ViRus

ViRus
Hukuman



Tanpa terasa sudah dua minggu berlalu setelah kejadian di hari pertama kali aku menginjakkan kaki di Pesantren ini. Aku benar-benar tidak merasa bahagia sama sekali. Aku tidak memiliki teman atau hanya sekedar kenalan untuk menemani hari-hariku. Kurasa ini adalah detik-detik kesengsaraan hidupku.


Pikiranku perlahan melayang mengingat sosok Key, sahabatku. Dulu saat kami masih berdekatan, aku lebih sering menyia-nyiakannya dan berpikir bahwa aku tidak selalu membutuhkannya. Padahal di balik semua itu, akulah yang lebih membutuhkan Key. Key yang baik, perhatian, dan sangat pandai menghiburku. Dan sekarang kami terpisah karena aku harus menuruti keinginan orangtuaku. Dia sudah tidak bisa terlalu sering bersamaku lagi. Karena kami memiliki kesibukan masing-masing setiap hari. Dan aku tau kesibukanku lebih banyak dibandingkan dengan dia.


Meskipun begitu, Key tidak pernah berhenti memperhatikanku. Ia selalu mengawasiku agar tidak ada lelaki lain yang mendekatiku dengan mengunjungiku seminggu sekali. Menyebalkan memang. Hal itu juga dikarenakan diriku yang begitu sulit beradaptasi dengan lingkungan dan orang-orang disekitarku. Juga kebiasaan yang harus kurubah, aku sangat butuh pencerahan dari Key. Dan seperti biasa, ia sangat sabar mendengarkanku dan memberiku nasehat. Meskipun terkadang aku bersikap keras kepala tidak mau menerima nasehatnya.


“Mereka itu kalo ngasi hukuman itu keterlaluan banget, Key. Masa aku disuruh buat ngorek-ngorek comberan, kan kotor.”


Keluhku pada Key suatu hari. Dia datang berkunjung dan langsung kusambut dengan keluhan-keluhanku yang masih belum juga terbiasa dengan peraturan dan hukuman yang berlaku di pesantren ini.


“Emang Tam habis buat salah apa??” Tanyanya sambil mengulum senyum. Padahal aku sedang bercerita tentang penderitaanku.


“Gak sholat subuh sih.” Bisikku sedikit malu.


“Yah wajar dong. Kan ninggalin sholat itu kan dosa besar.”


Sudah kuduga dia akan berkata begitu.


“Tapi kan aku baru ninggalin sekali kok.” Ujarku berusaha membela diri.


“Tetap aja dosa besar.”


“Tapi gak mesti ngasi hukuman kayak gitu juga dong. Mereka kan bukan Tuhan.”


“Jadi mau dihukum langsung sama Tuhan??” Tantang Key.


Aku diam.


“Hukuman Allah itu jauh lebih berat loh. Emang mau??”


Jelasnya lagi yang langsung kujawab dengan gelengan sambil mengerucutkan bibir seperti anak kecil.


“Mereka itu ngasi hukuman sama Tam karena mereka itu sayang, mereka gak mau Tam masuk neraka. Kalo mereka gak ngasi hukuman yang berat, ntar Tam gak bakal kapok, bakal gampang ninggalin kewajiban sendiri sebagai manusia.” Ujar Key menasehatiku dengan lembut.


“Iya Key.. aku ngerti. Tapikan kalo kita ngerjain sholat karena terpaksa, cuma karna takut dihukum kan sama aja.”


“Tapikan setidaknya gak ninggalin.” Sela Key lagi. Aku mendengus kesal karena Key lagi-lagi tidak mau membenarkanku.


“Emangnya Tam ngerjain sholatnya terpaksa??” Tanyanya sambil menatapku penuh selidik.


“Yah.. iya siih..dikit. Tapi terkadang enggak kok.”


Jawabku asal, Key langsung tertawa kecil mendengar responku.


“Mau jujur aja kok susah banget.” Ledek Key sambil menatapku lembut. Beberapa saat ia diam dengan senyum yang masih melekat dibibirnya. Lalu kemudian ia memalingkan wajahnya dan menerawang menatap langit.


