
Dengan wajah berbinar-binar aku melihat kedatangan Taqin dengan motornya. Ia hanya memandangiku aneh dari kejauhan. Setelah ia memarkirkan motornya, ia pun bergabung bersama kami duduk bersama di teras rumah.
“Kenapa senyam-senyum?” tanyanya sambil mengulum senyum di bibirnya.
“Ya.. karna ana yakin hafalan ana bakal lancar seperti air mengalir.”
“Kenapa yakin banget?”
“Karna kan ana udah ngafal sampe 2 minggu.”
“2 minggu?”
“Ya.. kan minggu kemaren antum gak datang. Jadi ana muraja’ah doang.”
“Ohohoo.. antum salah besar nih. Ana memang gak datang, tapi bukan berarti anti gak lanjut ngehafal surah selanjutnya.”
“Tapi antum gak ada bilang ana lanjut.”
“Iya. Dan kita gak ada kesepakatan bakal nambah hari dengan surah yang sama kalaupun ana gak datang.”
“Tapi kan...”
“Tapi apa?”
“Antum gak ada bilang.. ana gak tau. Jadi waktunya harus ditambah dong. Ana kan masih pemula. Siapa suruh ngasi kabar gak jelas.”
“Gak jelas gimana ukhti? Kan kemaren ana bilang ke ustadz, Tam nyetornya sama ana aja minggu depan titik. Ana gak bilang antum gak usah lanjutin ke surah selanjutnya.”
Aku hanya diam dengan wajah merengut sambil memainkan ujung jilbabku. Dia lalu tertawa melihatku seperti itu.
“Lagian waktu seminggu kan cukup buat ngehafal surah As Sajadah dan juz 30. Ayat-ayatnya gak susah banget kok.”
“Itukan pendapat antum. Siapa suruh juga gak datang minggu kemaren.” Jawabku ketus. Ia memandangiku sambil tetap tersenyum lalu menghela nafas.
“Mada sakit. Ana harus bawa dia ke rumah sakit waktu itu.”
Aku terkejut dan langsung mengangkat wajahku melihat Taqin. Ia terlihat murung, senyumnya sudah memudar. Menunjukkan ia tetap khawatir dengan keadaan Mada sampai sekarang.
“Mada sakit apa?”
“Jantungnya..” Taqin ingin melanjutkan kata-katanya tapi entah kenapa ia menahannya. Aku tidak bisa menutupi keterkejutanku. Aku tidak pernah tau Mada punya penyakit seperti itu. Penyakit jantung bukan penyakit sembarangan. Wajar saja Taqin tetap khawatir sampai sekarang.
“Hmm... yaudah, kita mulai ya..” ujarnya mengalihkan pembicaraan kami. Aku pun menganggukkan kepalaku menurutinya.
Sepanjang waktu menyetor, Taqin tetap terlihat murung. Dan itu membuatku jadi takut. Setelah semuanya selesai, kami pun pulang.
*****
"Kok gak manggil ustadz ke Taqin? kan dia guru juga."
Tanya Albi. Memang kami terdengar tidak sopan memperlakukan Taqin.
"Dianya gak mau."
Jawabku sambil kemudian menjelaskan, Taqin menolak dipanggil seperti itu karena merasa ilmunya belum cukup. Umurnya juga masih terlalu muda untuk mendapat panggilan seperti itu.
Albi hanya manggut-manggut.
“Kayaknya dia gak cuman murung karna adiknya sakit jantung.” Ujarku pada Albi yang sedang membantuku mengolesi kuasku ke palette ditangannya.
“Loh, trus??”
“Soalnya, sebelum dia pulang waktu itu, dia sempat ngingatin ana agar tetap berhati-hati sama semua orang. Baik itu sahabat ana sekalipun.”
“Hmmm, dia nyindir Key?”
Tebaknya. Aku menganggukkan kepalaku. Aku memang sempat mengabaikan ekspresinya ketika kutanya mengenai Key pertama kali waktu itu. Dia dan Key punya masalah yang rumit. Hanya saja saat itu aku belum tau.
“Gak cuman Key...”
Bisikku. Lalu perlahan kembali melanjutkan ceritaku.
