
Kuambil handphoneku dari tempat persembunyiannya. Kutekan tombol wifi untuk mengaktifkan jaringan internet. Aku ingin melihat chatt dari Mada, kalau memang ada. Aku ingin memberitahunya dan Taqin tentang Mama yang mulai memberiku izin untuk kembali ke Pesantren, tapi aku harus menuruti permintaan Mama dulu. Tentunya tanpa memberitahunya tentang Key yang menjadi temanku keluar malam ini.
Segera kuketik semua kata-kata yang ingin kusampaikan dalam kolom chatt. Pesannya pasti akan dibaca terlebih dahulu oleh Taqin, dan pastinya ia akan memberitahukannya pada Mada. Setelah menekan tanda send, aku lalu meletakkan handphoneku di tempat tidur sambil kemudian bersiap-siap mengenakan baju yang sopan untuk keluar, lalu berangkat.
Selama dalam perjalanan menuju cafe yang akan kami tuju, aku hanya sibuk dengan handphoneku mengabaikan Key. Ternyata chatt-ku dibalas oleh Taqin. Ia merasa senang kalau aku akhirnya diberi izin. Ia memberiku saran agar tidak bertingkah yang bukan-bukan diluar nanti, untuk melindungi prasangka buruk orang-orang sekitar. Taqin mengatakan ia juga sedang tidak berada di rumah. Ia baru saja kembali dari pekerjaan biasa katanya dan sekarang sedang makan malam dengan Ustadz Hafidz. Dan kebetulan saja tempatnya itu dekat dengan tempat yang akan aku dan Key tuju. Segera kuberitahu Taqin agar tidak langsung pulang jika sudah selesai makan. Aku ingin memberinya tugas hukumanku waktu itu. Kebetulan saja aku membawanya sekarang. Aku pun tidak tau kenapa aku bisa memasukkannya kedalam tasku tadi.
“Tam..”
Tegur Key membuatku langsung mengalihkan pandanganku padanya.
“Yah?”
“Seru banget chattingannya. Sampai akunya dilupain.”
“Gak kok.” Jawabku cuek sambil memasukkan handphoneku kedalam tasku. Aku tidak ingin Key menanyai siapa teman chatt-ku atau apapun. Masalahku akan semakin rumit nantinya.
“Tam lagi dekat sama orang baru yah?”
“Enggak kok.”
“Tam serius?”
“Iya ana serius. Sekarang ana yang mau nanya ke antum. Antum ada cerita apa ke Mamah tentang ana?”
Aku menatapnya penuh selidik.
“Aku cuman bilang, kalo Tam lagi dekat sama anak hafiz. Taqin.”
Jawab Key jujur, meski hatiku kurang puas.
“Udah, cuman itu doang?”
“Gak. Semua yang Tam lakuin buat anak hafiz itu. Mulai dari Tam ngelukis wajahnya sampai berulang-ulang, sampai catnya habis beli lagi habis beli lagi kayak gitu seterusnya gak berhenti sampai sekarang.”
Ujar Key. Bibirnya senyum masam tidak suka.
“Ana ngelakuin itu bukan karna dia spesial. Tapi karna ana dihukum sama dia. Lagian antum ngapain pake ngadu segala?”
“Ya... jelas dong karna aku cemburu. Lagian gak logis banget menghukum seorang penghafal Quran itu dengan melukis.” Ujar Key sambil menunjukkan wajah sinisnya setelah beberapa detik menunjukkan wajah memelasnya.
“Ana tau. Tapi kan karna dia ada tujuan tersendiri makanya nyuruh ana ngelukis.”
“Hmmm.”
Key melirikku sekilas dengan ekspresi bosan yang kental, menyadari aku sedang membela Taqin. Aku tidak peduli, memang menurutku Taqin berhak dibela. Kami hanya sedang diadu domba.
“Lagian antum tau darimana itu semua?”
“Dari mata-mata aku dong, sahabat Tam sendiri.”
“Siapa?”
Tanyaku tak sabar.
“Aila.”
Aku diam. Berarti memang ini yang dimaksud Mada, feelingnya tentang Ai.
Tapi gimana caranya?? mereka juga baru kenal.
