ViRus

ViRus
Ujian



Tanpa terasa sudah hampir satu bulan lebih aku mengenakan pakaian syar’i. Dan sekarang aku sudah merasa sangat nyaman dan tak ingin melepasnya lagi. Aku juga tidak menghadapi cobaan rumit seperti yang dikatakan orang banyak. Aku hanya sedikit diledeki oleh orang-orang yang biasa memusuhiku, seperti perempuan bermata ikan asin, dan juga enam orang yang pernah kubentak itu. Tapi aku tidak pernah mempermasalahkan apa yang mereka katakan. Mungkin karena diriku yang terbiasa cuek dan masa bodoh dengan mereka jadi membuatku terbiasa dan tidak merasa kesulitan untuk meneruskan perubahanku.


Aku menceritakan apa yang kuarasakan itu pada Latifah. Yah.. meskipun kami selalu bersama, perubahan yang kulakukan ini seperti hanya hal biasa bagi kami. Tidak begitu banyak respon dari orang-orang sekitar yang membuatku tidak nyaman. Jadi semuanya seolah tidak berasa bagiku.


“Bagus dong, berarti anti bisa lebih memperbaiki diri tanpa harus membenci. Lagian anti gak diuji sama Allah itu kan karna Allah tau kalo anti masih lemah, jadi belum bisa diuji yang berat-berat.”


Kata lemah dalam kalimatnya membuatku merasa terusik. Aku tidak lemah, aku sudah belajar ilmu agama setiap hari. Aku bahkan sudah punya banyak koleksi buku-buku yang berkaitan dengan agama dan akhlak di kamarku.


“Yang kena uji itu cuman orang yang disayangin dan memang sudah dianggap sanggup sama Allah. Dan orang yang disayangin sama Allah itu, cuman orang yang menjaga hablumminallah dan juga hablumminannas.”


Ujarnya dan kata-katanya itu sangat mengena di hatiku. Aku sama sekali tidak pernah peduli dengan keadaan sekitarku, selama mereka tidak ada urusan denganku dan bukan temanku.


“Emang anti pernah diuji?” Tanyaku balik. Latifah mengiyakan pertanyaanku dengan semangat. Seolah diuji itu adalah hal yang paling disukainya. Karena ia merasa setelah diuji, ia akan memiliki derajat yang lebih tinggi disisi Allah. Dan aku berpikir itu cuma perasaannya saja. Aku menanyainya tentang ujian yang dialaminya. Dan aku terhenyak mendengar ceritanya. Ia ternyata tidak dimusuhi oleh teman-temannya atau orang lain, melainkan ia dimusuhi oleh keluarganya sendiri.


Ia bercerita dulunya ia tidak berani meminta uang untuk membeli baju-baju syar’i pada orangtuanya. Ia hanya menyimpan uang sakunya setiap harinya. Kemudian setiap hari minggu ia pergi ke pasar untuk mencari baju-baju bekas berukuran panjang yang paling murah tapi masih pantas dan bagus untuk dipakai. Ia melakukan itu hampir setiap minggu selama hampir dua bulan. Sampai akhirnya ketika keluarganya merayakan acara ulang tahun kakaknya yang ke 17 dengan acara besar-besaran. Awalnya Latifah tidak menyadari itu, tapi ketika acara sudah usai ia baru sadar bahwa baju-baju bekas yang sudah dibelinya itu ternyata sudah dirobek-robek oleh kakaknya untuk dijadikan kain pengelap piring basah dan meja-meja kotor. Hanya beberapa baju saja yang tersisa dilemarinya, itu juga yang sudah robek dibagian ketiak dan sudah terlihat sangat jelek.


Latifah lalu marah sambil menangis pada kakaknya yang sudah sembarangan mengambil bajunya tanpa seizinnya. Kakaknya bukannya merasa bersalah, malah menjambak rambutnya dan mencubit pahanya hingga membiru.


“Kakak ana bilang ‘katanya udah hijrah, tapi akhlak ke saudara aja nggak ada.’ Hati ana miris banget waktu itu.” Ujar Latifah.


“Ana nangis sambil ngadu ke Allah, ana udah gak punya baju yang disukai Allah lagi.” Ujar Latifah membuatku hampir ingin menangis.


“Tapi ana ketemu dia. Laki-laki yang luar biasa baik. Dia ngasi ana baju-baju cantik, masih baru lagi. Trus dia bilang la yukallifullahu nafsan illa wus’aha.”


“Itu apaan? Kayak pernah dengar.” Tanyaku dengan wajah penasaran.


“Itu bunyi Alquran surah al baqarah ayat 286.” Jelasnya.


“Artinya apa?”


“Artinya, Allah nggak bakalan ngasi beban kehamba-Nya melainakn sesuai dengan kesanggupan hamba itu.”


Kata-kata itu seketika membuat hatiku bergetar seolah mengharapkan ujian yang akan datang sebagai bentuk rasa cinta Allah padaku. Aku ingin menjadi hamba yang sanggup bukan hamba yang lemah seperti yang dikatakan Latifah sebelumnya. Karena orang yang seperti itu tidak akan pernah diuji.


Aku terdiam beberapa saat merenungi kembali cerita Latifah, dia memang terkadang terlihat sangat baik dengan nasehat-nasehatnya itu, tapi terkadang ia juga terlihat sangat menyebalkan seperti sekarang ini, ia tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala sok hebat karena merasa sudah berhasil mempengaruhiku. Dan aku tidak suka itu.


Tidak berapa lama Ai datang mengetuk pintu kamar kami. Ia mengajakku dan Latifah ke mesjid bersama. Aku dan Latifah pun kaget, ternyata sudah jam 3 lewat 15 menit. Kami pun segera berwudhu dan langsung berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat asar berjamaah.