*Seharusnya aku sudah sadar waktu itu. Tapi aku terlalu cuek, sibuk menikmati dunia pesantren. Sampai gak sadar orang paling berbahaya udah masuk di kehidupanku.
Sahabat Munafik*
*****
Ketika sampai dikamar, aku menceritakan semuanya pada Ai dan Latifah. Mereka memang kaget, tapi bukan karena Mada sakit. Melainkan karena aku tau Mada adalah adik Taqin. Mereka mencurigaiku sedang mendekati Taqin dengan mencoba mencari tau semua tentang saudaranya. Aku benar-benar menyesal karena sudah bercerita pada mereka. Tidak nyambung sama sekali dengan yang kumaksud. Kuputuskan untuk diam ketika mereka asyik mengomel dan menanyaiku. Meskipun itu akan membuat mereka semakin terus memendam rasa curiga padaku.
Hari-hari kuhabiskan dengan menghafal Al Quran. Aku tidak ingin sampai dapat hukuman dari Taqin. Aku harus menunjukkan kalau aku memang tidak meremehkannya.
Tanpa terasa hari itupun tiba. Aku masih lemah dalam surah At Takatsur yang selalu tanpa sengaja kuhubungkan dengan surah An Naba’. Dua surah ini sangat mirip dan aku selalu salah ketika membacanya. Aku berusaha khusyuk tapi belum pernah berhasil, bacaanku selalu lari. Kalau aku mulai membaca surah An Naba ayat 5 tanpa sengaja ayat selanjutnya bacaanku akan lari ke surah At Takatsur ayat 5. Begitu juga sebaliknya. Bahkan sampai hari ini pun tetap seperti itu. Padahal aku mulai menghafalnya sejak hari Senin, memang aku tidak selalu mengulangnya. Karena aku juga punya hafalan lain dari sekolah juga kegiatan diasrama seperti muhadatsah atau mufrodat.
“Ayok fokus..fokus..”
Tegur Taqin saat aku mulai gugup hingga membaca ayat yang salah dalam surah Al Bayyinah ayat ke-6 yang selalu terulang ke ayat pertama. Aku juga sudah melakukan berkali-kali kesalahan pada surah Al ‘Alaq. Aku benar-benar tidak menyangka akan melakukan kesalahan di dua surah itu. Padahal bukan itu yang kukhawatirkan selama ini. Pada saat menyetor surah An Naba’ tadi aku malah tidak melakukan kesalahan. Lancar-lancar saja. Tinggal menunggu surah At Takatsur yang aku tidak tau apakah akan lancar juga.
“Tsumma kalla..”
Aku diam mencoba berpikir khawatir bacaanku akan lari. Kupikir surah At Takatsur ini akan lancar juga seperti surah An Naba’. Dan ternyata aku salah besar. Aku tetap masih bingung dan sulit membedakan keduanya.
“Tsumma kalla..?” Taqin mengulangi kata-kataku sambil sibuk mengutak-atik handphonenya. Dia tetap fokus mendengarkanku walaupun pandangannya tertuju pada handphonenya itu.
“Tsumma kalla..”
“Apa hayoo..” Ujar Taqin sambil tertawa kecil mengejekku.
“Ish...”
“Kalo muroja’ah itu gak boleh marah. Ayok lanjutin yok. Tsumma kalla saya’lamun.. atau tsumma kalla sawfata’lamuun..?”
Taqin ternyata menyadari kebingunganku mengarah kemana. Dan aku tidak suka jika dia berkata begitu, memberi pilihan padaku. Aku tidak akan merasa terbantu malah semakin sulit berfikir karena akan semakin banyak ayat yang harus kuingat untuk menghubungkannya ke ayat setelahnya. Karena jika aku membaca ayat yang salah, maka ayat yang selanjutnya pun akan lari ke ayat yang salah. Dan itu akan berakhir di surah yang salah.
“Kok malah ngecoh sih..” Ujarku kesal sambil menatapnya dan handphonenya bergantian.
“Ana ngasi pilihan loh.” Jawabnya tanpa menoleh sedikit pun padaku. Masih tetap fokus pada handphonenya mengabaikan tatapanku.
