
Banyak keanehan yang kurasakan dengan sikap Taqin. Aku selalu takut salah paham merasa diistimewakan, akibatnya aku selalu memaksa diri untuk tidak baperan. Walaupun sebenarnya aku mulai merasakan getaran-getaran aneh dalam hatiku.
Seperti waktu itu, ketika para ustaz dan ustazah mengadakan perlombaan memasak antar santriah, aku langsung panik. Aku tidak memiliki pengetahuan tentang memasak seupil pun. Grup memasak dibagi tiap kamarnya. Setiap grup memiliki kebebasan memasak apa saja dengan syarat salah satu bahannya adalah coklat. Untuk grup kami, kami berencana memasak Pisang Coklat Lumer. Ketua kamar membagi tugas pada kami sebagai anggota, sesuai dengan kemampuannya saja. Tidak ada paksaan. Aku yang merasa tidak punya kemampuan apapun, akhirnya memberanikan diri ikut merebus pisang saja. Ketua meminta pisangnya direbus terlebih dulu agar lebih muda ketika akan menghancurkannya dengan sendok.
Jika dipikir-pikir, tidak ada yang sulit untuk kukerjakan kalau hanya merebus. Tapi karena aku terlalu bodoh, akhirnya aku membahayakan diriku sendiri. Pisang yang sudah matang, seharusnya diangkat satu persatu dari panci panas ke mangkuk yang baru. Tapi aku yang dengan gobloknya malah mengangkat panci itu yang pastinya berat, dan menumpahkan sekaligus air bercampur pisang itu ke mangkuk. Bahkan lebih bodohnya lagi, aku hanya menggunakan satu tangan untuk mengangkatnya.
Akibatnya, karena terlalu ceroboh bercampur tidak ada keahlian sedikit pun, tanganku tanpa sengaja menumpahkan air panas hingga mengenai punggung tangan kiriku yang sedang menyentuh pinggiran mangkuk tempat aku memindahkan pisang. Memang hanya sedikit, tapi bagiku yang belum terbiasa itu sangat menyiksaku. Untung saja tangan kananku yang memegang panci panas itu tidak segera terlepas karena terkejut. Jadi tidak menambah kehebohan atau berantakan.
Taqin yang berada di kursi para juri seolah melihatku. Setelah perlombaan selesai sampai dengan penilaian, Ustazah Ammi langsung memanggilku untuk datang ke rumahnya. Ternyata disana sudah ada Taqin dengan wajah murungnya. Ia memintaku memperlihatkan lukaku. Tentu saja awalnya aku menolak karena malu. Tapi melihat wajahnya yang serius, aku langsung pelan-pelan menunjukkan tangan kiriku yang sudah memerah dan bengkak. Wajahnya semakin muram saja.
“Lain kali hati-hati. Kalo emang gak bisa, jangan dipaksain. Lagian banyak juga kerjaan lain yang gak berbahaya.”
Ujarnya memperhatikan tanganku mengolesi obat ke lukaku. Seolah tidak ingin beralih dari pergerakanku sedikit pun. Aku hanya mengangguk merasa takut dengan sikapnya ini. Aku tidak terbiasa dengan Taqin yang begini. Biasanya dia yang selalu bertingkah menjengkelkan untuk membuatku marah lalu menertawaiku.
Ia memintaku membawa obat itu ke kamarku. Aku harus rutin mengolesi lukaku supaya cepat sembuh dan tidak berbekas. Bahkan ia memintaku memberitahunya jika obatnya sudah habis. Dasar lebay, pikirku. Mana mungkin luka sekecil ini sampai menghabiskan obat oles sebanyak ini. Kalau pun iya, lebih baik aku menghubungi Key saja untuk membelinya daripada dia. Aku tidak ingin terfitnah lagi.
Tidak hanya kejadian itu, bahkan ketika aku menunggu jemputan ketika santri dan santriah diliburkan saat kenaikan kelas pun, ia tetap ikut menungguku. Memang, saat itu Key datang cukup lama karena ban mobilnya bocor di tengah jalan. Akibatnya aku menunggu sendirian di gerbang Pesantren karena teman-teman yang lain sudah pulang duluan.
Melihatku duduk sendiri, Taqin langsung menghampiriku.
