
Sore ini Key datang mengunjungiku lagi. Aku sengaja meminta Ai untuk menemaniku menemuinya. Aku mulai menjaga jarak dengannya sekarang. Mungkin kalau ada Ai, Key tidak akan bertingkah sesuka hati padaku. Jadi aku bisa lebih mudah menjaga jarak dengannya. Karena kalau hanya berdua Key pasti akan merasa curiga kalau aku tidak mau duduk berdekatan dengannya. Memang kami tidak akan berpegangan atau lebih karena Key juga tahu kalau ini kawasan Pesantren. Ia pasti akan menyesuaikan tingkahnya. Aku hanya merasa tidak enak jika hanya berdua dengannya. Lagian aku sudah mulai berhijrah. Dan salah satu bukti hijrahku, aku harus menjaga jarak dengan yang bukan mahramku. Walaupun itu dengan Key.
Aku dan Ai berjalan berdampingan menuruni jalan turunan disebelah gedung sekolah. Aku merasa aneh dengan Ai. Ia memandang kearah Key yang sedang mengobrol dengan pak satpam dengan kening berkerut, sampai jarak antara kami dan Key hanya tiga langkah saja. Ai langsung kaget ketika Key berbalik badan kearah kami. Ia langsung menunjuk wajah Key tapi hanya ditujukan untuk dirinya sendiri.
“Eh, kok sama??” bisik Ai kemudian membuatku dan Key serentak menoleh padanya.
“Apanya yang sama?” Tanyaku.
“Dia.. mukanya kayak mirip gitu sama kenalan ana.”
“Emangnya kenalan kamu siapa?” Tanya Key ikut penasaran. Aku langsung teringat dengan kakak Mada yang kutau juga mempunyai wajah yang sangat mirip dengan Key. Juga hal yang dijelaskannya waktu itu, membuatku kembali teringat bahwa aku belum menanyai Key tentang kebohongannya 3 tahun lalu itu.
Pelupa.
Makiku pada diriku sendiri.
Aku tidak mengerti kenapa ia harus membohongiku. Kalau memang dia tidak bersalah kenapa dia harus berbohong.
“Eehh, Key juga kayaknya... hmmm, ana gak ingat pasti.” Jawab Ai gugup seperti sedang menutupi sesuatu. Key hanya manggut-manggut mendengarnya.
“Dia tinggal dimana?”
“Emangnya kenapa Key?” selaku.
“Gak papa. Aku juga ada teman yang kata orang... kita mirip gitu. Jadi mungkin aja dia itu teman aku kan. Soalnya kita udah lama juga gak jumpa.” Jelas Key sambil tersenyum, seolah tengah membahas sesuatu yang sangat disukainya.
“Dia tinggal di Asam Jawa.” Jawab Ai cepat.
“Asam Jawa tepatnya dimana ya?”
“Di simpang sebelah Mesjid, ana gak tau pasti rumahnya yang mana. Yang penting itu tadi alamat yang dia bilang.” Ai menjelaskan ragu-ragu.
“Kamu tau dia darimana?" Tanyaku merasa bingung dengan ekspresinya yang terkadang gugup lalu mendadak lugas. Kurasa dia sedang salah tingkah karena diajak bicara dengan Key.
“Gak sengaja ketemu trus ngobrol-ngobrol. Lagian Dia itu murid ustadz Hafidz, mereka ada kerja sama buat kegiatan tahfidz qur’an di mesjid dekat rumahnya. Jadi dia selalu kemari buat ngejemput ustadz Hafidz untuk kegiatan mereka itu.”
“Oooh, kalo gitu.. kamu bisa nyampaikan salam aku ke dia nggak??"
“Bisa, InsyaAllah. Tapi kan.. dia belum tentu teman antum.”
“Gak papa.. yang penting, kamu bilang salamnya dari Key Azril, kalo misalnya dia ada nanya-nanya yang lain, kamu bisa ngasi tau aku, melalui Tam juga gak papa.”
Key berucap seperti itu penuh percaya diri. Padahal orang yang dikatakan Ai belum tentu sama dengan orang yang dia maksud. Tapi ia bertingkah seolah sangat berharap orang itu adalah temannya. Seperti orang itu sangat penting baginya.
Minggu selanjutnya Ai menawarkan diri menemaniku menemui Key. Ketika kutanya kenapa, ia hanya menjawab ada yang perlu disampaikan dari teman Key. Aku juga tidak mempermasalahkan karena aku juga membutuhkannya.
