
Aku sedang duduk menyendiri di balkon rumah. Mataku menerawang melawan pekatnya kegelapan yang hanya menjadi penglihatanku saat ini. Aku teringat saat hubunganku dengan Key-satu-satunya sahabat lelakiku-masih begitu baik. Key yang selalu mendengarkan ceritaku, memberiku solusi dari setiap masalahku, menghiburku dengan suara petikan gitarnya yang lembut dan indah. Semuanya tinggal kenangan saat aku mengenal Taqin. Lelaki yang sempat membuatku kagum karena kesholehannya itu.
Ada begitu banyak penyesalan yang kurasakan setelah mengenalnya. Mulai dari kehilangan kelembutan Key, kehilangan penglihatanku, kepercayaan pada sahabatku, kasih sayang orangtuaku, sampai akhirnya aku kehilangan mereka semua dari dunia ini. Aku merasa kehilangan segalanya. Meskipun sebenarnya, aku tidak sepenuhnya menyesal, karena dengan mengenal Taqin, aku akhirnya bisa tahu sikap Key yang sebenarnya, juga keinginan orangtuaku yang sebenarnya. Key memang mencintaiku, tapi dia sama sekali tidak menghargaiku. Ia terlalu berambisi untuk memilikiku, sampai melupakan kebahagiaanku. Hatiku yang sudah teralihkan oleh Taqin, membuatnya tega berlaku kasar dan merusak semua kebahagiaanku. Termasuk membuat sahabatku frustasi dan akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Kehidupan orangtuaku juga dipenuhi dengan ambisi yang berpusat pada harta. Mereka menjadikanku sebagai senjata untuk memenuhi ambisi mereka itu, memperlakukanku seolah aku hanya boneka yang tidak memiliki perasaan. Yah… semua kenyataan dibalik kejadian itu hanya segelintir rasa legaku.
Kehilangan segala yang kumiliki cukup mebuatku seperti orang bodoh yang ingin segera mengakhiri hidupnya. Tapi aku tidak mungkin melakukan hal yang dibenci Allah itu. Aku harus tetap kuat menghadapi segalanya. Walaupun bayangan wajah Taqin masih terus dan terlalu sering merusak pikiranku. Membuatku merasa kesulitan menyimpulkan apakah aku mencintai atau membencinya. Kuakui, lidahku lebih sering mengatakan BENCI ketika mengingatnya. Dan sampai kapan pun tidak ingin melihat dan mendengar suaranya lagi. Yah.. kedua perasaan tak jelas itu seperti daging yang menggumpal, yang sedang bersarang di hatiku. Membuatku selalu tiba-tiba ingin menangis, ingin rasanya hati ini menumpahkan rasa sedih bercampur frustasi ini, tapi tidak tau bagaimana caranya. Dan siapa juga yang bersedia menjadi pendengar setiaku?? Aku bahkan tidak punya siapa-siapa.
“Kok melamun? Mikirin apa?”
Lamunanku seketika buyar ketika mendengar suara itu. Suara itu berasal dari arah pintu bersebelahan dengan sofa yang sedang kududuki. Perlahan tanganku mengerjap-erjap di atas sofa yang kududuki hingga meja yang berada disampingku. Aku berusaha mencari sosok pemilik suara yang baru saja menyapaku itu. Tiba-tiba sebuah tangan menyentuh tanganku, menggenggamnya perlahan lalu meremasnya lembut dan mesra.
“Ana disini.”
Ujarnya lembut lalu duduk di sebelahku. Dia membawa tanganku ke pipinya membiarkan jemariku perlahan meraba pipinya mencoba mengenalinya. Aku menghela nafas berat. Ternyata aku lupa dengan sosok yang sudah menemaniku selama tiga minggu ini, orang yang selalu ada disampingku apabila aku tiba-tiba menangis. Hanya saja dia tidak pernah bertanya alasan apa yang membuatku menangis. Dia Albi, lelaki yang sudah menjadi imamku saat ini.
“Apa ana boleh cerita tentang masa lalu ana?”
Kuputuskan untuk bertanya apakah dia mau mendengar curhatanku atau tidak. Sebenarnya aku tidak berharap lebih padanya. Aku hanya ingin melihat seberapa peduli ia terhadap masa laluku, meski tingkahnya selama ini sudah menunjukkan 75% dari jawaban yang sebenarnya.
