
Hari sudah sore, mereka tidak kunjung pulang. Aku yang sejak awal sudah cemas jadi bertambah cemas saja. Memang suara 3 orang lelaki yang terus berteriak tadi sudah tidak ada sejak 1 jam yang lalu. Mungkin mereka sudah pergi.
Dengan memberanikan diri sekeras mungkin, aku keluar. Tentunya dengan memakai berbagai benda penyamaran untuk menutupi identitasku. Seperti kacamata bulat milik Taqin, juga topinya. Serta memberi satu buah tompel di pipiku, penyamaranku pun akhirnya sempurna.
Aku langsung bergegas keluar dengan membawa beberapa lembar uang milik Mada. Aku memakainya dulu, dan berjanji akan mengembalikannya setelah masalah ini selesai. Tujuanku sekarang adalah rumah. Feelingku mengatakan mereka sedang disana.
Dan benar saja. Ketika aku baru sampai di depan rumah, aku langsung melihat Taqin baru saja memarkirkan motornya dan juga Key yang baru keluar dari mobilnya. Tapi Mada tidak ada.
Kemana dia?
Tanyaku dalam hati, sambil pelan-pelan mengikuti mereka yang berjalan masuk ke dalam rumah. Aku memilih masuk lewat pintu belakang saja. Memasuki dapur, aku mengintip terlebih dahulu dari pintu yang menghubungkan ke ruang keluarga di sebelahnya.
Kosong.
Aku pun berjalan masuk ke ruang keluarga dan langsung mendengar pembicaraan mereka dengan jelas. Ternyata Mama sudah menunggu mereka di ruang tamu yang bersebelahan dengan posisiku saat ini.
“Nih, calon mertua gue. Lo bilang mau ngomong baik-baik kan?! Coba aja kalo bisa.”
Key yang mulai bicara. Sebelum Taqin sempat menjawab, Key malah langsung memotong kembali bicara penuh semangat. Senpat-sempatnya ia menjelaskan ke Mama bahwa Taqin rela menunggunya berjam-jam sampai pulang sekolah hanya untuk memintanya mengalah untuk melepaskanku dengan alasan semua pemberontakan yang sudah kulakukan. Juga memberitahu aku kabur ke tempatnya dan tidak akan mengizinkan Key semudah itu menemuiku. Dan bahkan sudah bertekad kabur denganku.
Key mengatakan semuanya sambil tertawa dan langsung direspon Mama dengan tawa mengejek juga. Aku langsung mengepalkan tangan, benci dengan Key juga Mama. Mereka menanggapi penolakanku dengan tawa mengejek itu saja. Mereka bahkan tidak terlihat khawatir setelah aku kabur. Seolah aku bukan apa-apa di mata mereka, dan tidak mempermasalahkan jika terjadi sesuatu padaku saat kabur kemarin.
“Berarti dia si virus yang gak sempat kamu ceritain itu??”
Tanya Mama mengalihkan, tidak mencoba menanggapi penjelasan Key tentang usaha Taqin untukku.
“Yup..”
“Coba deh kamu jelasin. Mumpung orangnya lagi disini.”
Mama malah lebih penasaran dengan identitas Taqin yang sebenarnya. Seolah kedatangan Taqin ke rumah ini hanya untuk sesi perkenalan diri.
“Nama aslinya sebenernya Key Adril, bukan Taqin. Aku juga gak ngerti alasan dia ganti nama buat apa.”
“Mungkin dia berusaha kabur dari sesuatu??”
Tebak Mama, menyudutkan Taqin.
“Ya. Perkiraan aku juga kayak gitu tante.”
“Kabur dari apa??”
“Dia saudara kembar aku, tan. Hmm.. Mantan saudara maksudnya.”
Kembaran??
Aku mengulangi kata itu dalam hati. Sambil bertanya, bagaimana dengan Mada?
“Ya. Tante juga udah ngira kayak gitu. Trus??”
“Dia dihapus dari keluarga, karna dia pembawa sial. Gara-gara dia, Papah, kakek, kakak semuanya meninggal. Bahkan Mama juga keguguran karna dia.”
“Ya ampun Key. Berarti dia.. Dia yang selama ini Mama kamu ceritain?! Okeoke.. Tante ngerti. Dia anak yang dibuang Mama kamu di rumah reyot yang bahkan langsung meledak setelah nampung dia beberapa bulan itu.. Iya kan?!”
Aku semakin terhenyak mendengar semua penjelasan mereka. Yang dikatakan Mama tentang rumah reyot memang pernah diceritakan Taqin, tapi apa memang itu alasan kecelakaan itu sebenarnya? Tidak ada istilah sial di dunia ini. Aku membantah semuanya dalam hati.
