ViRus

ViRus
Pembunuh dan Sosok Key 3 Tahun lalu



Sudah hampir seminggu aku berada di rumah. Aku sudah mencabut gigiku yang berlubang, tentunya setelah gusiku tidak membengkak alias sembuh. Dan malam ini, aku sedang mengemasi baju serta keperluanku di asrama. Aku sudah memutuskan akan kembali ke Pesantren dan sekolah seperti biasanya. Mama membantuku mengemasi barangku sambil menangis dan terus mengoceh memintaku untuk mempertimbangkan ulang. Kali ini Mama yang kelihatan luar biasa keberatan. Padahal sebelumnya ia yang memaksaku dengan tanpa perasaan dan bahkan setelah itu tak pernah mengunjungiku. Orangtua yang menyebalkan.


Kupikir aku sudah menimbang semuanya dengan sangat baik. Aku sudah memikirkan ini selama hampir seminggu. Dan aku sadar, aku lebih senang menghabiskan hari-hariku di Pesantren dengan Mada. Aku merasa lebih bebas, tidak dipaksa melakukan ini itu seperti yang dilakukan Mama dan Papa. Memang, di Pesantren aku juga sering diperintah. Tapi itu karena aturan dan berkaitan dengan agama. Dan sudah pasti memberi manfaat bagiku dan sesama. Bukan seperti Mama Papa yang sulit kumengerti. Mereka seperti lebih mengutamakan ambisi sampai mengabaikanku. Aku juga sudah tahu beberapa hal mengenai hubungan keluargaku dengan keluarga Key. Itu juga karena mengenai pekerjaan yang terlalu berambisi. Aku hanya bisa berharap suatu hari nanti mereka tidak akan gila ketika ambisi mereka tidak menghasilkan buah sama sekali.


Paginya, aku diantar kembali ke Pesantren oleh Mama dan Papa. Aku merasa perjalanan kali ini cukup lambat karena aku terus menunggu di setiap detiknya. Sesampainya di Pesantren, Mama sempat menciumiku sebelum pulang, tentunya sambil menangis hingga wajahku ikut basah terkena air mata dan juga ingusnya.


Setelah mereka pulang, aku langsung berlari menuju asrama dengan penuh semangat sambil menenteng plastik besar berisi makanan untuk Mada. Aku berencana akan mengajaknya berpesta semalaman untuk merayakan kedatanganku. Yah…, aku biasa melakukan itu dengan Key sebagai bentuk rasa syukur katanya.


Dengan perasaan menggebu-gebu aku berjalan ke kamar Mada, tentunya setelah membereskan semua barang-barangku dulu di kamarku. Aku penasaran dengan ekspresi Mada ketika melihatku datang. Karena kemarin aku hanya bilang ‘akan pikir-pikir dulu’ dalam chatt-ku.


Aku langsung masuk ke kamar Mada tanpa permisi, dan aku menemukannya sedang duduk termenung seperti orang bodoh ditepi ranjangnya. Segera kudekati dia sambil tersenyum lebar.


“Hei…, aku balik. Sesuai keinginan kamu.”


Teriakku dengan girangnya. Mada hanya menatapku sayu. Ia kelihatan berantakan dan sangat rapuh. Seolah tengah dihantam badai masalah yang luar biasa rumit.


“Kamu kenapa??”


Tanyaku sambil memegang tangan Mada.


Mada hanya diam. Pinggiran matanya perlahan merona merah. Aku langsung duduk disebelahnya sambil mengusap-usap pipinya. Matanya pun mulai berkaca-kaca hingga perlahan air matanya mengalir dari sudut mata sipitnya itu. Segera kupeluk dia mencoba memberi lebih pelepasan. Aku merasa ia seperti menahan tangisnya cukup lama hingga ia jadi berantakan begini. Kuusap punggungnya dan tangisnya pun mulai pecah. Tubuhnya sampai gemetaran seolah ia sedang sangat ketakutan.


“Dia datang...”


“Siapa?”


“Dia... pembunuh...”