Ketika aku masih di asrama pun, kalau Key mengunjungiku aku selalu tau apa yang Key bicarakan dengan Ai jika dia ikut menemaniku.
Mobil yang kami naiki berhenti dihadapan sebuah cafe yang kutau juga tempat Taqin makan tadi. Key keluar dari mobil yang kemudian disusul olehku. Kuambil handphoneku dari dalam tas sambil lalu membuka balasan chatt dari Taqin. Ternyata dia sudah menungguku diluar cafe karena dia sudah sempat keluar Cafe sebelum akhirnya ia membaca chatt-ku. Aku langsung memandangi sekelilingku mencarinya.
“Tam..”
Panggil Key yang ternyata sudah berada didekat pintu Cafe, aku pun langsung berjalan mengikutinya. Key sempat memandangiku curiga tapi aku tidak mempedulikannya. Melihat kucuekanku, ia pun kembali melanjutkan langkahnya memasuki cafe.
Key memilih kursi yang berada tepat di sudut ruangan Cafe sebagai tempat kami duduk. Aku dan Key duduk berhadapan. Kupandangi sekelilingku sambil berharap tidak ada ustadz atau ustazah disekitar kami sekarang. Kalau pun ada semoga saja dia tidak melihatku.
Key melambaikan tangannya memanggil salah seorang pelayan Cafe yang sedang asyik mengobrol tidak ada kerjaan. Pelayan itu pun langsung datang menghampiri kami dan menyerahkan buku menu kepada kami.
Setelah memesan menu pilihan, pelayan itu pun membungkuk sebentar kearah kami sebelum akhirnya ia berlalu.
Seperginya pelayan itu Key hanya memperhatikanku sambil tersenyum. Dia sudah melupakan pembicaraan kami tadi. Aku hanya membalas senyumnya dengan rasa tidak nyaman. Semuanya memang terasa berbeda sekarang. Dulu aku justru sangat menyukai ini. Tapi semuanya berubah sejak aku masuk ke Pesantren. Aku tidak pernah menyesali perubahanku ini. Karena langkah baruku ini menuju kebaikan bukan keburukan. Terserah jika Key tidak suka, yang terpenting aku akan tetap berusaha untuk istiqomah.
Selama menunggu pesanan datang, Key bicara banyak hal. Tentunya tentang kesehariannya di sekolahnya. Aku tau, dia hanya sedang mempengaruhiku, mengira aku masih tertarik bersekolah di SMA. Aku tidak banyak bicara menanggapi cerita Key itu. Malah setelah ia selesai bercerita, aku memalingkan cerita kami, mengintrogasinya tentang masalah 3 tahun lalu. Alasannya membohongiku. Dia terkejut, bukan karena aku tau itu Taqin. Tapi seperti ia mengingat sesuatu yang sudah terjadi waktu itu. Aku memperhatikan setiap perubahan ekspresinya itu. Beberapa detik ia terkejut, baru kemudian ia tertawa. Tawa yang dibuat-buat, pikirku.
"Syukurlah... kalo Tam udah tau tentang itu."
"Kenapa antum nutupin dia dari ana?"
"Karna aku gak mau Tam bertanya lebih tentang dia. Dari dulu aku udah gak suka sama dia."
Jelas Key. Aku tidak bisa melanjutkan pembicaraanku karena handphoneku bergetar, Taqin menelpon. Untungnya Key tidak tau. Padahal aku ingin menanyai masalahnya dengan Taqin.
Tanganku hanya diam tidak mengangkat telpon Taqin. Aku sengaja diam, memberi jeda sebentar sebelum meminta izin keluar pada Key.
“Key, ana keluar dulu ya, mau ngasi tugas sama teman.
Ujarku akhirnya.
Aku juga tidak ingin berlama-lama, khawatir kalau berlambat-lambat Taqin akan pulang dan aku tidak akan bisa menyerahkan tugasku padanya. Memang, ini hanya bentuk pelarianku dari Key. Aku sebenarnya tidak begitu memikirkan hukuman dari Taqin. Lagian Taqin juga tau aku sedang dalam masalah. Ketika melukisnya tadi pun karena aku mendadak teringat dengannya.
