bukankah cewek ini adalah Keysa?"
Mata Sherly tiba-tiba berkaca-kaca. "Keysa aja pernah digambar Darel, lha gue? Boro-boro digambar," gumamnya pelan, dia tertawa miris—menertawakan dirinya sendiri.
Sherly menyeringai kejam, pelan tapi pasti, Sherly menyobek kertas yang bergambar wajah Keysa menjadi beberapa bagian kecil, setelahnya dia merasa puas, bahkan dia sangat puas karena telah berhasil menyobek kertas milik Darel yang bergambar wajah Keysa. Tentu saja dia tidak terima akan hal tersebut.
Kenapa dirinya sama sekali tidak pernah digambar oleh Darel, padahalkan dia pacarnya sendiri? Sedangkan Keysa yang bukan siapa-siapanya Darel kenapa malah pernah digambar, huh? Sherly tidak habis pikir lagi dengan pacarnya sendiri.
Darel membuka kedua kelopak matanya yang sedari tadi terpejam, Matanya mengerjap beberapa kali untuk beradaptasi dengan cahaya sekitar. Dia mengubah posisinya menjadi miring, seketika matanya melebar saat melihat cewek yang tengah duduk bersimpuh membelakanginya. Darel lantas beranjak dari kasur king size-nya.
Darel menurunkan kakinya kelantai, telapak tangan kanannya langsung terangkat untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar karena menguap. Dia melangkahkan pelan untuk menghampiri cewek yang masih bertahan posisi membelakanginya.
Siapa cewek itu yang berani-beraninya masuk kedalam kamarnya tanpa seizin gue?
Darel memegang bahu kanan milik cewek, sontak cewek itu langsung terperanjat kaget. Darel melotot tak percaya saat melihat cewek itu mendongakan kepalanya.
Kenapa Sherly bisa-bisanya masuk kedalam kamar gue tampa seizin gue? Darel bertanya dalam hati.
Mata Darel beralih menatap beberapa kepingan kertas yang berceceran dilantainya, matanya menyipit, Darel berjongkok untuk mengambil salah satu kepingan kertas itu, betapa terkejutnya Darel saat melihat gambar wajah Keysa yang sudah disobek-sobek seperti ini. Darel berdiri, lalu disusul oleh Sherly. Darel menatap tajam kearah Sherly, "Siapa yang nyobek kertas ini, huh?" Darel bertanya dengan sedikit membentak, memperlihatkan sobekan kertas itu kepada Sherly. Bagaimana Darel tidak marah jika yang disobek itu kertas yang bergambar wajah Keysa?
"Yang nyobek aku, babe," Sherly menyahut santai seraya meraba dada bidang milik Darel dengan lembut, sudah biasa bagi Sherly menghadapi sikap dingin dan cuek itu yang mungkin hanya ditunjukan kepadanya saja?
Darel menepis telapak tangan Sherly yang masih bertengker di dada bidangnya dengan kasar. Jujur saja, Darel sudah muak dengan sifat Sherly yang mungkin kekanak-kanakan?
"FIX, SEKARANG KITA PUTUS!" Darel berbicara penuh penekanan.
Sherly menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali, dia tertawa pelan, dia mengira bahwa Darel sekarang sedang bercanda. "Kamu bercanda kan, babe? Nggak mungkin kamu putusin aku begitu saja, kan?" Sherly bertanya meminta persetujuan, dia terisak karena masih tidak percaya dengan perkataan Darel barusan.
Darel mencengkram kedua bahu milik Sherly, dia menatap Sherly dalam-dalam. "Gue serius, Sher!" Darel menahan emosinya yang sudah mencapai ujung ubun-ubunnya, seandainya yang didepannya bukan cewek pasti Darel langsung menghajarnya habis-habisan.
Tes.
Cairan bening turun begitu saja dari pelupuk mata milik Sherly, "Tapi kenapa kamu mutusin aku, babe? Apa alasan kamu buat mutusin aku, huh?"