“Yup. Pas banget.”
“Apes banget itu rumah, kedatangan pembawa sial ngaku-ngaku jadi Hafiz.”
Mama terdengar menekankan kata sial sambil menatap Taqin dari kepala sampai ujung kaki.
“Udah selesai??”
Tanya Taqin geram.
“Udah. Gue udah selesai ngebuka topeng lo.”
Jawab Key. Taqin mengepalkan tangan.
“Jadi lo gak perlu repot-repot akting lagi.”
Tambah Key dengan nada merendahkan. Taqin masih diam. Aku yakin hatinya pasti remuk redam. Tapi kenapa keluarga Key secepat itu menyimpulkan Taqin sial?? Bukankah setiap musibah terjadi diluar dugaan. Tidak ada yang menghendaki dirinya terkena musibah, apalagi sampai membunuh saudara dan orangtuanya. Aku terus bicara dalam hati.
“Kamu mau bicara apa??”
Tanya Mama. Nada bicaranya terdengar malas, membuat hatiku semakin sakit, iba kepada Taqin.
“Dia mau ngebahas masalah Tam.”
Jawab Key.
“Kamu gak malu yah. Ngomongin masalah yang sama ke saya sampe 3 kali??”
Ujar Mama terus melecehkan Taqin.
“Saya hanya nggak mau anda terus memaksa Tam.”
“Keras kepala!!”
Maki Key ke wajah Taqin sambil mendorong tubuh Taqin kuat.
“Kakak!!”
Mada muncul ntah darimana. Key langsung tertawa merendahkan melihat Mada yang langsung berjalan mendekati Taqin.
“Keliatan banget anak haramnya, masuk ke rumah orang main nyelonong aja. Gak pernah diajarin sopan santun!! Hah!!”
Bentak Key ke telinga Mada sambil menarik lengan Mada kuat. Taqin langsung menepis tangan Key kasar. Dan membimbing Mada agar tetap berada di belakang punggungnya.
“JANGAN SENTUH ADIKKU KEY!!
Bentaknya tak kalah keras. Suaranya menggema di ruangan itu. Membuatku yang hanya sebagai penonton saja, langsung tersentak.
“Wajar aja lo terus dianggap virus, lo terus melihara anak haram sih..”
“Jaga bicara mu..”
“Keril, lo itu adek gue, lo harusnya nurut sama gue. Ngalah sama kakak lo. Lo malah keras kepala, sok hebat banget."
Ujar Key, seperti berusaha mengembalikan topik pembicaraan. Ternyata Keril adalah panggilan Taqin yang sebenarnya.
“Aku gak bakal ngalah. Tam udah nentuin pilihannya sendiri.”
“Gak bakal ada yang peduli sama pilihan Tam. Ntar kalo udah nikah, cintanya dia bakal balik sendiri kok ke gue.”
Ujar Key penuh percaya diri.
“Kalo memang kalian memaksa, aku juga bakal memaksa.”
“Lo mau bilang ke gue, lo mau bawa Tam kabur?? Haha.. Gila lo!!”
Key langsung mengerti maksud kata-kata Taqin.
“Aku akan membunuhmu anak kurangajar!! Jangan coba-coba dengan putriku.”
Mama akhirnya bersuara. Tangannya terlihat gemetar sejak Key dan Taqin saling membentak tadi.
“Anda masih bisa bilang dia putri anda setelah mengasarinya? Anda dengan gampangnya melayangkan tangan Anda ke wajahnya, Anda bahkan gak peduli dengan isak tangisnya. Anda benar-benar tidak tau malu, menjadikan Tam tumbal buat kelancaran pekerjaan anda. Anda pengecut tidak bisa menghadapi semuanya sendiri, tanpa harus mengorbankan kebahagiaan anak anda..”
Semua hinaan yang seolah sudah ia tahan akhirnya meluncur keluar dari mulutnya, tidak memberi penghargaan lagi pada Mama.
“Hei.. Hei.. Lo ngomong apaan sih? Tumbal dari mana coba? Tam itu cinta pertama gue, gak ada hubungannya sama pekerjaan.” Sela Key bingung. Dia belum tau rupanya.
“Kamu ****** gak tau apa-apa.”
Hatiku bersorak puas melihat Taqin. Baru kali ini aku mendengarnya bicara sekasar itu.
“Maksud lo apa hah??”
“Hubungan kamu sama Tam itu persyaratan yang dikasi orangtua kamu buat kelancaran kerjasama perusahaan kalian. Karna kamu anak satu-satunya yang orangtua kamu punya buat dibahagiain, dan Tam satu-satunya yang mereka punya dan kebetulan cinta pertama kamu buat dikorbanin.”
