ViRus

ViRus
Bayangan Virus



Kedekatanku dengan Mada membuatku ingin segera bercerita kepada orangtuaku dan juga Key mengenainya, sebagai sahabat sekaligus teman pertamaku di Pesantren ini. Aku juga ingin memberitahu tentang ekonomi Mada agar orangtuaku memberi bantuan padanya. Tapi aku takut Mada akan tersinggung dan merasa direndahkan. Untuk itu sebelum itu, aku mencoba menanyakan pendapat Mada tanpa langsung memberitahunya poin yang sebenarnya. Tapi amat disayangkan, respon Mada tidak seperti yang kuharapkan.


“Gak masalah kalo kamu mau cerita ke siapapun tentang aku. Tapi jangan sampai buat mereka ngeliat aku iba. Apalagi cowok bernama Key itu.”


Mada berkata seperti itu bahkan sebelum aku memberitahunya akan meminta bantuan orangtuaku untuknya. Ia juga menunjukkan ekspresi tidak suka ketika menyebut nama Key seolah sudah mengenalnya.


“Aku senang bisa menuhin kebutuhan hidup aku dengan usahaku sendiri. Kalo pun hidup aku mewah tapi karna hasil belas kasihan orang lain, aku gak bakal senang sama sekali.”


Aku hanya diam mendengarkan Mada.


“Malu malah.”


Tambahnya. Disitulah aku semakin bisa melihat sosok asli Mada. Ia sangat menjunjung tinggi harga dirinya. Tidak ingin lemah atau mudah dikasihani siapapun. Walaupun hidupnya susah, selama ia masih bisa bertahan tanpa meminta pertolongan orang lain, ia akan mempertahankannya. Ia tidak butuh gaya hidup mewah. Ia hanya butuh kecukupan tanpa menyusahkan orang lain.


Setelah mendapat penolakan itu, aku tidak pernah lagi mengungkit masalah ekonomi Mada. Serta mengurungkan niatku untuk bercerita tentang Mada ke orangtuaku dan Key. Ekspresi tidak suka Mada menyebut nama Key membuatku memilih menutupinya dan tidak pernah mengungkit masalah teman sedikit pun ketika Key berkunjung. Aku lebih sering cuek ketika Key yang menanyaiku. Meski gerakan tubuhku menunjukkan diriku sedang menutupi sesuatu. Dan Key sebenarnya tau itu. Tapi ia tidak memaksaku untuk memberitahunya.


Aku sendiri tidak tau kenapa, menyebut nama Mada terasa tabu dihadapan Key. Seolah sesuatu yang tidak kuketahui telah terjadi. Aku mencoba menyelidiki Mada dengan mencoba mencungkil sedikit tentang Key dengannya. Dan terbukti ia benar-benar berubah semakin cuek dengan sorot mata ketidaksukaan.


Kupikir ia memang mengenal Key, tapi ternyata ia mengatakan hanya perasaan tidak enak atau hanya feeling seolah sudah mengenalnya. Aku tidak merasa puas dengan jawaban Mada dan terus mendesaknya. Ternyata ia tetap memberi jawaban yang serupa. Malah ia semakin menjauhiku dan mulai jarang berada di kamarnya. Teman sekamarnya yang kutanyai pun selalu memberi jawaban yang sama setiap harinya. Kalo bukan tidak tahu, mereka pasti menjawab Mada sedang berada di rumah pengurus-rumah yang paling tidak ingin kukunjungi.


Karena perubahan Mada itu aku mulai merasa kesepian. Aku pun lebih sering berdiam diri di kamar, sibuk dengan alat lukisku. Teman-teman sekamarku menanyaiku kenapa terlihat murung, selalu kujawab cuek dan bahkan tidak menoleh atau melirik mereka sedikit pun membuat mereka pun ikut cuek padaku. Jika Mada berada di posisi mereka saat ini, ia pasti akan mengerti dan tidak langsung mengabaikanku begitu saja. Ia pasti tau aku sedang marah atau moodku sedang jelek.