“Sama aja.” Selaku ketus sambil memalingkan wajahku darinya.
“Astaghfirullah.. ini kelihatan nih, niat menghafalnya gak baik.” Ia akhirnya mengalihkan pandangannya padaku. Tapi tidak ingin membantuku sama sekali. Ia tidak pernah membantuku mengingat hafalanku selama kami membuat kesepakatan ini. Tidak pernah satu huruf pun.
“Tsumma kalla..” Kuulangi kata-kata itu untuk mengabaikannya. Jujur, semua ayat yang sudah kuhafal selama ini seketika hilang dari kepalaku setelah aku marah padanya tadi. Dan itu membuatku merasa percuma untuk berpikir, tidak akan ada gunanya. Aku tidak akan mengingat apapun. Mungkin aku akan menyerah dan bersiap menerima hukuman darinya. Itu pun jika dia tega menghukumku.
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya melihatku yang sama sekali tidak peduli dengan apa yang dikatakannya. Ia akhirnya hanya mendiamkanku sambil tersenyum memperhatikanku yang tengah sibuk mengingat-ngingat hafalanku sambil terus mengatakan ‘tsumma kalla’.
“Yaudah deh, minggu depan aja diulang lagi setorannya.”
“Jadi ana gak dapat hadiah?”
Tanyaku spontan membuatnya langsung tersenyum melihatku gemas.
“Karna antum gagal. Ana mau antum ngelukis wajah ana. Persis, gak boleh ada yang beda. Kalo ada yang beda, antum wajib ngulang lagi sampai betul-betul persis. Ana bakal nyuruh Mada sebagai penilai. Kalau Mada bilang gak mirip, maka... antum harus ngulang terus... sampai persis.”
Dan itu adalah hukuman paling gila yang pernah kudapat. Tidak ada hubungannya sama sekali dengan al Quran yang kuhafal. Aku ingin berontak tapi Taqin tetap bersikukuh tidak mau mengendurkan sedikit pun hukumannya. Ia bahkan memberiku selembar fotonya agar aku betul-betul melukisnya dengan benar. Dia benar-benar sangat menyebalkan. Dan mau tidak mau aku pun menurutinya.
“Antum tetap terus menghafal loh, jangan kira antum bisa libur-liburan menghafal.”
“Tapi.. tapi kan ana-“
“Gak ada tapi-tapian... siapa suruh antum remeh. Habis ini kalo remeh lagi, ana bakal tambah lagi hukumannya.” Ancamnya membuatku tanpa sengaja mengerucutkan bibirku, lupa bahwa lawan bicaraku itu bukan Key, yang biasanya akan langsung luluh dengan melihat ekspresiku itu. Mereka itu berbeda. Sangat berbeda. Key mungkin akan kasihan, tapi Taqin tidak. Malah ia tertawa mengejekku. Dia benar-benar laki-laki yang menyebalkan. Aku tidak tau harus berapa kali aku mengatakan dia menyebalkan agar hatiku merasa puas dan lepas.
Ada satu masalah lagi yang membuatku nyaris gila. Aku merasa tidak bisa melaksanakan hukumanku dengan tenang dikarenakan Latifah dan Ai yang selalu berisik mengataiku yang tidak-tidak. Aku benar-benar sudah terfitnah sedang jatuh cinta dengan seorang Taqin, oleh 2 temanku ini. Mereka bahkan menyorakiku memberi semangat. Padahal itu justru terdengar sangat konyol di telingaku.
“Kraaak.”
Dan kuasku patah. Padahal aku baru ingin mengolesi cat ke kuasku, belum juga aku memulai melukis dan berpindah ketahap-tahap selanjutnya. Aku pun langsung ingin berteriak saking kesalnya, tapi tak jadi karena Latifah buru-buru menutup mulutku dengan bantal. Dan alhasil semua wajahku tertekan kebelakang dan terhentak ketempat tidur.
“Dug!!”