“Tam gak mau naik becak aja??”
Tawarnya. Aku hanya menggeleng karena masih terlalu marah dengan Key. Hatiku tidak bisa berhenti mengomel saking kesalnya dan ingin segera menyemburnya dengan ribuan omelanku. Akibatnya tawaran Taqin tidak membuatku tertarik.
“Biar ana ikutin dari belakang, kalo antum takut sendiri.”
“Nggak perlu, Taqin. Ntar jadi masalah lagi sama Mama sama Key.”
Tolakku. Dan memang itu yang selalu kutakuti.
“Hmmm, miris ya... kayaknya emang gak semudah itu.” Bisiknya.
“Maksudnya??”
“Gak kok. Mau main catur sambil nungguin Key?”
Ia lalu menyodorkan catur pak Satpam padaku menantangku untuk bermain dengannya. Tentu saja aku mau. Aku ingin melupakan rasa kesalku pada Key beberapa menit ke depan sampai dia datang. Aku memilih warna putih sedangkan Taqin warna hitam.
Selama permainan dimulai aku tidak bisa diam sama sekali. Mulutku sibuk menanyai Taqin alasannya menggerakkan caturnya yang sangat berbeda denganku yang hanya paham dasarnya saja. Aku bahkan tidak bisa berhenti protes karena sibuk menghitung kotak-kotak yang dilangkahi Taqin yang terkadang menurutku terlalu banyak. Awalnya ia memang tertawa geli sambil menjelaskan secara singkat dan padat. Tapi itu pun tetap tidak bisa membuatku langsung mengerti dan kembali mengulangi pertanyaan yang sama.
“Eh, kok kayak gitu?”
“Emang cara mainnya kayak gitu.” Jawab Taqin mulai cuek. Ia hanya menertawai wajahku yang kebingungan, tidak mau memberi penjelasan apapun lagi. Mungkin ia mengira percuma saja.
“Gak.. tadi ana gak kayak gitu kok. Antum jauh banget loncatnya.” Protesku lagi. Lagi-lagi masalah jumlah kotak yang dilompati. Aku panik karena pionku sudah terlalu banyak yang tewas.
“Iya. Kayak gini juga bisa, Peseek. Antum aja yang gak tau.”
Taqin mulai jengkel.
“Yaudah, makanya ajarin.”
Ujarku berniat menghentikan permainan.
“Kalo ana ajarin ya gak jadi dong mainnya.”
Tapi langsung ditahan Taqin. Dia sepertinya sangat ingin melihatku kalah.
“Ish... resek banget sih... Taqinun!!”
Bisikku kesal, sambil kembali memainkan pion caturku untuk melindungi raja yang sudah di ambang kematian.
“Apa?? Hh... antum bilang apa??”
Taqin langsung tertawa geli mendengar rutukanku. Dan itu membuatnya lengah, sehingga aku langsung menggerakkan kudaku dengan asal.
“Gak ada. Skakmatt!!”
Teriakku menggerakkan kudaku menyergap Raja Taqin.
“Eh?? Kok kayak gitu. Haha..”
Ia malah tertawa terpingkal-pingkal melihatku. Ternyata aku tetap ketahuan curang, pikirku.
“Udah... antum udah kalah. Yang sabar ya.. ck, tapi kayaknya antum seneng banget ya ana bunuh. Pasti sebelumnya antum remeh kan?? Rasain tuh, emang enak.”
Ujarku sok polos tapi tetap meledek.
“Eh, bentar. Eh-em, antum salah loh. Cara jalan kuda bukan kayak gitu.”
“Lah, tadi antum..”
Tadi aku memang sempat melihat Taqin menggerakkan kudanya cukup jauh. Aku hanya ingin menirunya.
“Iya, tapi beloknya bukan kayak gitu.”
Yah, aku tau. Barusan aku menjalankan kudaku melewati kotak-kotak yang cukup banyak hingga membentuk huruf U dari sebelah sisi kiri. Hingga jika disederhanakan, aku menjalankan kudaku lurus saja. Aku melakukannya karena Raja Taqin tidak memiliki penjagaan dari sisi itu. Sedangkan sisi kanan dan depan sudah terjaga ketat.