“Boleh.. cerita apapun boleh. Ana siap buat dengerin.”
Aku tersenyum lembut mendengar jawabannya. Aku tidak menyangka ia akan menjawab seperti itu. Berbanding terbalik dari tingkahnya selama ini yang hanya diam ketika aku menangis, tidak bicara sepatah kata pun, membuatku berpikir bahwa ia tidak ingin mendengarku. Mungkin itu yang membuatku selama ini kesulitan untuk menganggap kehadirannya didekatku. Karena menangis di dadanya rasanya seperti menangis sambil memeluk guling. Tidak ada kata-kata penenang sedikit pun. Hanya irama detak jantungnya yang menemani tangisku.
“Tapi sebelumnya.. ana boleh minta tolong sesuatu?” tanyaku.
“Minta apa?”
“Alat lukis.”
Albi mencubit pelan pipiku. Aku yakin dia pasti sedang tersenyum, dari suara helaan nafasnya. Kurasakan ia beranjak dari duduknya untuk mengambil apa yang kuminta. Ada sedikit rasa takut dihatiku untuk menceritakan semuanya. Aku takut, itu akan membuatnya berpikir bahwa aku masih belum menerima dia sepenuhnya dihatiku. Memang, hal itu tidak bisa sepenuhnya disalahkan, dan tidak juga bisa sepenuhnya dibenarkan. Karena aku hanya kesulitan untuk melepaskan diri dan melupakan masa laluku, itu saja. Selebihnya, aku cukup merasa bahagia dan lega menikah dengannya.
Beberapa saat kemudian Albi kembali dengan alat lukis lengkap ditangannya.
“Antum mau melukis apa?” Tanyanya penasaran. Aku yakin ia pasti merasa bingung, karena bagaimana mungkin aku yang buta ini bisa melukis.
“Ana mau melukis wajah seseorang.”
“Saingan ana?” tanyanya spontan membuatku terkaget lalu tertawa kecil tapi sedikit terbahak. Jujur, baru kali ini aku tertawa seperti itu dihadapannya.
“Malah ketawa. Ana cemburu loh.” Ujarnya lagi dengan nada bicara yang manja. Tangannya sibuk meletakkan kanvas, kuas, serta alat lukis lainnya diatas meja didepanku. Perlahan tawaku berhenti. Aku tidak menjawab pertanyaannya. Karena aku tau, setelah mendengar satu kalimat pertamaku ia pasti sudah menemukan jawabannya.
Kusandarkan kepalaku ke bahu kokohnya sambil mulai menerawang kembali masa pahit itu. Mengoyak kembali luka yang masih basah dan bernanah ini. Bersama tiupan angin yang seolah telah menjadi sahabat setia yang selalu mencoba memberi tiupan penenang menyambut helaan nafas rasa sakitku. Memberi kesejukan di antara keperihan lukaku yang terpaksa harus kembali menganga. Membiarkan gambaran kenangan-kenangan masa lalu itu perlahan terlepas dari tempatnya dipaksa bersembunyi, melalui kata demi kata yang kuucapkan.
“Ana pernah jatuh cinta sama seorang Virus.”
****
Sebelum aku bercerita tentang dia, aku ingin memperkenalkan sahabatku dulu. Aku memiliki sahabat lelaki, ia bernama Key Azril. Dia adalah sahabatku sejak kecil. Kami selalu menghabiskan waktu bersama, seperti bermain maupun belajar. Kami juga duduk di sekolah yang sama meski di kelas yang berbeda. Keluargaku dan keluarga Key sudah saling kenal baik meskipun tidak begitu sering bertemu. Karena keduanya sangat sibuk dengan urusan bisnis masing-masing. Kesibukan orangtuaku tidak pernah membuat keduanya lupa kepadaku, putri tunggal mereka. Mereka selalu memberi sedikit waktu luang untuk dihabiskan bersamaku. Tidak hanya kasih sayang yang melimpah, materi yang terkatakan lebih dari cukup juga mereka berikan kepadaku.