Dan sekarang Mada menjauhiku membuatku merasa seperti hidup sendirian. Ditambah gigiku yang kian hari semakin terasa ngilu karena mulai berlubang. Aku khawatir kalau aku sakit, tidak akan ada orang yang mau mengurusku.


****


Kubersihkan sisa-sisa cat yang berlepotan di tanganku. Ya, saat ini aku baru saja selesai melukis asal wajah lelaki bermata sipit yang sama sekali tidak kukenal. Aku hanya menggerakkan kuasku setengah hati sambil menikmati rasa sakit di gusiku yang mulai membengkak. Mataku juga ikut bengkak karena menangis setiap malam tak tahan dengan sakitnya. Sudah 3 hari lamanya aku sakit, dan selama itu juga aku tidak masuk sekolah. Aku hanya makan sesuap atau 2 suap nasi lalu pergi ke kamar mandi untuk menggosok gigi berkali-kali. Berharap dengan itu gigiku akan segera sembuh. Tapi nyatanya tidak sedikit pun. Malah semakin sakit saja.


Aku sudah menghubungi Mama Papa agar menjemputku pulang untuk berobat, tapi telponku tidak pernah diangkat. Mereka memang selalu sibuk dengan pekerjaan. Aku juga sudah menghubungi Key, dan dia selalu menjawab iya tapi tak kunjung datang. Semua orang semakin menyebalkan disaat begini. Mungkin aku bisa mati karena sakit gigi. Memang aku belum pernah mendengar itu terjadi sebelumnya.


“Kayaknya aku kenal.”


Ujar seseorang tiba-tiba dari sampingku. Kepalaku secara reflek menoleh meski sudah tau siapa itu. Mada. Dia akhirnya muncul juga. Segera kupalingkan wajahku darinya kasar.


“Lelaki bermata sipit yang teduh.”


Tambahnya mengabaikan respon tidak suka dariku. Dia malah datang di saat begini. Aku sudah tidak butuh, pikirku sok jual mahal. Tapi aku memang tidak butuh kok. Sebentar lagi juga Key bakal datang menjemputku.


“Kamu gak mau ke dokter? Biar aku temanin..” Tawarnya.


“Gak.”


“Jadi kamu mau kayak gini terus sampe gigi kamu berlubang semua?”


“Aku bakal pergi sama Key.”


Dia terdiam mendengar nama Key kusebut. Rasa penasaranku kembali muncul. Aku sempat berpikir kalau dia mantan pacar Key.


“Kapan mereka pernah pacaran? Kenapa aku gk pernah tau?”


Gumamku pelan berpikir aku hanya mendengarnya sendiri.


“Aku bukan mantannya.” Selanya cepat. Dia mendengarku rupanya.


“Aku cuman pernah punya urusan sama dia. Urusan paling nyusahin. Tapi aku belum yakin sih orang yang kamu maksud itu benar dia.”


Ujarnya sambil mengambil kuas dan mengoleskannya ke cat berwarna hitam dan putih, lalu perlahan menggerakkan kuas itu diatas kanvas melingkari satu peratu kedua mata lelaki dalam lukisanku hingga membentuk kacamata bulat. Aku menatap lukisan itu beberapa saat dan merasa seolah pernah melihatnya di dunia nyata.


Lelaki bermasker hitam itu??


Segera kubuang pikiran itu dan kembali ke topik yang sebenarnya. Aku ingin Mada bicara lebih banyak padaku.


“Aku gak mau ngebahas itu sama siapapun.”


Katanya tiba-tiba membuat bibirku tertahan. Dia masih sama seperti sebelumnya. Padahal dia sudah memberitahuku sedikit poin-poinnya.


“Assalamu’alaikum... Tam, orangtua anti datang berkunjung..”


Teriak Latifah yang entah sejak kapan sudah berdiri di pintu kamarku dengan nafas terengah-engah. Segera aku berdiri meraih jilbab kaos diatas ranjangku dan langsung mengenakannya. Kurapikan alat-alat lukisku, memasukkannya ke dalam kardus. Sedangkan kuas-kuas dan palette kutaruh ke dalam gayung untuk dicuci.