“Terkadang.. semuanya itu berawal dari paksaan, lalu perlahan berubah menjadi terbiasa dan mulai memahaminya. Kalo udah ngerti dan terbiasa, trus tiba-tiba kita langgar, pasti rasanya gak nyaman atau kayak ada yang beda.”


Ujarnya lembut seperti tidak hanya mengatakan itu padaku, tapi juga pada dirinya sendiri. Aku tidak begitu mengerti apa yang dipikirkannya saat mengatakan itu. Yang pasti itu adalah nasehatnya yang pertama padaku setelah aku tinggal di Pesantren. Dan nasehat itu belum sepenuhnya berpengaruh padaku. Masih ada ribuan keluhan yang sering menumpuk di dalam dadaku setiap minggunya seolah sudah hapal dengan kehadiran Key sebagai tempat menumpahkan keluhan-keluhan itu.


Karena terus-menerus dikunjungi oleh Key, aku jadi kesulitan untuk bergaul dengan yang lain. Malah aku semakin tidak peduli dengan sekitarku karena hanya terus mengharap dengan Key. Aku pun tidak begitu tau nama teman-teman di kelas atau kakak-kakak pengurus asrama. Padahal aku selalu bertemu mereka setiap hari.


Hingga suatu hari aku tercatat sebagai pelanggar kebersihan umum. Aku tertangkap sengaja membuang sampah bungkus permen sembarangan di depan asrama. Kakak seksi kebersihan kemudian memarahiku dan aku tentu saja tidak terima, karena kurasa kesalahanku kecil. Cuman bungkus permen. Tapi tetap saja mereka menceramahiku sepanjang malam itu.


“Membiasakan hal yang kecil aja gak bisa, gimana nanti yang besar.”


Begitu jawaban mereka. Dan mereka malah menambah hukumanku karena aku sering menjawab-jawab omelan mereka.


“Besok, anti harus minta tandatangan ukhti ketua seksi kebersihan. Sorenya harus udah diserahkan sama ana. Fahimti ?”


Perintahnya malam itu. Dan itu adalah hukuman tambahanku. Aku merasa pengurus yang menghukumku seolah tau kelemahanku. Hukuman yang terdengar mudah memang, tapi bagiku itu sangat sulit. Karena aku tidak tau sama se kali siapa Ketua Seksi Kebersihan. Jangankan namanya, wajahnya saja aku tidak tau. Aku bingung ingin bertanya kepada siapa, aku sama sekali tidak punya teman dekat. Aku hanya mengeal teman sekamarku. Meskipun begitu, bertanya kepada mereka juga tetap tidak akan membantu. Mereka sangat cuek padaku. Yah.. kuakui, selama ini aku juga jauh lebih cuek kepada mereka.


Keesokan harinya setelah kejadian itu, sejak pagi aku hanya berdiam diri di kamar menguras otak, berpikir kemana harus bertanya. Kebetulan hari itu adalah hari libur. Jadi, aku hanya keluar kamar jika sudah tiba waktu sholat, makan, atau kegiatan rutin di asrama saja. Aku tahu ini tidak akan memberi solusi apa-apa. Akhirnya, karena takut terlalu lama berpikir dan membuang waktu sia-sia tanpa usaha sedikit pun, aku memutuskan untuk keluar dan memberanikan diri bertanya kepada orang lain. Dan kebetulan saja, ada seseorang yang sedang duduk di bangku panjang di depan asrama. Dia bukan teman sekamarku, dan sepertinya bukan teman yang satu kelas denganku. Aku tidak mengenalnya tapi aku pernah melihatnya. Dia adalah perempuan seperti ikan asin yang menangis keras tanpa tau malu waktu itu, ketika aku baru pertama kali menginjakkan kaki di Pesantren ini.


“Assalamu ‘alaikum.. saya mau nanya nih, kamu tau gak ketua seksi kebersihan itu siapa?”


