
Dua minggu berlalu setelah kejadian itu. Aku hanya berdiam diri dikamar. Tidak peduli ketika Key datang, aku tidak ingin menemuinya. Jika ia membawa sesuatu ia akan menitipkannya di pos satpam kalau sudah capek menunggu. Aku tega berbuat begitu karena ia juga jauh lebih keterlaluan. Ia telah membohongiku selama ini.
Kejadian 2 minggu lalu itu, Mada menyela semua dugaanku itu. Ia mengatakan bahwa ia juga seperti mengalami hal yang sama dengan kejadian 3 tahun yang lalu tepatnya ketika kami masih SMP. Begitu pula dengan lelaki yang menjenguknya itu-yang ternyata adalah kakak Mada-ia juga mengatakan hal yang sama. Kakak Mada mengatakan ketika Mada sedang menangis dipelukannya 3 tahun yang lalu seorang anak kecil bermata besar seperti ikan asin, membentak mereka tanpa sebab. Membuat mereka langsung menoleh merasa aneh seperti yang mereka alami seperti ini. Aku memberitahu mereka bahwa aku juga pernah melakukan itu sebelumnya karena mengira lelaki itu adalah sahabatku. Saat itu juga kami tersadar, semua itu dialami oleh orang yang sama hingga saat ini. Dan lelaki itu juga ternyata bukan Key.
Aku sempat meminta maaf sambil tersipu malu karena sudah 2 kali melakukan ini pada mereka. Selain meminta maaf, aku juga memprotes kata-kata kakak Mada yang mengataiku seperti ikan asin. Benar-benar kata-kata yang menyebalkan dan amat tidak sopan. Memang, aku juga pernah berkata begitu kepada orang lain.
Tapi satu hal yang membuatku kecewa hingga sekarang, yaitu ketika Mada memutuskan berhenti sekolah. Ia ingin keluar dari pesantren dengan alasan yang tidak kuketahui. Aku mencoba melarangnya bahkan sampai menangis. Aku berusaha menanyai penyebabnya. Aku juga menawarkan bantuan jika memang alasannya karena ekonomi yang tidak mencukupi. Tapi ia menolak tawaranku dengan mengatakan bahwa itu bukan alasannya. Ia sama sekali tidak ingin memberitahuku.
Aku benar-benar merasa sangat kesal. Padahal aku baru saja balik ke pesantren 1 jam yang lalu, itu juga untuk Mada. Tapi setelah aku kembali ia malah meninggalkanku. Jika Mada tidak ada, kurasa aku akan kembali ke diriku yang sebelumnya. Tidak ada teman, dan terus mengurung diri di kamar. Memang aku sudah bisa mencuci bajuku sendiri tidak seperti sebelumnya.
Mada mencoba menasehatiku untuk memberanikan diri bersikap ramah pada sesama, belajar bersosialisasi. Mendengar nasehat itu aku justru merasa kesal sepenuhnya padanya. Kalau memang aku bisa, aku sudah pasti melakukannya dari dulu. Tanpa dimintai olehnya pun aku pasti sudah melakukannya. Tapi masalahnya aku tidak bisa. Aku sudah mencobanya tapi aku langsung dimusuhi seperti kejadian ketika aku dihukum karena kebersihan waktu itu.
Begitulah penolakanku sebelum akhirnya aku pergi meninggalkan Mada tanpa permisi. Bahkan sebelum ia sempat selesai bicara, aku sudah meninggalkannya sambil mengusirnya dengan kasar dan berjanji tidak ingin bertemu dengannya lagi. Kuabaikan kakak Mada yang memandangku aneh. Mungkin ini pertama kalinya ia melihat tipe orang sepertiku ini. Apapun pendapatnya aku tidak akan peduli. Memang beginilah aku.
Aku ingin menggenggam apa yang ingin kugenggam selama yang kumau tanpa harus takut kehilangan. Tapi sepertinya tidak semua orang bisa menerima terus diperlakukan seperti itu.
Sepeninggalnya Mada, aku hanya berteman dengan Latifah. Dia adalah teman sekamarku. Aku selalu mengikutinya kemana pun ia pergi, meski dengan setengah hati. Karena aku tidak punya teman siapa-siapa lagi. Diam-diam aku memperhatikan keseharian Latifah. Dia benar-benar jauh berbeda denganku dalam hal bersosialisasi. Dia punya banyak teman dimana-mana, baik itu seangkatan dengan kami maupun yang lebih tua dari kami. Dia juga sangat dekat dengan ustadz dan ustazah di Pesantren. Dan itu sudah pasti karena keramahan dan akhlaknya yang bisa dikatakan baik itu.
