ViRus

ViRus
Nasehat Taqin



Mobil yang kami naiki perlahan memasuki pekarangan rumah. Mama membuka pintu mobil dan melangkah keluar yang kemudian disusul oleh Papa. Aku sendiri hanya diam sambil terus menangis. Sepanjang perjalanan tadi aku tidak bicara sepatah kata pun setelah perbincangan dengan Mama tadi. Dan sekarang aku yakin mataku sudah bengkak.


Mama memanggilku dari luar mobil memintaku untuk keluar. Aku hanya diam pura-pura tidak mendengar. Dalam hati aku merutuk kesal mengabaikan Mama yang terus-terusam memanggilku. Sampai akhirnya aku melihat wajah Mama memerah emosi, Mama lalu bergerak cepat membuka pintu mobil dan menarikku secara paksa bahkan menyeretku, mencengkram pergelangan tanganku kuat. Aku berteriak kesakitan tapi Mama mengabaikannya. Papa juga hanya diam tidak peduli dengan teriakan-teriakan tangisku. Mama langsung membawaku ke kamar dan mengunciku dari luar. Aku hanya bisa berteriak sambil memukul dan menendang pintu. Walaupun aku tau, aku tidak akan mendapatkan apapun selain rasa sakit dikaki dan tanganku.


Aku menangis berjam-jam di kamar sambil memeluk kedua lututku. Mataku bahkan sudah terasa perih karenanya. Aku mencoba berpikir keras bagaimana cara agar aku bisa kembali lagi ke Pesantren. Kulirik meja rias disamping tempat tidur. Aku ingat saat aku pulang karena sakit waktu itu aku menyimpan handphoneku di lacinya. Kupikir handphoneku akan tetap berada disitu sampai sekarang kalau memang Mama sebelumnya tidak memindahkannya ke tempat yang tidak kuketahui.


Segera kudekati meja itu dan membuka lacinya. Dan ternyata handphoneku masih ada disana. Aku langsung mengambilnya dan membawanya kekamar mandi. Kututup pintu kamar mandi itu rapat-rapat lalu menguncinya. Aku ingin menghubungi Mada untuk mencari solusi. Aku tidak boleh sampai ketahuan menelpon orang lain, bisa-bisa handphoneku juga akan disita dan jalanku untuk kembali ke asrama akan buntu.


Kucari nomor handphone Mada dalam kontakku. Dan Alhamdulillah, aku bisa menemukannya. Segera kutekan tombol call untuk menghubunginya. Tidak sampai 5 detik, panggilanku diangkat. Tapi bukan suara Mada disana. Melainkan suara lelaki yang kurasa seperti kukenal.


“Halo?”


“Ini siapa?”


“Taqin, ada apa Tam?”


“Mada dimana?”


“Ini.”


Aku mendengar suara gemerisik dan percakapan singkat Mada dan Taqin. Aku perlahan mendengar suara Mada pun semakin jelas. Suara yang sudah sangat lama tidak kudengar membuat tangisku nyaris pecah karena rindu sekaligus luapan rasa sedih dalam hatiku. Aku langsung memanggil Mada agar aku bisa segera memulai pembicaraan dengannya.


“Mada..”


Panggilku dengan suara serak menahan tangis. Berharap pemilik suara yang akan menyambut panggilanku itu bisa membantuku meringankan masalahku ini.


“Tam, apa kabar?”


Mada menjawab panggilanku dengan nada riang, tidak menyadari sedikit pun kekalutan dari suaraku.


“Baik, alhamdulillah.. kamu sama siapa?” Tanyaku meskipun sebenarnya aku sudah tau ia pasti sedang bersama Taqin sekarang. Aku hanya ingin memastikan mereka hanya berdua, dan aku ingin pertanyaanku ini bisa membuatnya merasa sedikit sensitif dan mengerti bahwa aku sedang ingin membicarakan sesuatu yang aku tidak ingin siapapun mendengarnya selain dia. Sehingga ia bisa menjauh sedikit dari Taqin.


