
Aku dan Key resmi bertunangan. Key terlihat sangat bahagia, begitu juga dengan keluargaku dan keluarganya. Aku tidak bisa menolak sedikit pun. Orangtuaku mengancam akan menghabisi Mada dan Taqin. Aku jadi begitu mudah menurut sejak Mama menemukan kelemahanku. Taqin dan Mada. Aku merasa sangat kesal dengan Taqin yang begitu nekat menemui orangtuaku. Padahal tidak ada jaminan ia akan berhasil meluluhkan hati orangtuaku. Ia sendiri sudah tau dan pernah ditolak 2 kali. Tapi tidak ada gunanya mengungkit dan mengeluhkan yang sudah terjadi. Yang sudah terjadi hanya bisa diperbaiki dengan ikhtiar, bukan keluhan kan?!
Tidak sampai 5 menit setelah acara pertunangan itu selesai, aku langsung mengurung diri di kamar. Kulepas cincin yang tersemat di jariku dan membuangnya ke meja asal. Aku menangis sekerasnya tak sanggup menerima kenyataan.
Ketika terbangun, aku sadar ternyata hari sudah gelap. Aku menangis sampai ketiduran rupanya. Aku mendengar suara getaran halus dari bawah bantalku. Ternyata Taqin sudah menelponku sampai 7 kali panggilan. Segera kuangkat telpon darinya dan kembali menangis.
"Assalamu ‘alaikum, Tam."
"Wa ‘alaikum salam."
Suaraku serak karena habis menangis cukup lama. Ditambah mendengar suara Taqin, suaraku jadi terdengar bergetar.
"Dikasarin Mama lagi??"
Tanyanya. Ia menyadari suaraku dan mencoba menanyai apa yang sedang kualami.
"Enggak kok. Mada gimana??"
"Udah mendingan kok."
Kami sama-sama diam.
"Ana telat yah..."
Aku menggeleng keras. Tanpa kuberitahu, Taqin ternyata sudah tau aku sudah bertunangan.
"Taqin, ana gak mau nikah sama Key...hk, huuuu.."
"Maafin ana. Ana ceroboh.. Ana dibodoh-bodohi sama Key."
"Antum ngapain ketemu Key kemaren?"
"Ana mau ngomong baik-baik sama dia."
"Gak ada gunanya juga. Dia gak bakalan peduli."
"Ya. Bodohnya ana gak mikir kayak gitu kemaren."
Taqin menjelaskan kejadian kemarin. Bahwa ia berusaha dan terlalu yakin kalau Key akan tersentuh dengan kata-katanya. Menganggap kunci semuanya ada di Key. Jika Key memang betul mencintai dan ingin membahagiakanku, setidaknya dia mau menjagakan agar orangtuaku tidak mengasariku. Karena itu bukan solusinya. Jika memang dia tidak ingin aku memilih Taqin, dia harusnya mau menyadari apa yang membuatku tidak bisa mencintainya. Bukan malah berlaku posesif dan langsung memberitahu semuanya ke orangtuaku.
“Karna kayaknya, setiap kali dia cemburu orangtua antum selalu kasar sama antum.”
Jelas Taqin mengambil kesimpulan.
“Ya. Udah pasti karna dia ngadu ke Mamah. Tapi antum kok bisa dibodoh-bodohin?"
“Sebelum ketemu Mama antum, Key udah setuju dan janji ke ana bakal minta orangtua antum gak kasarin antum lagi. Walaupun... Dia bilang gak bakalan ngelepasin antum buat ana.”
“Tapi Key gak bilang kayak gitu kemaren pas ana nguping.”
“Dia ngubah sebagian ceritanya buat ngejelekin ana di depan Mama antum.”
“Trus, kenapa antum diam aja??! Kenapa antum diam aja waktu dia lagi asik ngarang cerita??"
“Emang bakal ada yang percaya sama ana??”
Aku terdiam. Tidak bisa memberi jawaban.
"Lagian ngapain juga antum datang ke rumah..Hhh.. Udahlah.. Gak ada gunanya lagi dibahas. Gak bakal ada yang berubah. Mending antum bawa ana pergi. Bawa ana kabur!!"
"Ana belum bisa ngelakuin itu."
"Kenapa?? Hk, antum tega ngeliat ana kayak gini??"
Suaraku meninggi, terlalu kesal.
"Tam.. Mada-"
"Ato antum sebenarnya gak cinta sama ana??”
“Bukan-"
Krieet..