Setiap kali ia berselisih di jalan dengan orang lain, selalu saja ada yang menyapanya atau hanya sekedar senyum. Karena ia pun selalu begitu kepada yang lain. Berbeda denganku yang tidak pernah disapa orang lain. Jangankan disapa, melirik pun orang merasa enggan padaku. Aku tau, beberapa dari mereka ada yang tidak suka melihat kedekatanku dengan Latifah dikarenakan kepribadian kami yang memang sangat jauh berbeda. Latifah yang lembut dengan aku yang kasar.
Aku memang tidak segan-segan membentak siapapun yang mengusikku atau mengatur hidupku. Aku hanya ingin diatur oleh orang yang kutahu memang memiliki hak untuk mengaturku. Seperti ketua kamar atau kakak-kakak pengurus misalnya. Pernah saja suatu hari ketika aku sedang antri didapur saat jam makan siang. Aku yang sedang kelaparan tengah berdiri mengantri bersama tiga orang didepanku yang salah satunya adalah Mada-waktu itu Mada masih belum berhenti sekolah. Kami kelaparan luar biasa karena pagi tadi kami menguras otak habis-habisan ketika pelajaran Matematika. Pelajaran yang paling tidak kusukai. Dengan wajah kuyu sambil membawa piring dan cangkir masing-masing kami mengantri dengan teratur. Dibelakangku masih begitu banyak orang yang mengantri. Sekitar 20 orang mungkin.
Tiba-tiba ada seseorang yang kulihat seperti seumuranku, namun bertingkah luar biasa arogan memotong barisan Mada yang berdiri dihadapanku bersama 5 orang temannya yang lain.
“Eh, apaan sih motong-motong barisan?! Gak sopan banget. Ngantri sana dibelakang, yang lain kan juga pada ngantri. Jangan jadi sok hebat dong... kan kita punya aturan.”
Bentakku sambil menatap mereka satu persatu tanpa rasa takut sedikit pun. Suasana dapur seketika hening karena semua perhatian orang tengah terfokus pada kami. Mereka melihat kami dengan wajah keheranan.
“Eh, ada ukhti kabiroh loh, gak baik ngebentak-bentak orang.”
Bisik Latifah dari belakangku. Aku yang sudah kelaparan plus kesetanan dengan tingkah mereka, merasa tidak peduli sedikit pun dengan teguran itu.
“Jadi, kalo ada ukhti kabiroh, kamu mau diam aja diperlakuin kayak gini?”
Mendengar protesanku yang tak terhentikan, juga tatapan kakak Seksi Keamanan yang seolah ingin menelan kami bulat-bulat, enam orang itu pun berlalu dari hadapanku dan ikut mengantri bersama yang lain dibarisan terbelakang. Mada hanya tertawa kecil melihatku sambil menutupi bibirnya dengan piring ditangannya agar tidak kelihatan oleh orang-orang itu. Satu hal yang membuatku merasa puas adalah, ketika sudah tiba giliran mereka akan mengambil jatah makan siang, ternyata lauk pauknya sudah habis. Jadi mereka harus menunggu sekitar 15 menit supaya dapat jatah.
“Huh.. rasain. Karma tuh..”
Ledekku sambil tertawa kecil namun luar biasa mengejek dan berhasil membuat mereka merasa jengkel padaku. Dan itu membuatku dan Mada semakin tertawa puas. Mada masih bisa menahan tawanya dengan menutupi bibirnya dengan tangannya, sehingga ia tidak ternilai jelek oleh orang-orang sekitar. Berbeda denganku yang langsung tertawa puas dan luas tanpa ditutup-tutupi sedikit pun mengabaikan Latifah yang masih dengan setia menegurku.
“Eh, gak baik tau. Ntar mereka bisa benci loh sama anti.” Tegur Latifah yang hanya kujawab dengan lirikan.
Latifah sudah sangat sering menegurku. Waktu itu kami memang belum dekat seperti aku dan Mada. Jadi aku sering mengabaikannya, kalaupun aku mendengarkannya, aku sama sekali tidak peduli dengan dia.
Mungkin itu adalah salah satu kekasaranku yang membuat orang lain tidak menyukaiku. Hingga kedekatanku dengan Latifah saat ini juga membuat orang sering membanding-bandingkan kami. Aku berusaha untuk tidak peduli itu. Toh, aku hidup juga tidak pernah merugikan mereka. Latifah juga memintaku mengabaikan perkataan mereka atau mengambil sisi baiknya saja.
Seiring berjalannya waktu, aku dan Latifah pun semakin akrab. Ia begitu pandai membuatku terbuka padanya. Aku pun akhirnya sering bercerita tentang keluarga dan setiap masalahku kepada Latifah. Ternyata dia adalah orang yang sangat senang mendengarkan orang lain. Ia tidak pernah segan untuk memberi nasehat atau solusi dari masalah yang didengarnya. Hanya saja nasehatnya terkadang terlalu panjang, jadi lebih mirip dengan ceramah. Ia juga tidak jarang mengaitkannya ke masalah pernikahan atau rumah tangga.
