ViRus

ViRus
Petunjuk Ayas



Aku memasuki swalayan. Akhirnya, aku bisa ke pasar setelah beberapa minggu lalu tidak diberi izin sama sekali. Yah, Ustazah melakukan itu karena beliau tau kondisiku yang sedang tidak baik. Dia khawatir aku terlalu frustasi lalu nekat melakukan hal yang tidak baik. Kabur misalnya. Yah, itu tidak bisa disalahkan juga sih.


Hari ini, aku memilih membeli semua kebutuhanku di swalayan saja agar proses belanja tidak menghabiskan terlalu banyak waktu karena selalu repot mengelilingi pasar yang luas.


Aku memasukkan keperluan mandi, skincare, dan berbagai macam snack dan coklat ke dalam keranjang belanjaanku. Aku juga ingin membeli toples-toples kecil mengingat snack yang kubeli saat ini cukup banyak, toples milikku di asrama sepertinya tidak akan cukup menyimpan semuanya.


Saat sibuk memilih-milih toples kecil, tanpa sengaja aku melihat Ayas. Ini kali pertama aku melihatnya setelah kejadian di restauran itu.


“Tam..”


Sapanya ramah. Aku hanya tersenyum. Mungkin kejadian waktu itu membuatnya begitu mengingatku. Aku jadi malu sendiri. Aku tidak ingin terlalu ramah dengannya, dan memang itu bukan sifatku. Lagian dia masih orang baru, hanya teman numpang lewat bagiku.


Tapi ia seperti berusaha mengobrol denganku, karena setelah aku selesai belanja dan membayar semua barang belanjaanku di kasir pun, ternyata ia masih berada diluar swalayan menungguku.


“Aku cuman mau ngasi ini.”


Katanya memberiku sebungkus kecil coklat. Aku hanya memandanginya aneh, tidak langsung menerima pemberiannya itu.


“Oh, sebentar.”


Ujarnya seperti baru mengingat sesuatu. Ia mengeluarkan spidol merah dari dalam sakunya, lalu menulis kata A.s di bungkus coklat itu. Aku reflek membulatkan mataku terkejut mengingat tulisan itu.


“Nih.”


Ia kembali memberiku coklat itu. Aku langsung mengambilnya tapi hanya ingin memastikan tulisannya saja. Dan memang sangat persis dengan coklat kiriman orang tak dikenal waktu itu.


“Coklat bagus buat merilekskan otak.”


Ujarnya tidak menyadari keterkejutanku.


“Jadi kamu yang kemaren ngirimin aku coklat?”


Tanyaku.


“Ha?”


Ia terlihat bingung.


“Tulisannya sama.”


Tambahku memperjelas.


“Ohya?!”


Aku mengangguk.


“Mungkin itu merknya kali. Aku cuman nulis asal.”


Selanya sambil tertawa geli.


Memangnya ada coklat bermerk A.s?? Boneka yang kuterima juga bertuliskan A.s??


Lagian kurasa memang tidak mungkin Ayas yang mengirimnya sedangkan kami baru saja kenal. Aku juga tidak memberitahunya pesantren tempatku bersekolah.


Setelah menerima coklat dari Ayas, aku memutuskan ingin langsung pulang. Meskipun sebenarnya aku masih ingin duduk santai di restauran menikmati segelas coklat hangat. Cuaca hari ini seperti tidak sedang memihakku. Ia terlihat mendung bahkan sesekali terdengar suara gemuruh. Mungkin coklat pemberian Ayas bisa menggantikan coklat hangat kesukaanku itu.


“Mau pulang?”


Tanyanya.


“Iya. Mau ujan nih.”


“Iya sih. Tapi kayaknya ini ujannya udah hampir turun deh. Gak mau nunggu sampe reda aja?”


Ia mengulurkan tangannya merasakan tetesan rintik hujan yang mulai berjatuhan.


“Gak ada yang tau nih ujan redanya jam brapa. Mending aku langsung pulang daripada nanti malah kena hukum karna telat.”


“Firasat aku, ujannya gak bakal lama deh.”


“Aku gak yakin sama kamu.”


CTAR!!!!


“Allahuakbar...”


Suara petir tiba-tiba menyambar. Aku reflek menutup telingaku.


“Tuh kan, kamu bandel sih.”


“Apaan sih.”


Aku meliriknya kesal. Aku tau ia hanya melucu. Mana mungkin aku bisa tertawa sedangkan jantungku baru saja nyaris copot.


“Yakin mau langsung pulang. Petirnya ngeri banget loh.”


Ia kembali menanyaiku mencoba meyakinkan.


“Petir gimana pun tetap ngeri kok.”


“Hmmm, yaudah. Aku pergi duluan ya..”


Ia malah ingin meninggalkanku duluan.


“Kemana aja.”


Jawabnya sambil terus berjalan meninggalkanku.


Sambil mendengus kesal, aku mengurungkan niatku untuk langsung pulang. Kilat dan kata-kata Ayas barusan membuatku jadi berpikiran aneh. Aku takut disambar petir saat ditengah perjalanan pulang.


