ViRus

ViRus
Terlalu banyak rahasia



Libur panjang setelah kelulusan biasanya terasa begitu menyenangkan bagi setiap siswa. Ada yang mengisinya dengan berlibur bersama keluarga, ada juga dengan belajar untuk persiapan diri saat masuk ke jenjang perkuliahan.


Kupikir aku bukan salah satu dari mereka. Karena aku memang tidak menikmati hari-hari kosongku, atau bahkan mengisinya dengan kegiatan yang seharusnya bisa bermanfaat untukku. Akibatnya kekosongan itu terasa begitu menyiksa dalam setiap detiknya. Selalu ada helaan nafas berat yang kuhempaskan untuk mengurangi rasa sesak yang berpusat di dadaku. Sesak yang membalut rasa perih yang begitu menyiksa. Tidak ada lagi air mata yang biasa selalu dijadikan sebagai pelepasan, yang setidaknya bisa mengurangi sakit ini sedikit saja.


Seandainya aku tidak bertemu denganmu


Drrrtt..


Handphoneku bergetar. Panggilan masuk dari Key.


“Halo, assalamu’alaikum, Tam..”


“Waalaikumsalam, Key.”


“Lagi apa?”


“Nonton.”


“Sendirian? Aku jemput ya.. Mama lagi di rumah. Udah lama juga gak ketemu Tam.”


“Boleh.”


“Yaudah. Tam siap-siap ya.”


“Ok.”


“Assalamualaikum..”


“Waalaikumsalam..”


Tut.. Tut..


Mendengar Key menyebut Mamanya, otakku kembali berputar mengingat perkataan Taqin ketika ia dan Key berada di rumahku. Ia menuduh orangtuaku punya hutang besar dengan keluarga Key. Sudahlah.. Apa orang seperti itu bisa dipercaya?? Dia orang baru, tidak mungkin dia tahu sebanyak itu sedangkan Key bahkan tidak tau apa-apa.


Aku lalu bersiap-siap. 10 menit kemudian Key datang menjemputku. Aku berusaha tersenyum tulus padanya. Agar ia tidak terus berpikir aku masih memikirkan Taqin. Selama ini ia yang terus berusaha untukku. Mungkin sekarang giliranku untuk berusaha menjaga perasaannya.


Tapi rasa penasaranku menguat, ingin mengetahui keluarga Key yang sebenarnya. Selama ini aku memang tidak pernah mengungkitnya setelah pengakuan Key waktu itu.


"Key."


Panggilku saat kami berada dalam mobil.


"Hmm.."


"Emang bener Taqin itu adik antum."


"Ya. Mantan."


"Kenapa di-"


"Kayaknya Tam udah tau semuanya. Kan kemaren nguping."


Key memotong kata-kataku, jelas menunjukkan dia tidak suka pembicaraan kami.


"Dia membunuh?"


"Bukan. Dia pembawa musibah."


"Kenapa kalian langsung buat kesimpulan kayak gitu?"


"Karna semua yang udah terjadi. Kecelakaan Papa sama kakek, bahkan ledakan di rumah tempat kita ngebuang dia. Dari situ doang udah keliatan jelas Tam."


Jelasnya. Aku sudah tau yang itu, aku ingin tau informasi yang lain.


"Tapi kan-"


"Tam, plis. Hari ini aku mau senang sama Tam. Aku mau ngebantu Tam ngelupain dia. Jadi tolong jangan rusak niat aku dengan ngungkit tentang dia terus. Aku ngerti kok Tam belum bisa secepat itu lepas dari dia."


"Ana cuman mau tau lebih jauh tentang keluarga antum."


"Yaudah sekarang udah tau kan.. Jangan ungkit dia lagi ya."


Aku memdengus kesal, walaupun sebenarnya dalam hati aku tidak bisa menyalahkan kata-kata Key.


Aku memang belum lepas darinya.


****


"Assalamualaikum.."


Kami sudah sampai di rumah Key. Terdengar suara membuka pintu dari dalam.


"Waalaikumsalam sayang... Duh lama banget gak main ke rumah ya.."


Tante Nida muncul dengan senyum sumringahnya.