Dia selalu dan tidak pernah bosan menegurku dalam hal gaya bicara pada sesama. Aku yang terbiasa menggunakan kata “saya” dan “kamu” merasa sangat keberatan ketika ia memintaku untuk merubahnya menjadi “ana” dan “ukhti”. Karena menurutku kata “ukhti” itu lebih terlihat sedikit membuatku seperti kaum junior yang biasanya selalu ditindas preman asrama. Sekalipun Latifah mengatakan bahasa itu adalah bahasa akrab atau bahasa yang terdengar sangat familiar di Pesantren, tetap saja aku menganggap bahwa orang yang berbahasa seperti itu justru diperbudak oleh orang yang dipanggilnya sebagai “ukhti” itu.
Latifah menentang keras pendapatku tentang kata diperbudak. Karena menurutnya di Pesantren ini tidak pernah ada istilah seperti itu. Kalau pun ada mungkin itu bukan di Pesantren ini, atau mungkin itu hanya gosip untuk merusak nama baik Pesantren di mata masyarakat. Begitulah pendapatnya. Ia terus bersikeras memaksaku bahkan malam ini saat aku sedang bersiap-siap untuk tidur. Ia benar-benar tidak mengizinkanku untuk memejamkan mataku dengan tenang sampai aku menuruti kata-katanya. Padahal malam itu sudah hampir larut, tapi ia sangat keras kepala dan menyebalkan. Padahal kalau pun aku setuju, belum tentu pandangan orang-orang di sekitarku akan langsung berubah menyukaiku. Kupikir ia hanya sedang tidak ada kerjaan lain yang lebih penting dan bermanfaat selain memaksaku.
“Yang penting aku gak mau.”
“Terserah. Ntar kalo anti kena cap santriah gak punya akhlak, jangan ngadu ke ana.” Ia akhirnya mengalah.
“Kenapa harus dicap gak punya akhlak, kan kata-kata itu tetap sopan.” Ujarku merasa aneh. Dia hanya sedang mengancamku, pikirku.
“Itu mah gak sopan. Anti gak ingat kemaren pas anti kena hukum sama seksi kebersihan?”
“Ingat.”
“Pas anti nanya-nanya sama ukhti yang duduk didepan asrama, ingat?”
“Ingat.”
“Dia marah, karna lagi galau trus gak mau diganggu sama aku.” Jawabku adalah tapi penuh percaya diri.
“Ngarang. Jelas-jelas...dia marah karna anti bilang ‘kamu’ ke dia.”
“Trus?? Masalahnya dimana? Kan aku tetap sopan, dianya aja yang sensitif.” Jawabku
penuh pembelaan.
“Sama mereka itu tu gak sopan. Ukhti itu 2 tahun diatas kita loh.”
“Ohya, tapi kok, badannya kecil banget?” ledekku mengalihkan pembicaraan, mengingat perempuan bermata besar seperti ikan asin itu. Ternyata sebelumnya aku salah menduga kalau dia adik kelasku.
“Iiih, anti jahat banget.”
Tawa kami melayang memecah keheningan malam itu. Malam itu adalah malam Jumat, malam yang bebas dari segala kegiatan dikarenakan esoknya adalah hari libur. Kami pun terus terhanyut dalam cerita panjang yang tadinya berawal dari nasehat penuh paksaan, berubah menjadi curhatan masa lalu, keseharian dirumah, sampai masalah calon suami dan kehidupan rumah tangga kelak.
Latifah bercerita tentang laki-laki idamannya, dan pastinya, tanpa kutanyai. Aku hanya mendengarkannya bercerita sambil manggut-manggut seperti benar-benar seorang pendengar setia. Padahal aku sudah mulai mengantuk mendengarnya. Telingaku menangkap tidak begitu banyak apa yang dikatakannya. Aku mendengarnya juga karena ia sesekali berteriak merasa deg-degan sendiri membayangkan apa yang dikatakannya itu menjadi kenyataan.
Ia mengatakan laki-laki tipenya itu seperti tentara berbadan tegap yang memiliki bola mata bening tapi tajam. Aku tidak tau seperti apa itu mata bening dan tajam. Aku juga tidak bisa dan tidak sanggup membayangkannya karena merasa ngantuk. Kupikir ia sedang berusaha menggambarkan karakteristik orang-orang luar negeri seperti Turki misalnya. Dia sangat pilih-pilih dalam masalah lelaki, benar-benar tidak sesuai dengan penampilan dirinya yang tidak begitu menarik.