Lumayan keras dan rasanya tidak begitu sakit. Dan jujur, aku sudah nyaris meledak, tapi mereka malah tertawa. Aku merasa putus asa untuk menghentikan mereka, dan akhirnya memutuskan akan melukis dengan mata tertutup dan telinga tersumbat. Agar aku tidak mendengar atau melihat tingkah mereka sedikit pun. Tapi sebelum itu, aku harus terlebih dahulu menatap dalam-dalam foto Taqin, agar aku bisa membayangkannya sambil melukisnya hingga bisa menghasilkan lukisan yang persis. Juga menyusun cat-cat dalam palette yang akan kugunakan dan mengingat letaknya. Aku hanya menggunakan cat warna hitam dan putih. Setiap alat lukis harus terletak ditempat yang teratur dan bisa kuingat agar tidak terjadi kesalahan.
Ternyata selama aku melukis pun tangan mereka sibuk ikut-ikutan menggerakkan tanganku di atas kanvas, karena merasa aku melukis tanpa tau arah. Terkadang mereka berkelahi karena berbeda pendapat, yang satu mengatakan matanya harus diperbaiki dulu yang satunya lagi ingin aku mengerjakan yang lain dulu lalu memperbaiki bentuk mata yang salah itu setelah catnya mengering.
“Tam jangan dengerin dia, kuasnya tarok sini yok...” Latifah menarik tanganku yang Kemudian langsung direbut Ai.
“Bukan disitu. Ish... Tam tangannya sini dulu... Latifah jangan ngasal dong ngbantunya...”
Mereka bilang ini MEMBANTU??
“KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!”
*****
Hasil pertama lukisanku luar biasa hancur, kehancurannya melebihi tingkat dewa. Aku menaruh hidungnya dipipi kanannya dengan bola mata keluar dari matanya. Hasil kelima masih luar biasa hancur, mata kirinya kebesaran dengan alis keluar hingga mengenai telinganya. Hasil keduabelas, masih hancur tapi bisa dibilang lebih baik dari sebelumnya, hanya matanya tidak sejajar. Dan setelah kuperhatikan semuanya tidak ada yang mirip. Padahal tadi aku sudah berteriak sekuat tenaga agar mereka berhenti mengatur gerakan tanganku. Yah... aku tidak punya kata-kata lagi untuk menghentikan mereka. Dan nyatanya, mereka berhenti pun lukisanku tetap hancur. Mataku terasa iritasi melihatnya satu persatu.
Kujambak rambutku kesal, membuat Latifah dan Ai langsung menghentikan aktifitas bodoh mereka itu. Sepertinya mereka mulai percaya kalau aku memang dihukum, mungkin. Lagian mereka juga sudah kelihatan capek karena terus berteriak tidak berguna seperti itu.
“Anti beneran pengen ngelukis Taqin?” tanya Latifah lembut, kuanggukkan kepalaku lemah.
“Anti hanya perlu ngebayangin satu hal yang paling anti sukai dari wajahnya. Lukisan itu bukan hanya sekedar gerakan tangan dan pikiran. Lukisan itu juga bentuk ungkapan dari perasaan kita sendiri. Kalo anti ngelukis satu hal yang anti suka, pasti anti akan dengan penuh perasaan melukisnya. Karna satu hal yang disukai pasti akan sangat mudah buat dibayangin.”
Ujarnya menasehatiku. Ia bicara seolah ia adalah seorang pelukis handal yang sebenarnya. Dan itu membuatku sadar bahwa mereka belum percaya bahwa aku benar-benar sedang dihukum.
“Dan kita.., bakal jadi penyemangat anti dengan senang hati.” Tambah Ai membuatku langsung menggelengkan kepala menolak.
“Nggak.. nggak perlu.”
“Baik, kita berenti triak. Tapi anti harus benar-benar ngelukis dengan mata tertutup.”
Latifah malah memberi persyaratan seperti itu. Menambah kesulitanku saja. Diam-diam aku berniat akan berhenti melukis hari ini dan akan melanjutkannya nanti kalau mereka sedang tidak ada disini atau nanti malam saat waktu tidur. Ai akan tidur di kamarnya, kalau Latifah aku hanya perlu menunggunya sampai tidur.
“Hmm, aduuh, ana capek nih.. ana mau istirahat dulu deh. Besok aja lagi dilanjutin.”
