
Aku sedang sibuk membolak balik jilbab syar’i dihadapanku. Jilbab berwarna biru muda polos berbahan ceruty, modelnya dua layer sehingga terlihat tebal, berpet kecil, panjang depan jilbabnya kira-kira 90 cm sedangkan belakangnya 125 cm. Begitulah penjelasan si kakak penjual padaku. Aku menyukai jilbab itu, tapi harganya terlalu mahal. Uang disakuku tidak cukup membelinya. Ditawar pun rasanya percuma. Kulirik Latifah yang sedari tadi berbisik-bisik sambil cengengesan dengan Ai. Mereka tengah melihat-lihat baju syar’i couple ditoko yang sama denganku. Aku tau mereka juga tengah mengalami hal yang sama denganku. Mau tapi tidak punya uang.
Aku segera permisi pada kakak penjual itu dengan alasan ingin mencoba melihat ke toko lain. Kakak itu pun mengangguk ramah tidak keberatan.
“Eh. Ukhti kok pake celana jeans?” Tanya Latifah tiba-tiba membuatku langsung menoleh padanya yang sedang memperhatikan seorang perempuan berjilbab tipis mengenakan celana jeans dan baju super ketat, yang sibuk dengan tas ditangannya. Aku pun terbelalak karena aku juga mengenal orang itu. Dia perempuan bermata ikan asin itu. Aku mendekati Latifah dan Ai mencoba melihatnya dengan jelas, aku takut Latifah menegur orang yang salah.
“Emang kenapa? Sewot banget sih.” Jawab perempuan itu ketus.
“Bukannya sewot ukhti, tapi ukhti udah ngelanggar aturan Pesantren loh. Lagian busana kayak gitu kan gak sopan.” Ai ikut-ikutan memprotes penampilan perempuan itu, membuat perempuan itu langsung memutar bola matanya sambil tersenyum malas.
“Hah?! Aturan... aturan. Ngapain juga naatin peraturan. Kan aku juga udah gak ada hubungan sama pesantren.”
“Gak ada hubungan?! Maksudnya.. udah berhenti?” Tanyaku tanpa sengaja ikut campur.
Jujur, aku tidak pernah suka melihat orang ini. Bahkan saat melihatnya pertama kali di gerbang Pesantren pun aku sudah tau kalau dia bukan perempuan yang baik. Ditambah lagi melihat tingkahnya sekarang ini, tidak menghargai nama baik pesantrennya sendiri. Malah menjelekkannya dimata orang luar. Dia itu benar-benar seperti virus bagi pesantrennya sendiri.
“Iiya goblok. Perempuan sok alim. Sok ngikut-ngikut kegiatan tahfiz, padahal.. cuman mau kegatelan sama Taqin.”
Mataku langsung terbelalak mendengar jawabannya. Aku tidak menyangka ia akan menjawab selancang itu. Aku melangkah mendekatinya berniat menampar bibirnya yang kurangajar itu. Tapi Ai langsung menahanku membuatku mengepalkan tangan menahan perasaanku.
“What?? Taqin yang..handsome..ittu??” Tanya teman disebelahnya dengan mata terbelalak. Temannya itu terlihat jauh lebih tua dari kami. Ia mengenal Taqin rupanya. Ternyata Taqin lumayan famous juga diluar.
“Iiiya, sayang.” Jawab perempuan mata ikan asin itu sambil memandangku sinis dari ujung kaki sampai ujung kepalaku, baru kemudian bergidik seolah merasa jijik denganku. Ingin sekali aku menampari wajahnya dan menarik-narik bibirnya yang luar biasa lebar itu dan memasukkan sepatuku kedalamnya. Mungkin akan muat. Tapi kucoba meredakan emosiku dengan terus beristighfar adalam hati.
“Dasar gak tau malu.”
