ViRus

ViRus
Pengakuan



Di sepanjang perjalanan pulang kami hanya saling diam. Aku sendiri tengah sibuk dengan satu hal dalam pikiranku. Aku takut untuk pulang. Aku khawatir Key akan mengatakan sesuatu yang bukan-bukan mengenai aku dan Taqin pada Mama. Dan itu akan menyebabkan Mama kembali tidak mengizinkanku kembali ke asrama. Padahal baru tadi aku berhasil mendapat izinnya sebelum pergi jalan dengan Key. Dan sekarang aku malah ceroboh sampai ketahuan menemui Taqin tadi.


Tepat jam 10 kurang seperempat, kami sudah sampai di rumah. Mama dan Papa sudah tidur rupanya. Kuambil kesempatan ini untuk mengobrol sebentar dengan Key sebelum membiarkannya pulang. Tapi aku merasa takut padanya karena sejak tadi dia hanya mendiamkanku.


“Key..”


“Hmmm??”


“Ehhh.. antum jangan bilang-bilang ke Mama yah..”


Kuberanikan diri untuk bicara duluan.


“Soal apa Tam?”


“Yang tadi. Ana... sama Taqin.” Ujarku gugup.


“Aku gak bakal ngomong.. kalo Tam juga gak dekat-dekat sama dia.”


“Kenapa?”


Aku bertanya dengan wajah tidak suka. Key terlalu posesif membatasi gerak gerikku. Padahal aku hanya dekat sama satu orang laki-laki, cuman Taqin.


“Kenapa? Tam nanya kenapa? Yah.. jelas karna aku gak mau kehilangan Tam dong. Lagian Tam harus tau, dia itu bukan laki-laki baik. Munafik. Tam udah ditipu sama dia. Kalo masalah dia banyak yang suka yah... wajar dong. Orang munafik kan pinter cari muka.”


Lagi-lagi dia menjelek-jelekkan Taqin, aku jengah.


“Antum jangan sembarangan ngomong Key.”


“Tam bisa nanya langsung ke Aila.”


Ujar Key serius membuatku langsung terdiam. Key kemudian berlalu dari hadapanku setelah meminta izin pulang. Ia masuk ke dalam mobilnya dan membawanya meluncur keluar dari pekarangan rumahku. Aku hanya memandanginya yang mulai menjauh dan menghilang dibalik tekongan jalan.


Tiba-tiba saja aku teringat kotak pemberian Taqin. Aku segera beranjak masuk ke rumah dan langsung masuk ke kamar. Kukunci pintu kamarku cepat-cepat. Kuambil kotak hitam bermotif garis-garis biru pemberian Taqin itu dari tasku. Aku merasa kami seperti menyukai warna yang sama, hitam dan biru. Kupandangi kotak itu lama-lama merasa bingung harus bahagia atau was-was. Aku tidak tau apa yang dikatakan Key itu benar atau tidak, kurasa sepertinya aku hanya perlu memastikannya saat kembali nanti ke asrama, jika diizinkan. Sekarang waktunya untuk membuka kotak pemberian Taqin dan melupakan hal itu dulu.


Aku seketika tercengang melihat isi kotak itu. Ternyata di dalamnya jilbab berwarna biru yang tidak jadi kubeli waktu aku ke pasar bersama Latifah dan Ai beberapa hari sebelum aku dipaksa pulang. Aku heran kenapa Taqin bisa mengetahui jilbab ini. Atau mungkin ini hanya kebetulan. Kupegang jilbab itu dan menciumnya. Terasa harum dihidungku. Kurasa Mada sudah mencucinya sebelum dibungkus dan diberikan padaku.


Kuambil handphoneku dari dalam tasku. Segera kuketik pesan untuk Taqin yang berisi ucapan terimakasih atas pemberiannya ini. Juga ucapan permintaan maaf karena tingkah Key tadi. Aku memang tidak mengerti masalah mereka, tapi jika bukan karena aku Taqin pasti tidak akan disindir oleh Key seperti itu. Tidak sampai 2 menit setelah aku mengirim chattku, aku menerima balasan dari Taqin dengan pesan suara.


