
“Anti sih..”
Keluh Latifah sambil mencabut rumput-rumput di hadapannya. Kami dihukum karena tidak tidur di jam yang telah ditetapkan setiap malam, juga melakukan keributan dengan berteriak tengah malam. Aku merasa seperti orang bodoh saja karena beranggapan bayangan kemarin malam itu adalah makhluk sejenis hantu. Padahal itu adalah Kakak Seksi Keamanan yang sedang patroli memastikan semua santriah tidur dan tidak begadang untuk hal-hal yang tidak penting. Apalagi saat ini kami tidak sedang ujian, penjagaan bagi yang begadang semakin ketat.
“Apaan?? Kok malah aku yang disalahin. Salah sendiri dong, siapa suruh nakut-nakutin.”
“Jadi anti takut??”
“Gak kok. Ana gak takut. Upss..”
Kututup mulutku dengan sebelah tanganku yang tidak kotor. Aku tidak menyangka, gaya bicara Latifah bisa begitu cepat menular padaku.
“Cuman keceplosaan.” Selaku cepat agar dia tidak baperan.
Latifah tertawa mendengar responku yang malu-malu. Suara tawanya yang begitu mengejek itu membuatku tersenyum kecut melirik kesal ekspresinya dengan deretan giginya yang terlalu rapat dan tak sejajar membuatnyaa terlihat semakin menyebalkan.
“Jangan deket-deket sama dia ukhti.."
“Ntar tingkah brandalnya nular lagi. Deket sama situ tu cuman orang yang pengen kena hukum doang.”
Tegur seseorang tiba-tiba kearah kami. Aku dan Latifah segera menoleh mencari tau siapa yang mereka maksud. Ternyata itu adalah orang yang waktu itu kutegur saat aku disuruh meminta tandatangan Ketua Seksi Kebersihan. Perempuan bermata ikan asin itu. Ia berjalan pelan bersama seorang temannya sambil menatap sinis kearahku. Aku hanya diam tidak memberi respon. Mereka memang benar, Latifah selama ini belum pernah dihukum ataupun melanggar aturan. Kalaupun melanggar, dia belum pernah ketahuan. Sedangkan aku sudah dihukum berkali-kali. Memang Latifah mulai berani melanggar peraturan sejak dia dekat denganku. Aku yang selalu mempengaruhinya karena tidak ingin stress menghadapi semuanya sendirian. Menjalani suasana baru dengan dikelilingi musuh dan berbagai macam peraturan yang begitu menekanku. Kujadikan dia teman stressku walaupun aku tau dia tidak pernah stress dengan keadaan ini.
“Tumben gak dijawabin.”
Ujar Latifah sambil terus mencabut rumput-rumput yang bertebaran disekitar pot-pot bunga yang tersusun rapi ditepi teras mesjid. Aku hanya diam tidak memberi tanggapan apapun.
“Jangan dimasukin ke hati ya.. ambil sisi baiknya saja.”
Lagi-lagi aku diam.
“Mau berubah?”
Aku diam.
“Kalo mau, biar ana bantu. Tapi anti harus sabar. Jangan emosian atau dendam.”
Malamnya, aku terus memikirkan kata-kata Latifah itu hingga hampir tengah malam. Aku punya keinginan seperti yang dikatakannya, tapi ada rasa takut kalau aku tidak kuat menghadapi ujian-ujiannya. Mengingat diriku yang begitu brandal dan kurang dalam hal segalanya yang berhubungn dengan agama. Aku ragu jika aku punya keberanian untuk menghadapi ujian dan cobaan yang datang padaku. Memang untuk merubah diri ketingkat maksimal seperti itu harus berani menghadapi ujian-ujiannya dulu. Ujian ketika dianggap hanya bermain-main, ketika kita belum bisa menyesuaikan tingkah laku dengan apa yang kita pakai, ketika mengetahui ilmu agama yang kita miliki tidak sebanding dengan pakaian yang kita pakai, dan banyak ujian lainnya. Dan jika diingat dari keseharianku selama ini, aku tidak yakin salah satu dari ujian itu tidak datang menghampiriku.
Kulirik Latifah yang sudah terlelap disebelahku. Meskipun wajahnya terlihat begitu tenang ketika tidur, tetapi air liur yang mengalir deras dari sudut bibirnya dan dengan lancarnya membentuk pulau-pulau di bantalnya, serta suara dengkurannya yang begitu mengusik membuatnya tetap terlihat menyebalkan dalam keadaan tidak sadar sekalipun.