“Biar ntar aku aja yang cuci. Kita ketemu orangtua kamu aja dulu.” Ujar Mada sambil lalu berbisik padaku.


“Tapi nanti aku pinjam hanphone mamamu ya..”


Ia lalu tertawa kecil tapi kelihatan sangat senang hingga pipinya merona. Sepertinya dia sangat ingin menghubungi orangtuanya. Kuanggukkan kepalaku mengiyakan. Tanpa sadar kami sudah mengabaikan Latifah yang masih berdiri memandangi kami seperti orang bodoh.


Kami berjalan bersama keluar asrama menuju pos. dalam hati aku sudah menyiapkan omelan panjang yang nanti akan kusemburkan ke wajah orangtuaku. Mereka membuatku terlalu lama menunggu dalam ketersiksaan. Tapi niat itu seketika hilang ketika aku melihat mobil yang terparkir di depan pos, itu bukan mobil orangtuaku. Aku tidak tau itu mobil siapa. Kuhentikan langkahku yang langsung disambut pandangan heran Latifah dan Mada yang berjalan di sisi kanan dan kiriku.


“Kamu yakin itu orangtua aku?”


Tanyaku pada Latifah setengah berbisik. Ia langsung mengerutkan keningnya padaku, dan aku sukses menjadi orang bodoh dihadapannya. Memang aneh rasanya seorang anak tidak mengenal mobil orangtuanya sendiri.


“Iya. Ukhti Husna yang bilang tadi. Anti gak bisa dipanggil pake mic soalnya Pak Satpamnya lagi gak ada.”


“Kemana Satpamnya?” Tanya Mada.


“Gak tau.” Jawab Latifah cuek. Wajahnya langsung berubah jutek saat Mada yang menanyainya. Mada pun ikut merengut dan memalingkan wajah. Dalam hati aku mendengus bosan, mereka bahkan masih belum akur sampai sekarang.


Kami kembali berjalan mendekati mobil berwarna hitam mengkilap dan masih kelihatan baru itu. Dugaanku mengatakan, sepertinya orangtuaku baru saja membeli mobil. Dan wajar saja aku tidak tau karena aku tidak pernah berbicara dengan mereka sejak aku masuk ke Pesantren ini. 


Tapi mataku menangkap sosok lelaki yang bersender di sisi mobil, Key. 


Sebelum menegur Key, kusempatkan beberapa saat melirik Mada. Dan benar saja, wajahnya sudah berubah dingin. Ia menghentikan langkahnya tanpa menoleh padaku.


“Hai... Tam!!”


Sapa Key membuatku segera berpaling dari Mada. Kudekati Key dengan wajah merengut manja yang langsung disambut tawa kecilnya.


“Pipi Tam kok bisa bengkak gini?” tanyanya menatap lurus ke pipiku. Aku tidak memberi jawaban sama sekali. Lagian kemarin sudah kuberitahu, dia pasti cuma basa basi.


“Dianya sakit gigi.”


Jawab Latifah mewakilkanku. Ia lalu memperkenalkan diri pada Key tanpa ditanya sedikit pun. Seperti yang dilakukannya padaku dulu sewaktu kami pertama bertemu. Key yang begitu ramah kepada semua orang tentu memiliki jalan pikiran yang berbeda denganku. Ia dengan senang hati meladeni Latifah tanpa memandangnya aneh seperti yang kulakukan. Latifah mengobrol panjang lebar dengan Key, mereka jelas-jelas mengabaikanku, tidak menegurku sama sekali. Aku merasa dianggap seperti arca saja.


Kualihkan pandanganku dari mereka ke sekelilingku. Aku mencari Mada yang tadi masih berdiri di dekat mobil. Dan sekarang ia tidak kelihatan sama sekali. Aku merasa semakin curiga dan ingin segera bertanya pada Key. Tapi perasaanku seperti tertahan oleh sesuatu yang aku sendiri tidak tahu apa itu.