Berbeda denganku, kehidupan ekonomi Key yang jauh lebih dari cukup justru kekurangan kasih sayang dari orangtuanya. Hampir sepanjang hari ia hanya bertemu orangtuanya jika menjelang tidur atau bahkan sesudah ia terlelap dari tidurnya. Hal itu membuat Key merasa bosan berada di rumah dan akhirnya memutuskan untuk menghabiskan waktu di rumahku.
“Tam.. nanti kalau sudah besar menikah denganku yaa... kita bakal tinggal di rumah yang mewah, jauh dari Mama Papa..” ujar Key suatu hari ketika kami sedang asyik bermain.
“Iiya.. terus nanti kita punya anak baaanyaaaak..ehh, tapi kalo nanti rumahnya jauh dari Mama Papa kan, aku bisa sedih.”
“Gak papa.. kan ada aku. Tam gak bakal sedih kalo ada aku.”
Kata-kata itu seperti sebuah janji yang terus mengikat kami. Sehingga selalu ada rasa cemburu jika ada yang berusaha mendekati salah satu dari kami. Meskipun itu tidak sepenuhnya berlaku padaku. Akupun tak tau kenapa perasaanku perlahan meluntur dari waktu ke waktu. Hingga saat ini, jika ada yang menanyakan perasaanku padanya, mungkin aku akan menjawab tidak lebih dari kasih sayang seorang sahabat.
Mungkin semua itu dikarenakan kejadian waktu itu. Ketika aku dan Key asyik bermain petak umpet, dan saat itu merupakan giliranku mencari Key. Aku berusaha mencarinya lebih dari satu jam, bahkan sampai membuatku khawatir kalau Key mengalami hal yang sama seperti seseorang dalam ceritanya yang tiba-tiba meninggal karena bersembunyi terlalu jauh ketika bermain petak umpet.
Aku mencari Key mulai dari setiap sudut dalam rumah, taman di halaman depan sampai halaman belakang rumah sambil menangis dan terus memanggil-manggilnya. Tapi saat aku mendekati pagar, aku mendengar suara laki-laki yang sedang memarahi seorang perempuan dari luar pagar.
“Mereka gak bakal bisa ngehancurin kita. InsyaAllah.” Ujar lelaki itu.
Dan suaranya sama persis seperti suara Key. Kuberanikan diri mengintip dari bagian pagar yang bolong untuk melihat siapa orang itu. Dan ternyata dugaanku benar. Itu Key bersama perempuan lain. Meskipun aku hanya bisa melihat bentuk rambut dan tubuhnya dari belakang, aku tetap merasa yakin bahwa itu memang Key. Aku terus melihat mereka, perempuan itu terlihat sedang menangis sedangkan Key merangkul sambil membelai kepalanya yang tertutup jilbab yang menurutku sangat kumal dan jelek itu. Jilbab itu berwarna pink panjang menutupi dada hingga pahanya. Aku benci perempuan itu karena sudah berani mendekati Key. Dengan perasaan berapi-api seperti ingin meledak, aku keluar dari pagar dan mendekati mereka.
“Key!! Kamu ngapain sama dia?”
Bentakku dengan suara yang terdengar sedikit bergetar karena terlalu emosi. Yah.. walaupun waktu itu kami masih sangat anak-anak, terlalu hijau dan ingusan untuk mengerti masalah seperti ini, tetap saja aku sudah merasa cukup pantas dan tidak perlu rasa malu kepada orang lain, dikarenakan janji kami waktu itu yang kuanggap cukup kuat.
Hatiku semakin sakit ketika aku berpikir Key akan berbalik badan dan segera meminta maaf padaku dan menyatakan bahwa perempuan itu hanya orang asing dihidupnya. Dan ternyata diluar dugaan, dia memang berbalik menghadapku, tapi bukan untuk meminta maaf melainkan hanya diam dan menatapku asing. Begitu juga dengan perempuan itu, dia ikut menatapku aneh seperti yang dilakukan Key. Ingin rasanya aku menamparnya dan juga Key. Aku benci mereka berdua. Melihat Key hanya memberi respon seperti itu aku langsung pergi sambil membanting pintu pagar dan setiap pintu rumah yang kumasuki, termasuk pintu kamarku. Kulakukan itu untuk melampiaskan kemarahanku yang tadi tidak sempat kutumpahkan kepada mereka.
