ViRus

ViRus
Kebenaran



Selama perjalanan pulang, aku terus memikirkan kata-kata Ayas. Hingga hari-hari setelahnya. Aku ingin mempercayainya, tapi keseharianku dengan Latifah serta perlakuannya yang begitu baik, membuatku tidak tega untuk berprasangka buruk padanya. Teman yang kukenal sejak berada di asrama itu, tidak mungkin langsung kunilai jelek hanya karena ia disuruh mengawasiku seperti mata-mata. Lagian Taqin yang memintanya karena ia mengkhawatirkanku kan??


Pertanyaan dan kekhawatiranku itu baru terjawab setelah beberapa tahun setelahnya. Kupikir dia adalah sahabat yang baik, menasehatiku seolah akan selalu membantuku. Tapi ternyata aku salah. Dia juga salah satu penghancur segalanya.


Kejadian itu membuktikannya dengan jelas. Tepatnya saat kami menyelesaikan ujian kelulusan dan segera keluar dari Pesantren, aku sempat memeluknya sedih sambil berjanji akan terus bersama di jenjang perkuliahan.


Tapi sesuatu terjadi, Taqin yang sudah lama tidak pernah muncul tiba-tiba saja memintaku dan Latifah menemuinya. Rinduku yang sudah membuncah berlari penuh semangat, ingin segera berbicara dan mendengar suaranya. Ingin menanyainya, kemana dia selama ini?? Bagaimana keadaan Mada?? Kenapa mereka tidak berusaha menghubungiku?? Kenapa dia meninggalkanku?? Apa dia membenciku??


Pertanyaanku terjawab sempurna, saat Latifah memintaku hanya untuk menguping pembicaraan mereka diluar mesjid. Mereka berbicara di mesjid dengan dibatasi kain pembatas shaf antara laki-laki dan perempuan.


Apa ini?? Kenapa harus disini??


Gumamku dalam hati, tidak sabar. Memang Taqin juga tidak sendiri. Dia bersama seoarang laki-laki lain yang tidak kukenal. Aku memang tidak mengenal satu pun lelaki di Pesantren ini. Lebih jelasnya tidak mau tau.


“Hmm.., ana boleh nanya sesuatu?”


Suara Taqin terdengar bersih.


“Boleh.”


Jawab Latifah.


“Anti sekarang lagi dekat sama seseorang ya?”


DEG..


Apa ini?? Pertanyaan apa ini??


“Enggak. Antum udah nanya itu berkali-kali loh..”


Latifah terdengar sedang tertawa.


Berkali-kali??


Ternyata mereka selama ini sudah saling menghubungi?? Dan Taqin selama ini sudah menanyai status Latifah. Dan Latifah ternyata menyembunyikannya dariku selama ini.


“Ohya.. afwan ana cuman mastiin aja, ana masih ada kesempatan ato nggak.”


“Kesempatan apa yah?”


“Ta’aruf sama anti ukhti. Supaya ana bisa secepatnya ketemu orangtua anti.”


Kakiku lemas. Kata-kata Ayas seolah seperti rekaman yang terus berputar berulang-ulang dalam otakku.


Sebaiknya jangan terlalu percaya sama semua orang, bahkan walaupun itu orang terdekat kamu sekalipun...


“Dianya masih belum fokus qin. Hhh..”


Tegur teman Taqin sambil tertawa lucu. Tawa yang terasa begitu menyayat-nyayat hatiku.


“Afwan.. ana..”


Latifah terdengar gugup. Apa ini rencana mereka?? Apa aku sengaja dijadikan penguping agar mengerti dan segera menghapus perasaanku pada Taqin??


“Kenapa?”


Taqin bertanya seolah begitu tidak sabar dengan jawaban Latifah.


“Hahaha, kenapa kok takut? Bilang aja, ana gak marah kok kalo memang ana harus ditolak. Asalkan.. anti nolak ana bukan karna ana VIRUS.”


*****


“Kenapa?”


Tanyaku ketika kurasakan tangan Albi mengusap pipiku lembut.


“Anti nangis.”


Jawabnya membuatku langsung tersenyum kecut.


“Hhh, padahal ana udah berusaha buat nahan.”


Aku berusaha tersenyum tulus.


“Mending ceritanya gak usah dilanjutin.”


Albi langsung memutuskan.


“Kenapa? Antum gak mau dengar?”


Tanyaku sedih.


“Mau lah sayang.. tapi kalo anti nangis kayak gini, siapa yang tega..”


Jelasnya membelai pipiku.


“Duh, gak papa loh. Mungkin.. dengan nyeritain semuanya, ana bisa ngrasa lebih lega.”


“Yaudah. Kalo anti maunya gitu.”


“Jangan cemburu loh..”


Ujarku menggodanya.


“Hahaha..”


****


Kusandarkan tubuhku ke dinding masjid tempatku bersembunyi. Tubuhku butuh topangan. Persendianku mulai goyah saat tertiup angin, karena tak mampu menahan rasa sakit yang berpusat di dadaku. Air mataku tumpah tanpa kuminta, membasahi wajahku yang masih lengang merasa tak percaya dengan kenyataan. Kucoba untuk beristighfar berharap Rabb-ku melihat keadaanku. Meski aku sudah tau Dia akan selalu melihatku.


Kukuatkan kakiku untuk berlalu dari tempat itu. Latifah masih belum memberi jawaban kepada Taqin. Dan aku pun tidak ingin mendengar apapun jawaban darinya. Ini terlalu sakit.