“Ish, kok susah banget sih. Banyak banget aturannya.”
Keluhku mulai menyerah.
“Antum aja yang masih belum mahir.”
“Gak ada. Pokoknya ana udah menang. Antum kalah.”
“Tapi cara main antum salah.”
“Ana gak peduli.”
Ujarku tegas sambil melipat kedua tanganku di dada serta memalingkan wajah, tidak peduli dengan wajah Taqin yang terlihat penuh protesan.
“Seru banget yah?!”
“Seru dari Hong Kong. Eh...”
Aku terdiam. Dan langsung menoleh ke belakang.
“Key??”
Lagi-lagi aku mengalami ini. Karena terlalu kesal tadi, aku menjawab asal teguran Key yang sudah berdiri di belakangku. Sambil berusaha menutupi keterkejutanku, aku langsung berdiri menyapa Key.
“Key gak mau main catur bareng kita sebentar, antum harus ngalahin Taqin. Dari tadi ana kalah mulu. Gak ngerti cara mainnya gimana.”
Ajakku. Dalam hati aku berusaha meyakinkan diri bahwa Key tidak salah paham lagi dengan Taqin. Jika aku sampai terlihat ketakutan, Key akan semakin curiga.
“Kita gak ada waktu sayang.” Tolak Key sambil menatapku lembut.
“Eh.”
Aku kaget bercampur tidak nyaman. Aku tau Key sengaja berbicara manja dan mesra seperti itu padaku karena tau kami sedang diperhatikan Taqin.
“Kita langsung pulang yok. Bilang see you ke Taqin!!”
Aku hanya diam ingin menolak, tapi Key buru-buru mendorongku dengan paksa masuk ke dalam mobil. Aku masih bisa mendengar teguran Taqin pada Key agar tidak berlaku kasar padaku. Key langsung menutup pintu mobil dan membelakangiku menghalangi pandanganku dari Taqin. Mereka bicara sebentar, tidak sampai 3 menit. Aku langsung menoleh pada Taqin ketika Key kemudian berjalan masuk ke dalam mobil. Aku bisa melihat wajah kesal Taqin sambil mengepalkan tangannya yang sedang menggenggam sebuah pion catur dengan erat. Aku langsung tersentak ketika mendengar suara pintu mobil yang ditutup dengan keras. Saat itu juga Taqin mengangkat wajahnya melihatku. Kepalannya perlahan melembut, ia tersenyum berusaha menunjukkan wajah cerianya.
“Hati-hati..”
Ujarnya dari gerakan bibirnya. Aku hanya mengangguk berusaha tersenyum memandanginya yang mulai menjauh dari pandanganku.
“Biasa aja kali Tam lihatinnya.”
Tegur Key dengan wajah ditekuk. Senyum ramah yang ia perlihatkan padaku hilang seketika.
“Antum tuh seharusnya yang biasa aja tingkahnya.” Aku berusaha melawan.
“Kamu emang gak pernah mikir sebelum ngomong.”
“Kamu yang gak pernah mikir sebelum bertingkah. Gak dewasa banget.”
“Tam!!” Suara Key meninggi.
“Apa?? Marah? Ngadu sama Mama?? Silahkan. Ana gak peduli!!”
Teriakku ikut-ikutan meninggikan suaraku ke wajah Key.
Ckiiiit..
Key menginjak rem mendadak sambil membelokkan mobil nyaris menabrak pohon besar di pinggir jalan berjurang. Aku langsung berpegangan karena panik. Key benar-benar sudah gila melakukan ini. Apa dia sudah bosan hidup sampai ingin membahayakan nyawa kami.
“Key-..”
“DIAM!!”
Dia membentakku sambil terengah. Aku yang tak sempat protes langsung terdiam, gemetar ketakutan. Yah, ini pertama kalinya bagiku untuk dibentak seorang Key. Dia tidak pernah seperti ini. Mataku langsung memanas. Dan tanpa kuminta air mataku tumpah. Key langsung menarikku ke dalam pelukannya. Aku panik. Bagaimana pun kami tidak boleh melakukan ini. Tapi tenagaku sebagai perempuan tidak bisa menolaknya sedikit pun. Aku berusaha meronta karena kesal dan tidak nyaman. Sampai akhirnya tubuhku melemah karena tenagaku habis terkuras emosiku yang tak terlampiaskan.
