ViRus

ViRus
Ruko Mada



Pagi ini aku sedang bersiap-siap pergi ke ruko tempat Mada membuka praktek menjahit. Aku mengetahuinya dari Taqin saat dia akan pulang dari kegiatan tahfiz.


“Tam, sesekali mampir ya.”


Begitulah katanya. Aku memutuskan untuk mengunjunginya saat liburan saja.


Saat ini, aku sudah hampir seminggu berada di rumah. Santri kelas 1 dan 2 di tingkat tsanawiyah dan Aliyah diliburkan karena santri kelas 3 sedang menjalani ujian-ujian akhir sebelum kelulusan. Saat pulang dari asrama waktu itu, aku sudah sempat diam-diam ke ruko Mada. Sebenarnya hanya untuk bertemu dengannya saja. Tapi ketika melihat hasil jahitannya, aku langsung tertarik dan meminta dia untuk mengambil ukuranku. Aku langsung memesan 3 buah baju gamis lengkap dengan jilbabnya.


Sejak permasalahan yang dibuat Ai selesai, orangtuaku belum pernah mengekangku lagi. Jadi saat ini aku merasa bebas pergi tanpa harus bersama Key. Ntah sampai kapan itu akan bertahan. Semoga aku siap dengan masalah selanjutnya. Tidak hanya orangtuaku, sikap Key juga sudah kembali normal. Itu semua berkat sogokan yang kuberi pada Ai agar berhenti memata-mataiku. Yah, setelah kuancam kemarin, ia akhirnya mau mengembalikan handphone Key. Meskipun sudah menuruti kemauanku, aku tetap tidak bisa menahan diri untuk tidak menjauhi Ai. Memang, aku sudah memaafkannya. Tapi tetap saja, aku tidak akan pernah tau apa yang sedang direncanakannya.


Hari ini, Aku pergi ke tempat Mada dengan mengendarai motor. Perjalanan dari rumahku ke ruko Mada menghabiskan waktu kurang lebih 20 menit. Aku tidak masalah dengan itu. Berdiam diri terlalu lama di rumah juga bisa membuatku kaku ketika berbicara dengan orang baru. Jujur saja, baru kali ini aku keluar rumah begitu jauh hanya untuk mengunjungi teman. Padahal sebelumnya tempat yang kutau hanya rumah Key.


Ketika sampai di ruko Mada, aku langsung memarkirkan motorku di bawah pohon rindang yang berdiri kokoh di sebelah ruko itu. Ruko yang sangat sederhana menurutku. Bangunan berbentuk persegi yang terdiri dari 2 lantai. Pintu dan jendelanya yang lebar, terbuat dari kaca bening, sengaja untuk memperlihatkan baju-baju hasil rancangan Mada yang sudah terpajang rapi didalamnya. Lantai satu hanya disediakan sebagai tempat memajang baju-baju juga untuk meladeni pelanggan, sedangkan lantai dua disediakan khusus untuk tempat menjahit, menggunting kain dan semua yang berhubungan dengan proses pembuatan baju yang sudah dipesan. Di bagian belakang lantai satu terdapat balkon kecil yang dihiasi taman hijau dan kolam ikan yang cantik. Di sana terdapat dua buah sofa yang selalu diduduki Taqin selama menunggu Mada sampai selesai bekerja. Mada mengatakan sofa yang satu lagi akan jadi tempat duduk istri Taqin kelak. Terserah mereka. Siapa pun itu aku tidak peduli, dan memang bukan urusanku. Anehnya, Mada terlihat begitu semangat mengatakannya padaku waktu itu.


Aku sempat melihat-lihat sebentar baju-baju yang terpajang, mungkin saja masih ada yang menarik untuk kupesan lagi-uangku memang selalu melimpah ketika di rumah. Yah, semua yang dipajang disini sudah ada pemiliknya. Jika mau, harus menunggu untuk dijahit ulang dengan model yang mungkin bisa kita rubah sesuai selera. Jujur, saat pertama kali kemari aku benar-benar sangat kagum. Taqin menyediakan ini untuk menghibur Mada yang terpaksa harus berhenti sekolah. Juga perkembangan Mada yang begitu cepat dengan hasil-hasil rancangannya ini. Ia bahkan sudah memiliki 3 orang karyawan yang ketiganya memang memiliki bakat menjahit yang sangat baik.


Setelah puas melihat-lihat, aku langsung berjalan menaiki tangga lantai dua. Aku ingin langsung menemuI Mada. Tidak ada seorang pun di lantai satu yang bisa kumintai tolong untuk memanggilnya.


“Wah, kamu datang lebih cepat dari waktu perjanjian.”


Ujarnya ketika melihatku sudah datang.


“Ana bosan di rumah.”