Temannya ikut mencaciku. Tanpa ingin menyadari penampilan dirinya yang begitu norak dengan make up terlalu tebal membuat pipinya tidak terlihat merona cantik, malah kelihatan lebam seperti baru saja dipukuli. Ia tidak bisa menyesuaikan wajahnya dengan make up yang ia gunakan, itu pun sudah merasa sok dan merendahkan orang lain. Dia yang justru tidak tau malu. Aku hanya bisa memaki mereka satu persatu dalam hati.
“Astaghfirullahal ‘azim. Jangan sembarangan ngomong dong ukhti. Gak sopan banget.” Tegur Latifah mulai emosi.
“Ngapain juga pake sopan santun sama cewek gatel. Yuk.” Selanya sambil menarik lengan temannya untuk beranjak dari hadapan kami.
“Yuk. Malas lama-lama deket cewek gatel.”
“Jijik.” Ujarnya memperlihatkan giginya yang kuning kecokelatan dan dihiasi daun ubi yang terselip diantara gigi tengah atasnya itu. Aku ingin tertawa melihat pemandangan itu yang terasa sedikit menyiram emosiku. Aku merasa temannya itu menyadari arah pandanganku dan langsung diam-diam menyenggol lengan perempuan bermata ikan asin itu sambil berlalu menjauh dari kami. Kurasa ia memberitahukan sesuatu yang kulihat di gigi temannya yang bodoh itu.
“Eh. Jaga mulut kalo ngomong. Dasar... tuh bibir minta diinjek-injek.” Teriak Latifah. Ternyata ia jauh lebih emosi dibandingkan aku. Dikarenakan ia yang sejak tadi menjawab-jawab omelan dua orang tadi.
“Heh.. kok ikutan gak sopan sih..Tam, jangan di baperin yah.. anggap aja orang gila nyasar.” Ujar Ai menasehatiku setelah menegur kata-kata Latifah tanpa menyadari kata-katanya sendiri.
“Ih.. kamu juga kasar kok.”
“Gak kok. Kan Tam?!”
Mereka terus mengomel mengatai satu sama lain siapa yang lebih kasar. Aku hanya diam sambil tersenyum memandangi mereka. Aku merasa bersyukur dengan pemandangan tadi. Itu seakan bisikan Allah yang tengah memintaku untuk bersabar. Allah tau hal sekecil apapun pasti bisa memalingkan perhatianku sehingga perasaanku tidak langsung tersentuh kata-kata kasar mereka. Ku hela nafasku sambil membisikkan kalimat-NYA dalam hatiku.
La yukallifullahu nafsan illa wus‘aha
*****
Aku, Ai dan Latifah berjalan di tepi jalan raya yag padat. Sekarang sudah hampir masuk waktu Zuhur. Wajar saja jika kondisi jalanan seperti ini. Orang sedang berpulangan dari tempat kerja, begitu juga dengan anak-anak sekolah, atau orang-orang yang sedang ingin berangkat ke mesjid untuk melaksanakan sholat Jumat berjama’ah.
“Krrrrk”
“Duh, perut ana udah bunyi-bunyi nih.. lapar..”
Rengek Latifah sambil mengayun-ayunkan tas plastik berisi belanjaannya. Kami sudah selesai membeli semua keperluan kami. Alhamdulillah, semua keperluan alat lukisku tidak sulit untuk ditemukan, tidak seperti biasanya. Aku dan Mama harus bolak-balik kesana kemari mencarinya. Kali ini kami hanya membelinya di satu toko dan bisa menemukan semua isi dalam catatan belanjaanku.
“Eh.. Taqin?!”
Latifah setengah berteriak sambil menunjuk Taqin yang sedang berjalan membawa kantung plastik kecil seperti berisi baju. Taqin yang mendengar namanya disebut langsung menoleh kearah kami. Ia lalu tersenyum dan menghampiri kami. Aku hanya diam tidak membalas sedikit pun senyumnya. Berbeda dengan Ai dan Latifah yang sedari tadi senyum-senyum bodoh sambil menyenggol-nyenggol lenganku.