Melihatku mulai berhenti meronta, Key pelan membelai lembut kepalaku.
“Tolong, jangan dekatin dia. Jangan buat aku kehilangan orang kesayanganku lagi.”
Bisiknya di telingaku dengan suara penuh permohonan yang menyedihkan dan belum pernah kudengar.
“Kehilangan??”
“Iya. Sebelumnya aku kehilangan anggota keluarga aku.”
Kukerutkan keningku tidak percaya.
“Apa yang Taqin lakuin?”
Tanyaku langsung mendorong tubuh Key pelan, melepas pelukannya. Kupandangi wajahnya lekat-lekat menunggu penjelasan.
“Kapan-kapan aku ceritain. Pokoknya Tam nurut aja dulu.”
Lagi-lagi seperti itu.
“Tapi Taqin gak pernah jahat kok sama ana.”
Protesku. Key hanya diam. Aku sangat bosan digantung seperti ini olehnya. Key seolah memanfaatkanku yang pelupa, menggantung ceritanya untuk menyembunyikan rahasianya dariku hingga aku lupa dan tidak mengungkitnya lagi.
*****
Seharusnya waktu itu aku paham, jadi Key tidak berubah jahat. Seharusnya waktu itu aku sudah menjauhimu. Tapi Allah memberiku kehendak lain.
Kejadian waktu itu tetap tidak membuat hubunganku dan Taqin semakin renggang. Malah kami semakin dekat saja. Selama liburan, Taqin selalu menghubungiku lewat chatt setiap malam Kamis dan Ahad. Selalu ada yang ingin kami obrolkan dan aku pun tidak pernah bosan. Kami tidak chatt-an sampai tengah malam. Tidak sampai jam 10 Taqin sudah memaksaku tidur. Aku pernah mencoba melawannya hanya untuk bercanda, ternyata dia malah balik mengancam akan menikahiku sebelum aku lulus sekolah. Tentu saja aku langsung tertawa terbahak, tidak ingin bawa perasaan. Melihatku tidak memberi respon yang serius, ia langsung mengirimiku video singkat yang ternyata ketika kubuka, isinya adalah pocong yang sedang mengintip di jendela. Aku langsung berteriak ketakutan dan tanpa sengaja membuang handphone-ku. Dan yang membuatku semakin ketakutan adalah, jendela dalam video itu sama persis dengan jendela kamarku.
Taqinun kurangasam!!
Aku mengiriminya pesan suara. Ia langsung menelponku, ketika kuangkat tidak ada suara sama sekali. Aku memanggilnya berkali-kali pun tetap tidak ada yang menyahut. Aku pun semakin ketakutan dan langsung memutus telponku. Aku langsung menutup diri dibalik selimut sambil menutup telingaku dengan bantal, juga tanpa lupa menyalakan rekaman surah albaqoroh melalui handphone-ku dengan suara keras.
“Dasar Pesseek!!”
Ujarnya kesal sambil tersenyum gemas melihatku. Dan langsung kusambut dengan tawa mengejekku.
“Eh, ana masih mau loh. Tiramisunya enak kok.”
Dia tetap tidak bergeming. Tangannya tetap menyembunyikan kuenya dariku.
“Ish, pelit.”
Aku langsung mengerutkan kening, pura-pura kesal.
“Siapa suruh ngejailin orang??”
Aku hanya diam. Padahal kupikir dia lebih sering menjailiku, membuatku marah, nyaris kesetanan. Sekarang giliran aku menjahilinya, dia malah tidak tahan. Dasar, pikirku.
“Yaudah, kalo antum gak ngasi. Ana pulang. Kuenya gak enak.” Ujarku langsung berbalik pura-pura merajuk dan hendak beranjak. Tau dia tidak akan seserius itu.
“Yaudah ini…ni.., si pessek.”
Ujarnya mengalah.
Benarkan?!
Teriakku dalam hati sambil kembali menikmati Tiramisu itu dengan senyum yang terus mengembang di bibirku. Yah, aku selalu merasa spesial ketika diberi makanan buatan seseorang itu sendiri, ketimbang makanan yang dijual di toko. Meskipun bahan-bahan dan rasa kue buatan sendiri tidak sesempurna buatan di toko.