Aku menangis di tempat tidurku sambil memeluk erat gulingku. Kubuang semua boneka pemberian Key yang tersusun diatas kasurku lalu menangis sekeras-kerasnya. Berharap dengan itu Key akan datang dan aku akan mengusirnya. Kuakui aku terlalu banyak berharap hingga terlalu sering terjatuh dan merasa sakit sendiri.
Beberapa menit kemudian Key masuk ke kamarku lalu meminta maaf dengan berbagai alasan yang aku tak tau itu benar atau tidak, yang salah satu alasannya adalah ia hanya bercanda dan hanya ingin menyelesaikan tugas sekolahnya mengenai acting, dengan menjadikan aku sebagai bahan percobaan, sebagai bukti apakah dia berhasil menipuku atau tidak. Dan ternyata ia berhasil. Ia mengutarakan itu sambil tertawa kecil, terlihat merasa bersalah.
Aku yang selama ini tidak pernah dibohongi olehnya pun langsung percaya, karena aku juga tidak punya bukti untuk menuduhnya berbohong. Lagi pula kami memiliki kelas yang berbeda. Jadi, aku tidak begitu tau mengenai tugas-tugas sekolahnya. Namun, aku merasa sedikit bingung dengan wajah Key, entah kenapa wajahnya yang ada dihadapanku saat ini terlihat sedikit berbeda dengan yang tadi saat kami berada diluar. Aku tidak tau apakah itu dikarenakan saat ini ia sedang kelelahan dengan keringat mebasahi wajahnya, atau karena aktingnya tadi. Tapi kurasa itu tidak akan berpengaruh. Karena yang kulihat tadi wajah Key terlihat lebih dingin dan tenang. Sedangkan yang dihadapanku saat ini terlihat begitu heboh dan berantakan.
Apa Key punya kembaran??
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dari kepalaku, namun segera kuusir karena kurasa hal itu tidak mungkin. Key tidak pernah bercerita tentang itu kepadaku sebelumnya. Dan ia juga tidak seharusnya menutupinya dariku. Karena selama ini kami sudah saling terbuka dan tidak merahasiakan apapun.
“Jadi perempuan itu kemana??” tanyaku ketus.
“Udah aku suruh pergi.”
“Kenapa?”
“Aku takut Tam bakal marah sama dia.”
“Emang kenapa kalo aku marah sama dia?”
“Ntar dianya nangis..”
“Biarin..”
“Papanya galak lo kayak anjing helder. Kalo dianya ngadu emang Tam mau digigit??”
Aku pun tertawa terbahak-bahak. Tanganku mencubit lengan Key kuat. Ia benar-benar keterlaluan dan tidak sopan membuat permisalan itu kepada orangtua. Key langsung berteriak kesakitan sambil memegangi bagian tangannya yang tadi kucubit. Lalu kami tertawa bersama. Rasa kesalku pun perlahan menghilang dengan mudah.
Yah.. walaupun hanya candaan, tetap saja aku tidak suka pada Key waktu itu karena aku memang tidak suka dibohongi. Aku tidak tau pasti apakah kejadian itu yang menyebabkan perasaanku luntur pada Key. Yang kutau sejak kejadian itu, Key malah semakin ingin terus dekat denganku.
Saat ini kami sudah menginjak kelas 3 SMP. Key mulai menyusun rencana akan masuk ke salah satu sekolah favorit di daerah kami. Dan ia mewajibkanku untuk ikut serta dengannya di sekolah itu. Akupun mengikutinya, bukan karena aku menuruti kemauannya. Tetapi karena aku juga menyukai sekolah itu. Sekolah yang terkenal bagus, dengan segala fasilitasnya yang lengkap. Serta kegiatan-kegiatan ekstrakulikulernya yang menurutku sangat menarik dan memang selalu menghasilkan orang-orang berbakat. Salah satu kegiatannya adalah melukis. Dan aku sudah berniat akan mengikuti kegiatan itu. Setelah mencari informasinya, memang peminatnya tidak begitu banyak. Tapi hasil karya mereka cukup bagus dan terbilang bisa menghasilkan uang. Aku memang punya bakat melukis, dan itu sudah menjadi hobbyku sejak kecil. Aku juga sudah sering mengikuti perlombaan melukis, dan tidak jarang juga menjadi seorang pemenang dan menghasilkan uang. Meskipun begitu, aku tetap merasa belum puas. Aku ingin terus mempelajarinya lebih dalam lagi. Dan aku akan memperdalamnya di sekolah yang akan kutuju ini kelak.