“Cuman sama kakak.”


“Kamu gak bisa jauh dari dia, nanti dia dengar..”


Ujarku akhirnya mengutarakan langsung yang kumaksud karena kupikir ia memang tidak mengerti maksud kata-kataku.


“Ahhh.. gak papa kok. Dia gak bakal ngganggu. Tapi kamu kok bisa nelpon? Kamu bawa handphone ke asrama yah?”


“Gak kok. Aku dipaksa pulang sama Mamah..”


Suaraku bergetar. Aku benar-benar ingin menangis sekarang. Air mataku perlahan mengucur tanpa kuminta, rasa sesak mulai memenuhi dadaku seolah meminta agar masalahku segera kutumpahkan hingga aku bisa menemukan solusinya.


“Kok gitu?”


“Gak tau. Mamah maksa aku pindah ke SMA..” Kucoba menahan tangisku dengan sesekali menutup mulutku dengan tanganku.


“Kamu habis buat masalah di pesantren?” tanya Mada curiga.


“Enggaaak, Mamah cuman gak suka aku dekat sama Taqin. Mamah takut aku bakal pacaran sama Taqin.”


Jawabku sedikit ragu. Aku tau Taqin juga ikut mendengarkan ceritaku. Itu sebabnya aku sempat menyuruh Mada menjauh darinya, karena aku tidak ingin Taqin merasa sakit hati dengan tuduhan orangtuaku. Lagian ini menyangkut dengan Key yang kutau adalah teman baik Taqin. Aku tidak ingin hubungan mereka jadi renggang karena aku.


“Serius Mamah kamu takut kamu kayak gitu?”


Tanya Mada tidak percaya. Aku tau apa yang dirasakannya. Kami tidak mungkin terfitnah seperti itu jika tidak melakukan sesuatu yang mencurigakan. Dan aku yakin Mada tidak percaya kakaknya melakukan itu.


“Iya. Sebenarnya gak bakal separah itu kalo bukan karna Key.”


“Key??”


Taqin terdengar mengulangi nama Key, seperti sengaja untuk memastikan. Dan itu benar. Key yang kumaksud adalah teman baiknya.


“Sahabatnya Tam.”


Ujar Mada menjelaskan membuatku langsung meremas ujung jilbabku. Aku tidak ingin Taqin menanyakan lebih.


“Ooh.. coba sini handphonenya.”


Taqin meminta handphonenya dari Mada membuatku langsung mengurut kening khawatir, tapi tekanan dalam hatiku terlalu kuat. Aku ingin tetap menetap di Pesantren, ingin bebas dari Mama dan Papa yang selalu berlaku sesuka hati padaku. Aku ingin kembali ke tempat yang sudah membuatku menjadi diriku yang bebas itu.


“Halo Tam?”


Suara Taqin terdengar begitu jelas dan bersih disana, membuat rasa sesak di dadaku semakin ingin tumpah saja. Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku lagi. Kulepaskan tangisku perlahan dan semakin menjadi. Lagian kupikir jika Taqin tau masalahku, ia mungkin bisa bicara dan menjelaskan semuanya kepada Mama dan Papa. Dan Masalah kesalahpahaman ini pun akan terselesaikan. Tapi apakah semuanya akan berjalan semudah itu??


“Taqin.. hk.. ana gak mau pindah.. ana mau tetap di Pesantren.. Taqin tolong jelasin ke Mamah..”


“Ssshhh.. coba dengarin ana dulu..masalahnya sekarang apa?”


