We Are Together

We Are Together
Tiga puluh sembilan



"Sekarang kamu boleh buka mata kamu,"


Keysa mengangguk lalu dia membuka kelopak matanya dengan perlahan. Dia segera menunduk, betapa terkejutnya dia saat melihat kalung liontin hati yang terpasang cantik di lehernya. Air mata Keysa perlahan jatuh dari kelopak matanya dan turun ke pipi meronanya. Sedetik kemudian dia memeluk dengan erat tubuh kekar milik Darel.


Darel lantas menyatukan alis tebalnya, bingung. "Kok nangis sih?"


"Aku terharu banget, Rel,"


Darel tersenyum lalu mengecup pelan rambut Keysa. "Di kalung liontin itu ada hatiku, jadi kamu harus jaga baik-baik hatiku ya, Keysa—yang?"


Jari jemari kekar Darel sontak langsung menggenggam jari jemari lentik Keysa. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke dalam mall, meninggalkan parkiran yang terlihat ramai.


Seperti biasa mall yang terletak di lokasi strategis itu begitu ramai pengunjung. Terlihat beberapa orang sedang berlalu lalang seraya membawa barang belanjaan mereka, ada juga yang hanya sekedar melihat-lihat saja tanpa membeli apapun.


Tiba-tiba ada seorang wanita paruh baya yang berdandan menor dengan lipstik berwarna merah darah itu membuat ulah—dia menabrak bahu Keysa, alhasil tubuh Keysa terhuyung kebelakang, namun Darel dengan sigap menangkapnya.


Barang-barang belanjaan wanita paruh baya lantas berserakan di lantai. Suara gaduh tersebut berhasil membuat pasang mata menoleh. Terlihat beberapa orang menonton adegan yang menurut mereka limited edition.


"Ishh... mbaknya kalau jalan lihat-lihat dong!" Wanita paruh baya itu mengomel itu seraya berkacak pinggang.


Yang nabrak siapa? Yang di salahin siapa? Dasar ibu ondel-ondel. Batin Keysa dalam hati.


Darel tetap santai, padahal dia tidak terima jika Keysa—pacarnya disalahkan seperti barusan, rasanya dia ingin membeli mulut milik wanita paruh baya yang berdandan menor yang menurutnya menyeramkan.


"Kok ibu malah nyalahin saya sih? Yang nabrak duluan kan ibu, untung saya nggak jadi jatuh tadi,"


Wanita paruh baya lantas terdiam sejenak, dia masih mencerna perkataan yang baru saja dilontarkan oleh cewek cantik yang saat ini sedang berdiri didepannya. Sebenarnya yang salah dia, bukan? Namun tentu dia tidak mau disalahkan oleh anak muda—mengingat bahwa usianya tidak lagi muda.


"Barang-barang saya jatuh semua, gantiin!" perintah wanita paruh baya dengan meninggikan suaranya, seraya menunjuk barang-barangnya yang berserakan di lantai. Memalukan!


Kuping Darel seketika berdenging saat mendengar teriakan nyaring wanita paruh baya barusan. Kenapa suaranya seperti toa, huh?


Darel merogoh kantung celana jeansnya, mengeluarkan dompet berwarna hitam pekat, tidak tanggung-tanggung dia langsung menyodorkan uang seratus ribuan kepada wanita paruh baya dan berhasil membuatnya terdiam, sedetik kemudian dia tersenyum menampilkan bibirnya yang berwarna merah karena lipstick—melebihi cabe yang berwarna merah dan pedas yang berada dipasar. Tangan kanan wanita paruh baya lantas terulur untuk menerima uang yang diberikan cowok tampan yang berada tepat disamping cewek cantik yang tadi dia salahkan—dia menerimanya dengan senang hati.


Siapa orang yang berani menolak rezeki coba?


Dasar mata duitan!


Wanita paruh baya itu langsung memasukan uangnya ke dalam tasnya, lalu matanya beralih memandang barang belanjaannya yang berserakan di lantai dan terlihat mengenaskan. Dengan tidak tahu malunya, wanita paruh baya itu berjongkok dan segera memungut barang-barangnya satu persatu.


Sedangkan Keysa hanya bergidik saat melihat kelakuan wanita paruh baya itu yang bisa dibilang norak, atau bahkan sangat norak?


Darel hanya tersenyum tipis, dia kembali menggenggam jari jemari lentik milik Keysa. Keysa tidak menolak, dia mendongak menatap wajah tampan Darel yang sedang tersenyum kearahnya. Keduanya pun melanjutkan langkahnya menuju dalam mall. Mereka mengobrol sepanjang jalan, sesekali tertawa atau tersenyum saat bertukar cerita yang menurut mereka lucu.


Keysa mengedarkan pandangannya, sedetik kemudian matanya menangkap sesuatu yang berhasil menarik perhatiannya. "Kita ke situ yuk?" ajak Keysa seraya menunjuk kearah sesuatu yang berhasil menarik perhatiannya.


Darel mengangguk menyetujui. Dia mengambil salah satu bando kelinci yang sempat mencuri perhatiannya, berikutnya dia memasangkannya diatas kepala Keysa. Senyum Darel seketika kembali mengembang.


Cantik.


Satu kata yang tiba-tiba terlintas di benak Darel saat melihat Keysa memakai bando kelinci yang sempat dia pasangkan barusan. kenapa Keysa cantik sekali saat memakai bando kelinci itu?


"Masa gue-eh ralat, maksudnya kok aku doang yang pakai sih? Nggak adil," tangan Keysa terulur untuk mengambil salah satu bando yang menurutnya menarik.