Taqin:


Sama-sama. Gak papa kok. Kita memang sebelumnya ada masalah. Saran ana sama anti, jangan dekat banget sama Ai yah.. teman anti yang tadi anti ceritain. Karna dia itu suka bohong, kita gak tau kapan dia jujur. Bukannya ana ngejelekin. Tapi ana jauh lebih kenal dia daripada anti. Ana tau Key bisa jadi posesif gitu sama anti karna dia udah dipengaruhi sama Ai...


Mataku terbelalak. Taqin mengatai Key posesif, berarti memang sudah tau hubunganku dengan Key. Kupukul keningku kesal. Tentu saja sudah, Key pasti sudah bercerita dengannya kan?! Mereka kan teman. Tapi kenapa Ai melakukan itu?? Merusak hubungan Key dan Taqin melalui aku. Kurasa tidak ada gunanya untuknya sama sekali. Kalau memang dia memiliki perasaan lebih untuk Taqin, dia pasti tidak akan menuduhku mempunyai perasaan pada Taqin dan malah membantu kami untuk dekat. Sementara disisi lain ia mempengaruhi Key dan membuat Key memintaku malah menjauhi Taqin.


Atau mungkin dia yang suka sama Key dan sengaja buat Key salah paham sama aku buat ngjauhin kami?


*****


Kata-kata Key dan Taqin waktu itu terus membayang di kepalaku. Bahkan sampai saat ini setelah aku mendapat izin dari Mama dan Papa, dan kembali ke Pesantren. Aku ingin menanyai Ai tapi entah kenapa batang hidungnya tidak pernah terlihat sejak aku kembali. Biasanya ia selalu datang untuk menggangguku. Atau mungkin Taqin memberitahu mereka kalau aku dipaksa pulang kemarin saat di Pasar. Tapi jika iya, Latifah pasti menanyaiku kan?! Tapi Latifah sama sekali tidak mengungkit masalah itu secuil pun. Malah ia sibuk mengajakku makan bersama menghabiskan kue lebarannya. Terlihat tidak ada masalah sedikit pun.


“Fah..”


Panggilku pada Latifah yang sedang asyik makan Kue Pacet milikku yang sudah iya taruh di piring khusus untuknya.


“Ya?”


“Anti sama Ai ada nutupin sesuatu dari ana yah?”


“Enggak kok. Kita cuman ngerasa aneh anti pergi gitu aja sama orangtua anti ninggalin kita pas lagi di Pasar kemarin, anti marah ya?”


Tanya Latifah sambil memasukkan beberapa potong kue ke dalam mulutnya. Ia benar-benar tidak bisa berhenti makan sejak satu jam yang lalu. Aku sendiri tidak tau sudah berapa kali ia mengisi ulang Kue Pacet dari toples milikku ke piring tempatnya makan saat ini. Aku memang tidak keberatan, karena aku juga membawa setoples besar kue itu dan kue yang lain, khusus untuknya dan Ai juga. Tidak masalah jika mereka menghabiskannya semua, karena aku juga sudah memakannya terlalu banyak kemarin saat masih di rumah.


“Enggak kok. Emang Taqin gak ada ngasi tau?” Tanyaku curiga pada Taqin.


“Ada. Bisa aja kan Taqin ngebaik-baikin anti di depan kita, nutupin alasan anti sebenarnya lagi ngambek. Pake gak balik ke asrama segala lagi.”


“Ana gak ngambek kok. Ana cuman..”


“Cuman??”


“Mmm.. ada masalah keluarga.”


“Oooh.. iya deh. Trus sekarang? udah beres masalahnya?”


“Udah kok. Alhamdulillah.”


“Alhamdulillah..”


Diam-diam aku menghela nafas sedih, karena dibalik keputusan Mama mengizinkanku kembali ke Pesantren tersembunyi begitu banyak syarat. Dan salah satunya adalah mengenai Taqin. Aku tidak boleh terlalu dekat dengannya, sekalipun dia adalah guru tahfizku. Bahkan aku dipaksa berhenti mengikuti kegiatan Tahfiz.


Itu adalah perintah yang berat bagiku. Dan aku sendiri tidak tau apa yang membuatnya terasa begitu berat. Tidak banyak kejadian yang kami alami bersama. Hanya saja sejak aku mengenalnya bersama Mada, aku merasa seolah dia adalah salah seorang yang sangat dekat denganku, meski kami tidak begitu sering bertemu. Ia seperti sudah begitu memahamiku sehingga begitu mudah membuatku menurut saat ia menasehatiku kemarin. Padahal aku adalah orang yang keras kepala dan jarang mau menerima nasehat orang lain. Tapi dia berbeda. Dia bertingkah seolah...


