ViRus

ViRus
Perasaan Taqin



Aku dan Latifah sudah berada di Pesantren saat hari sudah mendekati waktu Zuhur. Kami lebih dulu ke asrama untuk merapikan semua belanjaan kami, baru kemudian ke rumah Ustadz Hafiz untuk megantar pesanan. Tapi aku terpaksa pergi mengantarkannya sendiri karena Latifah mendadak sakit perut dan langsung kabur ke kamar mandi. Aku tidak akan menunggunya, khawatir ikan dan ayam yang sudah dibeli akan membusuk jika tidak segera dicuci dan dimasukkan ke dalam freezer.


Ketika aku sudah begitu dekat dengan rumah Ustadz Hafiz, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan Taqin dan ustaz Hafiz.


“Ana... minta maaf pak soal tadi. Sebenarnya sebelumnya ana juga udah berusaha, Pak. Tapi ngedapatin restu orangtua Tam gak semudah yang ana bayangin. Gak ada bedanya sama yang tadi. Kemaren ana juga ditolak mentah-mentah. Awalnya mereka bilang ana bocah gak serius. Trus tadi pas ana bawa Bapak sebagai orangtua ana, mereka malah bilang kalo Tam udah dijodohin. Cuman jarak sehari, Pak. Emang mereka dari awal udah gak mau nerima ana.”


Ternyata Taqin sudah menemui orangtuaku. 


Jantungku berdegup tak karuan.


Restu?


Taqin ingin menikahiku?


Dia tidak punya orangtua, dan wajar saja dia meminta Ustadz Hafiz sebagai pengganti. Aku langsung bergerak bersembunyi agar tidak sampai ketahuan Taqin. Aku ingin mendengar kata-kata selanjutnya.


“Yah, kalo emang udah dijodohin... mau gimana lagi.” Ujar ustadz Hafiz, lalu malah menawarkan untuk mengikhlaskanku dan meminta Taqin mencoba melirik Latifah saja.


“Latifah juga baik.”


Ujar ustadz di akhir katanya yang langsung ditolak Taqin dengan gelengan tegas.


“Tapi ana yakin kalo Tam gak pernah suka sama Key. Tam sendiri yang cerita ke ana Pak.”


Taqin menyebut nama Key. Yah, siapa lagi yang dijodohkan denganku kalau bukan Key.


“Jadi, kamu mau berusaha lagi??


Tanya ustadz. Taqin menganggukkan kepalanya. Aku bisa melihatnya dengan jelas, walaupun ia membelakangiku. Kuremas ujung jilbabku kuat, aku tidak bisa membaca pikiranku sendiri. Ntah kenapa aku sangat senang dengan keteguhan keinginan Taqin. Aku memang ingin lepas dari Key, tapi apa aku memang sudah menerima Taqin?? sebagai suami, seorang yang akan lebih berhak atasku dibanding orangtuaku?


“Pokoknya jangan lupa doa. Jangan sampai salah langkah……….”


Aku tidak bisa fokus mendengarkan mereka ketika bahuku tiba-tiba disentuh dari belakang. Ternyata ustazah Ammi.


“Eh, Ustazah!! ana... mau ngasi ini titipan tadi.”


Ujarku langsung menyerahkan 2 plastik besar belanjaan titipan serta catatan harga dan kembalian uang. Aku tidak sempat bicara banyak karena terlalu gugup dan langsung memilih pergi dari tempat itu sebelum ketahuan Taqin.


“Ana... ana permisi dulu Ustazah. Assalamu ‘alaikum.”


Pamitku. Aku sempat melirik kearah Taqin yang ternyata sudah berdiri melihatku. Aku langsung buru-buru pergi secepat mungkin. Kecepatan lariku ikut memacu detak jantungku yang sudah tak karuan. Aku sempat mendengar suara Taqin memanggilku, hanya sekali. Itupun tidak membuatku peduli. Dengan nafas terengah, aku langsung masuk ke kamarku dan menutup diri dibalik selimut.


