ViRus

ViRus
Gara-Gara Ngidam



Hari ini hari Jum’at, sudah lebih dari 2 minggu setelah ujian Al-Qur’an selesai. Aku masih belum juga bisa menyelesaikan hukuman dari Taqin. Padahal cat dan kanvasku sudah habis. Untung saja, aku baru dikirimi uang jajan. Jadi hari ini, aku bisa pergi ke Pasar dengan Latifah sekalian beli baju atau makanan. Kebetulan ia juga baru dapat kiriman uang jajan. Aku hanya mengajak dia. Ai tidak kuberitahu. Aku mulai sering menghindari komunikasi dengannya.


Aku dan Latifah berjalan berdampingan ke rumah Ustazah Ammi dengan senyum sumringah di bibir kami. Sialnya, mood ustazah sedang buruk karena ulah 3 orang santriah yang telat pulang dari waktu perizinan. Tiga orang itu baru saja berlalu saat kami baru datang. Bahkan saat kami datang ingin meminta perizinan dengan lemah lembut pun, kami tetap saja kena semprot. Ustazah melampiaskan semua kekesalannya pada kami. Ketiga santriah itu ternyata minta izin pulang untuk acara keluarga. Dan di surat perizinan mereka hanya diizinkan pulang selama 2 hari. Mereka malah korupsi libur sampai 5 hari.


Berani banget.


Pikirku. Dulu aku memang preman, tapi tidak sampai korupsi libur seperti mereka. Memang beberapa bulan ini tidak ada tanggal merah. Wajar saja mereka sampai silap.


Setelah puas mendengar omelan, kami akhirnya diberi izin ke Pasar dengan membawa selembar penuh pesanan Ustazah. Aku membacanya satu persatu dari atas sampai ke bawah hingga ke baliknya.


Cabe 1 kg, bawang merah seperempat, tomat, ketumbar, jahe bla..bla..bla


Kututup mataku rapat-rapat juga mulutku yang nyaris berteriak minta ampun.


Ya Allahu robbi ya rasulallah... megang cabe aja gak pernah, sekarang malah disuruh belanja!!


Rutukku dalam hati. Aku mati-matian menahan bibirku untuk tidak mengeluh karena kami masih berada di rumah Ustazah. Tapi tetap saja ekspresi keterkejutanku tidak bisa kututupi. Ustazah yang ternyata masih memperhatikanku malah tersenyum.


“Ustazah pengen dibelanjain keperluan dapur sama Tam. Gak papa kan. Lagian Tam juga udah bisa belajar jadi istri dari sekarang. Sebelum keburu dilamar.”


WHAT!!


“Hehe... iyaya Ustazah.”


Ujarku dengan tawa kecil penuh paksaan.


“Tam sama Latifah gak keberatan, kan?!” Tanya Ustazah lagi.


“Gak kok Ustazah. Kita juga mau belajar.”


Ujar Latifah semangat. Membuatku reflek menginjak kakinya cukup keras. Dia pun langsung menutup mulutnya yang hampir saja berteriak.


Seperginya ustazah, kami pun ikut beranjak keluar dengan kaki yang seolah terasa berat. Perasaanku yang sedang kesal, membuat telingaku jadi sensitif. Aku merasa seperti ada yang tertawa tapi ntah dimana. Kubalikkan tubuhku yang ternyata langsung disambut dengan Ustaz Hafiz yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang kami.


“Maaf ya, Tam. Ustazah ngerepotin. Ustazah itu lagi ngidam... udah kepengen nyuruh anti belanja dari kemaren-kemaren.” Jelas ustaz Hafiz pelan setengah berbisik. Takut kedengaran sama Ustazah.


Latifah dan aku serentak tertegun. Setidaknya ada sedikit sentuhan pada hatiku yang sedang keberatan. Tapi itu hanya berlangsung beberapa detik, sampai ketika Taqin menampakkan dirinya sambil menertawakanku. Aku hanya tersenyum kearahnya, senyum paksaan yang dibaliknya tersembunyi ribuan omelan.


Dia pasti tau aku tidak memiliki kemampuan seupil pun tentang segala yang berhubungan dengan dapur. Mengingat kejadian waktu itu, saat aku terkena air panas karena kebodohanku sendiri. Itu sudah jadi bukti fakta bahwa seorang Tamia Azhari tidak pernah bekerja di dapur. Mengetahui hal itu, membuatku jadi sedih. Aku juga ingin seperti perempuan yang pada umumnya bisa memasak untuk keluarga dan pasangannya kelak. Mungkin sekarang kesempatanku untuk belajar, pikirku.


Sesampainya di Pasar, kami langsung pergi ke area penjualan sayur-mayur dan bumbu-bumbuan. Untung saja Latifah mengerti tentang ini, jadi kami tidak sampai berkeliling Pasar hanya untuk mencari satu jenis bahan makanan.