“Emang teman Tam juga ada yang lagi diluar asrama sekarang?” Key memasang raut wajah curiganya padaku. Aku yakin ia pasti berpikir yang bukan-bukan.
“Ya. Kita udah libur sekarang. Tapi tetap ada tugas.”
“Ooo, ketemunya dimana?”
“Disebelah Cafe.”
“Ooo yaudah, Tam jangan lama-lama yah?”
“He-em.”
Aku lalu melangkah keluar Cafe. Kulihat sekelilingku mencari Taqin. Katanya ia mengenakan jaket hitam dengan corak biru muda. Lama aku berdiri mencarinya, akhirnya aku menemukannya. Seperti biasa ia berdiri di sebelah motornya.
“Assalamu ‘alaikum, Taqin?”
“Wa ‘alaikum salam, oh.. Tam, antum.. sama siapa kemari?”
“Hmm.. sama teman. Ana mau ngasi tugas hukuman ana.”
“Oooh.. haha, ana pikir antum bakal lupa sama hukuman antum sendiri.”
“Emang kenapa kalo ana lupa?”
Aku hanya meliriknya malas membuatnya langsung tertawa kecil.
“Nih..”
Kuulurkan hasil lukisan dikertas hitam yang sudah kugulung rapi dengan diikat pita berwarna biru. Taqin pun langsung menyambut uluran itu sambil terus mengulum senyum di bibirnya. Kujelaskan semuanya mulai dari aku melukis wajahnya dengan mata tertutup hingga saat ini, aku memutuskan melukisnya dengan crayon saja di rumah. Hasilnya jauh lebih bagus dan kurasa lebih mudah. Ia sempat tertawa lepas mendengar penjelasanku mengenai ulah Latifah dan Ai yang selalu menggangguku dan memintaku melukis dengan mata tertutup. Memang terdengar konyol, ia pun merasa jika aku melakukannya dengan cara seperti itu sampai kapanpun aku tidak akan berhasil. Kalau pun berhasil, hasilnya tidak akan memuaskan.
“Antum perlu liatin wajah ana tiap detik selama seminggu, baru bisa ngelukis wajah ana dengan mata ketutup.” Ledeknya.
“Habis itu ana bisa mati kebosanan.” Jawabku membuatnya kembali tertawa lepas. Entah kenapa ada rasa hangat yang aku tidak tau darimana datangnya, rasa hangat yang mengalir memenuhi dadaku. Membuatku tanpa sengaja melepas senyum dibibirku karena rasa nyaman ini.
Taqin perlahan membuka gulungan itu dan tanpa sengaja berdecak kagum. Beberapa detik ia terdiam, baru kemudian mengerjap mencoba menutupi kekagumannya dariku. Benar-benar lelaki keras kepala, pikirku. Ia mengangkat kepalanya dan menyadari aku sudah memperhatikan ekspresinya itu. Segera kupalingkan wajahku pura-pura cuek. Aku tau, ia pasti akan mengomentari lukisanku walaupun sebenarnya ia tetap kagum. Sejak aku mengalami kekalahan waktu itu, ia mulai enggan memujiku karena beranggapan aku meremehkan hukumannya.
“Bagus, ana ambil fotonya dulu ya, buat dikirim ke Mada.”
Dan dugaanku ternyata salah. Ia hanya memujiku sedikit. Dan itu membuatnya tetap berhasil menjadi orang yang keras kepala bagiku.
“Ngapain??”
“Biar dia yang mutusin ini mirip ato nggak. Kalo nggak mirip yah, antum ngulang lagi, sampai mirip.” Jawabnya membuatku langsung mendengus kesal.
Taqin mengambil handphone di saku celananya lalu kemudian memotret hasil lukisanku untuk dikirim ke Mada.
“Antum tau kenapa ana nyuruh antum ngelukis?”
Taqin menanyaiku sambil menunggu jawaban dari Mada. Kugelengkan kepalaku, mataku memandang lurus kearah jalanan melihat kendaraan yang lalu lalang di jalan raya.
“Itu karna ana mau antum gak kehilangan bakat melukis antum. Supaya antum gak sibuk menghafaaaal terus, tapi lupa buat latihan melukis.”