“Eh.. anti jangan kabur loh. Anti harus belajar dari sekarang, kalo hasilnya jelek ya wajar dong. Kan baru pertama. Nanti juga bakal bisa sendiri.” Sela Latifah cepat.
“Iyaiya, ana tau. Tapi gak musti pakek tutup mata juga.”
“Kan anti tadi yang duluan. Berarti anti memang mau buat sesuatu yang spesial untuk Taqin, kan?!” ujar Latifah yang langsung kujawab dengan gelengan kepala tegas.
“Udah ahh, anti.. gak mau jujur sama kita. Gak papa tau. Lagian kalo Taqin tau anti ngelukis wajahnya dengan mata tertutup, dia pasti bakal langsung tersentuh trus nerima perasaan anti.” Tambah Ai lagi membuatku semakin frustasi.
“Ana gak ada rasa sama Taqiiiin. Ana Cuma kena hukuuum sama dia.” Rengekku dengan wajah memelas. Aku benar-benar nyaris putus asa karena mereka berdua. Sayangnya wajah memelasku itu tidak berpengaruh pada mereka sama sekali. Saat ini mereka tengah merapikan alat-alat lukis dihadapanku, menaruh ulang cat berwana hitam dan putih yang sudah habis ke atas palette, membersihkan kuas, dan menyediakan kembali air bersih untuk digunakan, juga kapas bersih dan bahan-bahan lainnya. Mereka meletakkan semuanya dengan teratur dan memastikan aku bisa mengingatnya nanti saat mulai melukis.
Latifah memberiku foto Taqin untuk kutatap agar bisa mengingat dan membayangkannya saat mulai melukis. Setelah menatapnya lebih dari 10 menit, akupun mulai melukis. Jujur, aku tidak benar-benar sedang menatapnya tadi. Aku hanya membayangkan ekspresi menyebalkannya saat mengatakan hukumanku ini sambil terus mengomelinya dalam hati dan menumpuk rasa kesal dalam hatiku. Aku tidak tau apakah itu bisa membantu atau tidak. Saat ini aku hanya bisa berharap agar dua orang menyebalkan bersamaku ini segera pergi meninggalkanku. Agar aku bisa melukis dengan bebas tanpa perlu menutup mata seperti orang bodoh begini.
“Orang buta mana pun gak bakal bisa melukis. Jangankan melukis, melihat apa yang mereka lukis aja mereka gak bisa.” Aku terus mengoceh tentang orang buta sambil menggerakkan kuasku asal-asalan. Aku baru mengolesi cat ke kuasku jika ditegur oleh Latifah, jika tidak maka aku akan lanjut meskipun lukisanku semakin tidak jelas karena kekurangan warna. Aku sama sekali tidak peduli seperti apapun hasilnya.
“Semuanya akan bisa dengan izin Allah, juga dengan cinta.”
Ujar Latifah membuatku semakin kesal dan memilih untuk diam. Pelan-pelan aku menghayati apa yang dikatakannya. Kata-kata itu perlahan mengena dihatiku, membuatku sadar aku baru saja mengatakan suatu yang salah besar dan benar-benar meremehkan kuasa Allah. Segera aku beristighfar dalam hati sambil melanjutkan lukisanku. Kali ini dengan lebih berperasaan.
“MasyaAllah.. bagus banget Tam.” Puji Latifah sambil memandangi lukisanku yang sudah selesai.
“Benar-benar jadi lukisan orang.” Tambah Ai.
“Iya.. tapi orangnya bukan Taqin.” Selaku.
“Iya gak papa. Yang penting kan anti udah berusaha. Lagian dia pasti gak bakal nolak.” Ujar Latifah merasa sedang menyemangatiku.
“Iya Tam. Gak papa. Kasi aja.” Tambah Ai. Aku hanya menganggukkan kepala sambil berusaha untuk tersenyum ikhlas. Setidaknya dengan begitu mereka tidak akan berisik mengomeliku lagi.