“Hmm, tapi aku lagi sibuk nih. Kamu ngobrol sama kak Taqin dulu ya. Ntar bajunya aku kasi.”


Ia mengusirku secara lembut tanpa mau menoleh padaku lagi. Terlalu sibuk dengan baju yang baru setengah jadi di tangannya itu.


“Tapi Taqin tadi lagi gak disitu kok.” Selaku asal sambil memperhatikan sekeliling ruangan itu yang berantakan.


Teman-temannya juga sedang sibuk bekerja sambil memperdengarkan musik dari radio yang entah dimana letaknya. Aku tidak bisa melihatnya.


“Kok kamu tau??”


Ia langsung menatapku sambil tersenyum jail. Seolah Taqin terlalu sensitif ketika diperhatikan olehku.


“Gak sengaja liat”


Jawabku sambil memalingkan wajah, tidak peduli ketika ia langsung turun memastikan kata-kataku benar atau tidak.


“Ada kok dianya. Udah kamu kesana aja. Lagian baju kamu masih ada yang harus aku perbaikin.”


“Ish, emang kenapa sih kalo ana disini?? Ana gak bakal ngeganggu kali.”


“Aku gak yakin. Udah sannnaaaa..”


Mada mendorongku dengan sekuat tenaga. Aku pun memilih mengalah daripada terjadi kecelakaan, aku atau dia terjatuh dari tangga. Aku belum mau wafat sebelum menikah.


“Ish...temen baru dateeng, malah diusir. Dasar.”


Aku menuruni tangga sambil menghentakkan kakiku kasar. Mataku melirik kearah balkon, dan benar saja. Taqin sudah berada disana. Aku rasa tidak baik jika menemuinya dan duduk berdua disana. Padahal suasana lantai satu sangat sepi. Bisa-bisa setan bakal jadi yang ketiga untuk menggoda.


Hhh... na’udzubillah..


Lagian, sofa yang satu lagi dia sediakan untuk kursi istrinya kelak. Tidak sopan jika kududuki. Jujur, aku merasa sedikit penasaran dengan perempuan idaman Taqin. Aku yakin, incarannya pasti tetap orang-orang yang berbeda 180 derajat denganku. Pastinya dia perempuan sholehah, hafizah dengan suara lembut, atau bahkan bercadar. Kugelengkan kepalaku pelan.


“Hhh, siapapun itu, tetap saja bukan urusan-“


“Tam??”


“Eh!! Astaghfirullahal’azim... apaan sih?! Ngagetin aja.”


Taqin menegurku tiba-tiba. Aku langsung terlonjak kaget dan segera melihat kearahnya kesal. Ntah sejak kapan dia berada disitu. Ia malah tersenyum geli melihatku terkejut. Untung saja aku tidak mengucapkan semua yang ada di kepalaku.


Ntar malah kege-eran lagi diperhatiin. Difitnah mamah lagi, kalo ketahuan.. repot!!


“Ngapain juga ngelamun gak jelas disini. Ntar jatuh, hidung anti kebentur bisa makin pesek loh.


Ujarnya. Aku hanya meliriknya kesal sebagai jawaban. Dan seperti biasa, ia selalu tertawa menanggapinya. Ntah sejak kapan dia suka menyinggung bentuk hidungku.


“Udah ketemu Mada?”


“Udah.”


Jawabku malas. Paling cuma basa-basi, pikirku. Jelas-jelas dia sudah melihatku turun dari lantai dua. Sudah pasti itu karena ulah adiknya itu.


“Trus, bajunya mana??”


Ia bertanya, tahu tujuanku kemari memang untuk mengambil baju pesananku.


“Belum selesai.”


“Oh. Yaudah, tungguin aja. Ntar juga selesai kok.”


Hanya itu yang dikatakannya lalu berlalu meninggalkanku. Dalam hati aku berteriak, kenapa dia tidak mengajakku juga atau setidaknya tetap mengobrol disini denganku. Malah meninggalkanku seperti orang bodoh saja. Mereka berdua benar-benar tidak menghargaiku sama sekali disini. Padahal aku sudah datang dari tempat jauh, bukannya memintaku duduk beristirahat atau apalah itu.


“Hei, pasti mikir yang aneh-aneh lagi.”


Tegurnya yang sudah berada di depanku dengan 2 gelas jus jeruk diatas nampan yang ia bawa. Aku menghela nafas merasa bersalah sendiri. Daritadi aku tidak pernah mendengar suara langkahnya. Seperti jin saja.


“Mau ngobrol sama ana dulu di balkon??” Tawarnya akhirnya.


“Mau.”


Jawabku pelan tapi tetap sedikit ketus. Dia tersenyum lalu berjalan mendahuluiku. Sebenarnya, selain kesal pada Mada, aku juga merasa kakiku sudah mulai capek berdiri. Sejak sampai di ruko tadi, aku belum pernah duduk sama sekali.