Aku berusaha berbicara sesopan mungkin dengan senyum tipis di bibirku. Tapi dia tidak menjawabku. Malah menatapku dari kepala sampai ujung kaki lalu kemudian geleng-geleng kepala tidak jelas.


“Kamu tau gak?” tanyaku lagi. Jujur aku tidak suka dengan orang itu dan caranya memandangku. Dia meladeniku seolah tidak memiliki bibir untuk memberi respon yang baik.


Beberapa detik setelah mendengar pertanyaanku yang kedua, ia kemudian berdiri sambil menatapku dengan kedua matanya yang melotot seperti ingin melompat keluar dari tempatnya.


“Cari aja sendiri. Ghoiru muaddibah!!”


Ujarnya dengan suara lantang dan langsung pergi begitu saja meninggalkanku yang masih kebingungan. Aku sama sekali tidak mengerti kata-kata terakhirnya. Karena aku baru saja beberapa minggu menetap disini, dan terkatakan masih santriah baru dan belum mahir berbahasa arab. Tapi dari kata pertamanya saja aku sudah tau kalau Bahasa arab yang diucapkannya itu pasti memiliki arti yang tidak baik yang ditujukan untukku.


“Ngomong apaan sih.. dasar gak sopan. Orang nanya baik-baik malah diomelin gak jelas. Kalo memang gak tau bilang baik-baik dong. Dasar cewek gak punya akhlak.” Rutukku.


Aku kemudian duduk menyendiri menggantikan orang aneh tadi, dengan pikiran yang dipenuhi kekalutan karena takut akan mendapat hukuman tambahan lagi. Tanpa kusadari seseorang menghampiriku dan duduk di sebelahku.


“Assalamu ‘alaikum ukhti..” ujarnya lembut sambil menatapku dan itu berhasil membuatku kaget karena tidak menyadari kedatangannya.


“Eh.. wa ‘alaikum salam..”


“Murid baru ukhti?”


“iya.”


“Wah.. sama dong. Ana juga murid baru loh.”


“Ohya..”


“Ukhti lagi mikirin apa sampai melamun disini?”


“Oh.. itu.. saya.. kena hukuman kemarin malam.”


“Trus?”


“Saya disuruh minta tandatangan kakak Ketua Seksi Kebersihan. Tapi.. saya gak tau orangnya yang mana. Namanya aja saya gak tau.” Ucapku jujur dengan suara memelas. Dalam hati aku terus berharap supaya dia mau menawarkan diri untuk membantuku.


“Ooh.. mungkin ana bisa bantu.”


Mataku membelalak. Hatiku berteriak kegirangan. Ternyata doaku diijabah Tuhan pikirku.


“Kamu tau?”


Kucoba meyakinkan diriku yang masih belum petcaya. Kupikir semua orang yang diabaikan akan balik mengabaikan seperti yang kulakukan pada semua orang. Tapi sepertinya orang yang satu ini berbeda.


Dia menganggukkan kepalanya dengan senyum termanisnya. Walaupun sebenarnya itu terlihat biasa saja bagiku. Tapi bukan itu yang terpenting. Dia menganggukkan kepalanya pertanda ia bisa membantuku itu yang penting.


Dan akhirnya dia menemaniku menemui orang yang kumaksud, tentu saja setelah ia memberitahuku tentang orang yang kucari dan kami mengobrol sedikit. Yah.. dia memberitahuku namanya tanpa kutanya. Namanya adalah Latifatul Mar’ah. Nama yang aneh menurutku. Dikarenakan akhiran “Tul” pada kata namanya yang pertama itu membuatku merasa geli.


Latifah membawaku ke rumah yang kutau adalah rumah yang disediakan untuk para pengurus. Kami memasuki rumah itu setelah mengucapkan salam terlebih dahulu. Di dalam rumah itu berjejer pintu-pintu kamar seluruh pengurus. Disetiap pintu diberi tempelan-tempelan stiker untuk memberi tanda pengurus bagian apa yang menempati kamar itu. Seperti stiker perempuan mengenakan busana berwarna serba hitam, identik dengan dengan seksi keamanan, stiker berwarna putih berbentuk perempuan mengenakan mukena putih, menunjukkan seksi ibadah, dan lain-lain sebagainya.