Aku pun mengikuti Ayas yang berjalan ke arah restauran. Ia berjalan begitu jauh di depanku. Aku kesulitan melangkah dengan cepat karena barang bawaanku yang begitu banyak dan cukup berat. Aku merutuki Ayas yang tidak begitu pengertian sebagai seorang cowok. Dia bahkan tidak menawarkan bantuan membawakan barang belanjaanku.


Benar-benar bukan cowok idaman, pikirku.


Kupikir aku akan menuruti saran Ayas. Karena hujan sudah mulai turun dengan derasnya tanpa memberi jeda sedikit pun. Kilat yang juga menyambar-nyambar di langit, membuatku semakin berharap agar Ayas tidak meninggalkanku. Aku takut hujan dengan petir seperti ini.


Di restauran, aku dan Ayas duduk di kursi yang terletak di tengah restauran. Itu juga karena aku rewel memintanya mengambil tempat duduk yang berjauhan dari jendela restauran yang terbuat dari kaca, dan pasti akan memperlihatkan suasana diluar dengan jelas. Dan hanya kursi di tengah ruangan restauran itulah posisi terjauh yang ia pilih.


Ntah sejak kapan aku bisa seberani ini dengan orang yang baru dua kali kujumpai ini.


“Dia temanmu??”


Tanya Ayas tiba-tiba padaku yang sedang sibuk memilih makanan di buku menu. Ia menunjuk seseorang yang sedang berteduh di luar restauran. Aku menoleh beberapa saat ke orang yang dimaksudnya itu.


Latifah


“Iya.”


Jawabku singkat. Lalu kembali sibuk dengan buku menu di tanganku. Cuaca dingin seperti ini, rasanya lidahku ingjn menikmati santapan hangat dan pedas untuk menghangatkan badan.


“Dia kayak orang suruh-suruhan gitu ya.”


“Maksud kamu apa?”


Aku langsung melirik Ayas tidak suka.


“Kemaren sewaktu kamu dimata-matain, sebelum aku duduk didekat kamu, aku ngeliat dia diluar restoran lagi ngomong sama cowok, dia disuruh buat ngawasin kamu. Kayaknya hari ini juga sama.”


Taqin


Ternyata dugaanku benar, pikirku.


“Kayaknya kamu tau banyak ya. Aku jadi curiga kalo kamu juga mata-mata.”


Jawabku datar. Meski hatiku benar menyimpan rasa curiga.


“Gak lah.. Aku cuman selalu ingat hal yang membuat aku tertarik. Maaf ya, kalo kamu gak nyaman.”


“Yah. Mending kamu gak usah ikut campur.”


“Bukannya aku mau ikut campur. Aku cuman mau ngasi saran aja, jangan terlalu percaya sama semua orang.”


“Ya, termasuk kamu.”


“Hhhh, aku belum selesai ngomong.”


Ia mulai kesal.


“Hmm, jangan tersinggung dulu ya..”


Aku hanya mengangguk menanggapinya tanpa menoleh kepadanya.


“Kayaknya kamu deket sama orang-orang yang mencurigakan ya..”


“Kamu gak perlu sok tau deh..”


Tegurku mulai kesal. Sebagai seorang netizen dia terlalu sok tau. Aku tidak menyangka jiwa penggosipnya sekental ini.


“Tuh kan, kamu tersinggung.”


Ia menggaruk-garuk kepala tidak nyaman denganku yang sudah menatapnya lekat-lekat.


“Aku lebih curiga sama kamu.”


“Hmm, gak papa sih. Karna memang kita gak kenal baik. Itu.. wajar aja.”


Ia tetap tersenyum tulus menanggapiku.


“Sebaiknya jangan terlalu percaya sama semua orang, bahkan walaupun itu orang terdekat kamu sekalipun. Ada baiknya sesekali menaruh curiga agar hidup kita gak selalu berada diposisi korban penipuan.”


Ia kembali menjelaskan panjang lebar mengabaikan rasa kesalku. Tubuhku bergetar mendengar semua kata-katanya yang seluruhnya mengena sempurna ke hatiku. Seolah ia tau dan sangat mengerti apa yang sedang kualami dan kukhawatirkan.


“Karna bahkan orangtua kita sekalipun juga sering berbohong baik itu demi kebaikan kita ato kebaikan mereka sendiri.”


Deg


Mataku memanas. Rasa takut kembali menyelimutiku. Ayas yang melihat perubahan ekspresiku hanya menatapku kasihan. Dan kami menikmati makanan pesanan kami dalam diam. Tidak berkata sepatah kata pun.


Saat makanan kami habis, hujan pun sudah mulai reda. Persis seperti yang dikatakan Ayas. Hujannya tidak akan lama.


Setelah membayar makanan, aku bersiap-siap beranjak dari restauran itu. Aku harus cepat pulang sebelum masuk waktu Zuhur. Ayas sempat menahanku sebentar.


“Kalo butuh teman cerita, aku siap kok buat dengerin cerita kamu.”


Ujarnya. Aku hanya mengangguk dan berterima kasih karena ia begitu perhatian. Tapi aku belum mengenalnya dengan baik. Dia belum jadi siapa-siapa. Tidak ada yang tau apakah dia benar-benar tulus atau tidak. Atau bahkan dia lebih buruk dari orang munafik yang kukenal.