Tubuhnya semakin bergetar. Ia juga memelukku semakin erat hingga aku kesulitan bernafas. Tulangku bahkan sudah terasa sakit.


“Kamu jangan mikir yang aneh-aneh dong.” Ujarku merasa ngeri sendiri. Tapi mana mungkin ada pembunuh yang datang ke pesantren yang aman dan tentram ini. Kalau pun ada, pasti langsung ketahuan dan akan dihajar habis-habisan oleh warga serta dijebolkan ke penjara.


“Latifah... si bodoh itu yang manggil... si bodoh itu... si bodoh itu...”


Mada semakin histeris saja. Aku semakin bingung dan ikutan panik. Aku tidak tau cara menenangkannya.


“Kamu tenang, Ok!! Dia gak bakal datang. Aku bakal terus disini jagain kamu. Kalo pun dia ada, kita lawan dia bareng.” Hiburku sok pahlawan. Padahal nyaliku juga sudah menciut. Mada langsung melepaskan pelukannya dan beralih menatapku tajam.


“Kamu mau tidur bareng aku malam ini?”


Kuanggukkan kepalaku mantap. Kurasa ia mengira pembunuh itu akan mengincarnya tengah malam. Jika memang benar, berarti nyawaku juga terancam. Aku akan mati sebentar lagi. Aku merengek dalam hati, mengingat semua dosaku pada orangtuaku. Aku bahkan belum pernah meminta maaf kepada mereka sekalipun.


Aku dan Mada sama-sama terdiam ketika mendengar suara panggilan satpam dari pos, yang menandakan salah satu santriah sedang kedatangan tamu. Madaniyah, namanya. Aku tidak tau dia siapa. Karena aku sendiri tidak tau nama panjang Mada. Tapi dilihat dari ekspresi Mada yang sudah melotot menatapku seperti hantu, sepertinya yang dipanggil itu memang dia.


Mada langsung berdiri sambil membersihkan sisa-sisa airmata di wajahnya. Ia berusaha terlihat tegar meski persendiannya seolah goyah karena tubuhnya sedikit terhuyung saat berjalan. Padahal orangtuanya baru saja datang kurang lebih seminggu yang lalu saat kami chatt-an itu. Mungkin kedatangan mereka kali ini karena kepanikan Mada dan ingin masalah ini segera ditangani lebih serius oleh ustadz dan ustadzah.


“Itu bukan orangtuaku. Aku udah gak punya orangtua.”


Ia menyela semua yang ada di pikiranku.


“Dan aku gak pernah chatt-an sama kamu.” Membuatku semakin kaget. Jadi siapa yang membalas chatt-ku??


Jin kesepian??


“Maaf kalo dia lancang pura-pura jadi aku. Jangan hubungi dia kalo aku gak di rumah atau kalo bukan waktu libur. Jangan sampai kamu ada urusan sama dia.”


Aku berjalan keluar asrama berniat ingin melihatnya sebentar saja meski dari kejauhan. Aku berhenti di anak tangga pertama di depan jejeran kelas. Kuarahkan pandanganku ke pos satpam. Dan benar saja Mada saat ini sedang bersama saudaranya yang ternyata adalah seorang laki-laki.


Jomblo kesepian mungkin. Lancang banget ngbalas chatt orang...


Makiku dalam hati. Tapi terbilang baik juga, karena kemarin dia tidak menggodaku, malah menasehatiku. Aku ingin segera berbalik karena merasa tidak ada lagi yang perlu dicari tau. Tapi tak jadi karena suara seseorang yang entah sejak kapan sudah berada di belakangku.


“Eh..., itu kan Key?! Akhirnya dia datang lagi!!”


“Key??”


Bisikku sambil menoleh pada pemilik suara itu dan langsung berpaling karena tidak mengenalnya. Aku hanya berusaha melihat lebih jelas saudara Mada itu sambil berjalan menuruni anak tangga. Kuabaikan suara perempuan itu yang mengatakan bahwa lelaki itu bukan Key sahabatku. Aku ingin memastikannya langsung dengan mata kepalaku sendiri.