Sepertinya Taqin tau bakat melukisku dari Mada.
“Hmmm.., makasih. Ana tau kok.”
“Jangan bohong. Kalo antum tau, antum gak bakal marah sama ana waktu itu.” Selanya membuatku langsung tersipu malu.
Tidak berapa lama handphone Taqin bergetar. Ternyata balasan dari Mada. Taqin pun langsung membuka pesan itu sambil tersenyum. Aku merasa tidak sabaran dengan jawaban Mada. Aku yakin ia tidak akan mengatai lukisanku jelek. Tapi aku merasa aneh karena Taqin menatap layar handphonenya begitu lama dengan mata tak berkedip sekalipun membuatku semakin merasa penasaran. Kupikir Mada mengirim pesan yang panjang berisi komentar. Kumiringkan kepalaku mencoba melihatnya. Tapi Taqin buru-buru menutupnya membuatku langsung merengut kesal.
“Sesuai kesepakatan, kalo hasilnya gak bagus..” Taqin menaikkan sebelah alisnya sambil melihatku, menggantung kata-kata selanjutnya.
“Maksud antum? Ana udah ngerjain itu berulang-ulang sampai 2 minggu loh..” selaku marah sebelum ia sempat menyelesaikan kata-katanya, karena kupikir ia memang sengaja membuatku marah.
“Nih, lihat.”
Taqin menunjukkan pesan Mada yang luar biasa singkat. Hanya 3 kata namun menusuk sampai kejantungku.
Jelek. Gak mirip.
Kupalingkan wajahku mendengus keras lalu melipat kedua tanganku di dada. Ingin rasanya aku datang kehadapan Mada dan menarik-narik bibirnya yang lancip itu karena sudah berani memberi komentar sejelek itu pada lukisanku. Dia tidak tau seperti apa perjuangan kerasku untuk melukis wajah kakaknya yang pas-pasan ini. Melihatku yang nyaris meledak oleh amarah, Taqin pun tertawa kecil namun sedikit terbahak. Aku langsung menoleh kesal padanya berniat segera menyemburnya dengan ribuan omelanku.
“Gak deh.. becanda. “ Ujarnya hingga kata-kataku langsung tertelan. Ia kemudian membuka ransel hitamnya lalu memasukkan tangannya ke dalamnya mengambil sesuatu.
“Nih..”
Ia memberiku kotak berukuran sedang berwarna hitam dengan motif garis-garis biru. Beberapa detik aku terdiam melihat dia dan kotak itu secara bergantian. Perlahan kujulurkan tanganku mengambil kotak itu dengan wajah bingung.
“Buat ana?” Tanyaku mencoba memastikan. Aku tidak tau alasannya memberiku hadiah seperti ini. Karena aku memang kalah, aku gagal menyelesaikan hafalanku sesuai target yang sudah ditentukan.
“Enggak... buat kucing kesayangan antum. Yaiyalah buat antum. Dasar.” Kami lalu tertawa lepas bersama.
“Ana mau antum semangat lagi buat ngehafal, luruskan niat antum. Bukan karna hadiah ato hukuman ana.”
“Mengenai isinya, Mada yang nyaranin ana. Dia berharap, orang yang make sesuatu didalam situ, bakal jadi orang yang terdekat dengan kami, kelak.”
Jelasnya. Kupandangi kotak itu sambil tersenyum mencerna kata-kata Taqin dengan sangat perlahan lalu kemudian aku terkejut. Kurasa kami sudah lumayan dekat, dia mau hubungan kami sedekat apalagi?? Atau jangan-jangan ia bicara tentang kehidupan rumah tangga?? Kugelengkan kepalaku keras. Aku bukan manusia yang gampang baperan.
Tapi jawaban asalku kepada Latifah tentang spesies makhluk bermata sipit waktu itu, waktu itu aku memang mengingat Taqin.
Gawat!! Kata-kataku diaminkan malaikat!!!
Ketika aku mengangkat kepalaku, wajahku sudah disambut senyum Taqin yang sedari tadi sudah memperhatikanku.
“Antum kenapa sih??”