“Ukhti semua udah mau balik?” Tanya Taqin. Cuma basa basi, pikirku.
“Eeeeh.. kita mau nyari..toilet.. iya toilet. Kan Ai?!” Latifah menyenggol Ai. Ai hanya diam beberapa detik sambil menatap Latifah heran, baru kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka mengabaikanku yang memandangi mereka kebingungan.
“Iyaiya, kita titip Tam sebentar gak papa kan?” Ujar Ai membuatku langsung menatapnya dan Latifah mulai merasakan firasat buruk. Padahal sebelumnya mereka tidak ada membicarakan toilet padaku. Latifah hanya mengatakan kalau dia sudah lapar.
“Eh.. kok?”
“Ssshh..” Ai langsung memotongku membuat Latifah bebas bicara.
“Iya... soalnya Tam ini kan... anak mami. Jadi gak bisa dilepas kalo gak ada yang ngawasin.”
“Enggak kok..enggak..” Selaku langsung. Aku yakin mereka sengaja memberiku waktu untuk berdua dengan Taqin karena masalah lukisan itu. Sampai sekarang mereka memang belum juga percaya dengan alasanku yang sebenarnya. Atau mungkin alasan lain mereka melakukan ini karena ingin memaksaku meminta maaf karena sudah berlaku kasar dengan Taqin tadi sebelum berangkat.
“Udah.. anti gak perlu malu. Kita pergi dulu ya.. jangan nakal sama Taqin.” Mereka langsung berlari meninggalkanku.
“Eh.. tungguin..” Ujarku meski aku tau itu percuma. Mereka sudah kembali masuk kedalam Pasar dan menghilang dibalik keramaian. Aku ingin menyusul tapi Taqin langsung memanggilku membuatku merutuk dalam hati.
“Tam?”
“Apa sih?” Jawabku ketus membuatnya langsung tertawa geli. Padahal kurasa tidak ada yang lucu sama sekali. Atau mungkin ia masih menertawakan kekalahanku waktu itu.
“Kok malah ngambek sama ana? Kan anti sendiri yang salah.. gak hafal sesuai target. Anti remeh sama hukuman ana..” Taqin langsung membuka topik tanpa basa basi. Ia langsung tau apa yang menyebabkanku begitu cuek plus jutek padanya.
“Ana gak remeh.. ana kemarin itu lagi mam-upss..” Hampir saja aku kelepasan mengatakan mamnu' padanya. Kalau aku tidak sempat menahannya tadi mungkin aku akan langsung malu tingkat dewa.
“Anti lagi apa?” Tanyanya tidak mengerti. Ia terlihat tidak peka dengan kata-kataku yang kurang komplit itu.
“Gak papa.”
“Nah.. itu tuh.. remeh sama ana. Rasain dong, kan enak.”
“Apaan sih, jahat banget.”
“Tam..”
“Eh.. Mamah, kok disini?” Tanyaku setelah melihat jelas wajah mama dan papa dari dekat. Aku merasa aneh dengan keberadaan Mama dan Papa. Aku memang tidak mengabari mereka kalau aku akan pergi ke Pasar, karena berpikir mereka tidak akan datang seperti biasanya. Berbeda dengan Key, ia memang selalu datang di waktu sore bukan siang-siang begini. Itu sebabnya aku merasa santai.
“Nyariin Tam dong sayang.. Mamah tadi ke Pesantren, tapi Tam gak ada. Sampe Mamah kirain anak Mamah udah hilang.”
“Masa hilang sih.. Mamah ada-ada aja.”
“Tam sama siapa?”
Mama mengeluarkan sedikit kepalanya melihat orang yang sedang bersamaku membuatku langsung gugup dan membelakangi Taqin menutupinya dari Mama. Aku tidak ingin Mama berpikiran yang aneh-aneh padaku dan Taqin.