“Siapa??”


“Mas muk?”  Tanya perempuan itu sambil menatapku tajam. Kukerutkan keningku tidak mengerti.


“Mas muki ya ukhti..?”


Tanyanya sekali lagi karena pertanyaannya yang pertama hanya kurespon dengan tatapan bingung. Tentu saja, selain karena aku tidak mengerti bahasanya, aku juga merasa aneh dan ngeri dengan pakaiannya yang serba hitam juga jibabnya yang luar biasa panjang hampir menutup betisnya dari belakang. Membuatnya terlihat mengeluarkan aura mistis walau di siang bolong begini.


Latifah menyenggol lenganku sambil berbisik.


“Nama anti... nama anti..”


“Ooh... nama saya Tamia Azhari. Saya kemari mau minta tandatangan  Kakak Ketua Kebersihan.”


Jawabku santai tapi tetap mantap tanpa merasa berdosa. Sedangkan Latifah terus menyenggol lenganku memprotes cara bicara dan bahasaku yang menurutnya kurang sopan. Aku tidak peduli sama sekali. Toh... aku bicara dengan benar dan sama sekali tidak membentak atau berbicara kotor.


“Bil lugoh arobiyah, law samahti!!”


Ujarnya tegas. Matanya menatapku semakin tajam seperti menunjukkan ketidaksukaan. Tapi itu hanya dilihat dari cara memandangnya. Dan jujur, aku tidak merasa takut sedikit pun. Justru merasa aneh dengan orang-orang disini yang selalu menganggapku serba salah. Kapan aku benarnya? Apakah aku harus mengenakan cadar dan berbicara dengan lemah gemulai agar terlihat benar? Tanyaku dalam hati.


“Maksudnya?”


Tanyaku kembali mencoba fokus dengan pembicaraan kami yang justru membuatku semakin tidak mengerti dengan kata-kata orang itu. Hatiku semakin merasa jengkel saja melihatnya. Kepandaiannya dalam berbahasa arab seolah hanya ia pergunakan untuk menyombongkan dirinya dihadapanku sebagai santriah baru yang tidak tau apa-apa. Apa dia berpikir setelah ia berbahasa arab dengan luar biasa faseh dihadapanku, aku akan langsung memandangnya kagum?! Huh... tidak sama sekali. Justru saat ini aku sedang memandang dia layaknya orang ******. Ya... karena yang kutau tanda kepintaran seseorang adalah ketawadhu’annya bukan sifat sombongnya.


“Eh... afwan ukhti, nahnu-..”


Latifah berusaha mengalihkan perhatian orang itu dari pertanyaanku barusan. Tapi kata-katanya terputus ketika melihat seseorang yang muncul dari belakang perempuan itu. Kuikuti arah pandangan Latifah dan aku langsung terbelalak, karena aku mengenalnya. Dia perempuan yang waktu itu kuikuti dengan bodohnya saat pertama kali berada disini.


Dia seorang pengurus?!


Teriakku dalam hati. Dia menoleh padaku seolah mendengar teriakan hatiku, lalu tertawa kecil seperti menertawakan keterkejutanku. Ia lalu berbicara dengan menggunakan Bahasa arab dengan perempuan yang tadi berbicara dengan kami. Aku tidak mengerti sama sekali apa yang dikatakannya. Perempuan itu hanya manggut-manggut mendengarkannya lalu beberapa saat kemudian berlalu meninggalkan kami.


“Tamia Azhari?!”


“Ya.”


“Mada.”


Ia memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya. Kusambut uluran tangan itu sambil tersenyum tipis. Dan ia kemudian mengalihkan pandangannya ke Latifah.


“Dan kamu pasti Latifah, sahabat si Virus.”


Ia terlihat sengaja menekankan kata terakhirnya membuatku mengerutkan keningku tidak mengerti. Yang kutau istilah Virus itu biasanya berhubungan dengan masalah pada komputer. Tapi ia seperti sedang menyindir seseorang.


