
Sejak waktu itu, aku dan Mada pun sangat akrab. Kami memang tidak begitu sering pergi kemana-mana bersama. Hanya di waktu tertentu saja, seperti saat akan pergi ke Masjid, ke dapur, dan mandi. Selainnya hanya kebetulan, seperti saat aku dihukum waktu itu. Kami tidak berada di kelas yang sama, itu sebabnya kami tidak pernah pergi sekolah bersama. Dia juga terbilang cukup sibuk. Aku juga baru tau kalau hubungannya dekat dengan pengurus karena ia meminta pekerjaan kepada mereka sebagai tukang cuci atau setrika baju. Memang, hanya beberapa saja yang bersedia bajunya dicuci. Selain pengurus, ia juga mencuci baju beberapa santriah disini. Katanya, orangtuanya tidak punya cukup uang untuk mengiriminya uang setiap bulan. Jujur, aku merasa sangat iba padanya. Aku ingin membantunya tapi ia langsung menolak.
“Aku bersedia nyuci baju temen-temen disini, kecuali kamu.”
Ujarnya santai menolak tawaranku. Memang aku baru berniat seperti itu, dia mencuci bajuku lalu kubayar dengan jumlah uang lebih. Agar dia tidak merasa direndahkan jika aku hanya meminjaminya uang begitu saja, menurutku. Tapi dia langsung bisa menebak maksudku yang lain, yaitu membantu diriku yang tidak bisa mencuci baju. Aku sudah mencoba mencuci sepasang baju dan rokku kemarin, tapi setelah dijemur baunya sangat tidak enak. Bau amis, seperti habis direndam dalam kolam lele selama berhari-hari.
Dia menolak tawaranku dan malah balik menawariku mencuci baju bersama besok yang kebetulan hari Jum’at. Dia tau bajuku sudah hampir habis karena kotor semua. Mama juga sudah 2 kali mengirimiku baju dari rumah. Aku tidak bisa memberitahu Mama kalau selama disini aku belum pernah mencuci baju, Ustazah Ammi-istri ustadz tempat peminjaman handphone-itu adalah teman Mama. Dia selalu memperhatikanku jika menelpon. Jadi aku tidak bisa berbicara sesuka hati dan membahas semua masalahku di depannya. Apalagi hanya masalah sepele seperti mencuci. Bisa-bisa dia mengomeliku dan mencapku sebagai santriah pemalas, atau mungkin tidak mandiri.
Sebenarnya, sebelumnya aku pernah kehilangan sepatu dan langsung diomeli Ustazah, karena aku menelpon dan langsung memberitahukannya pada Mama. Ustazah beranggapan aku yang ceroboh, dan kuakui dia benar. Karena sebenarnya aku juga lupa letak sepatu yang kujemur saat hendak mengangkatnya ketika sudah sore. Jadi ketika sudah magrib, orang-orang yang ditunjuk piket kebersihan hari itu akan mengangkat segala sesuatu yang ada di jemuran dan mengumpulkannya di rumah pengurus, untuk kemudian dibagikan pada pemiliknya dihari Jum’at. Tapi waktu proses pembagian aku tidak bisa ikut hadir, karena sedang sakit perut. Jadi mungkin sepatuku dibuang karena dianggap tidak ada pemiliknya.
“Kalo kamu gak mau juga gak papa.” Rajuk Mada melihat kediamanku menanggapi tawarannya. Aku langsung meliriknya kesal.
“Iyaiya aku mau.”
“Gitu dong..” Ujarnya sambil tersenyum.
Dan sekarang aku menuruti keinginan Mada, semoga saja baju-bajuku kali ini tidak akan menjadi korban selanjutnya seperti yang dialami sepatuku. Memang seperti ini juga lebih baik, keluar dari zona nyamanku untuk segera berubah. Daripada nanti bertele-tele, nama baik kamarku dan orang-orang didalamanya termasuk aku akan semakin jelek. Karena pemandangan baju-baju kotorku sangat merusak suasana kamarku.
“Bukannya aku gak mau bantu.”
Ujar Mada kembali memecah kediamanku.
“Itu karna kamu teman dekat aku. Aku mau kamu belajar, supaya nanti kalo aku gak disini, kamu gak bingung mau nyuci itu caranya gimana.”
Ia menasehatiku, lalu kemudian tertawa lepas, merasa geli dengan kata-katanya sendiri. Aku tau, sebenarnya setengah dari penyebabnya tertawa adalah aku, kebodohanku tentang mencuci. Aku merasa cukup dilecehkan. Tapi, mendengar kata ‘gak disini’ tadi seperti memiliki aura dingin dan membuatku berpikir mengenai penyakit.