Ia lalu tertawa terbahak. Sepertinya ia sudah menahan tawanya dari tadi. Pipiku langsung merona malu, kucoba menghapus dugaan gilaku tadi. Mana mungkin laki-laki seperti ini akan jadi pasanganku kelak. Mungkin rumah kami tidak akan pernah sunyi karena suara omelanku dan tawa mengejeknya. Ia pasti terus menerus memancing emosiku dan berakhir dengan menertawaiku.
“Assalamu ‘alaikum.”
Kami terdiam mendengar suara seseorang dari belakangku.
“Wa ‘alaikum salam.” Jawab Taqin mengalihkan pandangannya dariku memandang lurus kearah orang di belakangku.
“Wa ‘alaikum salam... Key??” Jawabku pelan nyaris tak terdengar setelah membalikkan badan dan bertatapan langsung dengan Key yang sudah berdiri tidak jauh dari kami. Hanya beberapa langkah saja.
Aku terbelalak melihat kedatangan Key yang tanpa kami sadari. Jantungku berdegup kencang karena khawatir. Aku berbalik memandang Taqin, ia terlihat biasa-biasa saja melihat kedatangan Key. Berbeda denganku yang mulai panik bercampur bingung ingin berkata apa untuk menjelaskan semuanya pada Key. Aku yakin ia pasti akan marah padaku setelah ini.
“Ceritanya seru banget yah, gue sampe takut bakal ngeganggu.” Ujar Key menatap Taqin sambil tersenyum. Tapi senyumnya itu sama sekali tidak sampai ke matanya.
“Tapi Tam tau waktu juga dong, apalagi ngobrolnya sama anak hafiz. Ya nggak, Taqin?!” Ujar Key membuatku langsung mengerutkan kening tidak suka. Aku tidak suka dengan kata-katanya yang terdengar sangat menyindir dan merendahkan Taqin.
“Key, antum kok kayak gitu sih.. jahat banget.”
“Jahat?! Tam, aku bilang yang sebenarnya kok Tam malah ngebelain dia?”
“Cara antum ngomong gak sopan banget tau nggak.” Jawabku ketus tanpa melepaskan tatapan kesalku padanya sedikit pun.
“Hadeh.. yaudah deh..Maaf Qin, udah.. yuk pulang.”
Aku hanya diam semakin kesal dengan tingkahnya. Aku menoleh pada Taqin. Ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya padaku. Jujur, aku merasa tidak enakan dengannya. Key benar-benar keterlaluan.
“Udah ayok..” Key menarik tanganku yang langsung kutepis dengan kasar. Aku langsung menatapnya dengan tatapan membunuh dan ia malah tertawa kecil beberapa saat. Baru kemudian ia mengalihkan pandangannya kearah Taqin. Kali ini ekspresinya berubah serius membuatku takut.
“Jangan pernah berpikir kalo lo ngeganti nama lo seribu kalipun lo bakal lepas dari gue.” Ujar Key dengan suara dingin dan penuh ancaman.
“Key.. ngomong apaan sih?!” Tegurku tidak mengerti.
“Aku gak pernah lari. Kamu aja yang gak bernyali buat datang.” Jawab Taqin dengan wajah datar. Tidak ada senyum lagi di wajahnya.
“Ohohoo.. liat aja nanti. Di waktu yang tepat.”
Ujar Key baru kemudian mencengkram bahuku tegas memaksaku masuk ke dalam mobil yang aku tidak tau entah sejak kapan sudah berada disana. Aku tidak berani menolak. Aku hanya bisa menoleh kearah Taqin yang juga melihatku. Pandangannya terlihat sayu sampai akhirnya aku masuk ke dalam mobil dan tidak bisa melihatnya lagi. Ntah apa yang mereka bicarakan. Kenapa Key mengatai Taqin mengganti namanya, siapa sebenarnya Taqin? Bukannya waktu itu ia bilang ke Ai, kalau Taqin itu adalah teman baiknya. Kenapa sekarang mereka kelihatan bermusuhan.
Aku emang pernah dengar seseorang manggil dia Key? Bukan Key sahabatku.
Dan orang itu sepertinya adalah Ai.