Kami memutuskan mencari semua bahan-bahan sayur-kecuali daging-di satu tempat saja. Agar tidak capek bolak-balik menghabiskan tenaga. Dan Alhamdulillah kami menemukannya. Hanya saja tempat itu sedang ramai. Tidak terlalu ramai juga. Jadi aku dan Latifah yang bertubuh langsing diperkirakan masih bisa menyelinap diantara orang-orang itu. Tapi jiwa ketidak sabaranku langsung menolak untuk dibuat repot. Mungkin akan lebih gampang kalau kami menunjukkan kertas catatan dan meminta si penjual itu yang mengumpulkan semua pesanan sampai menimbang dan menghitung semua harganya sendiri. Kami hanya perlu menunggunya dengan santai, kan?!


Latifah malah langsung memarahiku ketika aku memberi usulan seperti itu.


“Kan anti mau belajar, gimana sih..”


“Enak aja. Jelas-jelas anti tadi yang bilang ke ustazah mau belajar.”


Selaku.


“Iya, tapi kan gak papa sih. Ini bisa jadi persiapan anti sama Taqin kelak.”


Ujarnya. Kuputar bola mataku malas. Sejak kapan aku dan Taqin berencana menikah? Aneh! Rutukku dalam hati.


Akhirnya mau tidak mau aku harus mengalah. Dengan perasaan dongkol, aku paksakan diri menyelipkan tubuhku diantara 3 orang ibu-ibu gendut yang sibuk mengobrol sambil mengambil satu persatu cabe rawit yang tertumpuk menggunung di hadapan mereka.


Malah ngambilnya satu-satu lagi. Sampek maghrib gak bakalan selesai-selesai bu..bu.


Rutukku dalam hati memperhatikan ibu-ibu dihadapanku itu satu persatu.


Setelah berhasil menyelip, aku pun langsung mengambil asal segenggam cabe dan memasukkannya ke dalam mangkuk tempat sayuran sebelum dibayar. Ini salah satu pesanan Ustazah yang bisa kukenali. Yang sulit dikenali akan kuambil belakangan atau mungkin Latifah saja.


Dalam kertas catatan tertulis setengah kilogram cabe rawit, dan aku tidak bisa menakarnya sama sekali. Lagian itu tidak penting dan bukan tugasku. Toh, si penjual itu yang akan menimbangnya sendiri nanti. Cepat-cepat aku memindahkan cabe rawit itu ke mangkuk di tanganku.


“Tam!!”


Aku mendengar panggilan Latifah yang tidak begitu jauh dariku. Kami hanya terhalang 5 orang ibu-ibu gemuk di sebelah kami


“Dipilih yang cantik-cantik!”


Perintahnya dan langsung kujawab dengan gelengan. Bagaimana mungkin cabe sekecil ini harus dipilih satu persatu. Berarti aku tidak ada bedanya dengan ibu-ibu di sebelahku ini. Lagian tumpukan cabe ini terlihat cantik dan sehat, jadi tidak perlu untuk dipilih-pilih.


Jahe??


Kukerutkan keningku karena tidak tau. Segera kuskip ke pesanan selanjutnya.


Kunyit??


Kugelengkan kepalaku semakin tidak tau. Aku lanjut membaca ke pesanan selanjutnya malah tambah tidak mengerti.


Ketumbar? Kemiri? Kayu manis? Memangnya ada kayu yang manis?? Aaargh…aku tidak tau!!!


Melihatku semakin pusing, Latifah kemudian mengambil catatan di tanganku. Aku sempat bernafas lega, berpikir ia akan mencari semuanya sendiri. Ternyata dugaanku salah. Ia malah menunjukkan padaku satu persatu bahan-bahan dalam catatan dan memintaku untuk mengambilnya dan mengumpulkannya dalam satu mangkuk.


Jujur, aku menyesal karena tidak mengajak Ai. Mungkin jika dia ada, aku bisa selamat. Atau mungkin kami bisa menyelesaikan pencarian pesanan ini lebih cepat.


Akhirnya, setelah satu jam lebih lamanya, aku dan Latifah menyelesaikan bagian sayuran dan bumbu apalah itu. Setelah membayar, Latifah langsung mengajakku berpindah ke bagian Pasar yang menjual berbagai macam jenis daging dan ikan. Aku berjalan gontai sambil memandangi tanganku yang kotor oleh tanah bekas ubi, jahe dan kunyit tadi. Tiba-tiba saja hidungku mencium bau tidak sedap dan sangat amis. Langsung kuhentikan langkahku sambil menutup hidungku kuat.


“Tam kenapa?”


Tanya Latifah. Aku langsung menatapnya kesal. Kupikir ia sedang membawaku ke tempat pembuangan sampah sisa-sisa pasar ini.


Melihatku yang hanya diam sambil menutup hidung, Latifah langsung menghela nafas, dia mengerti.


“Memang disini agak bau. Kan, banyak yang jual daging sama ikan. Kita mau beli ikan Lele lagi loh, ayok cepetan, ntar keburu zuhur lagi..”