*****


Sejak kejadian waktu itu, selama seminggu kedepan aku tidak bertemu Taqin. Bukan dia yang  menghilang, tapi aku sendiri yang menghindarinya. Aku sempat dipanggil berkali-kali oleh orang yang berbeda untuk menemui Ustaz Hafiz di rumah ketika kegiatan tahfiz hari itu selesai. Aku tau, itu pasti atas perintah dari Taqin. Sebenarnya bukan karena membencinya atau apapun. Aku hanya merasa gugup, tidak berani bersikap seperti biasa lagi dihadapannya. Aku tidak tau ternyata selama ini dia memang berniat serius denganku. Sebenarnya bukan karena tidak tau, lebih jelasnya aku tidak mau tau, takut baperan dan ujungnya dikecewakan. Mungkin bukan Taqin yang mengecewakanku, tapi keputusan orangtuaku yang mungkin menghancurkan hubunganku dengan lelaki manapun selain Key.


Sampai akhirnya tidak ada seorang pun yang datang lagi untuk memanggilku. Terakhir hanya Latifah yang datang membawa makanan ‘titipan’ kata Ustaz Hafiz. Dia mengatakan itu dengan wajah bingung. Aku tau, mungkin ia mengira itu dari orangtuaku atau Key. Dan tidak biasanya mereka menitipkannya pada Ustaz Hafiz. Meskipun begitu, aku tetap tidak berusaha menjelaskannya. Aku hanya langsung mengambil makanan titipan itu, lalu pelan-pelan memakannya sambil senyum-senyum sendiri.


Pasti Taqin udah susah payah masakin ini buat ana.


Tanpa kusadari, Pipiku merona membayangkan Taqin. Dadaku terasa hangat. Entah sejak kapan aku merasakan ini. Aku menghabiskan makanan itu sambil senyum-senyum sendiri, mengabaikan Latifah yang sedang memandangiku aneh. Aku bahkan tidak menawarinya untuk makan bersama, sampai makanan itu habis tak tersisa.


Setelah makanan habis, aku lalu beralih mencari sesuatu dalam lemari. Sweater yang kubelikan untuk Taqin minggu lalu. Aku bahkan belum memberikannya padanya. Belum kubungkus juga. Aku berencana akan memberikannya Jum’at depan saja. Aku akan minta izin ke Pasar dan menemuinya disana. Aku tidak ingin memberinya di lokasi Pesantren. Kurasa tidak aman pikirku.


Tapi seiring berjalannya waktu, aku tetap semakin gugup setiap kali aku akan pergi ke rumah Ustazah untuk izin ke pasar. Ujung-ujungnya aku balik menunda ke Jum’at depan. Begitu sampai 2 minggu lamanya. Hingga Latifah ikut marah karena tidak sabaran denganku.


“Sweaternya bisa basi tau nggak kalo ditahan-tahan terus.”


Begitulah katanya. Yah, ini karena aku sudah tau perasaan Taqin.


Karena tidak ingin membiarkanku berlama-lama, Latifah langsung turun tangan membantuku. Aku berkali-kali memintanya untuk sabar, tapi ia tidak peduli sama sekali. Ia langsung membawaku menemui Taqin yang sedang berdiri di depan rumah Ustadz Hafiz. Ia sepertinya sedang siap-siap pulang karena kegiatan tahfiz sudah selesai.


Ia berjalan setengah menyeretku dari depan asrama sampai ke depan rumah Ustadz. Taqin yang melihatku dari kejauhan langsung terdiam menghentikan gerakannya yang sedang ingin mengenakan helm. Latifah menghentikan langkahnya setelah jarak kami dan Taqin hanya 1 meter saja. aku langsung menunduk tidak berani melihatnya seperti biasa. Taqin pun hanya diam menatap kami bingung tapi samar-samar ia menahan senyum kearahku.


Melihatku yang masih diam, Latifah pun buka mulut hendak bicara dan langsung kutahan dengan tanganku.


“Hmmm!!” matanya langsung melotot padaku dan hanya kuabaikan. Taqin malah tertawa kecil melihat tingkah kami.


“Tam apa kabar? Lama gak keliatan.”


Sapanya memilih memulai pembicaraan.


“Alhamdulillah, baik. Antum sendiri gimana?” jawabku sangat pelan.


“Baik juga, alhamdulillah.”


“Hmm, ana... mau ngasi sesuatu.” Ujarku malu langsung mengutarakan point pembicaraan.


“Ngasi apaan?” tanyanya dengan wajah berbinar, penasaran.