“Saya teman Tam, Tante. Gak sengaja jumpa tadi.” Ujar Taqin santai membuatku langsung menatapnya kesal. Ia hanya menaikkan sebelah alisnya memandangku aneh. Yah.. dia memang tidak tau apa-apa. Dan aku sangat-sangat tidak sopan memperlakukannya seperti ini dihadapan orangtuaku. Dia juga termasuk guruku. Guru yang sudah berani kulawan karena terlalu menyebalkan.
“Ohooo.. teman Tam. Namanya siapa?” Tanya Mama pada Taqin dengan senyum ramah di bibirnya.
“Taqin, Tante.”
“Eeh.. Mamah duluan aja. Tam masih nunggu teman Tam yang lain. Tam bakal naik becak nanti ke Pesantren.” Ujarku mengalihkan pembicaraan.
“Tapi Mama mau ngomong sesuatu, penting.”
“Yaudah gak papa Tam. Biar ana yang nunggu mereka disini. Nanti ana kasi tau ke mereka, kalo Mama anti datang ngejemput.” Tawar Taqin.
“Ih. Serius nih??”
“Iya Tam. Gak papa.”
Aku diam beberapa saat sambil melihat Taqin. Aku merasa tidak enakan meninggalkannya begini. Begitu juga dengan Latifah dan Ai. Melihatku yang hanya diam dengan kening berkerut, Taqin kemudian tersenyum dan menganggukkan kepalanya meyakinkanku.
“Yaudah ana duluan yah.” Ujarku akhirnya.
“Iyaya. Hati-hati.” Jawabnya sambil tetap memperhatikanku masuk kedalam mobil.
“Assalamu ‘alaikum.”
“Wa ‘alaikum salam.”
****
Aku sudah berada dalam mobil. Hampir 10 menit aku menunggu hal penting yang ingin dikatakan Mama. Tapi Mama hanya diam saja sejak aku masuk kedalam mobil tadi. Begitu juga dengan Papa. Senyum penuh keramahan yang mereka tunjukkan pada Taqin tadi seketika hilang dari wajah mereka. Aku mulai merasakan firasat buruk. Sepertinya sesuatu telah terjadi tanpa sepengetahuanku.
“Mamah mau Tam jujur sama Mamah.”
Mama mulai buka suara. Nada bicaranya yang dingin menandakan ia sedang marah.
“Jujur masalah apa, Mah?” Aku bingung dan mencoba berpikir ulang apakah aku sudah melakukan kesalahan sebelumnya.
“Hubungan Tam sama anak hafiz itu.” Jawab Mama. Mungkin yang maksudnya adalah Taqin.
“Tam gak ada hubungan apa-apa sama anak hafiz.” Selaku.
“Jadi, Tam mau bilang ke Mamah kalo mama Key itu ngebohongin Mamah?”
Kata-kata Mama langsung membuatku mengerutkan kening, bagaimana mungkin Tante Nida tau tentangku dan Taqin, sedangkan kami tidak pernah bertemu sejak aku masuk ke Pesantren. Kalau memang Key yang memberitahunya tetap saja aneh, karena aku tidak pernah bercerita sekalipun tentang Taqin dihadapannya.
“Emang Mama Key bilang apa ke Mamah?” Aku mencoba memperjelas apa yang dikatakan Mama. Aku yakin ini pasti kesalahpahaman.
“Tante Nida bilang ke Mamah kalo Key merasa udah gak ada harapan lagi sama Tam, karna Tam udah ada seseorang yang lebih spesial di Pesantren. Taqin katanya.”
“Mungkin Key salah paham Mah.”
“Gak mungkin lah Key salah paham, ngeliat Tam tadi berduaan sama dia di Pasar Mama makin yakin. Lagian dia taunya dari sahabat Tam sendiri kok.”
“Sahabat?! Siapa mah?”
Tanyaku cepat. Kurasa memang Ai yang memberitahu Key. Tapi kapan? Aku seharusnya tau Ai yang memberitahunya, karena aku tidak pernah meminta Ai menemui Key sendirian. Lagian untuk apa Ai mengataiku seperti itu, tidak ada gunanya sama sekali.