Apa dia punya penyakit akut?? Berarti sebentar lagi mati dong?? Jangan-jangan ini pesan terakhirnya..
Wajahku muram.
“Gak disini bukan berarti udah mau mati!!”
Selanya tiba-tiba membuatku langsung terkaget. Kupikir bicara dengannya seperti tidak memerlukan bibir. Cukup mainkan pikiran saja.
“Bisa jadikan, saudaraku ada nikahan, trus aku harus pulang... gimana sih, isi pikiran kamu aneh banget.”
Ia kelihatan kesal, aku juga lebih kesal dan langsung memalingkan wajah. Kuabaikan kata-katanya itu seolah bukan hal penting, dan mengajaknya ke kamarku untuk melihat baju-baju kotorku, supaya kami bisa menyesuaikan banyak detergen yang diperlukan. Awalnya ia mengataiku lebay, karena mengira dengan membeli sebungkus detergen saja cukup tanpa harus repot-repot mencek baju yang harus kami cuci. Tapi ketika sampai di kamarku dan melihatnya langsung. Mada pun ternganga. Dan itu membuatku bingung plus khawatir kalau dia akan kabur. Aku sendiri tidak tau harus berkata apa, hanya bisa memohon padanya agar tidak menghindar dariku dan tetap membantuku.
Jujur, aku memang sudah berkali-kali dimarahi karena masalah bajuku ini, kotor dan menumpuk berember-ember di balik pintu membuat kakak Seksi Kebersihan mencap kamar kami kamar terkotor. Ditambah aku harus menerima bonus kebencian dari teman sekamarku. Tapi aku tidak peduli itu. Harapanku saat ini hanya Mada. Dan dia pun masih diam ternganga hampir 30 detik sudah, membuatku semakin khawatir dia benar-benar akan kabur dan meninggalkanku dalam kesengsaraan.
“Hmm... mungkin kita bisa beli detergennya dulu di koperasi.”
Akhirnya ia mulai buka suara. Ia mulai menyusun rencana untuk besok mengenai sebanyak apa baju yang akan dicuci dan hari seterusnya. Karena dilihat dari banyaknya baju yang kotor, tidak ada jaminan aku bisa mencuci semuanya dalam satu hari. Tanganku bisa patah jika dipaksakan. Belum lagi ini adalah pengalaman pertamaku mencuci baju, juga noda yang mengotori baju sudah cukup lama didiamkan, pasti butuh waktu lama merendamnya. Ketidakmahiranku pasti akan semakin memperlambat prosesnya.
Saran Mada, khusus untuk besok, aku harus mencuci sebanyak 3 ember. Dan itu berhasil membuatku syok batin mendengarnya. Membayangkannya saja aku tidak sanggup. Sedangkan untuk hari-hari biasa setelahnya aku harus mencuci seember saja. Dan untuk penjemuran, aku tidak boleh sampai lupa dimana letak baju yang kujemur, seperti yang sudah dialami sepatuku waktu itu. Apalagi sampai lupa mengangkatnya ketika sudah sore. Resikonya sudah pasti bajuku akan ditumpukkan di rumah pengurus, dan baunya akan berubah jadi tak enak.
Aku juga diharuskan mengangkat baju langsung sehabis pulang dari Masjid setelah sholat Asar. Agar baju-baju tidak dingin saat hendak dilipat. Aku harus langsung melipat baju yang sudah diangkat, dan menyusunnya dalam keranjang agar terlihat rapi. Masalah penyetrikaan, bisa dilakukan ketika ada waktu luang. Jadi, aku tidak boleh bermain-main sebelum menyelesaikan tugas ini juga tugas sekolah. Itulah peraturan-peraturan yang disebutkaan Mada dan wajib kuikuti jika ingin tetap dibantu olehnya. Ia benar-benar mengancamku.
Aku merasa Mada seolah menularkan gaya hidupnya padaku, meski saat ini secara paksa. Hari-harinya yang selalu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat baginya dan orang lain.
****
Pagi-pagi sekali Mada datang dan mengetok kamarku berkali-kali. Aku tidak tau jam berapa itu, yang pasti sebelum azan subuh dia datang membangunkanku dan mengajakku mulai merendam pakaian, agar nanti setelah olahraga dan kegiatan rutin lain selesai, kami sudah bisa mulai mencuci.