“Tapi, ana gak berani ngasi disini.”


“Trus??”


“Gimana kalo di Pasar aja minggu depan?”


Dia langsung mengerutkan kening menimbang-nimbang saranku. 


“Ana takut, ada yang salah paham.” Jelasku jujur. Sebenarnya bertemu diluar juga akan mencurigakan.Tapi aku sendiri sudah bingung memilih tempat yang aman. 


“Lama banget, ana penasaran loh.”


Ia tertawa geli.


“Kenapa gak besok aja? Besok kan hari Jum’at. Antum sama Latifah bisa minta izin.” Ujarnya berbalik memberi saran padaku. Besok memang hari Jum’at, jadi aku bisa izin ke Pasar seperti yang sudah kurencanakan.


“Hmm, yaudah. Besok juga gak papa.”


“Serius nih besok?” Tanyanya dan aku langsung mengangguk.


“Janji ya! Ana tungguin. Jangan sampe gak datang loh.”


Aku mengangguk, mengiyakan.


“Ana juga mau ngomong sesuatu sama antum.”


Ujarnya membuatku ikut penasaran.


DEG


“Ana pulang ya, Latifah jagain Tam jangan sampek nakal di asrama.” Ledeknya sambil lalu tertawa kecil.


“Siap, Bos!!”


Jawab Latifah tegas. Mereka lalu serentak tertawa merasa lucu sendiri. Aku sendiri hanya tersenyum masam.


*****


Hari ini aku sedang bersiap-siap untuk pergi ke Pasar sesuai perjanjianku dengan Taqin kemarin. Aku mengenakan baju gamis-pemberian Mada saat pertama kali aku mengenal Taqin, juga jilbab hadiah Taqin. Aku hanya merasa kepengen memakainya saja. Dengan memberi sedikit polesan diwajahku, penampilanku akan sempurna.


Sebelum berangkat, kami sempat bertemu dengan Taqin di depan gerbang Pesantren. Ia mengatakan akan menunggu kami di restoran dekat Pasar, agar ketika aku dan Latifah ingin membeli sesuatu ke Pasar, kami tidak akan terlalu jauh berjalan.


Seperti sebelumnya, Latifah tidak berhenti menggodaku selama di becak ketika kami dalam perjalanan ke Pasar. Aku tidak mempermasalahkan, asalkan ia tetap tutup mulut ketika kami berada di asrama. Aku tidak ingin memberitahunya tentang pembicaraan Taqin dengan ustadz Hafiz yang tidak sengaja kudengar waktu itu. Belum tau jelas hubungan kami saja, dia sudah sangat heboh. Apalagi kalau dia tau Taqin ingin menikahiku.


Sesampainya di restoran, aku dan Latifah langsung menemukan Taqin sudah duduk menunggu di kursi dekat taman restoran yang dihiasi bunga-bunga cantik. Ia tengah sibuk dengan handphonenya hingga tidak menyadari kedatangan kami.


Setelah jarak kami cukup dekat, aku menegurnya. Kami mengobrol setelah memesan makanan. Lalu mengisi perut kami sampai puas, baru kemudian membahas tujuan kami. Sebelum aku sempat memulai pembicaraan, Latifah ternyata punya inisiatif sendiri. Ia pergi meninggalkan kami ke Pasar, membawa catatan barang-barang yang ingin kubeli. Supaya ketika aku dan Taqin selesai bicara, kami tidak perlu buru-buru ke Pasar lagi. Aku sangat keberatan ditinggal berdua, tapi Latifah malah tidak peduli dan langsung berlari cepat meninggalkan kami.


“Nih, hadiah buat antum.” Ujarku akhirnya karena ia memintaku memberitahunya duluan apa yang akan kuberi. Dia tidak akan langsung tau isinya, karena yang namanya hadiah pasti terbungkus rapi kan?!


“Kok tiba-tiba?” Tanyanya. Wajahnya terlihat berbinar melihat benda biru berbentuk persegi yang sudah berada di tangannya itu.


“Gak papa. Makasih buat semuanya.”


Aku menceritakan semua yang selama ini sudah ia berikan padaku. Ia mau repot untuk diriku yang terbilang masih baru ia kenal. Juga sikapnya yang membuatku nyaman. Taqin tersenyum mendengar penjelasanku.


