
^^^Pangeran Kelinciku❤: Coba lihat di depan pintu kelas kamu.^^^
Dahi Keysa langsung mengernyit saat melihat chat dari Darel barusan. Buru-buru dja mengalihkan pandangannya dari ponselnya. Keysa lantas menolehkan wajahnya kearah depan pintu kelasnya—bertepatan dengan Darel yang saat ini sedang melambaikan telapak tangannya kearahnya seraya tersenyum manis. Disampingnya Daffa juga terlihat sedang bingung karena tidak melihat keberadaan Nindhi. Sontak Keysa menutup mulutnya supaya tidak berteriak. Jantungnya kembali berdegup kencang. Hatinya kembali menghangat. Perut ratanya seperti ada puluhan kupu-kupu yang sedang berterbangan perutnya.
Sementara Sherly? Dia sedang mengerucutkan bibirnya menatap tidak suka kearah Keysa, lalu dia kembali mengalihkan pandangannya kearah Darel yang sedang tersenyum, tentu saja bukan tersenyum kearahnya, melainkan kearah Keysa. Mata Sherly kembali berkaca-kaca, dia menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Harusnya Darel tersenyum kearahnya—bukan kearah Keysa.
Sherly kembali teringat sketchbook milik Darel yang ada gambar wajah Keysa, hatinya kembali teriris saat mengingat hal yang menurutnya paling menyebalkan. Sherly tidak suka dengan Keysa karena semenjak Darel bertemu dengan Keysa dan membuat dirinya sendiri merasa tersingkirkan. Bagi Sherly, Keysa adalah orang ketiga dalam hubungannya.
"Karena—gue nggak pernah cinta lo dan enggak pernah sayang sama lo! Tapi, gue nerima lo karena gue kasian sama lo yang selalu ngejar-ngejar gue!"
Kalimat yang dikatakan Darel beberapa waktu lalu terus terngiang-ngiang jelas dipikirannya. Sherly beranjak dari duduknya. Kedua tangannya mengepal. Sherly mengertakan giginya kesal, menatap tajam kearah Keysa yang tengah tersenyum, namun matanya masih setia menatap layar ponselnya.
Saat Sherly hendak menonjok Keysa, Sherly terlebih dulu mengedarkan pandangannya. Agra yang sedang duduk seraya memegang buku menatap tajam kearah Sherly. Alhasil Sherly mengurungkan niatnya untuk menojok Keysa. Tangan kanannya terangkat untuk mengelus dadanya, berusaha untuk menetralkan emosinya.
Sherly mengayunkan kakinya menuju kantin—menyusul Rosa yang sudah pergi ke kantin terlebih dahulu. Tidak bisa dia di kelas terus menerus, bisa-bisa dia menjadi kelepasan untuk tidak menonjok wajah cantik Keysa.
Sementara Keysa? Dia barusan sempat melihat Sherly keluar dari kelas. Entahlah Keysa tidak perduli akan hal tersebut. Keysa menaruh ponselnya diatas meja. Kedua tangannya kembali memegang buku novel. Sebelum kembali membaca novel, Keysa terlebih dahulu mengedarkan pandangannya. Terlihat hanya ada Agra yang sedang belajar seraya memegang buku.
Saat merasa di perhatikan Agra menoleh kearah Keysa yang sedang menatapnya seraya tersenyum. Keysa terlebih dulu memutuskan kontak matanya dari Agra. Dia sangat malu. Sementara Agra, dia hanya mengendikan ke dua bahunya acuh.
Satu menit kemudian Nindhi datang, telapak tangan kanannya dia gunakan memegang kantung plastik yang berisi dua buah roti—pesanan dari Keysa tadi.
"Kelas ini sepi amat," Nindhi menyuarakan pendapatnya.
Nindhi menggeser kursi yang berada tepat disamping Keysa dan duduk dikursi tersebut.
Keysa menurunkan buku novelnya dan menaruhnya diatas meja. Dia tersenyum ketika melihat Nindhi yang saat ini tengah duduk disampingnya.
"Nih roti pesanan lo." tuturnya seraya menyodorkan dua roti yang berada di kantung plastik yang baru saja dikeluarkan.
Sontak Keysa langsung mengulurkan tangannya untuk mengambil alih ke dua roti dari telapak tangan Nindhi.
"Thank you babe." Keysa menyahut dengan setengah berbisik.
Pipi Nindhi seketika berkedut jijik saat mendengar kata babe. Apa-apaan Keysa ini? Kenapa Keysa menjadi seperti Sherly? Babe, babe—nggak sekalian tuh manggilnya babi?
Nindhi memukul pelan lengan mulus Keysa. "Lo lama-lama jadi kayak Sherly tau, nggak?"
Sontak Keysa menghentikan tawanya, dia memutar bola matanya dengan malas. Apa-apaan Nindhi ini? Kenapa Keysa di bilang seperti Sherly?
"Idih, amit-amit gue." sahutnya kesal.
Keysa beranjak dari duduknya, dia berjalan untuk menghampiri Agra yang masih duduk di bangkunya sendiri. Sebelum berhasil Keysa berhasil melangkahkan kakinya—Nindhi terlebih dulu mencekal pergelangan tangan Keysa.