Seketika pipi Darel berkedut jijik saat melihat Keysa mengambil salah satu bando. "Kamu kan cewek, aku cowok ya nggak cocok pakai bando, Key,"


Keysa mengerucutkan bibirnya, lucu. "Satu kali aja ya? Ya? Please," pinta Keysa seraya memasang puppy eyes andalannya.


Darel menggeleng keras, dia mengedarkan pandangannya lagi. Di dalam mall sangat ramai, dia sangat malu jika harus memakai bando yang dipilihkan oleh sang kekasih. Darel lantas berlari menghindar dari Keysa, tetapi Keysa tidak pantang menyerah dia terus mengejar Darel. Keysa lantas menggerutu kesal, sesekali dia menghentak-hentak kakinya di lantai mall sambil mengeluh panjang-mengabaikan pasang mata yang sejak tadi memperhatikannya.


"Darel jahat! Masa pacarnya di tinggalin sih?" Keysa berteriak kesal seraya menyeka peluh yang membanjiri wajahnya.


Lantas Darel menghentikan langkah kakinya, dia memutar tubuhnya, dia menggelengkan kepalanya pelan saat melihat Keysa yang terlihat begitu kelelahan. Berikutnya Darel melangkahkan kakinya lebar untuk menghampiri Keysa.


Melihat Darel mendekat kearahnya otomatis Keysa langsung tersenyum, dia sedikit berjinjit saat memasangkan bando yang dia pilih di kepala Darel. Seketika senyumnya terbit saat melihat wajah Darel yang terlihat begitu badmood.


Satu kata yang tiba-tiba terlintas di benak Keysa saat melihat Darel memakai bando pilihannya. Kenapa Darel tampan sekali saat memakai bando kelinci itu? Dan kenapa Darel terlihat menggemaskan sekali?


"Aku malu, Key," Darel mengeluh merendahkan suaranya.


Keysa terkekeh geli. "Kenapa harus malu? Kamu tetap ganteng kok, jadi jangan badmood ya pangeran kelinciku,"


Pangeran kelinci? Oh my good! Lucu sekali panggilan yang diberikan oleh kekasihnya.


Darel menoleh kearah Keysa dengan dahi mengernyit. "Pangeran kelinci?" beonya.


Keysa menautkan jari jemari lentiknya lalu dia mendongak menatap wajah tampan milik Darel, Keysa tersenyum lalu mengangguk mantap.


Kenapa wajah Keysa begitu menggemaskan?


Darel rasanya ingin mencium pipi yang sedikit chubby milik Keysa saat ini juga. Tangan kanan Darel terangkat untuk mencubit pelan pipi Keysa, Keysa mengerucutkan bibirnya dengan lucu seraya mengusap ngusap pelan pipi kanannya yang tadi sempat dicubit oleh Darel.


"Sakit tahu," Keysa berprotes pelan.


Darel tersenyum tipis. "Abis muka kamu bikin gemas, jadi pengen cium," bisiknya.


Keysa memukul lengan kekar Darel, lalu dia berkacak pinggang seraya menatap tajam Darel. "Barusan kamu bilang apa, huh?"


Sontak Darel langsung menempelkan jari telunjuknya tepat didepan bibir Keysa. "Sssttt, jangan galak-galak Keysa-yang,"


Apa-apaan Darel ini? Kenapa Darel suka sekali membuat Keysa menjadi salah tingkah, huh?


"Uwu, serasi banget sih!"


"Setuju! Cowoknya cakep, ceweknya cantik!"


"Omegatt, mimpi apa gue semalam, idola gue ada disini sih?"


"Ceweknya mirip salah satu girlband Korea, anjir!"


"Aaaa, tampan banget sih bang?"


"Mirip Jungkook woy!"


"Cantik banget aaa, apalah dayaku yang kentang ini?"


"Cool banget gilak!"


"Gue lebih tampan, anjir!"


"Plis jangan senyum bang, dedek meleleh nih,"


"Mau dong jadi ceweknya,"


"Idihh... cantikan juga gue,"


Darel dan Keysa hanya memutar bola matanya jengah saat mendengar teriakan dan pujian yang dilontarkan beberapa pengunjung mall-mengingat bahwa keduanya sudah terbiasa mendengar kalimat itu. Resiko cogan dan cecan mah kayak gini.


Darel mengapit leher Keysa, membuat Keysa bersumpah serapah dan mengeluarkan segala umpatannya didalam hati.


"Kok lo jadi nyebelin banget sih, Rel?" Keysa menarik nafas, kemudian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Tangan yang beberapa detik lalu mengapit lehernya membuatnya kembali berdecak kesal. Disampingnya, ada Darel yang kini sedang berjalan dengan santai. Sementara Keysa? Dia berusaha menyesuaikan langkah lebar pacarnya-hanya bisa menggerutu sesekali mengumpat, tetapi Darel sama sekali tidak menyahuti.


"Key—sayang masa lupa muluh sih? Tadi kan udah dibilangin sekarang jangan panggil lo-gue lagi, kenapa masih aja manggil lo-gue? Minta dikasih hukuman apa, hm?"


Keysa tidak bergeming sama sekali, dia masih mencerna perkataan yang tadi sempat dilontarkan dari mulut Darel barusan. Keysa meringis pelan, kenapa tadi dia bisa keceplosan lagi ya?


Bodoh. Keysa merutuki dirinya sendiri. Kenapa gue jadi pelupa seperti ini?