
Sepulang dari Pasar, aku terkejut bercampur ketakutan. Aku melihat mobil orangtuaku sedang terparkir di dekat pos. Belum sempat aku mengantar barang belanjaanku, Pak Satpam itu sudah memanggilku memberitahukan kedatangan Mama dan Papa. Aku tidak melihat mereka di dekat mobil. Ternyata menurut penjelasan pak Satpam, orangtuaku sedang di rumah Ustadz Hafiz meminta surat perizinan pulang. Aku pun memilih menunggu disitu saja dan meminta Latifah pulang duluan ke asrama.
Ternyata, saat aku sudah bertemu orangtuaku, alasan keduanya menjemputku pulang adalah karena di rumah sedang ada acara keluarga. Dan aku tidak tau acara itu untuk siapa dana pa tujuannya.
“Nanti di rumah Mamah jelasin. Kita lagi buru-buru sekarang. Di rumah lagi rame-rame banyak kerjaan.”
Begitulah yang dikatakan Mama ketika kutanyai. karena kondisi itu, aku pun langsung buru-buru kembali ke asrama untuk bersiap-siap.
Ketika sudah berada di mobil, kami tanpa sengaja melewati Taqin yang baru saja pulang dari Pasar. Aku langsung melirik Mama yang terlihat sedang melempar senyum kearah Taqin. dalam hati aku tersenyum mengingat pembicaraanku dan Taqin tadi. aku merasa seperti mendapat sinyal kabar baik.
Mungkin Mama akan menerima Taqin.
Tapi Taqin seperti tidak membalas senyum Mama. Ia hanya menunduk, keningnya berkerut terkesan sedih dan kesal. Meski ada kilasan senyum di wajahnya yang sempat sekilas kulihat karena mobil kami buru-buru melewatinya.
*****
Lagi-lagi aku salah menduga. Senyum Mama ke Taqin lagi-lagi hanya topeng sebentuk rasa merendahkan yang kental dan tidak kusadari. Wajar saja Taqin langsung menunduk, aku hanya tidak terlalu memperhatikan senyum seperti apa yang ditunjukkan Mama padanya.
Aku mengerti semuanya saat sudah berada di rumah, dan mendapatinya sepi tidak ada tanda-tanda akan ada acara keluarga. Aku malah langsung diseret kasar ke ruang keluarga untuk diintrogasi, tentang semua yang sudah kulakukan dengan Taqin. aku hanya bungkam, aku terlalu takut. Dan itu membuat Mama seperti kesetanan, membentakku sambil mencengkram kuat pergelangan tanganku.
Aku menjerit kesakitan dan berusaha melepaskan diri. Tiba-tiba saja Papa melemparkan berlembar-lembar foto curian aku dan Taqin. Jantungku nyaris copot. Aku menatap nanar foto-foto itu satu persatu. Semua yang terjadi sejak dua bulan yang lalu. Mulai dari ketika Taqin memperhatikanku mengolesi obat untuk tanganku yang terkena air panas, sampai ketika kami makan berdua saat Taqin selalu membawakanku makanan.
Mama tiba-tiba memperkuat kembali cengkramannya di pergelanganku, membuatku meringis dan berpaling dari foto-foto itu.
“Jangan kira kamu disana bisa bebas dari pengawasan Mamah. Mamah tau semuanya!! Mamah cuman mau lihat sejauh mana kamu berusaha melindungi si bocah ingusan itu.”
Bentak Mama di telingaku. Aku hanya menunduk malu, menggigit bibir menahan air mataku agar tidak jatuh.
“Kamu udah berulah sampe sejauh ini, jadi Mamah Papah bakal nyuruh keluarga Key datang besok ke rumah. Kalian bakal tunangan.”
“GAK MAU!!”
Teriakku membuat Mama tertegun dan lengah hingga aku bisa melepaskan tanganku dari cengkramannya. Ia pasti kaget karena ini pertama kalinya aku bicara dengan suara tinggi.
“Aku gak mau dijodohin!! Aku gak peduli dengan ambisi kalian, jadi stop memperlakukanku kayak boneka!”
Plak!!
Aku terhuyung hingga terduduk di lantai, tubuhku terlalu kaget menerima tamparan Mama. Rasa panas dan aroma besi di pipiku, ternyata bibirku berdarah.
“Dasar anak kurangajar!!”