“Dia bukan Virus!!”


Sela Latifah menunjukkan ketidaksukaannya pada Mada. Ia terlihat sangat emosi, terlalu sensitif terhadap si Virus itu, seperti orang itu begitu berharga. Yah… kurasa persahabatan mereka terlalu erat. Mungkin itu yang membuatnya merespon seperti itu.


“Tapi itu fakta yang aku lihat.”


Sangkal Mada tegas, tidak mau kalah tapi tetap terlihat santai. Aura dinginnya mengingatkanku pada kilasan bayangan seseorang. Tapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Hanya saja ekspresi dingin dengan tatapan mata sipit yang teduh itu terasa sangat tidak asing bagiku.


Segera kubuang perasaan tak jelas itu. Tujuan utamaku kemari bukan untuk ini dan bukan pula untuk mendengarkan perdebatan mereka. Kuhela nafasku lalu sedikit berdehem sebelum memulai untuk menengahi.


“Ehmm…maaf sebelumnya, saya nggak peduli dan gak punya urusan dengan masalah kalian. Karna tujuan saya kemari bukan untuk itu.”


Mereka berdua serentak menoleh padaku. Yang satu dengan ekspresi kesal yang satunya lagi dengan ekspresi wajah santai. Cukup santai, tanpa merasa berdosa. Entah kenapa aku merasa seperti melihat cerminan diriku ketika melihat Mada. Kami seperti terlihat sama. Atau mungkin cuma perasaanku saja.


“Okey, kalo kamu mau minta tandatangan, ukhti yang kamu cari lagi gak disini.”


Okey… jujur. Aku bingung. Dia benar-benar orang aneh. Sejak pertama kali bertemu dengan Si Mada ini, entah kenapa aku merasa aneh. Kupikir dia seperti bisa membaca pikiran orang lain. Jika diingat-ingat tingkah bodohku waktu itu, siapapun yang melihat dan memperhatikanku pasti akan beranggapan aku aneh. Tapi dia tidak. Dia melihatku seolah mengerti. Begitu juga dengan sekarang, ia sudah tau point yang ingin kusampaikan sebelum aku memberitahunya. Kupikir ia punya kemampuan spesial, atau tadi ia sengaja menguping pembicaraan kami. Mungkin akan lebih logis jika aku memilih dugaan kedua.


“Emang ukhti itu kemana?”


Latifah mengambil alih pembicaraan karena melihatku yang masih diam sibuk dengan pikiranku. Mada mengedikkan bahunya tapi tidak memberi jawaban sedikit pun padaku, dan beralih padaku sambil tersenyum membuat Latifah langsung menekuk wajah kesal.


“Perlu bantuan?”


Ia balik bertanya dan kali ini ditujukan padaku. Padahal kupikir responnya tadi menunjukkan kalau dia tidak tahu. Dan ternyata ia malah menawarkan bantuan. Kuhela nafasku memutuskan bahwa Mada ini benar-benar orang aneh. Tapi orang aneh atau normal tidak menutup kemungkinan dia bisa membantuku kan?! Lagian dia juga terlihat sangat akrab dengan kakak pengurus beraura mistis tadi. Jadi kupikir dia tahu banyak tentang pengurus-pengurus asrama jika dibandingkan aku dan Latifah.


Aku mengangguk menerima tawaran Mada. Kami kemudian berjalan keluar rumah. Mada membawa kami ke arah masjid yang letaknya tidak jauh dari asrama dan rumah pengurus tadi. Lokasi


Saat kami hendak memasuki masjid, Mada berhenti dan berbalik badan menghadapku.


“Aku gak bisa masuk. Jadi sampai sini aja yah...”


“What?! Tapi kakak pengurusnya yang mana? Kamu gak ada nunjukkin sama sekali.”


“Iyaya cerewet banget sih. Aku kan cuman bilang gak bisa masuk, bukan gak mau nunjukkin.”


“Yaudah, orangnya yang mana?”


Tanyaku angkuh, tidak merasa tahu diri sudah dibantu dengan cara baik-baik tanpa omelan Bahasa arab yang menyebalkan.


