
Sudah 2 minggu sejak kejadian di depan restoran itu, dan selama itu juga aku tidak pernah lagi melihat Taqin. Dia menghilang seperti ditelan bumi. Aku tidak ingin menanyainya pada siapa pun, tapi berita tentangnya seolah berdatangan padaku tanpa kuminta. Latifah yang bahkan tidak mengikuti kegiatan tahfiz pun tau duluan, bahwa Taqin berhenti bekerja di pesantren kami. Yah, wajar saja dia tau. Dia juga teman Taqin kan?!
Ternyata perasaan Taqin memang tidak sebesar itu padaku.
Bisikku dalam hati. Aku menutup mataku lalu menangis, tanganku bergerak melukis wajah Taqin. Yah, ini hukuman terakhirnya waktu itu. Aku bahkan belum sempat menyelesaikannya karena musibah yang berawal dari Acara Keluarga itu.
Kubuka mataku melihat hasil lukisanku, tapi mataku malah menangkap cincin di jari manisku. Cincin tunanganku. Aku menangis sejadi-jadinya. Latifah yang berada di dekatku langsung memelukku berusaha memberi ketenangan.
“Anti banyak doa yah... anti tau sendiri, semakin anti berulah anti sendiri yang menderita. Pasti ada jalannya. Taqin gak mungkin pergi gitu aja, dia orang baik-baik. Dia pasti punya rencana lain.”
Hatiku terus bicara mempertanyakan kata-kata Latifah.
Apakah memang seperti itu? Apa aku boleh kembali berharap? Tapi aku terlalu takut untuk percaya pada siapapun. Hanya Mada, tapi apakah dia sebenarnya memihakku? Atau kakaknya yang sudah menyerah? Juga Latifah, apakah dia sudah menunjukkan sosok dirinya yang sebenarnya? Atau, dia juga salah satu penghancur kebahagiaanku?
*****
Seiring berjalannya waktu, semuanya seolah berlalu begitu saja. Tidak ada keributan atau masalah apapun lagi. Semuanya yang terjadi dan hari-hari yang kujalani seolah tidak ingin memberi beban di hatiku lagi. Seolah dengan semua itu hatiku akan tenang. Tidak!! Hatiku tidak mendapat ketenangan sama sekali. Bahkan rasa sakitku tidak kunjung sembuh sedikit pun.
Hatiku malah rindu, ntah sejak kapan perasaanku begitu dalam. Sedangkan di salah satu jariku tersemat benda yang begitu menyiksa. Ya, cincin tunangan itu hanya pandangan kecil yang luar biasa hebat, bisa menghancurkan senyum tulus yang susah payah kuukir juga kebahagiaanku. Memusnahkan kebahagiaan yang perlahan menampakkan cahayanya, membuatnya tak kunjung timbul hingga berhari-hari. Akibatnya aku menjadi murung dan lebih sering menyendiri.
Latifah yang selalu memperhatikanku pun tidak bisa diam menutupi kekhawatirannya. Ia ingin selalu di dekatku. Jika memang tidak ingin mengobrol, setidaknya dia ingin menemaniku. Aku malah lebih sering menghindarinya. Seperti kejadian di restoran waktu itu, ternyata ia mengikutiku atas perintah Taqin. Dan apakah sekarang ia melakukannya karena perintah Taqin juga?? Apapun jawabannya aku tidak peduli lagi.
“Anti mau kemana??”
Tanya Latifah melihat penampilanku yang sudah cukup rapi.
“Ke Pasar lagi??”
Tanyanya lagi, karena aku tidak memberi jawaban. Hanya mengangguk sambil menatap berlembar-lembar surat izin keluar asrama di tanganku. Aku tidak sadar memiliki surat izin sebanyak ini.
“Sendirian? Kapan brangkatnya?”
Yah, wajar dia menanyaiku seperti itu. Jam sudah menunjukkan pukul 10 dan aku belum juga berangkat, mungkin itu yang di pikirannya sekarang.
“Ana gak jadi berangkat. Gak dikasi izin sama ummi.”
Jawabku menyudahi semuanya. Melempar asal surat-surat izin itu ke kardus dibawah kasurku. Lalu menutup wajahku dengan bantal, menunjukkan tidak ingin bicara lagi. Latifah yang melihatku pun langsung mengerti. Ia hanya menghela nafas lalu beranjak dari hadapanku.
“Assalamu’alaikum..”
Teriak seseorang dari pintu kamar kami.
“Waalaikumsalam..”
Jawab Latifah. Aku hanya diam, tidak peduli sedikit pun.
“Ukhti ini ada kiriman buat ukhti Tam.”
Aku langsung terduduk mendengar namaku disebut. Tapi tidak segera beranjak menemuinya.
“Tadi orangtua ana berkunjung, jadi pas ana mau balik pak Satpamnya nyuruh ana bawain ini, karna kamar ukhti Tam sama ana berdekatan..”
Ujarnya menjelaskan.
“Ooh.. Syukron ukhti.”
“Afwan.”