Teriak Mama tidak puas dengan tamparan saja, ia menarik paksa jilbabku hingga terlepas lalu berganti menjambak rambutku kuat. Sangat kuat.
“Aargh... mah sakit...”
Aku berteriak kesakitan. Tangisku pecah, tanganku berusaha menepis tangan Mama dari rambutku.
“Terserah kamu mau bicara apa, Mama gak bakal berubah pikiran.”
Ujar Mama masih sambil menjambak rambutku dan menyeretku masuk ke kamar, mengabaikan teriakan kesakitan dan tangisan penuh permohonanku. melemparkanku keatas kasur lalu mengunciku dari luar.
Tangisku pecah bersamaan dengan hujan yang turun dengan teramat deras mengalahkan suara tangis menyedihkanku. Kuambil handphoneku yang tersembunyi dalam lemari dan segera menelpon Taqin. Tapi berkali-kali kutelpon, ia tidak juga mengangkatnya. Mungkin dia sedang di jalan hendak pulang. Aku hanya bisa kembali menangis hingga berjam-jam lamanya.
Lelah menangis, aku terduduk dengan wajah lengang di tepi kasur. Mataku menatap kosong kearah jendela kaca bening kamarku, menampilkan hujan diluar yang masih setia turun membasahi bumi, seolah ikut menangis bersamaku.
Aku tidak boleh diam saja. Hatiku bicara masih dengan ekspresi dan pandangan yang sama. Otakku berputar mencari cara selanjutnya yang harus kulakukan. Perlahan mataku mulai fokus melihat jendelaku yang bersih tanpa jeruji besi yang seolah memenjarakan.
Kabur??
Tanyaku pada diriku sendiri. Aku ingin bertemu Taqin. Jika aku tetap diam disini, tidak ada jaminan Mama tidak akan kasar padaku lagi. Taqin sudah berjanji akan menjagaku kan?? Aku akan aman dengannya, dan kami bisa bekerja sama saling menjaga untuk menghancurkan rencana Mama.
Dengan gerakan cepat namun penuh kehati-hatian, aku berusaha keluar dari jendela yang sudah terbuka lebar itu. Lalu sambil mengendap-endap dan terus memperhatikan sekelilingku, aku berjalan melewati garasi hingga mendekati pagar rumah. Pelan-pelan kugeser pagar untuk membuka lalu melangkah cepat keluar dan menutupnya kembali.
Berhasil keluar dari rumah, aku langsung berlari di tepi jalan raya melawan rasa dingin di sekujur tubuhku yang sudah basah kuyup dan masih saja diguyur hujan deras yang seolah tidak ada habisnya menumpahkan airnya.
Aku tidak bawa uang sepeser pun. Bahkan aku tidak mengingat sendal. Aku lupa membawanya karena terlalu ingin cepat keluar dari rumah. Akibatnya sekarang aku hanya bisa berjalan kaki. Dan aku harus kuat untuk itu. Tujuanku sekarang hanya ruko Mada. Aku yakin Taqin disana menunggu Mada selesai bekerja. Aku tidak tau rumah Taqin. Kalau pun aku tau, aku tidak bisa kesana, karena Key sudah tau lokasi itu. Yah, dia pasti salah satu orang yang akan mencariku nanti saat aku sudah ketahuan kabur.
*****
Hari sudah gelap. Langit masih saja gerimis. Aku tidak tau berapa jam lamanya aku berjalan. Yang pasti malam ini aku sudah mendengar azan Isya. Tubuhku sudah sangat lemah, kakiku sakit dan penuh darah karena lecet akibat gesekan kerikil tajam yang tidak sempat kuperhatikan. Aku bahkan tidak peduli saat sesekali menelan air hujan yang membasahi wajahku, karena saking hausnya. Yang kutau sekarang, aku harus sampai ke ruko Mada secepatnya sebelum aku pingsan.
Tok..tok..tok
Aku mengetuk pintu ruko sambil bersender di pintu menopang tubuhku yang sudah kehabisan tenaga. Didepan ruko Mada sudah kosong, tidak ada motor teman kerja Mada yang terparkir. Motor Taqin juga tidak ada. Aku sempat khawatir kalau mereka sudah pulang, sampai ketika pintu terbuka. Mataku langsung menangkap sosok Taqin yang langsung melihatku terkejut.
“Ya Allah!! Tam!! Anti..”