“Mada, anti ngapain disitu?”


Teriak Latifah sambil memiringkan kepalanya mencoba melihat ke balik mobil. Aku mengikutinya dan menemukan Mada memang ada disana. Wajahnya terlihat semakin pucat karena ketakutan saat mendengar teguran Latifah. Aku langsung berjalan ingin segera menghampirinya. Tapi langkahku tertahan ketika ia langsung mengangkat tangannya.


“Aku balik... ke... keasrama.”


Ujarnya gugup dan langsung berlalu tanpa menunggu jawaban dari kami. Aku memandangi punggung Mada yang mulai menjauh. 


Sedangkan ekspresi Key hanya biasa saja. Tidak menunjukkan ada masalah atau apapun. Aku ingin bicara tapi lagi-lagi Latifah mendahuluiku.


“Dia itu Mada. Teman dekatnya Tam. Tapi menurut aku dia aneh.”


“Aneh kenapa?” Tanya Key penasaran. Wajahnya menunjukkan ketidaktahuan sama sekali. Tapi kenapa Mada bertingkah seperti itu? Lagian Mada dan aku kan sebelumnya tidak pernah bertemu Key dalam ceritaku, juga belum tentu orang yang pernah berurusan dengannya.


“Daripada ngegosip gak jelas, mending kamu temanin aku ke rumah ustazah, buat minta surat izin pulang.”


Potongku sebelum Latifah bicara terlalu banyak mengenai Mada. Ntah kenapa aku merasa seperti ada firasat buruk jika memberitahu Key lebih banyak lagi. Aku juga jauh lebih penasaran dengan ekspresi Key ketika mengetahui Mada. Mungkin saja kepolosan dan ketidaktahuannya saat ini dikarenakan ia sedang lupa kalau dia pernah berurusan dengan Mada. Lagian kalau dibiarkan terus, Latifah sepertinya hanya ingin membicarakan kejelekan Mada saja. Dasar, si Bibir Lancip.


Key menuruti perkataanku. Kami pergi meminta surat izin pulang ke rumah ustazah, sedangkan Latifah kembali ke asrama. Setelah mendapat izin dari ustazah dan menerima surat perizinan, kami pun pulang.


Dalam perjalanan aku hanya diam, sibuk dengan pikiran dan perasaanku. Begitu banyak pertanyaan yang timbul dalam benakku mengenai Mada. Ia terlihat begitu yakin bahwa orang yang pernah berurusan dengannya itu adalah Key sahabatku. Padahal baru kali itu aku bercerita tentang Key padanya. Aku juga tidak bercerita banyak, bahkan tidak menyebutkan karakteristiknya. Dan dari ekspresinya tadi benar-benar sudah menunjukkan kalau Key benar orang yang sama dengan yang dia maksud. Kupikir aku seharusnya tau, Key seharusnya sudah mengatakannya padaku. Tidak ada satupun tentang Key yang tidak kuketahui.


“Kok diam aja? Gusinya masih denyut?”


Mata Key melirikku dari kaca spion di depannya. Kuhela nafasku berat lalu menggelengkan kepala.


“Aku mau nanya sesuatu.”


“Nanya apa?”


“Tentang Mada.”


“Kamu kenal dia?”


Key menggelengkan kepalanya dengan kening berkerut. Matanya tetap menatap lurus kearah jalan.


“Aku pernah dengar... em..”


Aku benar-benar kesulitan melanjutkan kata-kataku karena kepalaku terus dipenuhi bayangan wajah ketakutan Mada tadi. Aku takut akan terjadi sesuatu kalau aku memberitahu Key. Kupikir ekspresi Mada tadi terlalu berlebihan, atau memang ada sesuatu yang lebih buruk dari itu?


Kuhela nafasku sambil berusaha membuang pikiran itu. Aku mengenal Key lebih dari siapapun, walaupun itu Mada. Mungkin Mada memang salah orang. Dan aku hanya perlu membuktikannya dengan menanyakan langsung pada Key.