Aku kemudian marah dengan mengurung diri seharian. Awalnya Mama mengabaikan tingkahku. Dan ketika aku tidak kunjung keluar sampai waktunya makan malam, Mama pun mulai khawatir. Ia kemudian sibuk mengetuk-ngetuk pintu kamarku sambil terus memanggilku dengan nada membujuk. Aku hanya diam mengabaikan Mama dan juga suara perutku yang tak kalah berisik, kurasa tengah merutuki sikap keras kepalaku.
Memang sejak aku masuk ke kamar pagi tadi sampai malam ini aku tidak memasukkan secuil makanan pun kedalam perutku. Aku hanya sibuk dengan game di handphoneku juga dengan musik yang kuperdengarkan melalui earphone yang dengan setia menempel di kedua telingaku. Terkadang aku tertidur jika sudah bosan dan lelah. Lalu kemudian terbangun dan kembali melakukan hal yang sama dengan yang sebelumnya lalu kembali tertidur. Dan begitulah sampai seterusnya berulang-ulang hingga malam hari. Dan sepertinya saat ini aku sudah tidak bisa tidur lagi karena sudah merasa lapar, bahkan aku sudah mulai merasa mual dan pusing saking laparnya.
“Pah.. papah..”
Mama akhirnya memanggil Papa membuatku segera berjalan cepat meski sedikit terhuyung mendekati pintu untuk menguping pembicaraan Mama dan Papa. Dalam hati aku terus berharap Mama dan Papa segera berubah pikiran dan menuruti kemauanku.
“Biar papah suruh Key kemari aja. Kalo Key yang ngomong mungkin.. Tam bakal ngerti.” Jawaban Papa dari luar membuatku mendengus kesal.
Aku langsung menghempaskan tubuhku kembali ke tempat tidur dan menutup wajahku dengan bantal berusaha untuk tidur. Agar ketika Key datang aku tidak perlu repot-repot menghadapinya. Toh, dia juga pasti akan menuruti kehendak Mama dan Papa walaupun sebelumnya kami sudah menyusun rencana yang sama. Tidak ada satupun yang bisa menolak kehendak orangtuaku. Entah sejak kapan aku mulai merasa diperlakukan seperti boneka oleh orangtuaku.
“Krrrrrrk…”
Perutku kembali meronta meminta untuk segera diisi. Sementara mataku tidak kunjung mengantuk. Aku tidak tau apakah tingkahku ini terlihat bodoh. Karena yang kuinginkan saat ini hanyalah orangtuaku tidak terus-menerus memaksakan kehendak mereka terhadapku. Dan pula kupikir aku sudah cukup dewasa, aku tau apa yang terbaik untukku. Tapi sepertinya orangtukau tidak mengerti itu. Mereka masih menganggapku seperti anak kecil yang harus diatur dan diperhatikan setiap saat, sehingga mereka ingin memasukkanku ke pesantren dan bergaul dengan orang-orang bergaya kuno yang kesehariannya dipenuhi dengan ribuan peraturan dan ceramah-ceramah yang membosankan. Aku tidak bisa membayangkan jika aku menjalani hidup seperti mereka.
15 menit kemudian Key sudah tiba di rumah. Aku bisa mendengar suaranya sedang mengobrol dengan Mama dan Papa. Papa mulai membahas rencana mereka. Aku bisa mendengar nada kurang setuju dari respon Key. Tapi Papa sepertinya berusaha mempengaruhinya dengan penjelasannya yang luar biasa panjang. Dan itu seketika membuat Key setuju. Aku bingung bercampur penasaran. Aku tidak tau penjelasan apa yang dikatakan Papa sehingga Key begitu mudah terpengaruh. Karena aku tidak bisa mendengar suara mereka dengan jelas.
“Key bodoh..” bisikku sambil meremas sprei geram. Aku tau ini pasti akan terjadi. Aku sudah menebak ini kan sebelumnya. Dalam waktu singkat aku merasa semua orang terlihat menyebalkan. Ntah kenapa mataku perlahan memanas. Apa aku ingin menangis??