Dahi Nindhi mengernyit saat melihat tanda-tanda Keysa ingin pergi. "Lo mau kemana, Key?" tanyanya dengan mimik wajah yang terlihat begitu penasaran.
Nindhi melepaskan cekalan tangannya dari Keysa. Dia mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
Keysa kembali mengayunkan kakinya yang tadi sempat tertunda. Dia berjalan kearah Agra seraya membawa satu bungkus roti miliknya. "Nih, buat lo," ucap Keysa seraya menyodorkan sebungkus roti miliknya dihadapan Agra.
Sontak Agra terperanjat kaget, dia menurunkan buku pelajarannya dan menaruhnya diatas meja. Agra mendongak menatap wajah cantik Keysa dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Agra mengernyitkan dahinya bingung, seolah mengatakan begini, Roti itu buat gue?
Keysa tersenyum lalu mengangguk. "Iya ini buat lo,"
Agra tidak bergeming, dia hanya diam, dia masih tidak percaya bahwa Keysa tersenyum kepadanya dan memberinya sebungkus roti.
Keysa menghembuskan nafasnya pelan. Dia menarik telapak tangan kanan Agra, lalu dia menaruh sebungkus roti atas telapak tangan Agra. "Jangan lupa dimakan ya?"
*
Bel tandanya pulang telah berbunyi lima menit yang lalu, menyisakan segelintir orang yang masih di dalam kelas. Beberapa kelas masih terdengar riuh sesaat, tidak terkecuali kelas 11 IPA3. tidak lama kemudian bunyi decitan kursi, meja, dan pintu saling bersahutan satu persatu. Lorong yang tadinya sepi sekarang menjadi ramai. Ada yang hendak pulang kerumah, bermain kerumah teman, atau kencan bersama pacar.
Sherly sendiri dia langsung kembali bersemangat setelah bel pulang berbunyi dan terbebas dari rasa bosan, setelah membereskan semua barangnya. Sherly berjalan menuju bangku Rosa. Terlihat Rosa sedang sibuk membereskan semua barangnya yang akan dia bawa pulang.
Rosa memakai tas ranselnya yang berwarna ungu, dia menarik kedua sudut bibirnya. "Pulang yuk?" ajak Rosa seraya membenarkan tas ranselnya.
Sherly tersenyum tipis lalu tangan kirinya terangkat untuk merangkul Rosa. "Yuk!" Setelahnya mereka berdua berjalan beriringan menuju parkiran.
Terlihat masih banyak siswa-siswi yang berlalu lalang di koridor kelas 11 IPA3. Padahal bel sudah berbunyi lima menit yang lalu.
Banyak sekali siswa-siswi yang menatap Sherly dengan tatapan yang tidak bisa diartikan dan ada juga yang menatapnya dengan tatapan iba. Sherly hanya diam seraya menatap tajam—mengintimindasi semua murid yang saat ini tengah menatapnya, dia sudah tahu bahwa wajahnya terlihat aneh hari ini karena kedua kantung matanya menghitam dan kedua matanya membengkak. Sherly tidak peduli akan hal tersebut. Toh, walaupun dia cantik pun Darel tidak menyukainya, apa lagi jika dia jelek? Haha, itu lebih tidak mungkin.
Senin siang hari ini cuacanya begitu mendukung, matahari bersinar cerah, sinar matahari yang berhasil menyengat dan membuat tubuh menjadi banjir karena berkeringat, langit yang berwarna biru tua bercampur biru muda dan di kelilingi awan putih tipis.
Panas matahari begitu menyengat kulit putih keduanya yang saat ini berseragam putih abu. Sinar matahari berhasil menyilaukan mata mereka berdua yang sedang berjalan beriringan. Angin berhembus kencang membuat rambut halus keduanya itu berterbangan kesana kemari.
Telapak tangan kanan Sherly terangkat untuk mengusap peluh yang membanjiri wajahnya dengan punggung telapak tangannya. Sinar matahari begitu terik di senin siang hari ini.
Gerah.
Satu kata yang terlintas di benak Sherly sekarang, rasanya dia ingin sekali menenggelamkan tubuhnya saja ke dalam kolam air es saat ini juga, namun tentu hal tersebut tidak memungkinkan.
"Kenapa hari ini lo aneh, Sher? Menurut gue—lo nggak seperti hari biasanya tau, nggak?" Rosa bertanya penasaran saat mereka tengah menyusuri koridor kelas mereka.
Sherly menghela nafas dengan panjang. Jujur saja, Sherly sangat malas bercerita soal tersebut. "Jujur aja ya? Gue aslinya males banget cerita soal itu."
Rosa berhenti melangkahkan kakinya, dia mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Rosa menolehkan wajahnya kearah Sherly seraya memasang puppy eyes andalannya.
"Cerita dong, masa lo tega sih sama sahabat lo sendiri?" pinta Rosa seraya mengatupkan kedua telapak tangannya didepan dada—seolah tengah meminta maaf.