Pintu terbuka, memperlihatkan Mama yang sudah menatapku penuh selidik. Aku langsung menyembunyikan handphoneku dari Mama. Sayangnya, aku sudah ketahuan duluan.
“Nelpon siapa??”
Tanya Mama dengan nada suara dingin. Ia tidak mengangkat suaranya karena masih ada beberapa tamu dan keluarga Key di ruang tamu. Aku hanya diam berpura-pura tidak tau. Handphoneku kusembunyikan di bawah pahaku agar tidak terlihat Mama, dan menindihnya dengan bantal.
“Sini handphonenya!!”
Perintah Mama mengulurkan tangannya kearahku. Aku masih diam. Melihatku tidak memberi respon, Mama langsung menarik bantal di pangkuanku, meraba bawah pahaku dan mengambil handphoneku yang sepertinya sudah ia tau letaknya.
“GAK!!”
Teriakku langsung merebut handphone dari tangan Mama cepat. Mama kembali berusaha mengambilnya dariku, kami saling tarik menarik. Tenagaku yang tidak cukup kuat karena sedang menangis, membuat Mama berhasil merampas handphoneku.
“Mamah jangan!!”
Aku kembali berteriak ketika Mama bergerak mematahkan handphoneku.
Krak!!
Patah. Mama mematahkan handphoneku, juga mengambil kartu dan mematahkannya juga. Aku tidak bisa bicara apa-apa lagi. Jalanku buntu. Apa aku menyerah saja?? Taqin juga sudah menyerah kan?? Dia tidak sekuat yang kutau. Mungkin perasaannya padaku memang tidak sebesar itu. Aku saja yang sudah tidak bisa mengendalikan perasaanku.
*****
Ketika kembali ke asrama, tanpa bisa menahan diri, aku langsung menangis menumpahkan semua kesedihanku pada Latifah. Aku menceritakan semuanya dari awal, sambil sesekali menatap penuh kebencian pada cincin tunangan di jari manisku. Mama melarang keras melepasnya, bahkan memintaku untuk memperlihatkannya pada Taqin. Perintah gila itu, sampai mati pun tidak akan kulakukan.
Latifah hanya bisa memelukku sambil terus mengoceh meminta untuk terus bersabar.
“Pasti ada jalannya.”
Hanya itu yang dikatakannya. Ya, masalahku terlalu rumit. Anak seumuranku memikirkan masalah ini. Aku bahkan nyaris gila. Tidak bisa menikmati masa-masa labil remaja yang bebas melepaskan emosionalnya. Aku sendiri dipaksa hanya menikmati tekanan. Menjalani satu jalur yang sudah ditentukan orangtuaku tanpa menerima penolakan sedikit pun dariku.
*****
Saat ini, aku sedang berada diluar asrama. Setelah hampir 2 minggu aku berusaha mencari ketenangan batin di asrama. Sayangnya, aku tidak mendapatkannya sedikit pun. Aku memutuskan untuk izin keluar sendiri tanpa ditemani Latifah seperti biasanya. Aku ingin mengosongkan pikiranku dari bayangan kejadian yang sudah kualami beberapa minggu terakhir ini. Menenangkan diri dengan tanpa berbicara dengan siapa pun. Jika ada Latifah, dia pasti tidak akan berhenti mengoceh. Aku tau, ia sebenarnya punya niat baik untuk menghiburku. Tapi sepertinya hari ini aku sedang tidak membutuhkan itu. Aku butuh suasana yang sepi, tanpa percakapan dengan siapapun.
Aku memilih tempat di sebuah restaurant. Tempat duduk yang dekat dengan tanaman bunga dan rerumputan hijau, mungkin akan sedikit menambah ketenangan.
Aku sudah memesan coklat hangat untuk merilekskan pikiranku, dan sedang berusaha menikmati suasana sepi yang kuharap bisa menenangkan. Tapi hanya berlangsung 5 menit, ntah kenapa seorang lelaki datang menghampiriku. Lelaki bertubuh tegap, mengenakan jaket dan celana serba hitam. Dari wajahnya, ia seperti berusia 20-an. Terbukti dari brewoknya yang subur namun tetap tertata rapi. Ia berhenti didekatku lalu tersenyum.
“Boleh saya duduk disini?”
Tanyanya, menunjuk kursi di sebelahku.
Aku melihatnya sambil merutuki dalam hati. Padahal aku sedang ingin sendiri dan menghibur diri. Tempat yang lain juga masih banyak yang kosong, belum begitu banyak pelanggan. Ntah apa yang membuatnya ingin duduk di dekatku.