“Dia titip salam balik ke Mama antum juga. Dia juga nanya kabar keluarga antum gimana.” ujar Ai menyampaikan pesan orang itu dengan penuh semangat.
“Mama sehat, Alhamdulillah. Kita semua sehat. Kalo dia gimana?” Tanya Key dengan wajah sumringah, sangat bahagia.
“Dia juga kelihatan sehat kok.”
Sejak saat itu, hingga tiga minggu kedepan Key tidak pernah menemuiku. Ia memang datang, tapi ia hanya mentitipkan barang titipan Mama ke Pak Satpam yang berjaga di Pos, lalu pergi begitu saja tanpa meninggalkan pesan untukku. Aku hanya mencoba berpikir positif, mungkin dia sedang ada banyak tugas. Jadi tidak sempat berlama-lama mengunjungiku.
Jujur, sebenarnya aku sempat penasaran dengan teman Key itu. Karena Key terlihat seolah sangat menyayanginya. Aku bisa memperhatikan respon Key ketika Ai menyampaikan pesan dari orang itu. Meskipun hanya terjadi dua kali, tapi semua terlihat jelas. Key bahkan menanyai Ai tentang orang itu saat kami datang menemuinya tanpa menyapaku terlebih dahulu. Hanya tersenyum beberapa detik saja lalu ia terus menanyai Ai sampai pesan dari orang itu benar-benar sudah sampai sepenuhnya padanya.
Ntahlah. Aku sendiri hanya bisa membayangkkan sosok yang mereka bicarakan itu adalah kakak Mada. Hanya dia yang kutau benar-benar mirip dengan Key.
Apakah mereka orang yang sama??
Apapun itu, tetap saja aku mulai merindukan Key yang biasa mengunjungiku, menyambutku dengan senyum ramahnya. Walaupun selama ini, sejak aku hijrah aku mulai menjaga jarak dengannya. Ditambah pertanyaanku mengenai kebohongannya tiga tahun yang lalu belum juga terjawab karena aku belum sempat menanyainya, juga aku merasa tidak enakan dengan Ai yang selalu menemaniku menemuinya. Padahal sebenarnya aku ingin merajuk manja sambil meminta penjelasan darinya.
Sore ini aku sedang berniat menyetrika bajuku yang sudah menumpuk banyak. Sudah hampir seminggu aku tidak menyetrika, bajuku dalam lemari juga sudah hampir habis. Kumasukkan cairan Kispray ke dalam botol semprotan lalu menutupnya rapat. Barusaja aku ingin menggelar kain dan sejadah sebagai lapis untuk menyetrika, tiba-tiba saja aku dipanggil lewat pos sebagai pemberitahuan kedatangan keluarga atau semacamnya. Aku langsung bergegas sambil menepikan keranjang baju dan setrikaku terlebih dahulu kebawah kasur. Dalam hati aku berteriak senang karena kupikir Key yang sedang datang berkunjung. Saking senangnya, aku sampai lupa mengajak teman seperti yang sudah biasa kulakukan setelah hijrah. Aku terus melangkah cepat penuh kegirangan.
Saat sudah hampir mendekati pos aku merasa bingung, tidak ada mobil Key yang terparkir disana. Hanya ada sepeda motor besar berwarna hitam dengan sedikit garis-garis biru, terparkir manis dibawah pohon Melinjo di sebelah pos itu. Aku juga tidak melihat Key disana, hanya ustadz Hafidz yang baru saja pergi meninggalkan teman bicaranya yang masih berdiri di sebelah motor itu. Awalnya aku mengira itu Key, tapi ketika kudekati ternyata memang bukan. Itu adalah kakak Mada. Aku merasa bingung dengan kedatangannya kemari. Apa dia benar-bemar mengunjungiku? Tanyaku pada diriku sendiri.
“Assalamu ‘alaikum.” Sapaku menghentikan langkahku tepat dibelakangnya, ia membelakangiku sambil sibuk senyam senyum menatap handphone ditangannya.
“Wa ‘alaikum salam.” Jawabnya sambil kemudian membalikkan badannya menghadapku.
“Antum... ngunjungi ana?” tanyaku malu-malu. Entah kenapa bayangan ketika aku memarahi dan mengusir Mada waktu itu seketika memenuhi kepalaku. Jujur, jika diingat ulang aku benar-benar merasa malu dengan tingkahku sendiri. Apalagi sekarang aku harus berhadapan dengan lelaki di hadapanku ini. Bahkan sekarang aku sudah merasakan wajahku memanas karena merasa sangat malu.