Taqin terus seperti ini sampai begitu lama, hingga hampir dua bulan. Tentunya tanpa sepengetahuan orang-orang di asrama selain ustaz Hafiz dan istri beliau. Juga tanpa sepengetahuan orangtuaku dan Key. Aku tau, ini beresiko. Kami pasti akan terfitnah lagi jika aku meladeni Taqin seperti ini. Kami bisa saja terfitnah diam-diam menjalin hubungan asmara. Jika sampai itu terjadi, pihak Pesantren pasti akan menghukumku dan nama baik Taqin pasti tercoreng. Pasti masalah akan sampai ke telinga orangtuaku. Dan mungkin setelahnya aku tidak akan pernah kembali lagi ke Pesantren. Atau bahkan aku akan dinikahkan dengan Key.
Aku sempat menegur Taqin. Hanya awalnya bertanya alasannya memperlakukanku seperti ini.
“Kenapa antum terus bawain ana makanan?”
“Hmm, gak papa. Ana mau aja. Kenapa?”
Aku diam. Merasa kurang puas dengan jawabannya.
“Emang makanan yang ini gak enak?”
Karena melihatku hanya diam, Taqin langsung mencicipi makanan buatannya itu dengan kening berkerut sedang berpikir. Ia mengira aku tidak menyukai makanannya.
“Enak kok.” Selaku.
“Kirain antum bosan.”
“Antum gak takut, kita dicurigain?” Tanyaku sambil memain-mainkan sendok di tanganku.
Taqin diam.
“Ntar kita difitnah...” Aku berkata pelan setengah berbisik karena tidak enakan dengan Taqin. Ia pasti langsung teringat dengan yang kami alami sebelumnya.
“Kita kan gak ngapa-ngapain.”
Taqin tersenyum meski wajahnya terlihat jelas, ia juga mengingat kejadian itu. Aku yakin dia tersinggung waktu itu.
“Iya tapi kan, itu menurut antum. Orang lain kan beda. Mana Latifah sama Ai ngirain kita ada hubungan. Antum tau sendiri Ai itu gimana. Ntar dia bilang yang enggak-enggak lagi sama Key.”
“Jangan mikir yang aneh-aneh.”
Hanya itu yang dikatakannya. Aku semakin tidak puas hingga tidak menutupi ketakutanku lagi.
“Ana gak bisa. Ana takut dimarahin Mamah lagi.”
“Ana bakal ngomong sama orangtua antum.”
“Ngomong apaan?”
“Hmm, antum udah siap nikah?”
Godanya lalu tertawa.
“Apaan sih... gak lucu!!”
Suaraku meninggi semakin kesal. Jantungku malah berdegup semakin kencang hingga wajahku terasa memanas. Kupalingkan wajahku darinya. Aku yakin wajahku sudah memerah karena kesal bercampur malu.
“Hahaha…”
*****
Sampai aku bertanya-tanya, apa sebenarnya hubungan kami?
Minggu setelahnya, Taqin membawakanku makanan lagi. Padahal kupikir dia akan berhenti setelah kutegur minggu kemarin. Saat ini, kami sedang duduk didepan rumah ustadz Hafiz sambil menikmati pancake buatan Taqin. dia sibuk menanyaiku tentang bacaan al-Qur’anku mengingat aku yang sudah dipaksa berhenti mengikuti kegiatan tahfiz. Jadi dia tidak tau seperti apa perkembangan tajwidku sekarang. Sementara waktu ujian Al-Qur’an sudah dekat. Hanya tinggal beberapa hari saja.
“Antum rutin ngaji kan??” tanyanya penuh selidik. Melihatku seperti sedang mengintrogasi tukang maling ayam. Aneh, pikirku.
“Iya, Alhamdulillah.”
Jawabku cuek, sambil menikmati suapan demi suapan pancake di mulutku.
“Berarti tajwidnya makin bagus dong, dari sebelum ana ajarin?”
“Iya, InsyaAllah.”
“Jangan cuman iya-iya aja.”
Tegasnya mendengar jawabanku yang tidak sungguh-sungguh.