Mada menggeleng-gelengkan kepalanya kesal dengan sikapku. Dia tidak begitu emosian, orang yang cukup sabar, menurutku. Memang inilah diriku yang sebenarnya. Aku tidak bisa menutupinya dari orang lain dan berpura-pura ramah agar memiliki banyak teman. Itu bukan bagian dari diriku. Toh, jika sekarang pun aku pura-pura ramah, suatu saat mereka juga akan mengetahui sifat asliku lalu perlahan mereka menjauh. Hanya teman sementara.


Mada menunjukkan padaku orang yang kucari itu. Seorang perempuan yang sedang duduk di dekat lemari Al-Qur’an di sudut ruangan Mesjid. Ia sedang membaca kitab, dengan kertas berwarna kuning di pangkuannya. Wajahnya serius sambil sesekali menulis sesuatu di kitab itu. Kitab itu sangat tebal dan tulisan di dalamnya semuanya menggunakan Bahasa arab yang sepertinya juga tanpa baris.


Aku merinding membayangkan jika suatu saat aku harus melakukan hal yang sama dengannya. Mau tak mau mempelajari kitab itu. Itu pasti terjadi. Dan aku tidak mungkin bisa mengelak jika ingin tetap menetap dengan terhormat dan menuntut ilmu disini.


Mada menyenggol lenganku membuatku tersentak. Aku terlalu fokus dengan kakak di sudut ruangan itu sampai tidak menyadarinya sudah memanggilku berkali-kali. Ia hanya menanyaiku berani atau tidak melakukannya sendirian, benar-benar teman yang perhatian menurutku. Aku menganggukkan kepalaku meyakinkannya juga diriku sendiri. Ia juga berpesan agar aku memperlembut nada bicaraku. Karena ia khawatir, kebiasaanku itu akan jadi masalah dan malah memperlambat proses hukumanku. Aku menurut meski dalam hati aku merengut kesal.


Beberapa menit kemudian, aku keluar dengan senyum sumringah di wajahku. Aku merasa luar biasa senang karena pada akhirnya hukumanku selesai. Tugas terakhirku sekarang tinggal menyerahkannya ke kakak Seksi Kebersihan yang menghukumku kemarin.


Kuhela nafasku sambil menoleh keluar masjid, ternyata disana hanya tinggal Mada seorang. Latifah sudah pergi rupanya. Mungkin sudah terjadi sesuatu di antara mereka saat kutinggal tadi.


“Dia udah pergi. Katanya ada urusan.” Ujar Mada tanpa kutanya.


Dia balik aneh, Pikirku.


“Aku bukannya aneh. Tapi aku memang mudah ngebaca pikiran orang kayak kamu.” Ujarnya lagi dan itu membuatku langsung terbelalak kagum. Menurutku itu kemampuan yang keren. Ia mengakui wajahku seperti buku terbuka, cukup mudah menebak apa yang sedang kupikirkan.


Mada tertawa melihat ekspresiku. Ia lalu mengajakku beranjak untuk segera menyerahkan tugasku. Ia menemaniku menyerahkannya. Dia memang teman yang baik, tapi sedikit cuek. Aku bahkan tidak tau nama aslinya. Ia hanya mengatakan ‘Mada’ waktu itu. Ia juga hanya ingin memberitahu tentangnya jika aku menanyainya. Dia terbilang tertutup. Dia juga bukan seorang pengurus seperti dugaanku sebelumnya. Kebetulan saja kami menempati kamar yang bersebelahan. Jadi mungkin aku bisa sesekali datang berkunjung ke kamarnya. Dia tertawa ketika kukatakan seperti itu.


“Boleh...”


Jawabnya singkat sambil tertawa kecil membuat kedua matanya yang sipit semakin tidak kelihatan saja. Mata sipit yang teduh dan tak asing bagiku.


cttn : fahimti (kamu mengerti)


ghoiru muaddibah (tidak punya akhlak)


Mas muki (siapa namamu)


bil lughoh arobiyah, law samahti (tolong gunakan bahasa Arab)