Aku berusaha kembali menjelaskan semuanya pada Taqin sedetail mungkin melupakan masalah Key yang tadi sempat ingin kujagakan dari Taqin. Tapi point yang kusampaikan selalu tidak terdengar jelas karena aku menjelaskannya sambil menangis terguguk. Akibatnya Taqin selalu memintaku mengulang beberapa kata-kataku. Dan itu membuatku tanpa sengaja membentaknya karena malah tambah kesal dengannya. Aku bahkan memintanya membersihkan telinganya terlebih dahulu sebelum aku melanjutkan kembali ceritaku.


“Telinga antum ****** banget sih.. bersihin dulu sana gih.” Perintahku. Mendengarku yang sudah nyaris kesetanan, Taqin pun menurut. Ia bahkan memberitahuku step by stepnya sebagai bukti ia memang membersihkan telinganya dengan cotton buds.


“Nih.. ana bersihin ya.. ini ana pake cotton buds.. ana puter-puter didalam..”


“Bukan diputer.. dikorek tau.. hahaha..”


Mada terdengar mengoreksi kata-kata Taqin sambil tertawa membuatku tanpa sengaja ikut tertawa kecil. Taqin memang ******, pikirku.


“Udah diam ah.. ntar dianya ngamuk lagi loh..”


Ujar Taqin setengah berbisik, tapi aku tetap bisa mendengarnya.


“Nih udah selesai kita taruh disini-”


“Eh.. dibuang dong.. masa ditaruh dalam vas bunga, kakak kotor.. Tam jangan mau deket sama kak Taqin.. kak Taqin jorok, bukan calon imam yang ideal. Hahaha.”


“Kakak kan udah tua.”


Ejek Mada membuatku ikut tertawa tapi segera kututup mulutku dengan tanganku agar Taqin tidak mendengarnya. Aku tidak tau berapa umur Taqin sebenarnya. Yang kutau ia terlihat seperti seumuranku. Tapi sepertinya kata-kata Mada tadi menyalahi dugaanku. Lagian Mada yang seumuran denganku tidak mungkin seumuran juga dengan Taqin, kecuali mereka anak kembar.


Aku merasa sangat senang mendengar percakapan mereka. Terlihat begitu bahagia, seolah hidup mereka tidak pernah ada masalah. Aku iri dengan mereka. Mereka bisa mendapat kebebasan untuk melakukan apapun. Mereka bisa mendapatkan kebahagiaan di rumah mereka. Tidak sepertiku. Aku tidak pernah merasa kebahagiaanku ada di rumahku sendiri.


“Okey.. udah selesai. Kita lanjut.”


Ujar Taqin membuatku mengerjap sadar dari lamunanku.


“Antum jorok banget sih.” Ujarku ketus pura-pura tidak suka.


“Ini udah ana buang loh. Antum kan gak liat, cuman denger kata Mada doang.”


“Ish..” Aku pura-pura menggeliat merasa jijik sambil menahan tawaku.


“Lah... gak percaya? Perlu ana ambil fotonya trus kirim ke antum?”


“Udah ah.. ada-ada aja. Ana lanjut nih..”


Aku lalu melanjutkan ceritaku. Kali ini dengan lebih tenang sehingga Taqin bisa mendengarnya dengan jelas. Walapun ujung-ujungnya aku tetap tidak bisa menahan tangisku. Taqin tetap setia mendengarkanku, tidak memotong kata-kataku sebelum aku benar-benar menjelaskannya sampai selesai. Ia membiarkanku menumpahkan perasaanku hingga aku merasa puas. Setelah aku berhenti bicara, ia pun mulai menanyaiku.


“Niat antum buat netap di Pesantren apa?”


“Belajar ilmu agama dong. Masa numpang tidur.” Jawabku ketus membuat Taqin langsung tertawa, tapi coba ditahannya.


“Yang bener??”


tanyanya. Suaranya terdengar menyiratkan rasa geli.


“Iya bener. Masa antum gak percaya sih.” Jawabku kesal. Aku tidak tau tujuannya menanyaiku seperti itu. Apakah untuk menggodaku agar aku marah padanya, atau ia benar-benar ingin memastikan.