Aku hanya tersenyum sambil menyalami tangan tante Nida. Beliau lalu memelukku sambil terus mengoceh menanyai kabarku dan orangtuaku. Aku hanya menjawabnya sambil sesekali tersenyum malu karena ia terus memujiku, semakin cantik katanya.


“Anak tante mana??”


Tanyanya ketika sadar tidak melihat Key bersamaku.


“Disini mah. Takut banget anaknya ilang.”


Sahut Key dari balik mobil. Tante Nida hanya tersenyum mendengar ledekan putranya itu.


“Hmmm.. Udah masuk yok.. Masuk..”


Beberapa menit kami mengobrol bersama di ruang tamu. Baru kemudian tante Nida mengajakku memasak bersama untuk makan siang kami. Ia sendiri tau aku tidak begitu mahir memasak, itu sebabnya ia mengajakku memasak bersamanya untuk persiapanku dengan Key kedepannya. Aku hanya tersenyum pasrah mendengar niat baiknya itu. Mungkin aku harus belajar menerima kenyataan yang sedang dan akan terjadi mulai sekarang.


Jika aku terus memaksa semuanya sesuai dengan keinginanku, belum tentu aku akan mendapatkan kebaikan ibu mertua seperti ini kan?? Ya, itu salah satu contoh kecilnya.


****


Cop.. Cop.. Cop..


Tangan tante Nida memainkan pisau dapur dengan begitu lincahnya memotong-motong sayuran. Aku yang hanya memperhatikannya tak bisa menutupi rasa takjub bercampur ngeri di wajahku.


Drrrrrt...


Suara getaran handphone yang tergeletak di atas meja makan mengalihkan perhatianku. Handphone tante Nida. Ia langsung bergerak mengambilnya.


“Nanti sekitar 2 menit lagi sayurnya di masukin ya sayang. Tante ngangkat telpon dulu sebentar.”


Pesannya sebelum kemudian ia berlalu dari hadapanku memfokuskan diri dengan orang di seberang telpon. Tapi tidak sampai 2 menit ia kembali sambil tersenyum ke arahku.


“Kirain tante bakal lama.”


Ujarku padanya. Tante Nida tersenyum lalu malu-malu mengaku yang menelponnya barusan adalah suaminya yang merengek manja ingin makan siang bersama dengan masakan buatannya.


“Kebetulan dong, kita udah masak nih.”


Ujarku menanggapi akuannya itu.


“Iya. Tapi tante gak bisa makan siang bareng Tam. Gak papa kan, tante tinggal sama Key.”


“Gak papa kok, Tante. Kan besok-besok juga bisa makan bareng."


“Hmm, yaudah. Kalo nanti Key nakal, bilang aja sama tante. Biar nanti tante omelin.”


Aku hanya tersenyum mendengar kata-kata tante Nida. Ia lalu beranjak meninggalkanku untuk siap-siap sebelum berangkat. Tanpa sengaja ia meninggalkan handphonenya yang tergeletak di atas meja makan. Aku mengabaikannya. Mungkin ia sengaja membiarkannya disitu dan akan mengambilnya nanti saat akan berangkat.


Drrrrrt..


Handphone tante Nida kembali bergetar. Ada yang menelpon. Jujur, aku merasa enggan mengangkatnya. Karena aku mengira pasti Om Rey yang menelpon. Aku tidak begitu akrab dengan beliau, bahkan cukup jarang bertemu.


Meski begitu, aku tetap mengambil handphone itu. Dan ternyata dugaanku salah.


Anak Sial


Nama itu yang tertera disana. Kasar sekali. Aku kembali meletakkan handphone itu mengurungkan niatku untuk mengangkatnya. Mungkin orang itu adalah Taqin. Dia kan yang selama ini dianggap pembawa sial.


Aku hanya diam menyibukkan diri dengan mengaduk-aduk sayur yang kumasak. Tapi sampai masakanku selesai, handphone itu tetap saja bergetar. Penelpon yang keras kepala. Dengan penuh rasa keterpaksaan, aku akhirnya mengangkat telpon itu.


“Hal-“


“HOI TUA BANGKA!! LAMA BANGET NGANGKAT TELPONNYA.”