Aku terus berjalan melewati gedung sekolah hingga jarakku dengan Mada hanya beberapa langkah saja. Aku berhenti karena sudah bisa melihatnya dengan jelas. Lelaki itu, ia mengenakan kaos berwarna putih bergaris abu-abu dari dada hingga ke kerahnya. Ia tengah merangkul Mada yang sedang menangis terguguk dalam pelukannya. Ia mengomel tidak jelas pada Mada. Tangannya membelai kepala Mada yang tertutup jilbab berwarna pink yang lusuh. Dari gerakan bibirnya aku bisa mengetahui apa yang terakhir dikatakannya. Juga karena jarak kami yang tidak begitu jauh, aku bisa mendengar samar-samar suaranya terbawa angin.


“Mereka gak bakal bisa ngehancurin kita, InsyaAllah.”


Aku sukses terdiam mematung. Aku pernah melihat ini sebelumnya. Sudah sangat lama. Lelaki itu dan potongan rambutnya, caranya membelai, cara bicara dan suaranya, juga apa yang dikatakannya, semuanya sama. Begitu juga Mada. Perempuan berjilbab pink yang lusuh dan kumal itu, dia yang waktu itu disebut Key sebagai teman aktingnya untuk menyelesaikan tugas. Tapi kenapa mereka sama? Atau mereka memang orang yang sama. Mada dan Key sahabatku??


Seketika aku teringat dengan ekspresi wajah Mada saat Key datang menjengukku waktu itu. Ekspresinya yang begitu ketakutan itu. Aku sadar ternyata dia bohong. Dia tidak takut pada Key, tapi dia punya hubungan dengan Key dan tidak ingin aku tau. Juga cerita konyolnya mengenai Key hingga aku menganggap Key sebagai penjahat yang tak kukenal.


Cukup!! Mereka memang jelas punya hubungan lebih. Bahkan sudah sejak lama!!


Hatiku nyeri melihat kenyataan ini. Mereka dengan santainya berpelukan seperti itu, pasti karena Key yang ramah dan brengsek itu sudah mengumbar berita bohong bahwa dia dan Mada adalah saudara agar mereka bisa bebas bersentuhan disini.


Ternyata aku sudah dibohongi selama bertahun-tahun.


“Key!! kamu...”


Teriakku. Kata-kataku terputus. Suaraku seketika tertelan karena dadaku terlalu sesak. Aku benci pada bibirku yang lemah, tidak bisa menumpahkan emosiku di waktu yang tepat.


Key dan Mada serentak menoleh padaku. Sama persis seperti waktu itu. Bahkan Mada yang juga sudah mengenalku tetap menatapku aneh, begitu juga lelaki yang kutau memang Key itu. Tapi ada yang berbeda dengan wajahnya. Sama seperti sebelumnya, wajahnya memang persis dengan Key tapi ada sesuatu yang membuatnya berbeda.


*****


“Kalo dari segi fisiknya udah sama persis, mungkin yang bikin beda itu auranya, atau ekspresinya.” Albi menambahi ceritaku. Sepertinya dia tau, dulu aku terlalu bodoh untuk membedakan mereka.


“Hmm... iya juga yah.”


“Iya. Juga satu lagi, sifatnya.” Tambahnya.


Aku tersenyum. Benar. Mereka memang sama, hanya sifat dan auranya saja yang berbeda.


“Tapi, masa anti gak bisa nyuci sih...” Ujar Albi membuatku langsung tertawa kecil. Jujur, sebenarnya aku malu dikatai seperti itu olehnya. Tapi tak masalah, karena sekarang sudah berbeda.


“Serius, waktu itu emang gak bisa. Bisa juga karna Mada yang ngajarin.”


“Mada...”


Albi mengulang nama itu seperti tengah menimbang-nimbang sesuatu.


“Iya. Namanya Mada.”


Aku tidak bisa menahan senyumku yang mulai mengembang ketika membayangkan wajahnya. Dia sahabatku. Perempuan cuek, tapi memiliki mata sipit yang bersahabat.