“Udah Tam gak usah banyak nanya. Sekarang Mama gak mau Tam makin berulah dekat-dekat sama cowok itu, lagian Mama udah ngasi tau Tam sebelum Tam masuk Pesantren, Tam gak boleh dekat-dekat sama laki-laki lain. Karna gimana pun, Tam bakal nikah sama Key.”
Mataku terbelalak mendengar pernyataan Mama itu. Menikah? Aku bahkan belum pernah berpikir kesana. Orangtuaku malah sudah menentukan jodohku siapa.
“Atau Tam dipindah aja?” Tanya Papa menambahi membuatku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku tegas. Aku tidak ingin meninggalkan tempat yang sudah membuatku nyaman dan memiliki banyak teman. Aku sudah banyak belajar bersosialisasi di sana, karena itu aku tidak akan meninggalkan tempat itu sebelum waktunya.
“Gak.. Tam gak mau pindah.” Ujarku mempertegas penolakanku.
“Tuh.. tuh.. kelihatan tuh, takut dijauhin dari anak hafiz itu tuh..” Mama mulai menuduhku yang bukan-bukan.
“Enggak, Mah. Dia cuman guru Tam, gak lebih.”
“Tam punya guru bocah kayak gitu?”
Mama memasang wajah sinisnya mendengar pengakuanku. Memang siapapun yang mendengar kata-kataku ini mungkin akan melakukan hal yang sama dengan Mama. Tapi mereka tidak tau siapa Taqin. Bagiku, Taqin adalah laki-laki yang hebat, mandiri, cerdas, dan sudah jelas tidak sebanding dengan Key. Key hanya punya tampang menarik dengan harta melimpah, tapi ia tidak memiliki apa yang dimiliki Taqin.
“Dia bukan bocah Mah. Dia punya ilmu lebih banyak dibandingkan Key.” Ujarku tanpa sengaja mengatakannya terlalu keras. Membuat Mama dan Papa langsung melihatku aneh melalui kaca spion. Bodohnya aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Aku yakin itu pasti akan membuat mereka semakin curiga.
“Dari sini aja Mamah bisa lihat. Tam gak perlu nutup-nutupi semuanya dari Mamah. Mamah tau, Mamah paham perasaan anak Mamah. Anak Mamah gak mungkin gak ada rasa sampai segitu marahnya kalo cowok yang disukainya itu dibilang bocah.”
“Mah, dia itu guru Tam buk-“
“Udah Tam diam. Papah sekarang kita pulang ke rumah, besok kita jemput semua barang-barang Tam dari Pesantren. Tam pindah ke SMA aja.” Mama memotong kata-kataku sebelum aku selesai bicara.
“Gak. Tam gak mau Mamah..” Ujarku dengan suara memelas penuh permohonan. Tanganku menarik-narik lengan Mama kuat.
“Udah TAM DIAM!!” Bentak Mama membuatku terhenyak.
“Mamah.. Tam gak mau....” Rengekku sambil menggelengkan kepalaku tegas. Aku tidak bisa terima ini. Kenapa masalah ini sampai begitu diperbesar?? Aku tau ini pasti karena masalah kerja sama Papa dengan perusahaan keluarga Key. Tapi kenapa aku yang menjadi bentuk tumbal mereka. Apa mungkin kebahagiaanku tidak penting bagi mereka. Pertanyaan-pertanyaan menyedihkan itu terus memenuhi dadaku. Membuat mataku perlahan memanas, aku ingin menangis tidak sanggup menerima kenyataan ini. Aku merasa kembali seperti boneka, hanya akan bergerak jika digerakkan, hanya akan berpindah jika dipindahkan. Tidak bisa berusaha sendiri. Tangisku disembunyikan, tawaku tidak dibutuhkan. Yang terpenting, aku bisa dipergunakan untuk kesenangan mereka, orangtuaku sendiri.