“Luruskan niat antum. Ngomong ke Mamah itu pas mama lagi gak marah ato lagi gak capek. Diajak ngobrol dulu dikit-dikit sambil bercanda. Kalo kira-kira suasana hati mereka betul-betul baik, baru antum pelan-pelan nanya. Usahakan kata-katanya itu yang baik-baik. Jangan malah mancing emosi mereka.”


“Kasi tau ke mereka kalo antum itu udah nyaman di Pesantren karna antum mulai merasa diri antum berubah jadi lebih baik, ilmu agama antum baik, sosialisasi juga baik, banyak perubahan yang baik.”


“Kalo masih tetap suuzon sama hubungan kita ya... tantang aja, coba Mama antum mastiin sendiri nanya ke Ustadz Hafiz, semua orang kan tau ana akrab banget sama beliau. Juga istri beliau kan temen Mama antum juga. Paling beliau malah bakal ngejelasin larangan berpacaran di Pesantren. Apalagi sama guru Tahfiz sendiri.”


Taqin terus menasehatiku dengan lembut, memberiku solusi yang baik agar tidak sampai terburu-buru dan melakukan hal yang salah dan justru memperumit masalahku. Aku hanya diam mendengarkannya dan masih tetap sambil menangis.


“Tapi ana takut.. Mamah makin keras kepala.”


“Makanya antum jangan sampe salah bicara. Harus bisa ngambil waktu yang tepat buat memulai pembicaraannya. Oke?!”


“He-em..”


Setelah menasehatiku, Taqin lalu memberikan handphonenya kembali pada Mada, memberi kami kesempatan untuk berbicara dan saling melepas rindu. Kuceritakan semua tentang ulah bodoh Latifah dan teman baruku Ai. Ternyata Mada juga mengenal Ai. Dan anehnya ia memintaku agar jangan terlalu dekat dengan Ai. Ketika kutanyai alasannya, ia selalu menjawab hanya firasat saja. Sama seperti alasannya tentang Key waktu itu. Segera kujelaskan mengenai Ai pada Mada untuk menepis pikiran buruknya itu. Aku tidak ingin dia terus-terusan menilai orang melalui firasatnya saja.


Kupikir setelah memberitahunya tentang Ai, Mada akan berubah pikiran. Tapi nyatanya tidak sama sekali. Ia terus memintaku agar jangan terlalu dekat dengan Ai, dengan alasan Ai itu penipu. Ia mengatakan itu tetap dengan alasan yang tidak jelas. Aku pun hanya mengiyakannya walau sebenarnya hatiku tidak.


Kuletakkan handphoneku ditempat paling tersembunyi dalam lemariku, tentunya setelah aku menutup telpon dari Mada dan menghapus riwayat panggilanku.


Aku bersiap-siap mandi untuk menyegarkan badan dan pikiranku. Dan mencoba untuk terlihat lebih baik dan tenang dihadapan Mama dan Papa. Untuk beberapa hari ini aku berusaha tidak akan mengungkit masalah Pesantren, dan kuharap orangtuaku benar-benar belum menjemput barang-barangku dari sana. Karena kurasa kata-kata Mama waktu itu hanya gertakan. Sebenarnya mereka juga sangat sibuk dengan pekerjaan. Dan semoga saja kesibukan mereka itu membuat mereka tidak sempat berpikir untuk menjemput barangku.


*****


Aku tengah duduk merenung didepan TV yang sedang menyala menampilkan film yang tidak kusukai sedikit pun. Aku membiarkannya tetap menyala karena hanya tidak ingin merasa sepi. Mama dan Papa selalu sibuk dengan pekerjaan, sangat sulit untuk berkumpul dan bercerita dengan mereka saat ini. Berbeda dengan dulu. Semuanya sudah berubah sekarang. Aku bahkan bingung, bagaimana caraku menjalankan rencanaku dengan Taqin kalau keadaan mereka terus begini sampai setiap hari.