Awalnya aku tidak mau karena masih sangat mengantuk, ditambah udara berembun yang langsung menyambutku saat membuka pintu tadi terasa begitu dingin menusuk hingga ke tulang sumsum, membuatku langsung balik ke kasur dan bersembunyi di dalam selimut lalu kembali melanjutkan tidurku. Mada tentu tidak membiarkan hal itu terjadi. Ia terus memaksa dengan menarikku hingga aku terjatuh dari tempat tidur. Dan itu cukup membuat kantukku hilang karena kesakitan. Aku langsung bangkit dengan rasa dongkol dan penuh dengan keterpaksaan. Sedangkan ia malah tertawa terpingkal-pingkal melihatku. Padahal kupikir dia bukan tipe orang yang mudah tertawa.
Ketika berada di kamar mandi, kami merendam baju yang sudah kami bawa. Ternyata Mada juga membawa pakaian yang luar biasa banyak. Memang itu bukan pakaiannya, tapi aku benar-benar salut padanya. Ia bisa melakukan itu setiap hari hanya demi biaya sekolahnya yang tidak tercukupi orangtuanya. Aku benar-benar iba dan merasa malu sendiri ketika membandingkannya dengan diriku yang tidak berguna ini.
“Hei... kok malah ngelamun? Cepetan rendam bajunya. Ntar keburu rame loh.” Tegur Mada. Aku pun segera melakukan apa yang diperintahnya.
Dan benar, beberapa menit setelah kami selesai merendam semua baju, orang-orang sudah mulai berdatangan untuk berwudhu. Kami pun segera kembali ke kamar setelah selesai berwudhu, untuk mengambil mukena dan langsung berangkat ke Masjid.
Tanpa kusadari, kami adalah orang pertama yang sampai ke Masjid subuh ini. Ini memang pertama kali bagiku. Biasanya aku selalu terlambat atau bahkan tidak ke Masjid. Waktu tercepat aku sampai ke Masjid adalah ketika imam sudah bertakbir untuk rukuk pada rakaat pertama, belum terlambat memang. Hanya nyaris. Dan subuh ini aku orang pertama, dalam hati aku tertawa puas. Tentu saja, dengan begini aku bisa tidur beberapa menit sebelum para pengurus datang mengawasi.
Kulirik Mada. Ternyata kami memiliki pikiran yang jauh berbeda dalam keadaan seperti ini. Ia malah memanfaatkan kesempatan ini dengan membaca Al-Qur’an, padahal kalau ada pengurus pun dia tetap bisa melakukan itu.
Kenapa dia tidak melakukan sesuatu yang tidak bisa dilakukannya nanti? Dasar ******!!
Pikirku.
Kurebahkan tubuhku diatas sajadah yang sudah tergelar di lantai. Kucoba mencari posisi yang nyaman untuk tidur, tanpa menyadari kehadiran Mada di sebelahku. Ia sudah membawa dua Al-Qur’an di tangan kanannya. Ia berniat akan membaca Al-Qur’an bersama denganku. Tapi melihat tingkahku membuatnya dengan kasar menarik bagian ujung belakang mukenaku hingga rambut bagian atasku kelihatan semua.
“Kita datang lebih awal bukan buat tidur-tiduran...”
Ujarnya setengah membentak. Wajahnya terlihat sedikit berkerut karena marah. Kelihatannya ia tidak suka melihat ulahku yang brandal. Segera aku duduk dan merapikan rambut-rambut yang berkeluaran dari pinggiran mukena dibagian jidat dan juga pipiku. Dalam hati aku merutuk kesal melihat Mada. Dia terlalu takut dengan peraturan.
Mada memberiku Al-Qur’an yang kemudian langsung kuambil. Dengan hati yang masih dongkol aku membaca Al-Qur’an di tanganku itu. Baru beberapa ayat kubaca aku langsung berhenti karena tidak fokus mendengar suara Mada yang juga sedang mengaji di sebelahku. Suaranya tedengar serak-memang khas suaranya-tapi sangat enak didengar. Cara membacanya yang fasih dengan makhrijul huruf yang pas semakin memperindah suaranya. Lantunan-lantunan ayatnya seolah mengajakku untuk mengikutinya. Dengan rasa kagum luar biasa, aku mengikutinya membaca Al-Qur’an di tanganku sambil membaca terjemahan di sebelah barisan ayat dengan penuh penghayatan. Kubaca semua dengan perlahan hingga tanpa sadar hanyut dalam susunan kalimat-kalimat yang indah itu.