“Tam dengar apa?”


Tegur Key bingung. Kulirik dia sambil berharap semoga ini tidak akan jadi masalah. 


“Mada pernah bilang kalo Latifah punya sahabat Virus, mak... sudnya edd...”


Duh... bukan itu ******!!! Gak ada hubungannya sama sekali…


Kurutuki diriku sendiri dalam hati karena sudah salah point. Aku terlalu banyak berpikir sampai bingung sendiri hingga menanyakan hal yang tidak penting, dan bahkan tidak menyangkut permasalahan secuil pun.


“Oh... mungkin maksudnya nunjukin kepribadian seseorang. Suka buat masalah mungkin.” Ujar Key menafsirkan.


“Oh... trus Mada juga bilang kalo... dia pernah berurusan sama kamu.”


“Masa?? Gak pernah tuh.”


Jawaban Key membuatku langsung menghela nafas lega. Memang benar, Mada memang salah orang. Lagian memang tidak mungkin Key yang begitu baik bisa menyusahkan orang lain. Aku jadi tidak sabar untuk segera memberitahu Mada nanti. Mungkin masih lama, sampai aku benar-benar sembuh.


Mobil yang kami kendarai memasuki pekarangan rumahku. Sudah lama sekali aku tidak pulang ke rumah, menikmati suasana sepi dan tenang di taman hijau nan asri ini. Sambil melukis dengan ditemani angin sepoi-sepoi dan  lantunan musik yang lembut. Rasa senang perlahan menyeruak dari dalam dadaku. Mungkin setelah ini aku tidak akan pulang ke Pesantren lagi. Dan semoga saja itu tidak mustahil. Aku bisa berakting sakit-sakitan didepan Mama dan membuat mereka iba lalu kemudian mengizinkanku pindah.


“Mamah...”


“Sayang... Mamah minta maaf karna gak bisa jemput.”


Ujar Mama sambil membelai wajahku. Tangannya menyusuri pipiku yang membengkak sambil terus beroceh meminta maaf karena kurang memperhatikanku. Ditambah tubuhku yang terlihat semakin kurus dengan kulit yang juga semakin hitam karena tidak sempat merawat diri serta terlalu kaget dengan perubahan gaya hidup yang mendadak.


Mama memandangiku prihatin. Dan aku hanya diam dipandangi seperti itu oleh Mama. Kutunjukkan ekspresi paling sedih yang kumiliki untuk menambah aura menyedihkan dari dalam diriku. Dalam hati aku berharap Mama segera menyesali keputusan bodohnya dengan Papa dan segera memindahkanku dari Pesantren itu.


Malam harinya, aku tidur nyenyak sekali. Bahkan pagi ini aku sampai bangun hampir di jam 10. Kalau di asrama aku tidak akan bisa seperti ini. Bangkong sebentar saja pasti akan langsung disiram air. Aku pernah mengalami hal itu saat baru beberapa hari di Pesantren. Karena tidak terbiasa bangun sebelum Subuh, aku jadi terbawa-bawa sampai ke Pesantren. Aku bangun sekitar jam 5 lewat beberapa menit, aku tidak ingat pasti. Yang pasti, aku langsung dibangunkan dengan disiram air sampai megap-megap, hingga kasurku ikut basah. Pembukaan hari yang sial. Tapi sekarang aku bisa lepas dari itu semua. Yah... melihat kondisiku kemarin, Mama akhirnya membujuk Papa untuk memindahkanku ke sekolah yang kurencanakan sebelumnya. Sinyal-sinyal kebaikan akhirnya datang. Pagi hari ini aku bahkan ingin bersenandung, saking senangnya.


Aku berjalan memasuki kamar mandi sambil tersenyum lebar. Aku mandi dengan air hangat yang terasa begitu menenangkan otot-ototku.  Sudah lama sekali aku tidak merasakan ini semua. Setelah semua selesai hingga mengenakan baju dan memberi sedikit polesan di wajahku, aku pun keluar. Aku ingin melukis sesuatu yang menarik hari ini. Tapi aku belum tau apa itu. Mungkin jika sudah berhadapan dengan kanvas, ideku bisa muncul. Kubuka lemari tempat alat-alat lukisku disimpan.