*****
Hari ini tepat dua minggu aku melukis wajah Taqin. Dan baru hari ini aku bisa melukis dengan mata terbuka setelah cat dan kanvasku nyaris habis semua. Itu semua karena ulah Ai dan Latifah. Aku benar-benar tidak lepas dari mereka selama dua minggu ini. Aku benar-benar dianggap seperti orang yang sedang dimabuk cinta oleh mereka. Sehingga mereka begitu sabar mendengarkan omelanku saat hasil lukisanku tidak bagus. Padahal aku mengomel justru karena tidak tau cara untuk mengusir mereka juga tak sanggup untuk terus melukis dengan cara bodoh ini.
Kuperhatikan hasil lukisanku yang baru saja kuselesaikan dengan mata terbuka. Aku malah merasakan kesulitan melakukannya karena terbiasa dengan mata tertutup. Aku malah tanpa sengaja sesekali memejamkan mataku sambil menggerakkan kuasku saat melukisnya tadi. Dan anehnya hasilnya hampir sama dengan saat aku menutup mata.
Kuhela nafasku kesal sambil mulai membereskan alat-alat lukisku. Membersihkannya dan menyusunnya dalam kardus dibawah tempat tidurku. Kusimpan hasil lukisanku yang jumlahnya kurasa lebih dari 100 lembar. Hasil lukisanku selama 2 minggu, wajar saja jumlahnya sampai sebanyak itu. Aku akan memberikan hasil lukisanku hari ini untuk Taqin kamis depan. Hasil lukisan dengan mata terbuka, walaupun hasilnya sama saja.
“Assalamu ‘alaikum..”
Latifah datang dengan wajah lemasnya sambil membawa ember kosong dan keranjang sabun.
“Wa ‘alaikum salam..”
Jawabku singkat tidak bertanya sedikit pun. Aku sudah tau kenapa ia seperti itu. Ia pasti baru saja kembali dari tempat menjemur pakaian setelah berperang di kamar mandi selama berjam-jam bersama baju-baju kotornya yang menumpuk tidak sempat dicuci karena terlalu sibuk menemaniku melukis. Sebenarnya bukan menemani lebih miripnya mengganggu. Berbeda denganku, baju-bajuku tidak menumpuk banyak karena Mada sudah mengajariku untuk mencicilnya, mencucinya sedikit demi sedikit kalau memang sedang sibuk. Bukan menumpuknya begitu saja seperti yang Latifah lakukan. Aku yakin Ai juga melakukan hal yang sama. Batang hidungnya tidak muncul dari tadi untuk kembali menggangguku.
“Tam, kita kepasar yok. Anti mau beli alat-alat lukis kan??” teriak Ai dari depan pintu. Padahal aku baru saja memikirkannya. Ntah sejak kapan ia berdiri disitu.
“Iya nih. Catnya banyak yang habis. Lukisannya masih tetap jelek juga.”
“Ntar dulu. Ana masih capek loh.” Sela Latifah yang sudah terbaring diatas tempat tidur.
“Duh.. nanti keburu zuhur loh, gak diboleh izin keluar lagi nanti.” Bantah Ai tidak mau kalah. Aku hanya diam tidak membela siapapun. Hanya menyibukkan diri membersihkan tanganku yang berlepotan cat berwarna hitam dan putih.
“Yaudah..yaudah..” Latifah lalu bangkit dengan enggan dari tempat tidur dan melangkah mendekati lemarinya.
“Kita kepasar sekalian refreshing cuci mata.”
“Iiih, Ai genit..” Godaku sambil tertawa geli.
“Cuci mata liat baju-baju cantik, bukan liat cowok.” Ralat Ai.
“Liatin doang, gak perlu beli.” Ledek Latifah yang kemudian kami sambut dengan tawa lepas kami.
Kami lalu bersiap-siap mengganti baju dan menyediakan barang yang perlu dibawa seperti tas berisi uang, catatan barang yang akan dibeli, dan barang-barang penting lain. Setelah semuanya beres, kami pun meminta surat izin ke rumah Ustazah Ammi.