Jelasnya menarik tanganku lalu kembali berjalan. Aku hanya pasrah mengikutinya. Mataku melirik catatan pesanan. Disana tertulis 3 macam yang harus kami beli di tempat yang luar biasa bau ini.


Udang, ayam, dan ikan Lele.


Seberapa lamakah ini? Semoga saja aku tidak pingsan, pikirku.


Doaku diijabah. Aku masih bisa menahan diri, sampai ketika aku melihat sebaskom ikan yang awalnya kukira adalah ular. Aku hampir saja mati suri ketika melihat mereka sesekali menegakkan kepala mereka, ingin keluar dari baskom itu. Aku merasa seperti tengah diincar oleh kumpulan ular yang siap mematukku dan menghisap nyawaku sampai tandas. Saking takutnya, tanpa sadar aku menarik ujung baju Latifah hingga ia menoleh padaku yang masih belum berpaling dari makhluk di baskom itu.


“Itu ikan Belut!!” Ujarnya lalu terkekeh geli melihatku.


Aku langsung menghela nafas lega. Ternyata masih sejenis ikan. Aku memang belum pernah diberi makan ikan Belut sama Mama. Melihatnya pun tidak pernah. Pernah sih, tapi di film-film kartun ketika aku masih kecil.


Tidak sampai setengah jam, kami sudah selesai membeli ketiga pesanan itu tadi. Wajahku langsung kembali cerah, mengetahui sudah saatnya kami membeli keperluan kami. Dan memang itu sebenarnya tujuan utama kami kemari. Membeli alat lukis. Juga aku berencana ingin membeli baju di tempat aku sebelumnya sempat melihat jilbab yang tidak jadi kubeli. Jilbab berwarna biru yang sudah jadi hadiah Taqin. barang-barang di toko itu memang bagus-bagus. Beberapa ada juga baju couple.


Sayangnya, ketika kami baru saja sampai di toko itu, aku malah langsung dibuat kesal gara-gara si kakak penjual itu.


“Ibu nyari baju yang model apa??”


Itulah kata sambutannya padaku. Dasar kakak aneh!! Apa dia tidak melihat wajahku yang masih begitu muda ini. Aku yakin ia berkata begitu karena semua isi belanjaan yang luar biasa banyak di tanganku ini. Ia pasti mengira aku istri sholeha yang sedang belanja mingguan.


“Habis belanja mingguan ya? Masuk aja bu, liat-liat dulu aja..”


Tuh kan?!


Teriakku kesal, dalam hati.


Aku malah langsung ditawari baju-baju couple gaya ibu-ibu. Kurasa dia tidak mengingatku yang sebelumnya sudah pernah datang ke tokonya. Memang, waktu itu aku tidak jadi membeli. Wajar saja aku langsung dilupakan.


“Baju couple ini bagus loh, sama papah Taqin!”


Ujar Latifah semangat. Aku langsung memplototinya sambil mengepalkan tangan kesal. Lalu tanpa sengaja ikut menoleh kearah baju yang ditunjuk Latifah. Sepasang baju couple berbahan sutra yang lembut, berwarna hitam dengan motif berwarna orange.


Cantik.


Dalam hati aku coba menimbang-nimbang, melupakan sejenak kekesalanku. Taqin selama ini sangat baik, memberiku hadiah, membawakanku makanan yang tidak bisa kubeli selama di pesantren. Aku sendiri bahkan belum pernah memberinya apapun. Hanya lukisan, itupun karena dihukum. Mungkin sebaiknya aku membalas kebaikan Taqin.


Dan kayaknya gak musti baju couple juga,


Pikirku.


Akupun meminta kakak penjual untuk mencarikan baju koko atau kemeja saja. Beberapa menit kami sibuk mencari dan memilih baju yang cocok untuk Taqin sambil beristirahat. Hingga aku menemukan satu yang cocok. Bukan kemeja atau baju koko, malah sweater tebal yang langsung menarik perhatianku. Sweater berwarna hitam dengan garis-garis biru di dadanya. Ukurannya juga menurutku akan pas. Besar tubuh Taqin sangat mirip dengan Key, dan aku sangat ingat betul ukuran baju Key.


Setelah lama berpikir sambil memperhatikan sweater yang sudah berada ditanganku itu, aku akhirnya memutuskan membelinya. Semoga saja Taqin suka, pikirku. Mengingat ia punya banyak barang berwarna hitam dan biru, membuatku semakin yakin kalau dia pecinta hitam biru. Jadi aku tidak khawatir memilih warna baju yang salah.


Hatiku senang, tapi sepertinya Latifah jauh lebih senang. Ia tidak bisa berhenti menggodaku sejak kami beranjak dari toko baju itu hingga saat kami berada di becak dalam perjalanan pulang ke Pesantren. Aku hanya diam mengabaikannya. Percuma saja mejelaskan padanya, sampai mulutku berbuih pun ia tidak akan percaya padaku. Toh, nanti dia juga akan capek sendiri lalu diam tanpa kuminta, pikirku.