“Iya. Ana kemari cuma mau ngasi titipan dari Mada. Dia ngerancang sekaligus ngejahit baju buat antum. Dia senang banget pas dengar info dari teman ana kalo anti udah mulai berubah.”
“Aila.”
Kukerutkan keningku mengingat wajah lelaki bermasker hitam.
"Waktu pertama ketemu ana emang lagi flu, jadi terpaksa make masker." Jelasnya membenarkan dugaan di kepalaku. Berarti dia yang dikatakan Ai, mungkin dia ini adalah sosok aslinya. Tapi kenapa ia begitu peduli padaku waktu itu sampai meminta Ai mengangkat barangku? Aku terus bertanya pada diriku sendiri sampai mengabaikan lelaki itu. Dia langsung tersenyum kikuk, melihatku yang tidak memberi respon apapun.
“Oh iya, sebelumnya kenalin… nama ana Taqin. Ana gak sempat ngenalin diri ana waktu itu karna keadaan yang gak mendukung.”
Aku diam. Tapi isi kepalaku terus bicara.
Bukannya kemarin namanya Key??
“Emm.. Ana sebenarnya gak ada maksud jahat nyuruh Mada berhenti sekolah, tapi karna waktu itu kita lagi ada masalah rumit, jadi ana terpaksa.”
“Ooh, masalah rumit yah.. gak papa. Ana ngerti kok.”
“Ana sama Mada belum bisa cerita ke antum tentang masalah itu. Tapi mungkin di lain waktu yang lebih tepat...” ujarnya sambil tersenyum lebar padaku. Kata-katanya seolah menyimpan makna tersendiri yang sulit kumengerti. Mungkin kedepannya kami bisa berteman dekat, tapi kenapa ia sempat berpikir seperti itu?? Kugeleng-gelengkan kepalaku menyalahi dugaanku. Tanpa kusadari Taqin sudah memperhatikan tingkahku itu sambil tersenyum. Membuatku langsung salah tingkah dan merasa gugup ketika menyadarinya.
“Kenapa?” Tanyanya.
“Gak papa.”
Jawabku cepat membuatnya langsung mengerutkan keningnya.
Setelah mengobrol sedikit, Ia kemudian meminta izin untuk pulang. Ia menaiki motornya dan menyalakan mesinnya. Setelah menganggukkan kepalanya padaku, ia hampir berlalu meninggalkanku yang masih mengingat-ngingat sesuatu sebelum kemudian aku memanggilnya terlalu keras. Ia langsung menoleh bingung padaku.
“Eh...afwan. Antum... kenal Key Azril??”
Dia terdiam hampir seperti tertegun. Aku menunggu jawaban darinya sambil memperhatikan ekspresinya yang sangat tidak kumengerti. Keningnya berkerut beberapa saat seolah mengingat sesuatu yang rumit tapi coba ia sembunyikan dariku.
“Ya.”
Jawabnya pendek sambil mengangguk. Ntah kenapa kali ini aku merasa caranya memandangku berubah. Dia memang tersenyum, tapi seolah menyiratkan rasa sedih bercampur kecewa. Hampir sama persis dengan pandangan Mada dalam mimpiku. Taqin juga ada disana kan??
Setelah menjawab begitu ia langsung kembali meminta izin pulang seperti terburu-buru. Aku pun mengangguk dan membiarkannya berlalu. Seperginya, aku masih diam kebingungan dengan si Taqin itu. Dia sahabat Key, tapi caranya menanggapi pertanyaanku sangat berbeda dengan Key yang malah sibuk menanyainya melalui Ai. Tapi sudahlah, bukan masalah penting, pikirku. Aku saja yang terlalu kepo dan tidak ingin ketinggalan dengan segala hal yang berhubungan dengan Key.
“Ukhti, kalo keluarganya udah pulang, segera balik keasrama ya..” ujar Pak Satpam yang sedang duduk berjaga di Pos yang langsung kuiyakan.
Segera aku kembali ke asrama sambil menenteng plastik berisi baju buatan Mada. Aku sudah tidak merasa kesal lagi padanya. Malah aku rindu dengan sikap cueknya itu. Kupercepat langkahku agar aku segera sampai dan melihat seperti apa baju buatan Mada ini. Aku benar-benar tidak sabar mencobanya. Dia tidak pernah memberitahuku tentang bakat menjahitnya. Yah.. dia memang tetap tertutup meskipun kami sudah menjadi sahabat.