Melihatku tidak menjawab, ia langsung tersenyum.
“Kayaknya kamu lagi ada masalah.”
Aku masih diam.
“Kalo lagi ada masalah, jangan dibiasain duduk termenung sendirian. Ntar kesambet loh.”
Ujarnya lalu tertawa kecil. Aku masih diam.
Karena merasa tidak tega melihatnya begitu, akupun menahannya saat ia hendak beranjak dan mempersilahkannya duduk di kursi di seberangku. Dasar orang aneh, pikirku.
“Kenalin, namaku Ayas.”
Ia mengulurkan tangan hendak bersalaman.
“Tam.”
Jawabku singkat berusaha tersenyum tanpa berniat menjabat tangannya. Aku hanya menaruh kedua tangan di dada, dan sepertinya ia langsung mengerti. Lalu pelan menarik tangannya malu.
“Anak asrama ya?”
Tanyanya.
“Ya.”
"Kelihatan banget dari pakaiannya."
Tambahnya lalu kembali diam.
Jujur, aku sebenarnya bingung ingin memanggilnya apa. Ntah kenapa otakku yang sedang galau ini mau repot-repot memikirkan masalah kecil itu.
“Gak mesan makanan?”
Tanyaku melihat dia hanya diam seperti itu.
“Oh.. Iya. Jadi lupa.”
Ujarnya lalu tertawa kecil sambil memukul jidatnya pelan. Dasar orang aneh, bisa-bisanya dia lupa memesan makanan. Padahal itu adalah salah satu tujuan utama manusia mengunjungi restoran.
“Aku gugup sih.. Jadi kelupaan.”
“Gugup kenapa?”
Tanyaku berusaha peduli.
“Berasa kayak ada yang lagi ngawasin kita.”
Jawabnya dengan berbisik.
"Gerak-geriknya kayak lagi mata-matain kita.”
Tambahnya.
“Dimana? Siapa orangnya?”
"Di belakang kamu. Cewek sih. Kenapa?"
Jawabnya pelan tapi tetap santai, sepertinya ia tidak sepenuhnya yakin dengan feelingnya sendiri. Sedangkan aku sudah khawatir duluan. Dalam hati aku terus bertanya, apakah ini ulah Ai lagi.
“Warna apa bajunya?
Tanyaku gusar. Tapi tetap menahan diri untuk tidak menoleh ke belakang.
“Ijo.”
Jawabnya singkat sambil memandangiku bingung.
“Emang kamu sering dimata-matain?”
Tanyanya. Aku mengangguk. Dia memintaku agar tetap tenang, supaya orang yang sedang mengawasi kami itu tidak sadar kalau dia sudah ketahuan. Tapi ujung-ujungnya Ayas malah merasa tidak nyaman duluan setelah kami saling diam beberapa menit. Tentu saja karena ia melihat perempuan di belakangku bergerak seperti mengambil foto kami berdua.
“Duh... Aku jadi gak nyaman nih. Ato aku pindah aja ya?? Ntar dia buat laporan asal-asalan lagi tentang kita.”
Aku melarangnya. Aku berniat akan melabrak perempuan itu nanti. Biarkan saja dia melakukan aksinya sampai puas. Lalu nanti akan kuhancurkan semua bukti yang dia punya didepan matanya.
“Mending sekarang aja. Tapi pastikan dulu benar atau enggak dia emang mata-mata.”
Ujar Ayas.
“Ntar kalo ditunda, dianya keburu ngirim hasil mata-matanya lagi ke bosnya.”
Tambahnya kembali menyarankan. Aku pun mencoba menimbang-nimbang sarannya. Sebenarnya bagus juga. Aku setuju lalu beranjak bangkit tapi tetap santai. Aku berbalik badan sengaja tidak langsung menoleh ke perempuan yang dimaksud Ayas. Mataku langsung melihat Latifah yang sedang berdiri tidak jauh, diluar restoran. Aku pura-pura berjalan keluar ingin menghampirinya. Memang, aku juga tidak tau kalau dia juga sedang berada diluar asrama. Mataku melirik perempuan itu beberapa detik, dan dugaanku ternyata benar.
Ai.
Dan dia sedang memegang handphone sekarang. Mengabaikanku dan berpura-pura sibuk dengan handphonenya itu. Keadaan itu kumanfaatkan, memutar balik langkahku dan merampas handphonenya.