Kata-katanya terputus. Seperti kehilangan kata-kata, ia langsung membimbingku masuk, lalu memanggil Mada.
“Eh, Tam??”
Mada ikut terdiam dengan wajah terkejut. Lalu tanpa diperintah, ia langsung menarikku, tapi aku menolak sambil langsung menutup pintu mendahului Taqin dan menguncinya.
“Taqin... hk.. jangan kasi tau mamah, hk... jangan kasi tau siapa-siapa... ana gak mau pulang, ana mau disini sementara aja plis... ana mohon hk..huuuu..”
Tangisku kembali pecah. Aku bicara penuh permohonan sambil terguguk.
“Iyaiya, tapi anti ganti baju dulu ya, ntar masuk angin loh..”
Bujuk Taqin semakin khawatir melihat penampilanku yang berantakan. Ditambah penampilan kakiku yang penuh luka dan sudah memar membiru, membuatnya tanpa sengaja mengepalkan tangannya. Giginya mengatup geram dan langsung memalingkan wajah.
“He-em. Jangan kasi tau siapa-siapa.”
Tegasku kembali.
“Iya..”
“Awas kalo antum bohong!! Antum udah janji bakal jagain ana.”
“Iya..”
*****
“Minum dulu. Biar badannya hangat.”
Taqin menaruh segelas teh hangat di atas meja di depanku. Aku sudah merasa lebih tenang sekarang.
Aku mengenakan sweater kebesaran pemberianku pada Taqin. Ia dan Mada ternyata tidak berniat menginap di ruko ini, jadi mereka tidak membawa satu pun baju. Hanya baju-baju hasil jahitan Mada yang tetap terpajang dan salah satunya ia berikan padaku untuk membalut tubuh bagian bawahku. Taqin membawa sweater ini juga karena baru kuberikan tadi, makanya ia langsung memintaku mengenakannya. Padahal ini hadiahku untuknya, malah aku sendiri yang duluan memakainya.
“Ana buatin makanan dulu ya.”
Ujar Taqin. Aku hanya mengangguk. Pelan-pelan aku meneguk teh buatan Taqin, sambil memperhatikannya memotong-motong sayuran yang tidak kukenal. Yang kutau memang hanya makan, dan memahami makanan layak atau tidak dimakan.
Setengah jam berlalu, makanan buatan Taqin sudah selesai. Kami bertiga makan bersama dalam diam hingga selesai.
“Anti langsung istirahat yah, biar bekas memarnya diobatin sama Mada di kamar.”
Aku mengerutkan kening tidak suka. Taqin sejak tadi tidak menanyai penyebab aku bisa seperti ini.
“Antum gak peduli sama kondisi ana?”
Tanyaku marah.
“Maksud anti?”
Tanyanya bingung.
“Antum gak mau nanyain ana.”
Ujarku memperjelas.
“Ana cuman mau anti tenangin pikiran anti dulu.”
“Ana gak bakal bisa tenang, sebelum antum tau semuanya. Ana mau kita harus ngelakuin sesuatu.”
Ujarku mulai panik. Ya, aku mau kami harus segera menyusun rencana untuk besok. Karena aku yakin, Mama sekarang pasti sudah tau aku tidak di rumah, alias kabur. Dan pasti sudah memerintah orang-orang kepercayaannya untuk mencariku di tempat orang-orang yang dicurigainya. Taqin pasti termasuk salah satunya. Karena itu aku tidak bisa menjamin tempat ini akan aman sampai besok. Kami harus segera pergi. Meskipun aku tidak tau harus kemana.
“Iya, tapi gak malam ini juga pesek, badan anti masih capek. Anti butuh istirahat.”
“Ya!! Kita istirahat sekarang, trus mereka bakal langsung tau ana disini... Nyeret ana pulang... Trus ana disiksa lagi sampe MATI!!”
Bentakku tidak sabar dengan Taqin yang menurutku terlalu santai.
“Tam jangan ngomong kayak gitu lah!”
“Tam nurut ya, gak ada gunanya kamu maksa diri kamu malam ini. Kamu juga perlu istirahat supaya kamu punya tenaga buat nglawan Mama kamu-..”
“Setidaknya dengerin cerita ana dulu-“
“Kita udah tau semuanya, ya. Key udah bilang ke kakak tadi.”
Tangisku semakin menjadi. Berarti Mama memang sudah menghubungi keluarga Key tentang pertunangan itu.