“Ana ngelakuin semuanya karna ana senang.”


Jawabnya dengan senyum lebar di bibirnya.


“Antum kemaren mau bilang apa?”


Tanyaku beralih menanyainya. Kata-katanya kemarin memang membuatku cukup penasaran.


“Sebenarnyaa antum udah tau. Kan antum nguping.”


Ujarnya setengah meledek, membuat pipiku langsung merona malu. Ternyata Taqin sedang membahas percakapannya dengan Ustadz Hafiz waktu itu.


“Ohh, afwan...”


Bisikku sambil menunduk. Malu bercampur gugup.


“Gak papa. Jadi ana gak perlu jelasin semuanya dari awal. Antum... beneran gak ada niat buat nerima Key?”


Aku menggeleng.


“Ana gak bakal bisa bebas kalo sama dia. Memang Key gak bakal ngekang ana. Tapi orangtua ana. Mamah pasti ngawasin ana banget. Ana... ngerasa kayak boneka aja. Semua keinginan mereka harus ana turutin.”


“Antum pernah ngelawan?”


“Pernah.”


Kuceritakan tentang kekasaran Mama saat aku mencoba melawan ketika kesalahpahaman kemarin.


“Memang udah terlalu sering nurut. Jadi pas nyoba ngelawan keinginan mereka, ana kayak ngerasa gak punya tenaga. Dan gak bakal ada juga yang memihak ana.”


Ujarku pasrah. Merasa diriku cukup malang.


“Trus, masalah perjodohan antum sama Key?” Tanya Taqin mulai terlihat kesal.


“Entahlah... ana gak mau mikirin itu dulu.”


Aku tidak pernah memikirkan itu, malah berusaha menghindar dari pemikiran itu. Yang belum terjadi tidak usah dibahas atau dipusingkan. Aku hanya perlu menikmati saat sekarang. Itu yang selalu kutanamkan dalam hatiku agar aku tetap bisa tenang.


“Antum pasrah aja?” Taqin bertanya memperlihatkan ketidaksukaannya yang langsung memberi kesimpulan sendiri dalam jawabanku.


“Ana cuman mau nikmatin saat-saat kebebasan ana, Taqin.” Suaraku meninggi tapi sedikit memelas. Membuat ekspresi Taqin langsung melembut. Beberapa detik kami sama-sama terdiam.


“Antum gak mau berjuang dulu sama sekali?” Tanya Taqin lagi.


“Ana gak bakal bisa.”


Jawabku ketus semakin kesal dengan Taqin. Dia seperti memaksaku untuk menolak perjodohan itu. Jika aku bisa, aku juga sangat mau. Tapi masalahnya tidak semudah itu. Taqin hanya tidak tau Mama yang sebenarnya. Mama bisa selalu mejadi lebih kasar saat tidak merasa cocok dengan yang diinginkannya.


“Ana bakal bantu antum.”


“Ana gak bakal melibatkan siapa pun dalam masalah ana.” Tolakku tegas.


“Antum udah tau perasaan ana kan?”


Aku diam. Tentu saja aku tau. Tapi aku takut usaha kami tidak akan menghasilkan apapun. Hanya untuk menyakiti hati kami saja.


“Antum mau berjuang sama ana?”


Tanyanya lagi. Aku tetap diam.


“Ana tau ini beresiko, tapi ana bakal berusaha sekeras mungkin buat antum.”


Taqin berusaha meyakinkanku.


Jika aku mengangguk sekarang, semuanya akan berubah. Aku harus siap berjuang dan menerima seperti apapun konsekuensinya.


“Ana takut...” Ujarku jujur.


“Gak perlu takut. Kita sama-sama berusaha buat dapatin restu. Ngeyakinin orangtua antum. Kita gak bakal langsung perang loh, ngomong baik-baik dulu. Tapi tetap tegas.”


Ujarnya sambil tersenyum. Tapi tetap saja aku takut. Tidak akan semudah itu menghadapinya.


“Antum gak bakal kenapa-napa. Ana selalu jagain antum.”


Tambahnya meyakinkanku.


“Antum janji??”


Aku ikut berusaha meyakinkan diri.


“Yah. Percaya sama ana! Kita sama-sama doa, supaya dikasi kemudahan.”