Kami berjalan bersama menuruni tangga-tangga besar dan melewati turunan jalan disebelah gedung sekolah. Aku sedang sibuk memperhatikan catatan belanjaanku. Khawatir ada yang terlupa. Aku tidak ingin merepotkan Key memintanya datang untuk membelikan keperluan yang kelupaan, karena aku merasa cukup tau diri. Sejak dihukum Taqin, lagi-lagi aku tidak pernah menemuinya setiap kali ia datang. Karena jika aku meladeninya itu akan memakan waktu lebih dari satu jam. Padahal dalam waktu satu jam aku bisa melukis wajah Taqin berkali-kali. Memang aku terlihat sangat jahat memperlakukannya seperti ini. Itu sebabnya aku merasa cukup tau diri jika ingin menghubunginya. Mungkin dia akan berpikir aku manusia yang hanya nongol jika ada maunya saja.
“Tam?” Panggil seseorang yang suaranya itu terdengar sangat familiar di telingaku. Latifah yang berada disebelah kiriku menyenggol-nyenggol lenganku membuatku langsung melihatnya. Ia menggerakkan alisnya memberi isyarat agar aku segera menoleh kearah pohon Melinjo disebelah kananku. Ternyata disana ada Taqin yang sedang berdiri manis disebelah motornya.
“Mau kemana?” tanyanya langsung meski panggilannya tadi tidak kujawab sama sekali. Ia sepertinya mengetahui suasana hatiku akan langsung berubah mendung nyaris badai jika melihatnya.
“Beli alat lukis, perlengkapan lukis ana pada habis semua gara-gara antum.” Jawabku luar biasa ketus. Taqin menaikkan sebelah alisnya merasa heran, baru kemudian tertawa kecil tanpa memperdulikan tatapan kesalku padanya.
“Oooh.”
Jawabnya sambil memonyongkan bibirnya nyaris 3 centi panjangnya lalu tertawa kecil tapi luar biasa mengejek, membuatku langsung memalingkan wajah sambil mendengus seperti banteng yang ingin segera menombeng sesuatu. Rasa kesalku semakin bertambah saja melihat betapa lancipnya bibirnya ketika mengatakan ‘oh’ tadi. Itu jelas sebuah ejekan. Aku benar-benar bingung dengan tujuannya memintaku melakukan hal bodoh seperti melukis wajahnya yang pas-pasan itu. Memang, sebenarnya semuanya tidak akan terlalu bodoh jika aku tidak terus-terusan didampingi dua orang menyebalkan disebelahku ini.
Aku langsung melangkah pergi tanpa permisi mengabaikan panggilan Ai dan Latifah yang setengah berbisik. Aku tau mereka merasa tidak enakan dengan Taqin melihat tingkahku. Aku masih bisa mendengar tawa Taqin saat Latifah dan Ai berkali-kali minta maaf padanya.
“Gak papa. Ana ngerti kok.” Jawab Taqin masih sambil tertawa. Ingin sekali aku melepas sepatuku dan melemparkannya ke wajah Taqin. Tapi coba kutahan demi menjaga nama baiknya.
Latifah dan Ai kemudian menyusulku yang sudah naik duluan keatas salah satu becak yang berjejer dipinggir jalan menunggu penumpang. Mereka selalu berbaris rapi menunggu santri dan santriah yang keluar setiap hari Jumat.
“Tam kok kayak gitu sama Taqin?” Tanya Latifah sambil menyenggol lenganku dengan wajah kesalnya.
“Gak baik kasar sama orang kayak Taqin.”
Tambah Ai yang juga memandangku tidak suka. Kupalingkan wajahku dari mereka sambil memutar bola mata kesal. Mereka hanya melihat Taqin sebagai seorang hafiz yang sholeh dan mengagumkan. Mereka tidak tau sisi lain dalam diri Taqin yang begitu menyebalkan memberiku hukuman gila sampai membuat mereka berprasangka lain padaku.
“Ini mau kemana dek?” Tanya bapak tukang becak itu padaku. Aku lupa memberitahunya tadi sebelum naik karena terlalu kesal melihat Taqin.
“Pasar, Pak.” Jawabku singkat. Bapak itu pun mengangguk mengerti lalu membawa kami meluncur bersatu bersama kendaraan lain dijalan raya yang tidak begitu padat.