“Prang...”


Aku mendengar suara benda pecah. Lebih miripnya dipecahkan karena juga ada suara-suara orang bertengkar di ruang tengah. Segera aku pergi ke ruangan itu yang letaknya bersebelahan dengan ruangan posisiku saat ini. Suara itu semakin jelas saat aku mulai mendekati pintu yang menghubungkan ruangan tengah dengan posisiku. Aku bisa mendengar suara Mama dari dalam sana. Segera kupercepat langkahku untuk melihat mereka.


“Pergi kamu! Dasar Virus!!”


Teriak Mama yang tengah berdiri di tengah ruangan sambil mengarahkan pistol kearah seorang lelaki yang berdiri didekat pintu, tepat di hadapanku. Wajah Mama merah padam dengan dada naik turun menunjukkan nafasnya yang terpacu cepat karena terlalu emosi.


Aku tidak bisa melihat wajah lelaki didepanku ini. Dia membelakangiku sambil memeluk erat bahu seorang perempuan. Dia menangis di dada lelaki itu. Lelaki itu sangat mirip dengan Key dari potongan rambutnya dan bentuk serta tinggi badannya. Aku mendekati mereka sambil melirik Mama. Mama seolah tidak melihatku. Ia tidak menegurku sama sekali. Samar-samar aku mendengar perempuan itu menangis sambil memanggil lelaki yang memeluknya itu ‘kakak’. dia menarik-narik lengan lelaki itu mengajak untuk segera pergi.


Siapa mereka? Dan siapa Virus?


“Saya gak bakalan pergi sampai anda merestui saya dan membawa dia. Kalian cuman nganggap dia kayak boneka.” Bentaknya dengan suara keras. Jelas. Terlalu jelas di telingaku. Suaranya sangat mirip dengan suara Key.


“Kamu tau apa hah!! Dasar anak kurang ajar.”


Mama menarik pelatuk pistol itu dan..


DOR!!


Aku terjatuh. Tembakan itu mengenaiku bukan lelaki itu. Tentu saja, karena tubuhku secara reflek melindungi mereka. Kupegang lenganku yang perlahan mulai berarah. Lelaki itu mencoba membantuku berdiri membuatku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku terdiam mematung.


Key?? bukan... si sipit berkacamata bulat?? atau lelaki bermasker hitam??


Dan lagi perempuan disebelahnya itu ternyata adalah Mada. Matanya yang sembab menatapku sedih bercampur kecewa. Aku balas menatap mereka bingung. Aku ingin bicara tapi tubuhku tiba-tiba ditarik dengan kasar oleh seseorang yang ternyata adalah Key. Ia menarikku dan mendorongku ke dinding dengan keras.


“Argh... Key..”


“Kamu... apa yang kamu lakukan??” Tanyanya dengan nafas terengah sambil mencengkram bahuku kuat.


Aku hanya diam.


“Jawab!!”


Bentaknya membuatku terlonjak kaget. Aku menggeleng cepat. Air mataku perlahan mengucur deras karena terlalu takut. Aku bingung dengan apa yang sedang terjadi di hadapanku. Semua orang terdekatku berubah menjadi begitu asing. Semua terjadi begitu saja tanpa sebab yang bisa kumengerti.


Mataku seketika terbelalak ketika Key perlahan mengangkat tangannya. Kilatan pisau dalam genggamannya itu ia acungkan kearahku. Aku menggeleng ketakutan. Kutatap mata Key penuh permohonan, mencoba mencari kebenaran dibalik matanya. Ini pasti hanya mimpi. Key yang kukenal tidak pernah sejahat ini. Key sahabatku sangat baik. Kucoba meyakinkan diriku.