Di balkon, aku dan Taqin duduk bersebelahan. Aku sempat meminta izin padanya untuk duduk di sofa istrinya. Ia malah tertawa. Samar-samar aku melihat rona merah di pipinya. Merasa diilihat seperti itu olehku, dia pun memalingkan wajah.


Hmmm, dia malu-malu..


Padahal aku meminta izin tadi hanya untuk bercanda, juga memang untuk menggodanya. Aku tidak menyangka ia akan memberi respon seperti ini. Bahkan sampai kami mulai mengobrol pun, ia sempat cukup lama tidak melihat kearahku. Sampai ketika aku mencoba menanyainya soal pembunuh yang dikatakan Mada sebelum berhenti sekolah waktu itu, barulah ia langsung menoleh padaku. Gerakan reflek seperti terkejut. Lalu kemudian ia tersenyum tipis, tapi seolah berusaha mengalihkan pembicaraan itu. Ia hanya mengatakan Mada mimpi buruk lalu terus kepikiran sampai berhari-hari.


“Dia emang agak penakut.” Jelasnya.


“Masalah antum sama Key?...”


Belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Mada datang. Ia menyerahkan plastik berisi baju pesananku. Ia memintaku membayarnya nanti saja. Setelah itu ia langsung berlalu meninggalkan aku dan Taqin. Ketika aku ingin bertanya lagi, Taqin malah langsung menanyai masalah hubunganku dengan Key. Aku merasa ia seperti menutupi sesuatu dariku. Yah, mungkin aku memang tidak berhak tau semua tentang privasi mereka. Kami hanya teman.


“Ana sebenarnya gak ada rasa sama Key. Kita cuma udah deket aja dari kecil.” Jawabku menanggapi pertanyaannya.


“Tapi Key cinta banget sama anti.” Sela Taqin, dan langsung kulirik tidak suka.


“Iya. Tapi kan prasaan itu gak bisa dipaksa. Cinta masa kecil juga gak bisa dipercaya. Cuman cinta monyet.”


“Tapi bagi Key kan enggak.” Sela Taqin lagi membuatku langsung mendengus kesal.


“Ish... iya tetap aja ana gak bisa. Antum kok bandel banget sih.”


Taqin tertawa melihatku. Dia memang selalu begitu. Menggodaku untuk marah.


“Emang antum mau ana paksa cinta sama si cewek mata ikan asin??”


“Hmm??”


Ia menaikkan sebelah alisnya menanggapi tantanganku yang sedang terlalu kesal. Ia memberi solusi seolah tidak mau memikirkan terlebih dahulu jika dia berada di posisiku.


“Mau.”


Jawabnya tiba-tiba.


“Eh?? Selera antum rendah banget. Ish...”


Aku lalu tertawa penuh ejekan sambil menunjuk-nunjuknya merasa geli sendiri. Tawaku tak kunjung surut karena kepalaku terus dibayangi wajah Taqin dan si ikan asin itu duduk bersanding di pelaminan. Pasti lipstick yang dikenakan perempuan itu akan memperlebar bibirnya hingga ke telinganya. Taqin hanya tersenyum menanggapi ledekanku yang sebenarnya cukup kasar.


“Bukannya Itu anti.”


Jawabnya tiba-tiba dengan wajah polosnya.


“Eh??”


Aku terdiam. Taqin salah kaprah. Tapi pipiku sempat merona karena nyaris baperan dengan jawaban singkatnya itu.


“Cewek pelukis bermata gede, nangis sambil teriak-teriak pas pertama kali masuk Asrama. Iyakan??”


Ia ikut memperjelas kata-katanya seperti yang kulakukan tadi lalu tertawa mengejekku. Aku benar-benar mati kata.


“Bukan, ana gak teriak sampe segitunya kok.”


“Udah gak usah malu. Ana yang dengerin aja sampe tutup kuping.” Ledeknya lalu kembali melanjutkan tawanya.


“Ih, enak aja. Gak segitunya kali.”


Ujarku menatapnya yang masih saja tertawa mengabaikanku. Wajahku semakin memerah malu karenanya.


“Udah ah. Ana mau pulang. Assalamu ‘alaikum!!”


Aku malah kesal bercampur malu sendiri dan langsung pergi meninggalkannya. Taqin masih saja tertawa tapi sedikit terbahak baru kemudian menjawab salamku. Jahat sekali dia menyamakanku dengan perempuan ikan asin itu. Jelas-jelas kami berbeda dari segi segalanya.