Kuperhatikan kalender yang menempel di dinding ruangan. Sudah 3 hari aku berada di rumah. Lusa adalah hari raya idul Adha. Rasanya akan tanggung jika aku minta pulang ke Mama sekarang. Dari gosip yang kudengar saat masih berada di asrama, santri dan santriah akan diperbolehkan pulang selama 3 hari, mulai tanggal 21 Agustus hingga tanggal 23. Dan sekarang sudah tanggal 20. Aku hanya absen 3 hari pastinya di sekolah dan di asrama, kalau memang aku berhasil membujuk Mama seperti yang diajarkan Taqin.


Jam di dinding ruangan menunjuk angka sembilan kurang tiga puluh menit. Malam belum begitu larut. Mama sudah pulang dan sekarang sedang istirahat di kamar. Dia tidak akan keluar lagi mungkin sampai besok. Dan aku akan tetap terus seperti ini sampai mati kebosanan.


Sayup-sayup aku mendengar suara orang yang sedang mengobrol di ruang tengah. Salah satunya seperti suara Mama. Mungkin Mama sedang bicara dengan Papa yang baru saja kembali dari pekerjaan. Tapi semakin lama suara mereka semakin jelas. Mereka seperti sedang mendekat ke ruang tempatku sekarang.


“Tam.. Key datang loh.”


Mama memanggilku dengan wajah berbinar. Aku bingung. Entah sejak kapan Mama keluar dari kamar, dan sejak kapan Key datang. Aku sama sekali tidak menyadari mereka.


“Tam, jalan yuk..”


Ajak Key langsung tanpa basa basi. Bagi kami sudah biasa seperti ini dihadapan Mama. Tanpa meminta izin ke Mama terlebih dulu pun, Mama tidak akan marah. Mama sudah pasti mengizinkannya karena Mama memang suka kami seperti ini.


“Hmmm.. malas ah..”


Kutunjukkan wajah malasku pada Key. Wajahnya langsung berubah agak muram. Sebenarnya aku merasa iba padanya, tapi aku juga kesal dengan ulahnya yang sudah memberitahu kedekatanku dengan Taqin pada orangtuaku. Dan sepertinya karena terlalu cemburu, kurasa ia memoles ceritanya dengan melebih-lebihkan hubunganku dan Taqin. Tingkahnya itu benar-benar tidak dewasa bagiku.


“Iih.. Tam kok kayak gitu? Pergi sana cepat!” Sela Mama langsung sambil menunjukkan tatapan mengancam padaku.


“Tam malas mah..”


“Udah pergi sana..”


“Iishh.. okey, Tam bakal pergi. Tapi Mama harus janji bakal ngizinin Tam balik ke Pesantren.”


Kujadikan keadaan itu sebagai kesempatan untuk kembali ke Pesantren. Aku yakin Mama tidak akan menolak. Karena kurasa kebahagiaan Key lebih berharga bagi mereka dibandingkan aku.


“Iya nanti kita bahas. Sekarang Tam pergi sama Key yah..”


“Mama janji?”


“Iya sayang.”


Aku beranjak dari dudukku dan masuk ke kamar untuk bersiap-siap. Aku masih bisa mendengar ucapan permintaan maaf Mama kepada Key. Kuhela nafasku kesal. Aku tidak tau apakah ini tidak masalah kalau aku keluar di jam segini. Aku khawatir kalau akan ada ustadz atau ustazah yang melihatku keluar malam-malam seperti ini berdua dengan laki-laki, mungkin mereka akan berprasangka buruk padaku. Memang Key sudah tidak asing lagi di Pesantren, tapi jika kami berduaan begini seperti berpacaran mereka akan semakin memandang kami jelek. Kuhela nafasku sambil menggelengkan kepala. Yah.. seperti apapun akibatnya, aku tetap tidak akan bisa menolak permintaan Mama.