Dia memahami setiap sisi diriku


Kugelengkan kepalaku tegas menghapus lamunan gila itu. Aku tidak boleh bawa perasaan pada Taqin lagi, mulai sekarang dan seterusnya. Ini demi kebaikanku juga, agar kelak aku tidak patah hati karenanya. Aku harus tetap fokus pada tujuan utamaku berada di Pesantren ini. Anggap saja tingkah Taqin saat menasehatiku waktu itu merupakan kemahirannya mengambil hati orang-orang sekitarnya.


“Anti kenapa sih? Geleng-geleng gak jelas. Pasti mikirin Taqin nih..” Ujar Latifah sambil menatapku penuh selidik.


“Gak kok. Gak banget.”


“Gak papa loh.. jujur aja kali sama ana. Emang gak berjalan lancar ya??”


“Ngomong apaan sih? Gak ada hubungannya kali.” Ujarku dengan suara meninggi karena kesal. Latifah pun ikutan kesal dan memalingkan wajah dariku.


“Ish..”


Geramnya sambil melanjutkan makannya.


“Ngomong-ngomong... kok Ai gak pernah kelihatan ya? Apa dia belum balik?” Tanyaku.


“Udah balik, tapi dianya gak pernah nongol. Gak berani mungkin." Jelas Latifah.


"Kenapa??"


Tanyaku dan langsung disambut wajah murung Latifah, tapi lebih terkesan kesal dan sedih. Perlahan dia mendekatkan wajahnya padaku, lalu berbisik.


"Cuman dengar cerita kamar sebelah yang dulu deket sama Ai. Katanya Ai bawa handphone.”


“Eh.. serius??”


Mataku terbelalak.


“Serius, tapi belum ada bukti kok.”


“Sekarang bawanya?”


Tanyaku berusaha memperjelas.


“Bukan.. kemarin..sebelum libur Idul Adha. Ada yang dengar suara getar-getar katanya pas kita baru balik dari Pasar. Tapi yang dengar cuman satu orang, jadi gak bisa dijadiin bukti.”


Aku terdiam. Ternyata Ai memang memata-mataiku atas perintah Key. Key sendiri mengakuinya kemarin. Aku juga tidak pernah mendengar ada orang lain yang bernama Aila selain Ai temanku di Pesantren ini. Tapi kenapa ia melakukan ini padaku dan Key? Kenapa ia bertingkah seolah menjadi teman baik, tapi nyatanya ia menusuk kami dari belakang? Kalau memang dia menyukai Key, dia seharusnya mengatakannya baik-baik padaku. Aku tau yang ada dipikirannya mengenai hubunganku dan Key, baginya kami memang sedang berpacaran. Tapi apa salahnya ia menanyaiku terlebih dahulu untuk memperjelas semuanya. Aku juga tidak mempermasalahkan jika ia memang menyukai Key. Karena aku juga tidak ingin menyiksa Key dengan ketidakpastian seperti ini.


“Tam!!”


Latifah memanggilku setengah berteriak.


“Ya Allahu robbi… ya Rasulallah.. anti kenapa sih?? Dipanggilin dari tadi. Padahal cuman jarak 2 inci..”


“Iyaya maaf. Ana cuman kepikiran sama yang anti bilang.”


“Yang mana?”


“Ai. Anti bilang dia dituduh bawa handphone.”


“Trus, anti ikutan curiga? Ya Allah.. Tam, dia itu temen kita.”


“Iya.. ana tau. Coba dengerin ana dulu!!”


Aku menceritakan semua yang dikatakan Mada dan Taqin. Dan semua yang terjadi padaku kemarin saat tiba-tiba pulang ke rumah. Juga pengakuan Key malam kemarin itu. Latifah langsung terbelalak dengan mulut ternganga mendengar semua ceritaku. Aku tau yang membuatnya langsung percaya sudah pasti Taqin.


“Tapi.. Ai kayaknya baik kok.”


“Emang kenapa kalo misalnya ana gak baik?”