Aku keluar dari ruko itu tanpa sadar sambil menenteng baju jahitan Mada yang belum kubayar. Dan bahkan selama menyetir pun aku tidak kepikiran seupil pun. Aku baru mengingatnya ketika sudah berada di kamarku karena merasa aneh dengan barang tentengan yang begitu membebani.


“Ya Allah... ANA LUPA BAYAR!!!


Aku berteriak sambil menjambak jilbabku. Kurutuki diriku yang pelupa ini. Pasti karena terlalu kesal dengan Taqin tadi. Kalau begini, aku sudah malu beribu-ribu kali lipat, padahal tadi dia baru saja meledekku. Ditambah kecerobohanku sekarang, pasti dia akan semakin mengejekku.


Kuaduk isi tasku mencari handphoneku sambil berpikir bagaimana aku harus mengatakannya padanya. Aku benar-benar lupa, bukan karena sengaja. Semoga saja dia tidak suuzon padaku. Yah, bisa saja kan dia berpikir aku ingin membangkrutkan usaha Mada yang baru berusia kecambah.


Sambil tetap merutuk dalam hati, aku menemukan hanpdhoneku dan langsung menghubungi Taqin. Dan hebatnya dia langsung mengangkatnya begitu cepat tanpa mengizinkanku bernafas dulu untuk mengumpulkan omelan kalau-kalau dia tidak percaya padaku.


“Halo, assalamu’alaikum.”


“Wa ‘alaikum salam, Taqin. Eeh.. afwan sebelumnya.”


“Iya, kenapa Tam??”


“Afwan. Ana ninggalin antum gitu aja tadi.”


“Hmm, trus??”


“Ish..”


Aku merengut kesal, menjauhkan handphone ku dari bibirku. Aku merasa ada nada geli dalam suaranya. Kupikir dia sebenarnya sudah tahu tapi tetap ingin memaksaku untuk mengutarakannya duluan. Dasar!! Padahal aku sedang sangat malu. Otakku buntu ingin bicara apa.


“Ana lupa bayar bajunya.”


Ujarku sangat pelan. Sangat pelan. Bahkan telingaku tidak bisa mendengarnya.


“Gimana??”


“Bajunya... ana lupa bayarin-.”


“Hah? Gimana tadi gimana??”


“ANA LUPA BAYAR BAJU LOH!! Ish, kuping antum gimana sih?? Ngeselin banget.”


Ia malah tertawa setelah aku berteriak seperti itu.


“Ooooooooooooooooooooooo, itu toh..”


Ia sengaja mengucapkan ‘o’ begitu panjang agar aku semakin kesetanan. Dan aku memang tidak bisa berhenti merutuk kesal. Kenapa makhluk menyebalkan seperti ini bisa ada di dunia ini?? Dan kenapa harus aku yang menghadapinya?? Aku terus bertanya dalam hati saking kesalnya.


“Lagian ngapain coba Mada pakek ilang segala. Kan jadi ana gak bisa bayar.”


“Hmmm??”


Jawaban khasnya itu kali ini membuatku semakin kesal. Aku sengaja menjadikan Mada sebagai tameng menutupi rasa maluku. Dan sebenarnya ini semua memang gara-gara dia. Kalau saja dia tidak meninggalkanku tadi, aku pasti tidak akan menghadapi kakak menyebalkannya ini.


“Kalo kayak gini harus ada diskon, sebagai ganti rugi buat kesejahteraan pelanggan.”


“Emangnya anti rugi apa??”


“Ya, ana kesel.”


“Emang kesel bikin rugi yah?? Baru tau.”


“Yaiya dong. Kan senyum ana jadi ilang. Jadi cepet tua.”


“Makanya senyumnya jangan diilangin. Biar tetap cantik.”


DEG


Aku terdiam bersamaan dengan detak jantungku yang entah kenapa jadi tak karuan. Tadi dia juga menggodaku. Aku berusaha menguatkan diri, aku bukan manusia baperan. Laki-laki penggombal memang sangat mudah ditemui, bahkan dipinggir jalan sekalipun.


“Tam??”


“Ya? Yaudah ana transfer aja nanti. Antum kirimin no rekeningnya ke ana.”


“Gak perlu deh.”


“Maksudnya??”


“Gak perlu dibayar Tamia Azhari..”


“Kok gitu??”


“Anggap aja itu bentuk motivasi dari ana supaya anti tetap semangat mondoknya.”


“Tapi ini kan, banyak banget loh.”


“Iya gak papa. Pokoknya anti janji sama ana. Apapun yang terjadi kedepannya, jangan sampai hijab anti dilepas. Jaga aurat anti, bukti kalo anti emang serius mondok. Karena Allah ya, bukan karena sipa-siapa.”


“Makasih. Tapi... serius nih gak papa??”


“Iya pesseek...”


“Apaan sih!!”


“Hahaha.”