Grep!!
Aku berhasil mendapatkannya. Dia langsung panik. Aku menatapnya puas sambil mengantongi handphone itu dan berjalan santai menemui Latifah yang juga sedang bingung memperhatikanku dari luar restoran.
“Tam!!”
Panggil Ai ikut menyusulku. Aku hanya diam sambil tersenyum penuh kebencian.
“Latifah, liat deh. Dia balik mata-matain ana.”
Sapaku setelah berdekatan dengan Latifah. Tanganku menunjukkan handphone Ai beberapa detik, lalu kembali cepat-cepat mengantonginya karena hampir direbut Ai. Latifah langsung menatap Ai kecewa. Tanpa banyak bicara, ia langsung menahan Ai dan memintaku melihat segala isi handphone itu.
“Ntar dia ngadu domba anti lagi." Ujarnya.
Tentu saja kesempatan itu tidak kusia-siakan.
Aku langsung melihat ternyata ia kemarin chatting-an dengan Key. Juga sebelum-sebelumnya setelah kedapatan olehku, ternyata ia kembali memata-mataiku dan Taqin dan memberitahu orangtuaku melalui Key. Padahal, kupikir setelah kuberi sogokan waktu itu, ia akan berhenti. Ternyata aku salah.
“Ana bakal ngasi handphone ini ke pengurus.”
Ujarku santai tapi penuh kebencian.
“Terserah. Disitu cuman ada foto anti sama Taqin. Pengurus pasti langsung berpikir itu handphone anti.”
Jawab Ai enteng. Tidak merasa keberatan melihat Latifah yang berusaha menahannya agar tidak menghalangiku.
“Huh, ana cuman perlu ngehapus semuanya.”
Jawabku dengan nada merendahkan yang kental. Sambil bergerak jariku membuka galeri foto Ai.
Terkunci.
Jika ini memang handphone Key, mungkin saja ia menggunakan tanggal lahirku. Aku menebak, sambil mengetik angka tanggal lahirku membuka sandi. Ternyata benar. Galeri terbuka, memperlihatkan semua foto-fotoku dan Taqin. Cukup banyak. Beberapa ada yang persis seperti yang ditunjukkan Mama 2 hari sebelum aku tunangan. Sepertinya itu foto pilihan dari semua foto ini, dan dijadikan Ai sebagai laporan pada orangtuaku. Caranya mengambil foto ini menunjukkan seolah aku dan Taqin sedang bermesraan.
Dia belum sempat mengambil fotoku dan Ayas rupanya.
Aku mencoba menghapus semua foto di galeri itu tanpa terkecuali, tapi setelah menekan tombol tanda hapus, foto-foto itu tidak juga hilang.
Kok kayak gini sih?!
Dengan rasa marah bercampur benci, aku membanting handphone itu ke lantai. Cukup keras, hingga handphone itu pun pecah tak berbentuk. Ai terlihat kaget melihatku yang begitu mudahnya melakukan itu. Ia menatap nanar bagian-bagian handphone yang sudah berserak itu.
“Kaget?? Wajar sih, orang miskin kayak kamu mana biasa sama kayak begituan.”
Kurasa aku tidak perlu menggunakan akhlak jika berbicara dengan orang munafik. Ai hanya diam mendengar hinaanku.
“Kayaknya Key bayar anti puluhan juta ya, Cuma buat mata-mata doang.”
......
“Gak malu ngasi uang hasil kayak begituan ke orangtua?
Aku terus menghina Ai. Dan ia masih tetap bungkam, sok suci di mataku.
“Dijawab dong, jangan cuman diam aja. Munafik!!”
Suaraku meninggi sambil mendorong pundak Ai kasar. Latifah berusaha menahanku agar tidak semakin kesetanan. Kami sedang berada di tempat umum. Bisa-bisa kami jadi pusat perhatian orang.
“Kayaknya anti benci banget ya sama ana, kenapa gak terus terang aja. Gak usah sok baik, tau-tau nusuk di belakang. Pengecut banget tau nggak.”
“Ana ada salah apa sama anti??”
“Dijawab dong... Nih mulut kok gak guna bangeeeet...”
Aku bicara semakin kasar sambil mendorong mulut Ai dengan jari telunjukku. Latifah yang berada di sampingku semakin tidak nyaman dengan sikapku. Yah, semua penderitaan yang kualami, kekasaran Mama, membuahkan rasa tidak ingin kalah dalam diriku. Aku ingin lebih keras agar tidak terus dikendalikan dan disakiti lagi.