“Kenapa anti mau punya suami mata sipit?”
Kini Latifah menanyaiku dengan mata berbinar-binar bercampur penasaran, seolah topik pembicaraan kami ini adalah pembahasan favoritnya.
“Soalnya makhluk-makhluk spesies mereka itu imut-imut.. hihihi.”
Jawabku lalu tertawa merasa geli sendiri dengan jawaban asal-asalanku. Sedangkan Latifah sudah tertawa terpingkal-pingkal seolah percaya dengan apa yang kukatakan. Dari awal aku tidak menjawab sepenuhnya dengan sepenuh hati. Bahkan mungkin hanya seperdelapan hati. Aku mengatakan laki-laki bermata sipit juga karena aku teringat dengan kakak Mada. Jadi anggap saja itu sebagai bentuk rasa penghargaan kepada teman.
Tawa kami terus berderai sesekali dengan jeritan kecil karena merasa geli dengan kata-kata kami sendiri. Setelah jawaban asal-asalanku tadi, rasa kantukku mulai hilang karena Latifah terus-terusan merespon kata-kataku dengan kata-kata aneh dan menggelikan yang membuat kami tidak bisa menahan tawa. Tanpa kami sadari, sepasang mata tengah memperhatikan kami dari kaca jendela yang mengarah ke halaman belakang asrama. Makhluk itu tengah berdiri kokoh dibawah rindangnya dedaunan Pohon Melinjo yang melambai bersama tiupan angin malam yang dingin menerpa tubuhnya, Membuat tatapannya semakin dingin dan tajam seakan ingin segera menerkam dan menelan kami bulat-bulat.
“Eh.. itu siapa?” Bisikku mulai menyadari keberadaan makhluk itu. Tanganku menunjuk-nunjuk jendela membuat Latifah segera menoleh. Makhluk itu tidak memberi respon apapun meskipun melihat kami mulai menyadari keberadaannya. Ia tidak berpindah atau menghilang dan bahkan tidak bergeser sedikit pun, membuat buluku seketika berdiri.
“Tam, tidur yok..”
Ajak Latifah tiba-tiba membuatku langsung melirik padanya. Ia menatapku tajam membuatku langsung mengerutkan keningku. Kurasa ia sedang memikirkan hal aneh seperti yang kupikirkan saat ini, yaitu Hantu Genderuo penunggu asrama ini.
“Kenapa?” Tanyaku.
“Gak papa. Tidur yok..”
“Kenapa? Emangnya itu apaan?”
“Udah nurut aja loh..”
Latifah langsung berbaring mengabaikanku yang masih memandanginya dan makhluk di jendela itu secara bergantian. Ia menarik selimutnya dan menutup sempurna seluruh tubuhnya. Kutarik kembali selimut Latifah membukanya dengan paksa tapi ia menahannya membuatku selalu gagal.
“Iiih.., apaan sih. Jangan tidur dulu, gak pa-“
“Dor..dor..”
Seseorang memukul pintu kamar kami dengan keras membuatku dan Latifah kaget dan langsung menoleh kearah jendela. Makhluk itu sudah tidak ada lagi disana.
“Jangan-jangan, itu Hantu Penunggu asrama ini yang lagi minta masuk, Tam..” Bisik Latifah sambil memplototiku, membuatku seketika bergidik dan langsung memukul wajahnya kasar dengan bantal. Ia meringis sebentar lalu mencubit pipiku dengan kuat tapi hanya beberapa saat saja baru kemudian ia kembali menarik selimutnya. Aku hanya diam sambil mengusap-usap pipiku yang terasa sangat sakit bekas cubitannya. Kupukuli kepalanya dengan bantalku tanpa ampun agar ia segera bangkit dan bercerita lagi seperti tadi untuk menghilangkan rasa takutku. Bukan berarti aku percaya ada hantu didunia ini, aku yakin sosok di jendela tadi itu adalah kakak Seksi Keamanan yang sedang patroli memeriksa keadaan asrama. Tapi entah kenapa kata-kata Latifah yang persis dengan yang ada dalam benakku tadi membuat nyaliku seperti menciut.
Aku masih terus memukuli Latifah dengan bantalku tanpa henti. Tapi kupukuli seperti apapun ia tidak kunjung memberi respon sedikit pun. Bahkan tidak ada gerakan sedikit pun. Kucoba mencolek-colek pinggangnya berusaha menggelitikinya, tetap tidak ada respon sedikit pun. Mataku kemudian perlahan kembali menoleh kearah jendela itu, bersamaan dengan munculnya makhluk itu bersama makhluk lain berpakaian serba putih disisi kanan kirinya.
“Kyaaaaaaaaaaa...”