Suara itu seketika membuat kami serentak menoleh kearah pintu dimana suara itu berasal. Ternyata orang yang sedang kami bicarakan sudah berdiri disana. Ia sedang menatap kami serius. Entah sejak kapan dia berada disana. Aku khawatir dia mendengar semua ceritaku.


Ai melangkah masuk tanpa melepaskan tatapannya dari kami. Dan itu berhasil membuatku khawatir. Sangat khawatir. Jika memang dia mendengar semua yang kukatakan, mungkin ia akan mengataiku teman penggosip yang hanya berani mengatainya dari belakang.


“Anti kenapa sih?”


Tanya Ai tegas menatapku membuatku sadar kalau ia memang mendengar pembicaraan kami.


“Afwan... tapi..”


“Udah.. gak perlu dijelasin. Ana udah tau semuanya. Taqin juga yang ngasi tau. Iya kan, Fah!!”


“Hah?”


Latifah memandang Ai tidak mengerti tapi sempat membuatku memandangnya curiga kalau-kalau ia menyembunyikan sesuatu dariku.


“Taqin bilang apa?”


“Anti balik sama ortu anti karna anti marah sama kita kan? Sampe Taqin musti bohong juga sama kita. Kita buat kayak gitu juga kan demi masa depan anti sama Taqin bla..bla..bla...”


Ai mengomel panjang lebar tak tentu arah, mengungkit semua masalah ketika kami berada di Pasar kemarin. Ternyata dugaanku salah. Ia belum sempat mendengar apa yang kukatakan pada Latifah sebelum ia datang kemari. Jadi dia tidak tau apapun.


“Duh... Ai, Tam itu bukannya marah, tapi lagi ada masalah keluarga. Makanya dia kemarin langsung dibawa pulang sama orangtuanya.”


“Eh? Serius?”


Aku menganggukkan kepalaku sambil menunjukkan ekspresi sedihku. Tapi pikiranku terus berputar menyimpan semua ekspresi Ai saat ini. Aku tidak tau apakah itu memang ekspresinya yang sebenarnya, atau itu hanya sekedar topeng tipuan agar ia tetap bisa bergaul denganku dan Latifah. Latifah juga meladeninya tanpa merubah sikap dan gerak geriknya meski sudah kuberitahu tadi. Aku berniat akan menyelidikinya mulai sekarang. Sebelum ia membuat cerita omong kosong baru lagi untuk Key. Dan aku akan memberitahu Key tentang ini setelah memastikan semuanya. Jika memang benar Ai adalah teman pengkhianat diantara kami.


****


Hari ini adalah hari Jum’at. Aku dan Latifah berencana akan mengintrogasi Ai, tidak hanya untuk memastikan dia bawa handphone atau tidak. Tapi juga membuktikan jika dia memang benar sedang memata-mataiku untuk Key. Aksi ini hanya dilakukan olehku dan Latifah tanpa sepengetahuan Kakak Pengurus. Karena jika pengurus lebih dulu tahu, hanpdhone Ai bisa-bisa kena pecahkan. Memang, menurutku itu tidak masalah untuk seorang penguntit. Tapi dia ini teman kami, jadi sisi kejamku memaksa diri untuk mengalah.


“Anti jangan bilang ke siapa-siapa ya..”


Ujar Ai mulai buka mulut ketika kami tanyai. Ternyata membongkar keburukannya tidak sesulit yang kuduga. Kami hanya perlu menuruti kemauannya untuk menanyainya di tempat sepi. Tanpa dibilang pun kami sudah tau.


“Semua yang dibilang sama Key itu salah. Taqin gak jahat, tapi Key cuman gak mau kehilangan anti. Key nyuruh ana buat ngawasi anti dan ngasi tau semua yang anti lakuin sama siapa pun. Key udah ngasi ana handphone buat ngabarin dia.” Jelas Ai.


“Beneran??”


Latifah terlalu syok hingga ia bicara terlalu keras.


“Ssshhh.. iya.”


Ujarku kesal dan Ai bersamaan. Aku tidak begitu terkejut karena memang sudah tahu. Latifah saja yang terlalu lebay padahal ia bahkan sudah tahu duluan dariku.


“Trus??” Tanyaku tak sabar dengan jeda yang terlalu lama.