Aku terlonjak mendengar teriakan orang di seberang telpon. Jantungku nyaris copot. Ini bukan suara Taqin.


“Santai dong. Gak usah triak-triak kayak di hutan.”


“Kamu siapa? Brani banget ngangkat telponku..”


Suaranya sedikit serak dan sesekali menggeram. Dasar aneh. Tanganku bergerak ingin memutus telpon. Kurasa orang itu hanya asal menelpon. Dia seperti sedang mabuk dan dalam keadaan tidak sadar.


“Ooo... Mungkin kau calon istri Key?!”


Tanyanya tapi seperti pada dirinya sendiri.


“Yah... Menurut informasi yang kudengar dari anak buahku, Key tadi keluar sebentar lalu pulang sama cewek yang sepertinya tunangannya. Ooohooohooo.. AKHIRNYA.... HAHAHA..”


Ia tertawa penuh kebahagiaan seolah baru saja mendapat hadiah yang luar biasa besar.


Mata-mata lagi??


Kesalku dalam hati. Tanganku pun tertahan untuk memutus telpon.


“Kamu siapa sebenarnya??”


“Calon istri Keeeey, akhirnya aku bisa ngomong langsung sama kamu..”


“Jawab pertanyaanku!!”


Aku kesal karena tidak digubrisnya sama sekali. Tapi tetap berusaha menahan suaraku agar tidak meninggi. Bisa kedengaran Tante nanti.


“Hahaha, kamu pemberani banget ya sayang. Kamu harusnya menghindar dari aku.”


“Aku gak punya alasan buat takut sama kamu.”


Dia hanya tertawa mendengarku. Tawa penuh ejekan.


“Kamu ada perlu apa sama tanteku?? Nanti aku sampaikan.”


Aku memutuskan untuk bertanya ke tujuan awalnya. Biar siapa pun dia akan kutanyakan langsung pada Tante saja.


“Aku minta uang bulananku. Wanita tua itu harusnya mengirimiku uang bulanan.”


Jawabnya akhirnya.


“Berapa jumlahnya?”


“10 juta perbulannya.”


“Tanteku punya hutang sebanyak itu??”


“Bukan hutang sayang, ini sudah jadi kewajiban tantemu membiayai hidupku.”


“Memangnya kamu siapa??”


“Hahaha.. Lagi-lagi kamu balik berani bertanya..”


Ntah sejak kapan tante Nida sudah berada disampingku dan langsung merampas handphone dari telingaku. Wajahnya terlihat pucat ketakutan. Dan langsung mematikan telponnya begitu saja.


“Tam ngomong apa sama dia??”


“Gak ngomong apa-apa. Cuman nanya dia siapa, Tan.”


“Tante mohon. Jangan bicara apa-apa tentang dia. Dan jangan pernah cari tau apapun tentang dia. Hhhh...Kamu bisa kena bahaya.”


Tante Nida membelai pipiku. Ia mengatakan semuanya sambil berbisik.


“Dia siapa tante?”


“Kamu belum boleh tau. Key juga belum tau tentang ini. Tante mohon, tante mohon yang sebesar-besarnya, jangan kasi tau siapa pun termasuk Key. Tante mohon.”


Terlalu banyak rahasia.


Lagi-lagi hatiku mulai merasa Taqin lah yang lebih jujur dan terbuka padaku. Mulai dari cerita ledakan di rumah reot, kecelakaan, Mada juga sama.


Meskipun Taqin akhirnya memilih Latifah, dan ia melakukannya didepan mataku agar aku tidak menuntut penjelasan apapun padanya. Meski kejujurannya itu harus menyakitiku, tapi itu lebih baik daripada membuatku terus penasaran seperti ini.


*****


Seperginya tante Nida, Key pun datang. Aku berusaha untuk terlihat biasa saja, menutupi yang baru saja terjadi. Meskipun aku sendiri tidak mengerti apa yang sedang kututupi.


“Hmmm, penasaran rasanya.”


Ujar Key menatap masakanku. Aku hanya meliriknya kesal, merasa kata-katanya barusan hanya ledekan untuk diriku yang tidak pandai memasak. Dan ia tidak menyadari lirikanku itu.