Malam ini kebetulan ada acara di Aula, jadi aku ingin mengenakan baju yang dibuatkan Mada ini. Sesampainya dikamar, aku cepat-cepat membuka plastik itu dan membentangkan baju didalamnya itu untuk melihat modelnya lebih jelas. Dan aku benar-benar terkagum melihatnya. Baju tidak memiliki begitu banyak model, tapi tetap terlihat cantik. Baju berbentuk longdress berwarna biru dengan model dua buah lipit di bagian dada masing-masing berdekatan dengan ketiak kanan dan kiri, serta memberi kombinasi renda tebal berwarna abu-abu dibagian pergelangan sampai sebatas sikunya dan memberinya pita kecil berwarna biru. Aku sangat suka. Ditambah bahan kainnya yang tebal dan jatuh membuatnya semakin cantik. Aku semakin merasa tidak sabaran memakainya.
Sepulang sholat Isya, aku langsung memakai baju buatan Mada dan mencocokkannya dengan jilbabku yang berwarna abu-abu tanpa motif tapi menggunakan pet kecil. Bagian tengah depannya tidak dijahit sehingga bisa kumodel dengan menempelkannya kedekat bahuku dengan menggunakan bros bunga berwarna biru. Di bagian bawah jilbab ini dikelilingi kerutan yang memberi sedikit model agar tidak terlalu polos.
Latifah mendecak kagum melihat penampilanku. Baru kali ini ia memuji sesuatu yang berkaitan dengan Mada. Biasanya ia selalu cuek dan tidak mau tahu tentang Mada. Tapi kali ini ia benar-benar tidak bisa menutupi rasa kagumnya dariku.
Aku, Latifah dan Ai kemudian berjalan bersama menuju Aula yang terletak disebelah Mesjid dekat lapangan. Di sepanjang jalan mereka bercerita tentang kegiatan yang akan mereka ikuti. Latifah ingin mengikuti kegiatan kaligrafi, Ai ingin mengikuti kegiatan tilawah, dan aku sendiri tidak tau akan mengikuti kegiatan apa. Aku belum pernah mendengar seorang pun yang mengatakan kegiatan melukis. Itu membuatku pesimis, berpikir kegiatan itu memang tidak ada di pesantren ini. Mungkin aku akan belajar sendiri dikamar.
Sesampainya di Aula, kami memilih tempat duduk dibarisan paling depan. Agar apa yang disampaikan oleh Ustaz atau Ustazah nanti bisa didengar dengan jelas. Kalau aku duduk dibelakang mungkin aku bisa mengantuk. Jadi aku tidak akan tau info yang disampaikan.
Tidak sampai begitu lama, Aula sudah dipenuhi santri dan santriah yang lalu lalang. Antara santri dan santriah diberi pembatas yang lumayan tinggi, agar tidak ada santri dan santriah yang mencoba curi-curi waktu untuk berdekatan dan menjalin hubungan asmara. Dihadapan kami berjejer sofa-sofa dan meja-meja kaca berwarna cokelat susu, yang disusun rapi menghadap kami. Sofa-sofa itu disediakan untuk Ustadz dan Ustazah. Beberapa sofa itu juga sudah mulai berisi, hanya tinggal sebuah sofa panjang saja yang masih kosong.
Entah kenapa semua Ustadz dan Ustazah perlahan berdiri menyambut kedatangan dua orang yang sepertinya sangat dikagumi di Pesantren ini. Aku mengenal salah seorang dari mereka, yaitu ustadz Hafiz. Dan yang satu lagi tidak sempat kulihat karena pandanganku kualihkan pada Latifah yang sedang sibuk menunjukkan selembar kertas yang berisi deretan kegiatan yang insyaAllah akan diresmikan.
Acara akhirnya dimulai dengan beberapa pembukaan-pembukaan yang dibawakan oleh pembawa acara. Jejeran sofa dan meja dihadapan kami sudah berisi oleh ustadz-ustadz dan ustazah. Tapi ada satu orang yang membuatku merasa aneh dengan posisinya yang aku sendiri tidak tau sebagai apa di Pesantren ini. Ia dengan wajah polosnya duduk di sofa itu bersama para Ustadz dan ustazah. Jika dilihat dari wajahnya, ia terlihat sama atau seumuran denganku. Sama seperti santri kelas 1 aliyah. Dia begitu berani duduk disitu, padahal tidak ada satupun para pengurus yang duduk disana.
“Tam.. itu.. itu, kembaran Key.” Bisik Latifah padaku sambil lalu menyenggol lengan Ai dan membisikkan hal yang sama. Ai pun mengangguk lalu menoleh padaku. Aku tau mereka hanya asal bicara, Key tidak punya kembaran, dia anak satu-satunya di keluarganya.