“Kan ana bilang InsyaAllah juga.”
Ujarku sambil meliriknya sedikit kesal.
“Awas kalo pas ujian nanti pakek macet, ana kasi hukuman.” Ancamnya tapi sambil mengulum senyum.
“Kalo bagus, berarti ada hadiah!!”
“Bener-bener si pessek, salah niat pasti.”
“Antum gak baik ngejek hidung ciptaan Allah.”
Aku sengaja memalingkan fokus pembicaraan karena mulai kesal dengannya yang akhir-akhir ini selalu meledek hidungku. Waktu kecil memang aku sempat protes ke Mama tentang hidungku. Bahkan terus mendesak agar segera melakukan oprasi plastik. Tapi Key melarang, karena ia suka dengan hidungku. Hingga aku menurut dan mulai belajar mencintai bentuk hidungku apa adanya. Dan sekarang Taqin malah kembali menyinggung hidungku, membuat kepercayadirianku goyah.
“Ana gak ngejek. Ana cuman bilang hidung antum pesek.”
Ia malah masih berani mengelak.
“Sama aja.”
“Beda dong. Tergantung penilaian antum lah. Kalo antum nganggap pesek itu ejekan karena kejelekan ya, berarti antum yang ngejelekin ciptaan Allah.”
Benar juga sih.
Bisikku dalam hati. Dia membalikkan keadaan.
“Ish, Enak aja.”
Bibirku hanya mengatakan seperti itu agar Taqin tidak merasa menang. Sambil mendengus kesal aku memasukkan potongan pancake yang cukup besar ke mulutku.
“Pelan-pelan makannya...”
Tegurnya.
“Hidung pesek lebih sehat daripada yang mancung!!”
Bisikku masih tetap kesal dengannya. Taqin tertawa kecil, ternyata ia mendengarnya.
“Siapa yang bilang??” Tanyanya pura-pura ingin tau.
“Ana.”
“Alasannya??”
“Karna bulunya lebih rapat.” Ujarku tegas penuh percaya diri.
“Hmmm, tergantung kelebatan bulunya kali.”
Selanya. Ia malah terus tertawa padahal kurasa tidak ada yang lucu dalam pembicaraan kami.
“Gak juga.” Tegasku cepat tidak mau kalah. Seperti tengah ingin mengangkat derajat kaum hidung pesek saja.
“Hmmm??”
Taqin menanggapiku namun melirik ke belakangku dan tidak sempat kupedulikan karena tidak mau kalah.
“Emang bulu antum lebat??” Aku menantangnya butuh pembuktian dari hidung mancungnya itu. Tapi seketika aku tersadar ketika kami ditegur dari arah belakangku.
“Tam??”
Aku langsung menolehkan kepalaku kearah suara itu yang kutau adalah Latifah. Dan benar saja, dia dan Ai sedang berdiri di belakangku dengan wajah heran bercampur malu. Kurasa mereka sudah salah paham. Mereka pasti hanya mendengar pertanyaan terakhirku. Pasti mereka tidak tau bulu yang kumaksud. Apa pikiran mereka memang sekotor itu?
“Eh..”
Aku langsung melirik Taqin. Ia malah sibuk menutup mulutnya sambil tertawa tidak berusaha menjelaskan kesalahpahaman kedua teman bodohku. Lama aku memperhatikannya, tawanya tetap tidak kunjung surut. Karena kesal bercampur malu, aku langsung merampas semangkuk makanan di meja itu tanpa minta izin dari Taqin, dan langsung lari meninggalkannya yang tawanya semakin terpingkal saja.
*****
Hari dimulainya ujian al-quran akhirnya tiba. Tidak hanya kelancaran dan kefasihannya saja, tapi juga pemahaman mengenai tajwidnya. Sebenarnya tidak akan jadi masalah buatku karena aku memang sudah cukup memahaminya. Masalah yang membuatnya jadi rumit sekarang, ternyata penguji bacaan alqur-an dan tajwidku adalah Taqin. Dia sebenarnya pengganti Ustadz Hafiz yang tidak bisa berhadir. Aku semakin gugup, selain karena ancaman hukumannya semalam, juga karena salah satu temanku yang sudah salah paham kemarin, diuji diruangan yang sama denganku. Latifah.