“Antum nanya Key?”
Tanyaku. Taqin menggeleng. Ternyata Key hanya sengaja mengabari Taqin. Mungkin baginya itu kabar bahagia untuk menghancurkan Taqin. Syukurlah bukan Taqin yang menanyainya. Jika iya, maka Key akan langsung tau aku dimana sekarang.
“Ana dipaksa tunangan sama Key.”
Aku tetap kembali memulai cerita tanpa seizin mereka.
“Ana tau. Tapi kenapa? Kenapa sampai secepat itu..”
Suara Taqin memelas.
“Mamah udah tau semuanya, hk.. Semua yang kita lakuin sejak 2 bulan lalu hk... Makanya ana dipaksa tunangan.”
Jelasku sambil menangis. Aku yakin pasti ada seseorang dibalik semua ini. Orang yang kembali memata-mataiku sejak 2 bulan lalu. Membuat rencanaku dan Taqin langsung dibuat buntu.
“Ana gak sempat ngomong baik-baik. Mamah langsung kasarin ana karna udah tau duluan.”
Tambahku.
Jujur, pipiku bahkan masih sakit bekas tamparan Mama. Begitu juga dengan rambutku yang ditarik cukup kuat. Saat mandi tadi pun, aku terus meringis kesakitan, tanganku tidak bisa menyapu tubuhku dengan benar karena memar dipergelangan tanganku. Mada sampai tak tega meninggalkanku tadi dan ikut membantuku membersihkan diri.
Tangan Taqin terkepal. Yah, aku tau. Bekas memar dipipi dan pergelanganku pasti sudah jadi pertanyaan dibenaknya dari tadi.
“Antum bawa ana kabur aja!!”
Ujarku langsung memerintah Taqin. Aku memandanginya penuh permohonan, dan sayangnya ia langsung menggelengkan kepala tidak setuju.
“Kita harus berusaha dulu.”
“Kita udah gak ada waktu Taqin.. Mamah gak bakal bisa diajak ngomong baik-baik.”
“Ana bakal berusaha-.”
“Antum gak bakal bisa...”
Potongku tidak sabar.
“Tam..”
Ia memanggil namaku berusaha membujuk.
“Taqin ana mohon... Ana gak mau nikah sama Key..”
Aku malah semakin kesal tanpa sadar menghentakkan kakiku memohon padanya penuh paksaan. Dia hanya diam terlihat keras kepala menurutku.
“Sini, memarnya kita obatin dulu, biar gak denyut.”
Ujar Mada akhirnya berusaha menengahi. Selama ia mengobati lukaku, kami bertiga hanya diam. Dan selama itu juga aku menangis. Taqin hanya bicara jika mendengarku mengeluh sakit di lukaku yang sedang diobati Mada, memintanya agar melakukannya pelan-pelan.
*****
“Tam istirahat dulu ya..”
Taqin memintaku masuk ke satu kamar di lantai satu ruko itu. Sedangkan Taqin tidur di kamar di sebelahnya, tepatnya di dekat balkon. Aku hanya diam masih kesal dengannya. Mataku memandangi Mada yang sedang merapikan kasur di dalam kamar itu. Aku tidak tau kalau di ruko ini ternyata ada kamar.
“Kalo antum diam aja, ana bakal kabur sendiri.”
Ancamku. Meski hatiku tidak sungguh-sungguh karena takut gagal dan malah semakin tersiksa sendiri.
“Siapa bilang ana diam aja. Ana udah nyusun rencana pesek..”
“Tapi antum gak ada ngasi tau ke ana. Setidaknya ana bisa ngelakuin sesuatu buat ngebantu.”
“Shh.. Tugas anti sekarang, cuman 2. Tenangkan diri anti, percaya sama ana.”
“Apa yang bakal antum lakuin besok?”
“Masalah besok kita bahas besok. Sekarang anti istirahat yah..”
Bujuknya. Lama aku diam memandangi Taqin yang masih saja berceloteh memintaku untuk segera tidur. Baru kemudian aku menurut.
*****
Pagi ini aku telat bangun. Tubuhku sakit semua, terutama bagian kakiku. Mataku membengkak cukup parah, gara-gara kemarin aku bisa dibilang menangis sangat lama. Kepalaku juga terasa pusing. Mada yang melihatku baru saja bangun, langsung menyentuh keningku dengan tangannya.
“Kamu pucat banget.”