Kupercepat langkahku melewati pekarangan kelas dengan menatap lurus ke depan tanpa mau menoleh sedikit pun kearah lain. Aku tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang disekitarku. Yang kuinginkan sekarang hanyalah sampai ke dekat gerbang menemui Key yang kuyakin sudah menungguku. Aku ingin memeluknya dan meminta maaf karena sudah terlalu sering mengecewakannya. Dan sepertinya aku tidak mungkin memeluknya, mungkin aku akan memeluk sesuatu yang dibawanya untukku. Dan kuharap itu bukan makanan.


“Tam kenapa nangis?”


Tanya Key padaku ketika aku sudah sampai di dekat Pos Satpam. Ia bahkan sudah menunjukkan wajah heran saat kami masih berjauhan.


“Kangen.. Mama sama Papa gak dateng?”


Jawabku. Dan pastinya ia sudah tau aku berbohong. Aku tidak pernah selebay ini meski sudah rindu setengah mati pada siapa pun. Aku memang tidak pernah bisa menutupi semuanya dari Key. Tapi dia seolah percaya padaku dan tetap menanggapi kata-kataku dengan riang.


“Tante sama om lagi ada kerjaan. Kangen sama mereka aja, sama aku nggak?”


Godanya sambil tersenyum jahil.


“Kangen lah.. BODOH.”


“Hahaha.. nih aku bawain. Tapi jangan dipeluk sekarang ntar kena ingus.”


Key memberiku boneka panda yang sangat besar dan langsung kuambil cepat darinya.


“Iiiih.. ngeselin banget, hhuuueee..”


Aku memukulkan boneka itu ke wajahnya pelan. Lalu memeluk boneka itu erat menenggelamkan wajahku di bulu-bulunya yang halus.


“Eh.. dibilang jangan dipeluk sekarang.”


Key menarik pelan boneka itu dari pelukanku dan langsung kutarik kembali dengan kasar dan memeluknya semakin erat.


“Jadi mau meluk apa coba?”


“Kan ada aku..”


“Mau tampar?”


“Mau..”


“Iih..”


“Hahaha.. eh, jangan digigit.. ntar robek.. hahaha”


*****


Aku masih duduk terdiam di kursi di sebelah pos. Tanganku memeluk erat boneka pemberian Key. Yah.. aku sudah merasa lebih tenang sekarang. Mataku memperhatikan Key yang sedang mengangkat barang-barangku dan menyusunnya dengan rapi dalam bagasi. Lengan bajunya terlihat basah bekas air mataku tadi. Ia menyenderkan kepalaku dibahunya tadi saat aku menangis lebih dari satu jam lamanya. Aku pun tidak menolaknya sedikit pun karena aku memang membutuhkannya. Sangat membutuhkannya.


Kutumpahkan semua tangisku dibahunya. Ia pun hanya diam saja membiarkanku sampai aku benar-benar puas. Ia tidak ingin menanyaiku karena tau aku belum mendapat kesadaranku sepenuhnya.


Ia baru mulai menyusun barangku setelah aku merasa lebih tenang seperti saat ini. Pak satpam yang sedang berjaga di pos itu juga sempat bertanya karena khawatir melihat tangisku yang sangat parah. Tapi Key hanya menjawabnya dengan senyum membuat pak satpam itu pun tersenyum tidak meminta jawaban lagi.


“Udah selesai. Pulang yuk..”


Ujar Key. Aku mengangguk dan beranjak dari tempat dudukku. Tanpa sengaja mataku menangkap sosok Latifah yang sedang berlari kecil mendekatiku dan Key. Dan entah kenapa tubuhku seperti tidak bertuan. Ia bergerak sendiri masuk ke dalam mobil. Ia mengontrol semuanya termasuk bibirku.


“Ayo Key.”


Ajakku pada Key yang masih diam melihat Latifah.


“Tapi dia??”


Aku hanya diam, Key pun mengerti. Ia kemudian masuk kedalam mobil dan langsung membawanya melaju keluar gerbang pesantren.


Aku sama sekali tidak peduli ketika melihat Latifah terus memanggilku dari kaca spion. Sekilas aku melihat sosok Taqin muncul dari balik tubuh Latifah membuat wajahku seketika berpaling kearah Key yang ternyata juga melihat mereka. Ia menatapku beberapa saat, lalu kemudian menambah kecepatan mobilnya. Ia tidak menyinggung sedikit pun tentang Latifah. Aku senang Key memang orang yang paling mengerti aku. Dan bodohnya aku mengabaikannya hanya karena lelaki yang baru saja kukenal.


“Mau makan diluar ato dirumah?”


Tanya Key memecah keheningan.


“Terserah.”


“Diluar aja ya..”


“He-em.”


Aku dan Key menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Kami tidak melakukan hal yang bukan-bukan. Key mengajakku ke taman menikmati udara sejuk dan bersih sambil menghiburku.


Saat itu aku benar-benar berhasil tertawa lepas melupakan masalah tadi pagi. Sepanjang hari itu, Key selalu bertingkah lucu dihadapanku, tanpa peduli dengan pandangan orang lain di sekitar kami. Aku tau, ia hanya ingin membuatku melupakan semua kesedihanku. Yah.. Key pasti tau masalahku yang sebenarnya. Tapi ia tidak mau mengungkitnya sedikit pun. Ia tidak mau merusak moment berharga kami yang sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama.


“Jam berapa?”


Tanyaku saat kami sudah kembali ke mobil.


“Jam 7. Nonton dulu yuk.. entar aja pulangnya.”


Ajak Key lagi. Aku mengangguk setuju. Aku ingin menghabiskan hari ini bersama Key sebagai bentuk permintaan maafku padanya selama ini. Juga setelah ini, aku akan berusaha membuka hatiku untuknya, orang yang paling memahamiku.