"Karena—" Darel sengaja mengantungkan perkataannya.
"Gue nggak pernah cinta dan sayang sama lo! Tapi gue dulu nerima lo jadi pacar gue karena gue kasian aja sama lo yang selalu ngejar-ngejar gue!"
Darel menyeringai, telapak tangan kanannya terangkat untuk memegang pipinya yang tadi sempat ditampar Sherly. Rasanya sama sekali tidak sakit.
Kenapa Darel begitu brengsek?
Apakah dia nggak pernah mikirin perasaan gue, huh?
Apakah dia sama sekali nggak pernah melihat perjuangan gue dulu saat berusaha mendapatkannya, huh?
Dan dengan mudahnya dia bilang kalau nerima gue karena rasa iba?
Haha. Lucu sekali.
Darel menatap tajam Sherly seraya menaikan sedikit dagunya. "Siapa yang lo maksud cewek ***** itu, huh?"
"Iya gue emang brengsek! Puas lo?!"
Sherly mengalihkan pandangannya kesamping, lalu dia tertawa hambar. "Siapa lagi kalau bukan Keysa?"
Darel memajukan sedikit wajahnya. "Jaga ucapan lo, Sher!" Darel membentak tepat didepan muka Sherly.
Tes.
Cairan bening Sherly kembali menetes dari pelupuk matanya. Sudah tidak bisa dihitung lagi dia sudah menangis untuk yang keberapa kalinya. Dia menangis dengan alasan yang sama yaitu diputuskan secara sepihak.
Sherly mengusap air matanya dengan kasar. Kenapa Sherly begitu cengeng sekali saat berada didepan Darel?
Sherly merutuki dirinya sendiri, seharusnya dia tidak boleh menangis didepan bajingan seperti Darel.
Sherly sungguh sudah tidak kuat lagi berada didepan Darel, dia menangis lagi seraya berlari untuk pergi dari rumah milik Darel. Air matanya tak henti-hentinya bercucuran, dia menuruni anak tangga itu dengan cepat, sesekali dia terisak seraya mengusap kasar air matanya yang jatuh dipipinya.
Sedangkan Darel? Dia kembali merebahkan tubuhnya kekasur king size-nya, kedua tangannya dia rentangkan. Kedua bola matanya tengah menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih elegan. Dia tersenyum—tidak merasa bersalah sedikitpun saat memutuskan hubungannya secara sepihak, dia berharap hari-harinya besok tidak ada sosok Sherly lagi yang selalu berada disisinya dan bermanja-manja kepadanya.
David yang sedang asyik menonton televisi pun mengalihkan pandangannya saat mendengar suara langkah kaki, dia menatap kepergian Sherly dengan sorot mata yang tidak bisa diartikan. "Sherly! Lo kenapa nangis, Huh?" David bertanya dengan sedikit berteriak.
Mengapa David begitu khawatir dengan Sherly? Entahlah dia pun tidak tahu.
Sherly segera berlari keluar rumah Darel, dia tidak menghiraukan pertanyaan David sama sekali. Dia langsung bergegas mengendarai mobil berwarna orange kesayangannya, lalu menancapkan gas dan melesat jauh menyusuri kota Jakarta.
*
Deru mobil yang samar-samar terdengar berhasil mengalihkan seluruh perhatian Varo. Varo melirik sekilas jam dinding, pukul menunjukan setengah empat sore, dia mengernyitkan dahinya tanda dia sedang bingung, "kenapa adek gue pulangnya cepat banget, ya?" dia bertanya lirih. Varo bergegas turun dari kasur king size-nya dan langsung berlari keluar kamar.
Varo memicingkan matanya saat mendapati Sherly sedang berlari memasuki rumah seraya menangis. Telapak tangan Sherly digunakan untuk menutup mulutnya dan telapak tangan kirinya dia gunakan untuk menenteng tas selempangnya.
Kenapa adek gue nangis? Perasaan tadi adek gue bahagia banget. Tanyanya dalam hati.