****
Kurang lebih jam 9 semua kegiatan rutin hari Jum’at selesai, termasuk olahraga dan kebersihan mingguan. Aku dan Mada berjalan menuju kamar mandi. Masih ada tugas menyebalkan yang menunggu kami disana. Yaitu berember-ember baju yang meminta untuk segera dicuci sebelum ia membusuk.
Ketika kami mulai mencuci, Mada mengajariku cara mencuci yang baik menurutnya dan menunjukkan bagian-bagian yang sering ditempeli kotoran seperti kerah baju, bagian bawah rok, dan lain sebagainya. Aku hanya mengangguk mendengarkannya sambil mulai mempratekkan kata-katanya itu.
Jika hanya melihat, semuanya seperti bisa dikerjakan dengan sangat mudah. Tapi ketika aku mulai mencobanya sendiri aku benar-benar kesulitan. Mada tidak ingin membantuku lagi. Cukup bagian pertama saja katanya, hanya untuk mencontohkannya padaku. Dia pun sedang sibuk dengan baju yang dicucinya.
Aku tidak tau pasti berapa jam waktu yang kami habiskan untuk mencuci, yang kutau setelah mencuci itu tanganku terasa sangat pegal, juga bagian tubuhku yang lain. Mada hanya terlihat biasa saja. Dia sudah menyelesaikan cuciannya dan sekarang sedang membantuku membilas pakaian yang sudah kucuci. Dia memang sudah terbiasa melakukan ini, jadi wajar saja wajahnya tetap datar begitu.
Kami baru selesai sampai pada proses penjemuran, ketika hari sudah hampir mendekati zuhur. Kami kembali ke kamar masing-masing setelah mandi. Ketika berada di kamar, aku langsung menghempaskan tubuhku ke atas kasur. Tubuhku terasa sakit semua terutama bagian tanganku. Lama aku berbaring dengan mata kuyu, dan keranjang sabun yang tanpa sadar kuletakkan di atas kasur. Beberapa isinya berserakan diatas kasur karena terhambur saat aku menghempaskan diri tadi.
Tegur seseorang yang aku sendiri tidak tau siapa itu. Meliriknya saja pun aku tidak sanggup karena mataku perlahan terasa berat. Aku mengantuk. Kurasa ada yang merapikan tempat sabun serta handukku dan menaruhnya di tempat yang semestinya. Samar-samar mataku memperhatikannya sampai selesai baru kemudian aku tertidur.
****
“Tam... bangun.”
Suara Mada sayup-sayup terdengar membangunkanku. Tubuhku digoyang pelan membuatku terjaga dari tidurku yang terasa begitu menyakitkan. Kulihat Mada sedang berdiri dengan sepiring nasi dan secangkir air putih di kedua tangannya. Kulirik jendela, dunia ini sudah gelap. Ternyata aku sudah tertidur seharian.
Memang ketika aku bangun tidur siang tadi, mungkin sekitar 1 jam-an setelah mencuci baju itu, aku langsung merasa tubuhku sakit semua. Otot-ototku terasa kaku. Aku memilih berdiam diri di kamar sepanjang hari, bahkan untuk ke dapur pun tidak kulakukan. Teman-teman sekamarku menanyai keadaanku, tapi selalu kujawab cuek karena malu kalau sampai mereka tau aku berjuang mati-matian mencuci bajuku yang sebelum-sebelumnya mereka permasalahkan. Aku tidak ingin mereka tau kalau aku tidak pandai mencuci baju. Aku bisa malu setengah mati kalau sampai mereka tau itu.
“Kamu makan dulu. Kamu udah gak makan apa-apa dari tadi siang. Ntar kena Magh lagi.”
Perintahnya sambil membantuku duduk. Tangannya menyusun bantal-bantal di belakangku untuk tempatku bersandar. Wajahnya terlihat murung, seperrti sedang ada masalah. Aku ingin menanyainya, tapi pikiranku mendadak tertuju pada jemuran membuatku langsung terbelalak menatapnya.
“Kenapa?”
Tanyanya dengan kening berkerut melihat perubahan ekspresiku yang mendadak.
“Baju-bajuku!!!”
Teriakku. Membuat semua mata di kamar itu memandang aneh kearah kami.
“Oh.”