“Takut?? Gak papa sayang. Kamu udah milih dia kan?? Kamu gak bakal bahagia sama dia. Pemandangan gelap jauh lebih menyenangkan ketimbang harus menikmati hidup sama seorang Virus.”


Ujar Key. Ia menekankan kata Virus sambil menyeringai membuatku semakin ketakutan. Perlahan namun pasti ia lalu mengayunkan tangannya menancapkan pisau itu kearah mata kananku.


“JANGAN!!”


Teriakku histeris sampai semuanya seketika gelap. Aku merasa seperti melayang beberapa saat. Kucoba meraih kesadaranku. Kupegangi wajahku yang basah oleh keringat. Aku perlahan menggerak-gerakkan kelopak mataku dan pelan-pelan membukanya. Aku masih berada di kamarku. Ternyata semuanya memang hanya mimpi. Segera aku bangkit dan langssung berlari ke kamar mandi.


Berkali-kali aku membasuh wajahku dengan air. Nafasku masih terengah, juga mimpi tadi masih begitu membekas. Sangat nyata kurasa. Kupandangi pantulan wajahku di cermin wastafel. Entah kenapa aku merasa wajahku sangat mirip dengan Mada. Kugeleng-gelengkan kepalaku meraasa tidak mungkin. Kubasuh kembali wajahku dengan air mencoba mengusir bayangan itu.


Setelah mandi dan sarapan aku hanya diam menyendiri di balkon. Tidak melukis atau mengerjakan apapun. Kepalaku masih dipenuhi kilasan bayangn mimpi tadi. Membuatku langsung bergidik merasa ngeri sendiri. Sangat sulit dibayangkan jika hal itu benar-benar terjadi. Berarti aku sudah bertahun-tahun hidup dalam kebohongan yang diciptakan oleh orang-orang terdekatku sendiri. Berpura-pura lembut, tapi nyatanya hanya topeng.


Segera kuhapus pikiran buruk itu. Kupikir aku tidak perlu baperan saat mengalami mimpi aneh, apalagi sampai terlarut dalam firasat-firasat mimpi yang biasa kubaca di buku primbon, yang belum pasti terjadi. Aku bisa gila jika seperti itu.


Kuhela nafasku kasar sambil menyandarkan tubuhku di sofa. Waktu senggang yang cukup panjang ini membuatku kesulitan mengosongkan pikiranku dari mimpi itu. Jika di Pesantren, hari-hari yang sibuk dengan aktifitas yang padat membuat waktu tak terasa bergulir dan berlalu. Aku tidak pernah menikmati kesibukan itu awalnya. Sampai ketika ada Mada, semuanya berubah menjadi menyenangkan.


Ngomong-ngomong mengenai Mada, aku penasaran bagaimana responnya saat tau aku akan pindah nanti. Entah dia akan marah atau malah tidak mempermasalahkan sama sekali. Aku ingin menghubunginya ke nomor handphone yang kutemukan di buku catatannya. Aku ingat, ketika ia memintaku menghubunginya ke nomor itu saja ketika liburan.


Tapi sekarang kan gak lagi liburan...


Gumamku malas sambil berjalan gontai ke kamar. Setengah hati aku mencari buku catatan tempat aku menulis nomor itu dalam tas yang semalam kubawa pulang. Aku akan menghubunginya sekarang meski akan percuma. Pasti tidak akan ada yang membalas atau bahkan membacanya. Kalau pun ada, pasti itu hanya ulah jin yang kesepian.


Aku menemukan nomor itu di lembaran terakhir buku catatanku. Masih dengan setengah hati aku meraih handphone diatas nakas dan mengetik satu persatu angka yang tertulis sambil kemudian mengetik pesanku.


Assalamu ‘alaikum, Mada. Ini aku Tam. Aku minta maaf soalnya aku gk bakal balik lagi ke asrama. Aku gk sanggup tinggal disana. Sorry kalo aku gk minta pendapat kamu duluan. Aku bakal pindah ke SMA. Trims buat semuanya..