“Afwan... Ana sengaja melebih-lebihkan hubungan anti sama Taqin karna... ana suka sama Key. Makanya ana.. nyeritain semuanya supaya Key berhenti ngedekatin anti. Lagian anti juga gak ada rasa kan sama dia, mau sampai kapan anti ngasi harapan gak jelas kayak gini sama dia.” Ai memarahiku seolah mencoba membela dirinya yang jelas bersalah.


“Astaghfirullah... Ai!! Anti gak musti kayak gitu juga kali. Kita gak tau hubungan Tam sama Key seserius apa. Kalo anti cinta ya sabar dulu, nanti pasti ada jalannya. Jangan buru-buru kayak gini. Kan Tam juga jadi yang kena imbasnya. Anti tau kan, Tam kmaren nyaris gak bisa balik ke asrama gara-gara ulah anti.”


Sela Latifah mewakiliku yang masih terdiam.


“Iyaiya ana tau..”


“Ya, anti tau, tapi anti egois. Gak mikirin perasaan Tam sama Taqin.” Potong Latifah. Ai tidak memberi respon apapun lagi.


“Jahat banget sih anti. Ngadu domba sahabat sendiri.”


Ujar Latifah lagi. Aku senang dia bicara seperti itu. Aku sendiri memang selalu kesulitan melawan di saat seperti ini. Padahal sebelumnya aku tidak pernah suka dia mewakilkanku bicara.


“Udah... udah, jangan berantem. Hhh, Ana kecewa banget sama anti.” Aku mulai buka suara.


“Maaf Tam. Ana cuman gak bisa ngendaliin perasaan ana.”


“Sejak kapan anti suka sama Key?? baru berapa kali ketemu juga.” Tanyaku merasa aneh.


“Tau ah. Main suka-suka aja. Cepet banget.” Latifah ikut-ikutan meledek.


“Sebelum ketemu Taqin, ana udah ketemu Key. Dia pernah dua kali nolongin ibu. Ana jadi penasaran sama Key.”


“Jadi anti nyari tau tentang Key??” Tanya Latifah masih dengan tatapan tidak suka dan langsung disambut dengan anggukan Ai.


“Tapi ana malah salah orang. Malah ketemu trus akrab sama Taqin. Namanya juga sama, tapi dia ngaku biasa dipanggil Taqin.” Jelas Ai lagi. Mengingatkanku dengan kata-kata Key malam kemarin. Berarti Taqin memang nama pengganti.


“Nama Taqin siapa?” Tanya Latifah memastikan. Dasar lola, pikirku.


“Key juga. Kan ana udah pernah bilang pas Mada mau berhenti sekolah. Masa gak ingat..”


Ai mengatakan itu padaku. Aku hanya diam. Aku memang pelupa. Tapi ketika ingat, aku juga memikirkannya.


“Kenapa Taqin ganti nama?? Eh, Key-Mada maksudnya..”


“Gak tau.”


Mungkin Taqin memang ada masalah yang pasti berhubungan dengan Key. Tapi, masalah dia berganti nama atau tidak, dia tetap baik kan? Mungkin masalah masa lalu. Dan tidak ada hubungannya dengan masalah yang kualami sekarang. Ai pasti hanya berusaha mengalihkan pembicaraan kami.


Licik.


Kata itu yang ada di pikiranku saat melihat wajahnya sekarang. Mungkin ini juga yang dimaksud Taqin. Berhati-hati dengan sahabat sekalipun.


“Ana mau anti balikin handphone Key. Jangan sampe ketahuan duluan sama Pengurus.” Ujarku langsung kembali ke poin pembicaraan seharusnya.


“Gak... kalo itu ana gak bisa Tam. Key udah bayar ana buat mata-matain anti. Ana lagi butuh uang buat biaya perobatan Mama ana.” Ai langsung memegang tanganku memohon, kupalingkan wajahku agar hatiku tidak tersentuh. Mungkin ada baiknya sesekali mengeraskan hati, apalagi saat sedang berhadapan dengan orang munafik seperti Ai.


“Anti bisa pakek uang ana. Gak perlu diganti. Asalkan anti balikin handphone Key.”


Ai hanya diam, tidak meresponku sama sekali. Aku semakin tidak sabaran menghadapi orang sepertinya. Aku langsung beranjak ingin meninggalkan mereka.


“Kalo anti gak mau juga gak papa. Ana bakal laporin anti sama pengurus.”


Ujarku dan langsung pergi, mengabaikan panggilan Ai dan Latifah.