“tok..tok..”
Pintu kamarku diketuk. Tanpa perlu bertanya pun aku sudah tau kalau itu pasti Key. Kupasangkan earphone ditelingaku setelah menyambungkannya ke handphoneku terlebih dahulu. Kunyalakan musik dengan volume yang luar biasa keras. Kucoba untuk menikmatinya agar aku tidak mendengar apapun dari Key. Tidak sampai begitu lama telingaku sudah terasa sakit, bahkan rasa sakitnya sampai ke kepalaku dikarenakan volume musik yang terlalu keras. Segera kulepaskan earpnone itu dari telingaku karena tidak tahan. Seketika itu pula aku mendengar suara Key memanggilku. Aku langsung menutup telingaku dengan bantal untuk menghindari suara Key yang selalu sukses tertangkap pendengaranku. Kurasakan air mataku perlahan mengalir dari sudut mataku.
“Tam... buka dong..”
Suaranya yang lembut membuat tangisku hampir pecah. Hatiku terasa sesak karena rasa marah bercampur tak tega yang seolah tengah bersaing didalam dadaku. Rasa marah yang membuatku ingin segera keluar dan mencabik-cabik wajah Key karena sudah memilih menuruti keinginan Mama dan Papa dibandingkan aku. Namun ada rasa tidak tega yang muncul ketika aku mendengar suaranya, suara yang biasanya menghiburku dan menenangkan perasaanku setiap kali aku ada masalah dengan Mama dan Papa. Membuatku merasa tingkahku ini terlalu berlebihan mengabaikannya, dan bahkan terlalu kekanak-kanakan kurasa.
“Tam, buka dulu pintunya. Biar aku bisa ngomong.”
“Ngomong aja Key!! Kayak gini juga aku bisa denger.”
Bentakku akhirnya. Suaraku bergetar karena menahan emosi.
“Tam jangan kayak gitu dong..”
ujar Key sambil terus mengetuk pintu. Kali ini aku hanya diam tidak memberi respon apapun. Kucoba untuk kembali mengabaikan Key yang kembali sibuk memanggil-manggil namaku. Hanya selang beberapa detik kemudian, aku merutuk kesal. Karena pada akhirnya aku tidak sanggup bertahan dan memilih untuk menyerah duluan.
Sambil menghentakkan kaki dengan kasar, aku melangkah mendekati pintu dan membukanya. Mataku langsung bertemu dengan sosok Key yang tengah berdiri didepan pintu. Ia langsung menunjukkan senyum termanis miliknya padaku tanpa memperdulikan tatapan membunuhku padanya.
“Kita bicara di balkon ya...” ujarnya langsung. Dan aku menurut.
*****
Aku duduk di sofa tepat disebelah Key sambil melipat kedua tanganku di dada. Angin sepoi bertiup membelai wajah dan hatiku yang terasa masih memanas. Tiupannya yang lembut seolah berusaha memberiku ketenangan sebelum meledak kalau-kalau Key menggunakan kata yang salah untuk memulai pembicaraan.
“Tam ikutan marah sama aku pasti karna tadi nguping pembicaraan aku sama Om, kan?!
Aku hanya diam. Key tersenyum melihat respon cuekku. Kurasa dia memang tidak membutuhkan jawaban dariku. Dia sudah tau kebiasaanku yang tetap suka menguping pembicaraan meski dalam keadaan marah sekalipun.
“Sebenarnya tujuan Om sama Tante itu baik. Mereka pengen Tam lebih memahami ilmu agama buat persiapan masa depan Tam.” Bujuk Key akhirnya. Tangannya mengambil gitar yang tersender diatas sofa disebelahnya lalu meletakkannya diatas pangkuannya.
“Pesantren kan kuno sih Key..”
Aku mulai membuka suara tak tahan menahan ribuan kata yang sudah saling berdesak-desakan karena terlalu banyak menumpuk dalam dadaku meminta untuk segera dikeluarkan.
“Siapa bilang kuno? Tam tau darimana coba?” Key melirikku tidak suka dengan kata-kataku.
“Banyak teman yang bilang.”