Kuketik pesan itu dalam sekali kirim. Mungkin setengah tahun kedepan baru Mada akan membacanya. Aku meletakkan kembali handphoneku di atas nakas. Menatapnya hampir lebih dari tiga menit. Tentu saja, karena aku merasa itu adalah kata-kata terakhirku sebelum berpisah dengan Mada. Dan sayangnya, sepertinya aku tidak akan langsung mendapat responnya.


Aku berbalik ingin melangkah keluar kamar tapi tertahan. Hanphone ku tiba-tiba bergetar. Aku langsung kembali menatapnya tajam. Ada pesan balasan dari Mada.


Gak mungkin!!! Itu ulah jin kesepian kan?!


Hatiku berteriak, tapi tanganku dengan lincah membuka pesan itu saking penasarannya dengan isinya. 


Mada:


Wa ‘alaikum salam wa rahmatullah


Kamu gk boleh pindah. Gk baik nyia-nyiain kesempatan yg dikasi Allah. Bnyak orang yg kepengen diposisi kamu. Jadi santriah, dibimbing jadi lebih baik, buat lebih dekat sama Allah. Tapi mereka gk bisa. Nih kamu dikasi kesempatan kok malah gk dimanfaatin? Gk suka jadi orang beruntung? Cuman orang aneh yg gk suka jadi orang beruntung.


Mataku terbelalak membaca kata perkata pesan Mada. Pesan yang cukup panjang. Ini bahkan lebih cocok dibilang ceramah. Aku sempat ingin tertawa terbahak tapi tidak jadi karena pipiku yang masih sakit. Aku merasa aneh dengan Mada yang asli dengan Mada lewat chatt. Dia seperti orang ramah yang memiliki bakat berceramah dibandingkan kebiasaannya yang cuek.


Selain itu, aku juga merasa aneh karena Mada membalas chatt-ku, sementara yang kutau ia saat ini sedang berada di Pesantren. Dia bukan tipe anak nakal yang berani membawa barang-barang terlarang seperti handphone selama berada di asrama.


Iyaiya crewet.. aku pikir2 dulu deh. Tapi kok kamu bisa balas chatt aku sih? Orangtua kamu lagi berkunjung ya?


Aku terus mengetik kata demi kata di handphone ku. Aku menjelaskan pada Mada tentang respon Key mengenai urusan rumit yang dikatakannya serta ketidakkenalan Key padanya. Juga tanpa lupa mengenai mimpiku pagi ini. Ternyata Mada menanggapi semuanya dengan baik. Ia juga tidak marah ketika aku membahas Key. Sangat berbeda dengan yang biasanya. Saat ini, ia juga bahkan menasehatiku supaya tidak menceritakan mimpiku kepada siapapun. Mimpi apapun itu. Kalau memang itu mimpi buruk, sebaiknya sholat saja ketika bangun dan meminta perlindungan kepada Allah. Karena bisa saja itu adalah tipu daya syaitan. Begitulah nasehatnya. Aku hanya manggut-manggut membacanya. Benar-benar bukan Mada yang kukenal, pikirku.


Mada kemudian menanyaiku nama panjang Key. Aku tertawa kecil merasa Mada sangat keras kepala. Ia masih curiga dengan sahabatku itu rupanya. Segera kuketik nama Key dan memberinya stiker love tepat diakhir namanya.


Key Azril 💕


Satu menit, 5 menit, 15 menit, hingga satu jam lebih aku menunggu balasan dari Mada. Tapi tidak kunjung datang. Mungkin Mada sedang sibuk, atau mungkin orangtuanya sudah pulang. Jadi handphonenya juga dibawa pulang. Padahal aku ingin chatt-an lebih lama lagi.


Kuletakkan handphoneku kembali diatas nakas. Hatiku kembali sepi dan bosan. Ntah sejak kapan aku mulai merindukan suasana asrama yang berisik dan dipenuhi dengan kegiatan itu. Tanpa sadar membuatku kembali menimbang-nimbang keputusanku untuk pindah. Niatku berubah jadi setengah hati setelah menghubungi Mada.