Setelah orang itu berlalu, Latifah lalu memberikan kotak kiriman itu padaku. Kotak berukuran kecil dan ada tulisan namaku diatasnya.
Tam.
Itu saja. Aku tau itu bukan tulisan orangtuaku atau pun Key. Lama kami berdua hanya memperhatikannya dengan kening berkerut.
“Mungkin orangtua anti lagi buru-buru, jadi cuman nulis nama singkat anti doang. Supaya gak ketukar sama kiriman santriah lain di pos satpam.”
Tebak Latifah. Benar juga, pikirku. Mama dan Papa mungkin terlalu buru-buru dan tidak sempat menemuiku tadi. Jadi mereka hanya menitipkan kotak ini ke satpam, tapi tetap menjagakannya agar tak tertukar dengan barang titipan orang lain. Dan memang sudah jadi kebiasaan mereka yang tak pernah sempat menemuiku. Yang sempat mereka lakukan hanya menyiksaku jika Key sedang cemburu.
Tapi tidak biasanya ukurannya sekecil ini, gumamku kesal.
Aku dan Latifah sama-sama membuka kotak itu. Mataku terbelalak melihat isinya. 3 buah coklat dan satu boneka panda kecil yang sedang tersenyum. Tidak ada satu pun tanda yang bisa menjelaskan siapa pengirimnya. Mama dan Papaku tidak pernah memberiku barang dengan jumlah tanggung seperti ini. Mereka selalu memikirkan teman-temanku juga dengan mengirimkan barang dengan jumlah besar.
“Buat anti aja, semuanya.”
“Tapi inikan kiriman anti. Kita makan bareng aja.”
“Gak kepingin.”
“Kasian loh, orangtua anti udah capek-capek ngirimin.”
“Itu bukan dari orangtua ana.”
Selaku. Meski dalam hati aku masih ragu.
“Ya.. Siapapun itu, dia pasti punya niat baik kan?!”
“Iya. Tapikan ini asalnya gak jelas.”
Aku melirik Latifah tidak suka.
“Iya juga sih. Tapi sayang banget kalo dibuang.”
“Kasi ke mereka aja.”
Aku menunjuk beberapa teman sekamarku yang sedang asyik mengobrol tidak jauh dari kami. Lalu melirik jumlah coklat dalam kotak itu. 3 buah coklat apa cukup untuk 7 orang??
“Serius nih??”
Tanya Latifah. Aku hanya diam, masih bingung sendiri. Ntah kenapa, aku ingin mencicipi coklat itu setidaknya sedikit saja. Akibatnya, aku jadi kurang ikhlas jika Latifah memberikannya ke teman sekamarku.
Melihatku hanya diam, Latifah kemudian beranjak menganggap aku setuju.
“Eh, tunggu!! Emangnya cukup?”
Tanyaku menghentikannya.
“Udah, kasi aja loh..”
“Ntar kurang gimana?
“Ya mau gimana lagi, yang dikasi juga cuman segini.”
“Aah.., gak usah deh.”
Aku akhirnya memutuskan akan memakan coklat itu.
“Lah..”
Latifah hanya menatapku bingung. Kuambil satu bungkus coklat itu lalu membukanya, tapi tidak langsung memasukkannya ke dalam mulutku.
“Sssh.. Takut. Ntar ada guna-gunanya lagi.”
Bisikku.
“Makanya baca doa dulu. Minta perlindungan.”
Aku melakukan apa yang dikatakan Latifah.
Enak.
Gumamku. Tanpa sadar, aku menikmati coklat itu sambil tersenyum. Begitu juga dengan Latifah, ia terlihat ikut senang saat melihat perubahan ekspresiku. Mungkin aku memang perlu mengkonsumsi coklat agar tidak terlalu stres.
Aku menghabiskan satu buah coklat begitu juga dengan Latifah. Kami saling tatap setelah melihat satu buah coklat tersisa. Seolah mengerti isi pikiran masing-masing, kami lalu tertawa.
Aku memotong coklat itu jadi dua bagian, lalu kami kembali menikmatinya bersama. Ntah kenapa aku begitu menikmatinya. Ya, setelah kejadian yang kualami akhir-akhir ini, selera makanku langsung menurun. Aku tidak pernah menikmati makanan apapun yang kumakan. Baru coklat ini yang langsung memperbaiki moodku.
Sambil mengunyah coklat di mulutku, aku membersihkan sisa coklat yang menempel di jari-jariku dengan bungkus coklat itu. Mataku tanpa sengaja menangkap tulisan di bungkus coklat itu.
A.s
Ditulis menggunakan spidol berwarna merah. Aku tidak begitu peduli dan langsung menumpuknya bersama bungkus coklat yang lain di dalam kotak itu, lalu membuangnya. Hanya bonekanya yang tersisa. Panda yang memegang love diantara tangannya. Di sisi depan love itu juga bertuliskan A.s dengan tinta merah. Aku berusaha tidak begitu memikirkannya. Beban pikiranku sudah terlalu berat. Aku tidak ingin menambahinya dengan hal sepele seperti ini.
Padahal aku berharap pengirimnya adalah Taqin.