“Ana iri sama anti.”
Jawabnya akhirnya.
“Key keras kepala banget buat terus bertahan sama anti. Ana kehabisan cara, ana gak tau lagi mau gimana... ana cuman mau anti ngerasa gak tenang, sakit seperti yang ana ras-”
PLAK!!
Satu tamparan sukses kulayangkan ke wajahnya.
“Tam!! Ya Allah.”
Latifah berteriak, reflek berusaha menjauhkanku dari Ai. Aku langsung menepisnya.
“Bener-bener cewek gak punya perasaan. Gak punya otak buat mikirin perasaan orang.. hk..”
Makiku. Hanya karena cintanya pada Key, ia tega membuatku begitu menderita. Tidak hanya aku.
Taqin.. Mada..
Jika dia tau yang Mada alami. Penyakitnya yang bukan main-main. Jika saja Mada tidak bisa diselamatkan waktu itu.. Aku menggeleng keras tak sanggup melihat bayangan dalam pikiranku, sambil terus membiarkan tanganku semakin ganas di wajah Ai. Mencakar, menjambak kuat, melampiaskan semua rasa sakit yang sudah kuterima, dan kekhawatiranku di wajah Ai.
“Tam udah..”
Suara Latifah terdengar samar di telingaku, berusaha melerai. Emosiku membuatku tidak bisa mendengarnya. Aku tidak bisa mengontrol diri.
“Tam?”
“Taqin tolongin..”
Latifah seperti terdengar memanggil Taqin.
“Awas..”
Teriakku menyingkirkan tangan-tangan yang berusaha melerai. Aku belum puas melampiaskan amarahku.
“Tam.. tenang dulu!!
Suara itu sukses membuatku berhenti. Aku tersadar, Taqin ada disini.
Lama aku terdiam menyadari apa yang sudah kulakukan. Aku benar-benar sudah kelewat emosi hingga tidak bisa menahan diri, membuat jilbab Ai sampai berantakan hingga beberapa helai rambutnya terlihat. Taqin memandangku dengan kening berkerut tidak suka seolah aku yang bersalah. Ditambah ekspresi Ai yang begitu menyedihkan seakan menunjukkan bahwa dirinya adalah manusia tak berdosa yang sudah teraniaya. Dia benar-benar perempuan munafik yang sebenarnya, pikirku.
Aku beranjak cepat meninggalkan mereka. Selang beberapa menit aku berjalan tak tentu arah, aku langsung teringat dengan Ayas. Karena perempuan munafik itu, aku jadi lupa pada Ayas. Jika dia melihat ulahku tadi, dia pasti langsung berpikir aku jahat.
“Tam..”
Panggil Taqin. Ternyata ia terus mengikutiku.
“Pergi Antum!!”
Teriakku tanpa mau berbalik melihatnya. Aku tidak yakin bibirku akan sanggup berbicara jika aku melihatnya. Ntah sejak kapan hatiku bisa selemah ini untuknya.
“Tam..”
Suaranya melembut. Ia berusaha membujukku yang terus mengeraskan hatiku.
“Jangan dekati ana lagi!!”
Ujarku tegas. Air mataku tumpah seolah tak sanggup dengan kata-kataku selanjutnya yang sudah kupersiapkan.
“Antum pembohong. Antum bilang bakal berusaha buat ana, tapi apa?? Antum gak seserius itu. Perasaan antum gak sekuat itu sama ana.”
“Ana punya alasan Tam.”
“Terlalu banyak alasan. Intinya, antum PENGECUT!! Ana nyesal udah percaya sama antum.”
Setelah berkata begitu, aku langsung pergi.
“Tam.. TAM!!”
Taqin memanggilku cukup keras. Dan itu tetap tidak membuatku berhenti atau bahkan peduli. Mataku memanas, dadaku terlalu sesak hingga terasa sakit. Aku tidak tau cara meredakannya selain dengan memecah tangisku. Dan aku benar-benar melakukannya sekarang. Orang-orang yang berjalan melewatiku memandangiku aneh. Dan aku tidak punya waktu untuk tidak mengacuhkan itu.
Aku tidak benar-benar berpikir begitu. Aku tidak benar-benar beranggapan seperti itu pada Taqin. Aku hanya ingin menyadarkannya, agar ia tau apa yang harus dilakukannya besok. Meskipun tidak ada yang tau apa yang akan terjadi besok.