Kemarin malam aku terus dikatai mesum olehnya, tidak sopan pada Taqin, juga sembarangan merampas makanan Taqin. Padahal dia sendiri yang tidak tau pembicaraan kami. Aku dan Taqin tidak segila itu membahas bulu yang ada dipikirannya. Dia mengatai aku mesum, padahal jelas kesalahpahamannya itu menunjukkan dialah yang sedang berpikiran mesum.
Bosan mendengar Latifah mengomel tidak jelas, aku pun berusaha menjelaskan semuanya, tapi dia tetap tidak percaya. Sampai ketika aku keceplosan salah bicara mengatakan Taqin sudah sering membawakanku makanan, dia langsung tercengang. Ia langsung bersyukur merasa hubunganku dan Taqin dari ketika melukis waktu itu ternyata sudah mengalami kemajuan yang pesat. Baru kemudian ia langsung melupakan ‘bulu’ yang tadi sempat dipermasalahkannya dan berlanjut mengorek semua informasi hubunganku dan Taqin.
Saat ini, aku dan Latifah sudah berada di kelas. Begitu juga Taqin sebagai penguji sudah duduk manis di kursi depan. Ujian sudah dimulai sejak 15 menit yang lalu. Ruangan tempat kami ujian terasa begitu sepi, hanya terdengar suara Taqin yang sesekali memanggil santriah yang akan diuji selanjutnya untuk maju ke kursi dihadapannya, memberi perintah tentang surah yang akan dibaca santriah sampai dengan meminta penjelasan tentang tajwidnya.
“Tamia Azhari.” Panggil Taqin. Aku langsung tertegun. Padahal seharusnya urutan namaku dalam absen berada paling bawah dari 30 santriah. Dan sekarang aku santriah ke-5 yang sudah dipanggil. Dia melakukan sistem acak rupanya.
“Tam, jangan lupa minta maaf sama Taqin.” Bisik Latifah yang berada di sampingku sebelum aku beranjak.
“He-em.” Jawabku singkat lalu berjalan ke kursi di hadapan Taqin. Tanganku sudah terasa dingin karena terlalu gugup. Biasanya aku memang gugup saat ujian. Tapi karena namaku berada di urutan terakhir, gugupku sudah keburu hilang sampai namaku dipanggil.
“Coba baca sura Al-Maidah mulai dari ayat pertama.” Perintah Taqin saat aku sudah duduk dan siap untuk diuji.
Aku langsung membuka al-Qur’an yang sudah disediakan di atas meja antara aku dan Taqin yang duduk berhadapan. Taqin ternyata masih ingat, bahwa kelemahan bacaanku terletak pada alif lam, mad jaiz munfasil, dan mad wajib muttasil. Dan di surah ini adalah tempat berkumpulnya semua kelemahanku itu.
Memikirkan hal itu di saat genting seperti ini tentu membuatku semakin kacau, aku tidak bisa fokus karena gugup yang entah kenapa sangat sulit untuk kukontrol. Padahal aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Biasanya aku selalu PD walaupun tetap melakukan kesalahan. Aku langsung beristighfar dalam hati berkali-kali. Mungkin karena baru kali ini aku dipanggil lebih awal saat ujian.
“Tam, ayok dimulai bacaannya.” Taqin akhirnya menegurku yang masih diam. Segera aku mengangguk pelan sambil kemudian menghela nafas berusaha untuk fokus. Baru mulai membaca perlahan dan penuh ketelitian.
Ujian al-Qur’an selesai, aku berjalan keluar sendiri. Latifah sudah kuminta pergi duluan karena masih ada yang harus kuurusi. Dan itu adalah Taqin. Hampir 2 jam Aku menunggunya selesai menguji. Itu semua dikarenakan aku melakukan banyak kesalahan saat ujian tadi. Akibatnya ia memintaku kembali melukis wajahnya, kali ini dengan tambahan tanpa melihat alias dengan menutup mata. Aku pulang terakhir karena Taqin ingin memberiku selembar fotonya sebagai contoh kalau-kalau aku kesulitan membayangkan wajahnya. Dasar laki-laki aneh, pikirku. Dia memang tidak ada bedanya dengan 2 teman bodohku itu.