Jawabnya santai membuatku merasa jengkel. Aku sudah mati-matian mencuci 3 ember baju sampai sakit-sakitan begini, dan sekarang aku lupa mengangkatnya dari jemuran dan sudah pasti orang-orang piket itu yang mengangkatnya dan menumpuknya di kamar pengurus hingga bau jamur. Lalu minggu depan setelah itu dibagikan aku harus mencucinya lagi hingga aku sakit lagi dan lupa mengangkatnya lagi lalu mencucinya lagi dan begitu seterusnya, apa hidupku di pesantren ini hanya untuk melakukan hal bodoh seperti itu?? Ditambah lagi, dia malah hanya memberi respon kepanikanku dengan dua huruf itu saja.
“Udah aku angkat semua.” Ujarnya menjawab semua omelan dalam hatiku. Dan itu membuatku langsung merasa luar biasa lega.
“Kan aku yang ditunjuk buat piket sore ini.” Tambahnya membuatku kembali terbelalak.
“Jadi bajunya kamu taruh dimana?”
“Kalo piket yang ngangkat kan wajib tetap di taruh di rumah pengurus. Kalo nggak ntar dituduh nyuri.”
Kujambak rambutku sendiri merasa geram dengan jawabannya. Yang dikatakannya memang benar. Lagian aku tidak memberitahunya kalau aku sakit. Mana mungkin dia tau aku belum mengangkat baju-bajuku.
“Mada...”
Rengekku hampir menangis. Aku tidak punya kata-kata untuk memarahi atau memprotesnya. Dia malah tertawa kecil sambil menyodorkan nasi bercampur lauk diatasnya.
“Makan dulu deh. Nanti aja bahas masalah bajunya.” Ujarnya. Kubuka mulutku sambil merengut kesal membiarkan ia menyuapiku dengan senyum yang masih menempel di bibirnya. Ia mengabaikan wajah kusutku. Aneh. Padahal tadi dia datang kemari dengan wajah kurang bahagia. Kenapa wajah murungnya itu seketika hilang ketika melihatku menderita begini??
Kutelan suapan terakhir dengan perasaan masih sedikit dongkol. Mada meletakkan piring bekas makananku di bawah tempat tidur. Sebelum ia beranjak pergi, ia berpesan padaku agar jangan sampai lupa dengan kegiatan rutinku setiap hari, yaitu mencuci seember baju untuk mencicil baju-baju kotorku yang masih menumpuk di balik pintu. Aku ingin menolak karena tubuhku masih sakit, tapi ia menyelaku cepat dan mengatakan rutin itu bisa menyembuhkan rasa sakit di tubuhku. Dan itu membuatku semakin yakin kalau Mada benar-benar sudah gila. Dia seperti tengah menumpuk kesengsaraan dalam hidupku secara perlahan. Mana mungkin aku bisa mencuci dalam keadaan sakit begini. Aku bisa pingsan nanti kalau harus memaksakan diri.
Dalam hati aku berniat tidak menuruti kata-kata Mada sambil berpikir keras mencari cara agar tidak ketahuan. Kulirik Mada yang sudah berdiri di depan pintu. Ternyata dia juga sedang melihatku dengan wajah muram. Sepertinya aku sudah ketahuan.
“Kalo kamu gak mau juga gak papa. Tapi aku gak bakal mau ngebantu kamu lagi buat seterusnya. Aku bukan orang aneh. Aku gak bakal nyuruh ini itu kalo bukan karna ada gunanya.”
Ujarnya lalu pergi begitu saja meninggalkanku yang masih terdiam mencerna kata-katanya. Memang benar, Mada sudah melakukan ini lebih sering dariku. Dia sudah merasakan sakitnya duluan dan cara menghilangkannya. Tapi aku yang baru merasakan ini sangat kesulitan dan tak sanggup melakukan semua yang dikatakannya.
Gimana kalo Mada gak mau temenan sama aku lagi??
Pertanyaan itu tiba-tiba muncul dalam benakku membuatku langsung menghela nafas berat dan berusaha bangkit menyusul Mada. Aku tidak ingin kembali merasakan hal yang sebelumnya, tidak punya teman dimana-mana, diomeli tidak jelas saat berusaha mengajak mereka bicara. Aku tidak ingin merasakan saat itu lagi.
Aku menemui Mada di kamarnya. Dia sedang mulai menyetrika baju-baju yang begitu banyak dalam keranjang. Ada 3 buah keranjang disana. Semuanya berisi baju yang menggunung saking banyaknya. Saat kuperhatikan baik-baik, ternyata salah satu keranjang itu berisi baju-bajuku. Dia mengangkatnya rupanya. Dia cuma membohongiku tadi untuk menggertakku, menyebalkan sekali dia, umpatku dalam hati.