“Pasti rasanya enak, karna dibuat dengan penuh cinta.”


Ujarnya dan aku hanya diam.


“Cinta Tam buat aku.”


Tambahnya. Ia tersenyum lebar terlihat begitu senang hingga ada rona di pipinya. Aku ikut tersenyum. Aku lupa satu hal, dia bukan orang yang suka meledek.


Dia bukan Taqin.


Setelah semua terhidang diatas meja, aku pun mengambilkan piring untuk Key. Menaruh nasi dan lauk pauk di atasnya. Aku mempelajari ini semua dari Mama. Aku melihatnya selalu melakukan ini untuk Papa.


Key terlihat tidak bisa menutupi perasaannya yang membuncah bahagia dengan perlakuanku.


“Makasih sayang.”


Ujarnya. Dan lagi-lagi aku menjawabnya dengan diam, juga dengan senyum.


Aku makan tanpa banyak bicara. Hanya Key yang terus mengoceh memuji masakanku. Aku tidak merasa terpuji, karena itu bukan masakanku. Takaran bumbunya diatur oleh Tante Nida, itu sebabnya rasanya begitu pas. Aku jadi merasa bersalah sendiri pada Key. Lain kali aku akan memberinya masakan buatanku yang sesungguhnya. Dan pastinya dengan banyak latihan dulu.


Selesai makan, aku dan Key duduk bersantai sambil menonton film kesukaannya. Aku tidak begitu menikmatinya, tapi Key terlihat sangat suka dan ingin aku menontonnya. Aku terpaksa menurut.


Drrrt..


Handphone Key bergetar. Ada panggilan masuk. Ia melihatnya sebentar lalu mengabaikannya. Aku jadi curiga.


“Siapa? Kok gak diangkat??”


Tanyaku langsung.


“Ganggu.”


Dan itu bukan jawaban dari pertanyaanku.


“Ntar ada yang penting loh.”


“Yaudah bentar ya..”


Key ingin beranjak dan langsung kutahan.


“Kenapa gak disini aja.. Ngobrolnya?”


Tanyaku. Key menaikkan sebelah alisnya, merasa aneh dengan sikapku. Lalu tersenyum saat menyadari aku sedang curiga. Ia pun menurut dan kembali duduk.


“Ana gak kepo kok.”


Ujarku menanggapi senyumnya. Aku malu sendiri.


“Iya loh.”


“Halo?”


.....


“Maksud lo apa??”


.....


“Gak.. Gak boleh. Lo Jangan macam-macam. Gue lagi gak mau ribut.”


.....


“Coba aja kalo lo bisa.”


.....


“Udah dulu. Gue lagi sibuk.”


Tut..


Ia mematikan telponnya lalu menaruhnya kembali diatas meja.


“Kenapa?? Ada masalah??”


Tanyaku. Kerutan di keningnya perlahan hilang saat mendengar pertanyaanku.


“Katanya gak mau kepo..”


Ledeknya membuat wajahku langsung merona. Kupalingkan wajahku menutupinya darinya. Ia lalu tertawa sambil mengusap kepalaku lembut.


“Siswa dari sekolah lain, ngajak tawuran.”


Jawabnya akhirnya.


“Antum sering tawuran??”


Mataku membelalak mengintrogasinya.


“Gak kok.”


“Trus kok tiba-tiba diajakin?? Brarti kan udah sering.”


“Ya enggak lah sayang. Justru karna aku gak pernah, makanya sering ada yang ngetest aku brani ato nggak.”


“Huh.. Dasar anak-anak kurang kerjaan.”


Key mengangguk.


“Awas kalo antum boong.”


Ancamku lagi padanya.


“Iya.”


Jawabnya sambil tertawa. Ia tidak serius menanggapiku. Aku sendiri tau dia sedang berbohong. Apa iya pembicaraan orang yang ingin tawuran seperti itu?! Jelas-jelas ia seperti sedang diancam seseorang di seberang sana, yang aku khawatirkan adalah orang yang sama dengan anak sial yang menelpon Tante Nida tadi.


Atau mungkin Key sebenarnya sudah tau??..