“Gosip kok didengerin Tam. Mereka cuman ngomong tapi gak ngerasain langsung.”
“Key kok malah jadi berpihak ke Mama Papa sih.. kemaren katanya udah sepakat bakal masuk ke sekolah sama.”
Selaku dengan perasaan jengkel luar biasa. Bibirku bergetar menahan tangisku. Mataku menatap Key tanpa berkedip sedikit pun. Hatiku sakit karena tidak ada seorang pun yang berpihak padaku.
“Bukannya gitu Tam. Tapi orangtua kita itu lebih tau gimana baiknya buat kedepannya dibanding kita. Pengalaman mereka lebih banyak.”
Aku mendengus kesal. Apa yang dikatakan Key memang benar. Dan aku kehabisan kata untuk melawan. Yah.. memang inilah aku. Anak yang terbiasa menuruti kata orangtua. Hanya diam saja meski diriku seolah diperlakukan seperti boneka oleh orangtuaku. Aku hanya baru berani melawan mereka saat ini. Itu juga tidak menuai keberhasilan sedikit pun, meski sudah menyiksa diri sendiri dengan mencoba nekat untuk mogok makan.
“Aku juga pernah ngerasain hal yang sama sama Tam.”
Ujar Key memancingku untuk mengalihkan pikiran sedihku. Tangannya kembali sibuk dengan gitar dipangkuannya. Perlahan jemarinya bergerak memetik senar gitar yang kemudian menghasilkan suara yang lembut.
“Bahkan aku ngalamin itu pas aku masih kecil banget, dan terlalu polos buat ngerti semuanya.” Lanjut Key tanpa menghentikan gerakan petikan gitarnya.
“Dipaksa buat ini itu.. tanpa peduli aku setuju ato enggak.”
Key bercerita sepotong-sepotong dengan jeda yang panjang, membuatku merasa tidak sabaran dan tanpa sadar sudah terpancing oleh cerita Key. Aku ingin memintanya bercerita dengan baik tanpa jeda seperti ini, tapi bibirku tertahan ketika melihat ekspresinya. Matanya menerawang seolah mengingat kembali masa pahitnya itu. Dia memang tersenyum, tapi senyumnya itu tidak lebih dari senyum pahit sisa-sisa penderitaannya dahulu.
Wajah Key yang tak biasanya seperti itu membuatku luluh dan merasa iba. Key yang biasanya selalu semangat disetiap hari-harinya. Mata sipitnya yang selalu memancarkan kebahagiaan, tidak pernah sekalipun menunjukkan padaku bahwa ia memiliki masa lalu yang rumit. Dia begitu pandai menahan dirinya untuk tidak bercerita padaku. Berbeda denganku yang selalu ingin bercerita tentang segalanya padanya. Dan dia selalu bersedia mendengarkanku tanpa membuatku pernah berpikir bahwa dia juga menyimpan luka dan ingin ditanya dan didengarkan.
“Aku juga berusaha menolak. Berontak ke semua orang sampai menangis seperti yang Tam lakuin, dan bahkan kabur dari rumah.”
Key menghentikan petikan gitarnya dan mengalihkan pandangannya padaku, lalu tersenyum lembut. Aku ingin bertanya tentang apa yang membuatnya berontak. Tapi baru saja aku membuka bibir untuk bicara, Key sudah menggeleng-gelengkan kepalanya seperti bisa membaca rasa penasaranku.
“Tam belum boleh tau masalah ini.”
“Belum?”
Key menganggukkan kepalanya membuatku langsung mendengus kesal. Key malah tertawa melihatku.
“Yang penting, Tam nurut sama Om sama Tante dulu ya..”
Kupalingkan wajahku dari Key sambil mengerutkan kening tidak suka.
“Mungkin awalnya cuman paksaan, tapi nanti kalo Tam udah tau maksud Om sama Tante, Tam pasti bakal bersyukur udah nurut.”
Kuanggukkan kepalaku terpaksa. Tanpa kusadari anggukan itu adalah sinyal pertama yang memulai perubahan dalam hidupku, dan awal dari penderitaan yang menyelimutiku dengan kebodohan, sehingga aku bisa menerimanya dengan tenang. Seolah mengizinkannya mengancurkanku dan hidupku.