Kulipatkan kedua tanganku didada. Tadinya aku berniat untuk meminta maaf, tapi kurasa itu tidak perlu. Dia sudah membohongiku. Mada hanya melirikku sekilas lalu kembali fokus pada pekerjaannya. Ia tidak bicara sedikit pun membuatku langsung mendengus kesal. Kami sama-sama keras kepala rupanya. Keras jika menabrak yang keras pasti ada yang hancur. Lebih baik aku mengalah dan bicara duluan, daripada ujungnya tidak punya teman.
“Aku bakal nyuci besok buat rutinitas kayak yang kamu bilangin.”
Lagi-lagi ia hanya melirikku membuatku semakin bingung ingin berkata apa selanjutnya. Aku memang tidak bisa membujuk orang. Selama ini aku yang dibujuk Mama, Papa atau Key.
“Ato kamu mau aku bantu nyuci?”
“Gak perlu.”
“Trus gimana? Kamu jangan ngambek gitu dong.”
“Siapa juga yang ngambek.”
Pertanyaan retorik yang sama sekali tidak membutuhkan jawaban. Aku memutuskan untuk diam sambil terus berdiri memandanginya. Ide memujukku sudah habis, dan ini kali pertama aku membujuk orang lain hanya karena takut kehilangan teman semata wayang. Benar-benar bukan diriku yang biasanya.
Mada akhirnya buka suara karena tidak ingin melihatku terus diam sambil berdiri seperti orang bodoh, dan tidak melakukan sesuatu yang berguna. Ia memintaku untuk menyetrika bajuku itu. Supaya baju-baju jenis seragam sudah tersedia untuk kukenakan besok. Ia memintaku menyetrika di kamarku sendiri. Karena malam ini sudah menunjukkan jam 10 lewat, akan jadi masalah kalau sampai pengurus tau masih ada yang berkeliaran di jam segitu. Ia menasehatiku dengan wajah datarnya seolah masalah tadi tidak mengganjal lagi di hatinya.
“Usahakan nyetrikanya jangan bersuara yah.. ntar ketahuan sama Pengurus kalo kamu belum tidur.”
Pesannya lagi. Memang selain tidak boleh berkeliaran, santriah juga tidak boleh bergadang, apalagi sampai menimbulkan suara-suara bising yang mengganggu kenyamanan orang lain. Aku hanya manggut-manggut menanggapinya dan berjalan keluar sambil membawa keranjang berisi baju-bajuku tadi.
Setelah malam itu sampai hampir seminggu lamanya, Mada terus-terusan menertawaiku karena jilbabku yang berkerut. Aku sendiri tidak tau penyebabnya. Ia memfitnahku menyetrika jilbabku tanpa perasaan sampai membuatnya gosong. Aku tidak terima itu. Meski sebenarnya aku juga tidak ingat betul bagaimana aku bisa selesai menyetrika malam itu. Karena pada bagian akhir aku mengerjakannya dalam keadaan antara sadar dan tidak. Untuk baju-baju semuanya terlihat baik-baik saja karena memang aku menyetrikanya diawal dan bagian jilbab di bagian akhir. Jadi mungkin kata-kata Mada ada benarnya juga.
“Gosong!!! Ini juga... gosong...gosong... jilbab kamu gosong semua?! Astaghfirullah..hahahahaha..”
Mada mengejekku lagi dan lagi ketika ia membolak balik deretan jilbab yang tergantung dalam lemariku. Aku hanya merengut mendengar tawanya yang dari ke hari tidak kunjung surut, malah semakin menjengkelkan saja. Ia tidak henti-hentinya mengejekku sambil tertawa seperti itu tanpa bosan sedikit pun. Justru aku yang merasa bosan dan perlahan mulai terbiasa dan mengabaikannya.
Kumasukkan baju-baju kotorku ke ember sambil meliriknya kesal. Aku akan mencuci seember terakhir tumpukan baju kotorku waktu itu. Aku sudah mengerjakan rutinitas yang dikatakan Mada selama hampir seminggu. Apa yang dikatakannya tentang rasa sakit dan pegal itu memang benar. Semua rasa sakitku hilang secara perlahan. Aku memang hanya butuh pembiasaan. Dan kalau saja aku berhenti setelah mencuci 3 ember baju waktu itu tanpa melakukan rutinitas seperti ini, mungkin tubuhku akan semakin sakit. Mada memang teman yang baik, meski terkadang menjengkelkan.