“Taqin..” bisiknya mencoba memberitahuku. Aku juga sudah tau itu. Itu sebabnya aku sempat merasa heran. Mungkin ini berkaitan dengan kerja samanya dan Ustadz Hafidz mengenai kegiatan Tahfiz Quran. Berarti ia juga ingin membuka kegiatan itu disini. Mungkin itu yang menyebabkan ia bisa menduduki tempat terhormat di hadapan kami itu.
“Dia laki-laki yang ana ceritain waktu itu, yang ngasi ana baju baru pas di mesjid.” Mataku seketika terbelalak mendengar kata-kata Latifah itu. Ternyata dia orang yang luar biasa dermawan.
Acara berlangsung begitu lama, aku baru tahu bahwa kegiatan Tahfiz Quran merupakan kegiatan baru di Pesantren ini. Kegiatan itu ditambahkan bukan untuk kegiatan yang wajib diikuti oleh semua santri dan santriah, hanya bagi yang berminat saja. Satu hal yang juga baru aku tahu dan sangat mengagetkan sekaligus membuatku kagum luar biasa, ternyata Taqin seorang Penahsin muda dibanyak pesantren seperti Pesantren Ar Rasyid, juga Pesantren kami ini, dan sekolah-sekolah MIN, MTS, juga MAN disekitar Kota Pinang hingga Rantau Prapat. Dia benar-benar orang hebat. Itu sebabnya dia hadir di acara ini, dia akan menjadi pembimbing kegiatan tahfiz ini beserta Ustadz Hafidz.
Karena kegiatan tahfiz ini masih baru, Ustadz Hafidz sempat menyampaikan bagaimana cara-cara menghafal alquran yang mudah dan menjaganya agar tidak hilang, serta perbuatan apa saja yang menghilangkan hafalan, dan bagaimana menjadi seorang penghafal alquran yang baik. Beliau menjelaskan semuanya secara detail dengan menggunakan bahasa semenarik mungkin untuk menarik minat santri dan santriah. Karena seorang hafiz dan hafizah sangat sulit ditemukan. Kalau pun ada yang berniat, mereka belum tentu bisa istiqomah. Dikarenakan banyaknya ujian yang membuat perjalanan seorang yang ingin menjadi hafiz itu rumit. Tapi, meskipun sulit ditemukan, seorang hafiz itu kelak akan ditinggikan derajatnya di akhirat juga disebut sebagai ahlullah. Begtu pula di dunia, biasanya mereka adalah seorang pemimpin.
Aku merasakan getaran lembut dari dalam hatiku ketika mendengar semua penjelasan itu. Hatiku seolah memanggilku untuk melakukan kegiatan yang mulia ini. Tapi ada rasa takut jika aku tidak istiqomah, yang menyebabkan aku bukannya menjadi hafizah yang baik malah menjadi hafizah yang buruk.
Mataku memandang lurus kearah Ustadz Hafidz yang masih terus menjelaskan manfaat-manfaat menghafal Alquran. Tanpa sengaja mataku bertemu dengan mata Taqin yang duduk disebelah Ustadz Hafidz. Segera aku menunduk yang kemudian juga diikuti olehnya. Dalam hati aku beristighfar sebanyak mungkin sambil berharap Taqin tidak akan kehilangan hafalannya karena tanpa sengaja menatapku tadi. Kuangkat kembali kepalaku menoleh kearahnya malu, ternyata ia juga sedang melihat kearahku. Kuberanikan diri melihatnya, wajahnya yang bersih dengan mata sipit yang teduh itu, mengeluarkan pancaran kesholihan dari dalam dirinya. Kurasa dia termasuk dalam golongan hafiz yang baik, insyaAllah. Aku ingin sepertinya, tapi bisakah aku?
Kutanyakan itu pada diriku sendiri tanpa menyadari kerutan keningku terlihat jelas bahwa aku sedang bingung. Taqin yang ternyata masih memperhatikanku perlahan mengangguk pelan menjawab keraguan dalam hatiku. Ternyata ia bisa membaca keraguanku. Aku sendiri memang tidak bisa menahan atau menutupinya. Aku merasa kaget sekaligus senang dengan anggukan itu. Aku merasa seolah dipercaya untuk melakukan hal yang sulit tapi memiliki kemuliaan yang besar seperti ini. Aku bisa merasakan semangatku perlahan tumbuh, membuatku perlahan mulai menetapkan niat yang baik dalam lubbunku.