Jelas Taqin sambil menatap Mama tanpa rasa takut sedikit pun.
“Itu kesimpulan yang aku dapat, yang paling berusaha mati-matian, pasti yang lagi punya masalah. Pasti keluarga Tam yang punya banyak hutang di perusahaan keluarga kamu. Makanya tante sampe tega kasar ke Tam demi hubungan kalian.”
Tambahnya. Taqin ternyata tau semua sampai sejauh itu. Padahal aku belum bercerita cukup banyak. Dia pasti sudah mencari tau semuanya. Berbeda dengan Key yang ****** dan tidak perdulian sama sekali.
“Lo punya bukti nggak?? Jangan cuma ngebacot doang.”
Bentak Key menarik kerah baju Taqin. Tapi perlahan tarikannya mengendur saat melihat wajah Mama yang sudah merah padam, marah bercampur malu.
Praang..
Mama memecahkan guci dengan sengaja untuk melampiaskan amarahnya. Sambil merogoh sesuatu dalam saku cardigannya, ia berteriak kearah Taqin.
“Pergi kamu! Dasar Virus!!”
Teriak Mama. Wajah Mama merah padam dengan dada naik turun menunjukkan nafasnya yang terpacu cepat karena terlalu emosi. Tangan yang tadi berada di sakunya tiba-tiba saja sudah menodongkan pistol kearah Taqin.
Aku pernah melihat ini.. Kapan? Dejavu?
“Saya gak bakalan pergi sampai anda merestui saya dan membawa dia. Kalian cuman nganggap dia kayak boneka.”
Ujar Taqin keras mengimbangi suara Mama.
“Kamu tau apa hah!! Dasar anak kurang ajar.”
“Kak...”
Mada terlihat menarik-narik lengan Taqin.
Aku panik karena mengetahui kejadian ini. Yah, setelah mengatakan itu, Mama pasti akan menarik pelatuk pistolnya. Dengan gerakan penuh nyali aku berlari ingin melindungi Taqin dan Mada. Tapi langkahku tertahan karena tanganku ditarik seseorang.
Key!!
Ntah sejak kapan dia berada didekatku. Aku terlalu fokus pada Mama dan Taqin hingga tidak menyadari Key yang sudah melihatku bersembunyi dan langsung menahanku.
“STOP!!!”
Aku memilih berteriak mengalihkan perhatian Mama karena tidak bisa melindungi mereka.
“Mamah jangan! Jangan lukai mereka Mah.”
“Tam?!”
Taqin yang mendengar suaraku langsung menoleh kearahku.
“Muncul juga kamu anak kurangajar.”
Geram Mama masih belum menurunkan pistolnya.
“Tam, aku gak bakalan nyakitin kamu kalo kamu nurut.”
Bujuk Key memperlambut pegangan tangannya.
“GAK!! Aku gak percaya sama kamu.”
Teriakku ke wajahnya penuh kebencian. Perasaanku berubah sangat membencinya sejak tau penjelasan dan responnya tadi. Dia benar-benar munafik. Aku tidak tau apa yang diharapkannya dariku hingga begitu keras kepala mempertahankanku. Karena dia memang tidak tau apa-apa tentang masalah perusahaan kami. Padahal jelas-jelas ekspresinya tadi, tidak menunjukkan cinta sama sekali padaku. Ia tidak mengkhawatirkan fisik dan mentalku yang terus dikasari Mama demi dia.
“Tam, kalo kamu gak nurut sama Mamah, Mama bakal nembak kepala mereka satu persatu.”
Aku menggeleng tegas mendengar ancaman Mama. Tubuhku langsung lemas karena takut dan tidak mampu membayangkan jika Mama melakukannya.
“Gak. Jangan Mah...”
Aku berusaha memohon. Tubuhku sudah tidak berani berontak lagi pada Key.
“Kak...”
Dan Mada pun pingsan. Jantungnya pasti tidak kuat menerima situasi ini. Aku panik dan ingin segera menghampiri Mada, jika saja Key tidak terus mengenggam kedua tanganku kuat. Genggamannya semakin kuat saja, membuatku meringis kesakitan karena memar bekas kemarin pun belum hilang.
Melihat Taqin lengah karena Mada, Key pun langsung menarikku ke kamar dan mengunciku dari luar. Aku hanya bisa terus berteriak memohon kepada mereka agar tidak menyakiti Mada dan Taqin. Aku sangat khawatir, mereka akan menyakiti Mada dan Taqin.