Ujarnya. Aku hanya diam, berusaha memfokuskan pandanganku kearah jam di atas meja. Ternyata sudah pukul 6 kurang 15 menit. Segera aku beranjak ingin berwudhu untuk sholat Subuh.
“Jangan mandi ya, wudhu aja. Badan kamu hangat loh. Kayaknya kamu sakit karna ujan-ujanan kemaren.”
Ia mengatakan itu sambil menahan tanganku. Aku hanya mengangguk pelan, baru ia melepaskan tangannya.
Ketika Taqin tau kondisiku, aku semakin tidak diperbolehkan banyak bergerak. Ia memaksaku diam saja di tempat tidur, dan stop memikirkan masalah kami. Bahkan ketika sarapan pun, ia meminta Mada untuk menyuapiku. Padahal kupikir kondisiku tidak begitu parah, hanya pegal biasa dan aku tidak sampai merasa lemas. Tapi mau tidak mau aku harus menurut, daripada terus menentang keinginan Taqin. Aku tidak ingin dia marah lagi seperti tadi malam.
“Key biasanya hari-hari kayak gini kemana??”
Tanya Taqin padaku setelah aku menyelesaikan sarapanku.
“Kalo pagi sampai siang, biasanya dia masih sekolah.”
“Pulangnya jam berapa?”
“Mungkin jam 4 ato jam 5 sore gitu.”
Dia diam, seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu.
“Tapi kayaknya kalo hari Sabtu dia bakal pulang lebih awal.”
Tambahku. Dia pun manggut-manggut lalu beranjak untuk bersiap-siap.
“Mada jagain Tam ya dek. Kakak mau pergi dulu. Kalo ada tamu diam aja. Gak usah disahutin.”
Ujarnya.
“Iya, kak.”
“Antum mau kemana??” Tanyaku khawatir. Aku harus tau, setidaknya jika terjadi sesuatu dan dia butuh bantuan aku bisa datang. Walaupun aku tidak tau apa aku bisa membantu atau tidak.
“Keluar sebentar. Gak papa. Anti gak perlu khawatir yah. Anti aman disini.”
Jawabnya, tidak ingin memberitahuku sama sekali.
“Tapi antum? Mamah sekarang pasti sedang curiga dan nyariin antum.”
“Tenang aja, yah. Ana udah punya persiapan kok.”
“Gimana kalo-.”
“Shhhh, tenang aja ya, pessek...”
Potongnya, menepis kekhawatiranku. Aku pun akhirnya berusaha menenangkan diri. Bukankah ini yang kumau?? Segera bertindak, untuk melawan rencana orangtuaku?? Jadi sebaiknya aku jangan menghalangi Taqin. Dia pasti memang sudah punya rencana, dan tidak ingin melibatkanku mungkin karena tidak ingin membahayakanku.
Seperginya Taqin, Mada tidak bisa tenang sama sekali. Aku jadi merasa bersalah walaupun dia tidak ada sedikit pun menyalahkanku.
“Tam, ana mau keluar bentar boleh??”
Mada akhirnya meminta izin keluar, untuk menyusul Taqin. Tentu saja aku tidak mengizinkannya pergi sendirian. Aku juga harus ikut untuk menjaganya, jika dia kenapa-napa. Dia pasti akan dilibatkan jika orang-orang suruhan Mama menemukannya. Tapi ia tidak mengizinkanku.
“Gak boleh. Ntar kamunya kelihatan sama orang suruhan Mama kamu. Udah, kamu gak perlu khawatir. Aku gak bakal lama kok. Yah..”
Ia malah mengkhawatirkanku. Dia yang jauh lebih keras kepala dari Taqin, membuatku terpaksa menurut.
Mereka pergi meninggalkanku, cukup lama. Aku sangat khawatir. Telingaku terus mendengar suara bising 3 orang lelaki dari luar. Mereka berteriak-teriak minta dibukakan pintu. Aku tidak tau, itu tetangga Taqin atau malah bahkan suruhan orangtuaku. Aku tidak berani bersuara sedikit pun. Aku semakin ketakutan saja ketika mereka sudah berada di jendela kamar Mada, tempatku bersembunyi saat ini. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, aku langsung berlari masuk ke dalam lemari dan mengunci diri didalam. Tanganku menggenggam erat gunting sebagai senjata kalau-kalau mereka berhasil menemukanku.