Kuhela nafasku ringan sambil memalingkan wajahku dari pemandangan yang menjijikkan itu. Kupejamkan mataku sambil menanamkan niatku, yah.. aku ingin menjadi lebih baik dari diriku yang dulu. Jika aku terus takut tanpa ingin memulai, kapan lagi aku akan berubah? Ini adalah kesempatan terbaik seperti yang dikatakan Mada. Kugelengkan kepalaku meyalahi pikiranku. Itu bukan dari Mada, mungkin saja itu kakaknya dan aku tidak perlu peduli. Yang terpenting, selama aku masih di penjara suci ini, kurasa semua akan lebih mudah untuk berubah jika aku mau berusaha serta berdoa. Lingkungan yang islami ini pasti akan memberi sedikit kemudahan.
Kurapikan selimutku sambil tersenyum. Aku akan menggenggam niat dihatiku dan akan menyampaikannya pada Latifah besok. Tentunya setelah menyelesaikan hukuman kami dikarenakan kejadian bodoh malam itu. Kupejamkan kembali mataku sambil mengepalkan tanganku seolah menggenggam erat niatku agar tidak goyah hingga esok dan seterusnya.
****
Sore ini aku dan Latifah kembali mengerjakan hukuman kami yaitu membersihkan pekarangan mesjid. Kami diperintah mengerjakan ini selama 2 hari. Dan ini adalah hari terakhir untuk hukuman kami. Aku sudah memberitahu Latifah mengenai niatku kemarin malam. Dia terlihat sangat senang, sampai ia ingin kami merayakannya dengan mentraktirku makan mie rebus di kantin. Tentu saja aku tidak menolaknya.
Tapi sebelum itu ia ingin pembuktian dariku bahwa aku benar-benar ingin berubah. Aku bingung bagaimana cara membuktikannya. Ia kemudian menunjuk jilbab dan baju yang kukenakan, dan aku langsung mengerti. Segera kami pergi ketempat peminjaman handphone. Aku ingin menelpon Key untuk memberitahukan Mama agar membeli pakaian yang lebih sopan untukku. Karena kalau langsung menelpon ke mama sampai kapan pun tidak akan diangkat. Mama terlalu sibuk dengan pekerjaan. Jadi biar Key saja yang menyampaikannya ke mama. Memang yang biasa kupakai sudah terlihat sopan, tapi masih jauh berbeda dengan Latifah. Aku ingin benar-benar seperti dia yang biasa mengenakan jilbab lebar menutupi pahanya.
Aku dan Latifah berdiri mengantri di rumah ustad bersama satu orang lain yang tidak kukenal. Santriah yang meminjam handphone di hari-hari biasa seperti ini memang hanya sedikit. Tapi hal yang membuat semuanya berjalan lambat adalah seseorang yang menelpon tanpa tau waktu, seperti orang yang tengah kami tunggu saat ini. Kami tengah menunggu seseorang yang sudah dari 15 menit yang lalu menelpon. Dia menelpon sambil menangis terisak-isak dibelakang rumah ustad. Kuperhatikan ia berbicara dengan bahasa jawa yang begitu kental sambil memanggil ‘ibu’ pada orang yang sedang ditelponnya itu. Ia tengah menelpon orangtuanya sepertinya. Tapi sesekali ia membentak dengan keras sambil mengarahkan bibirnya ke handphone dalam genggamannya itu membuatku tanpa sengaja menggeleng-gelengkan kepala. Dia benar-benar anak durhaka yang sesungguhnya, pikirku.
Aku tidak melepaskan pandanganku dari orang itu, ia terlihat tengah diam seperti orang bodoh sambil memperhatikan handphone ditangannya. Ia tidak bicara apapun setelah ia membentak untuk yang kesekian kalinya tadi. Sepertinya panggilannya terputus atau mungkin dengan sengaja diputuskan. Bagaimana tidak, siapapun tidak akan sanggup bicara dengan orang gila seperti itu.
Orang itu perlahan berbalik badan melangkah mendekati kami. Ia memberikan handphone pada orang yang berdiri dihadapanku. Aku terkejut dalam hati, ternyata orang bodoh yang suka membentak itu adalah perempuan bermata ikan asin yang mengomeliku dengan bahasa arab waktu itu. Ia melirikku sinis sambil mengelap sisa air mata dan ingusnya dengan ujung jilbabnya. Aku hanya memalingkan wajah sambil bergidik jijik. Latifah yang sedang berdiri disampingku ternyata sudah memperhatikanku dengan pandangan ketidaksukaan.
“Baru juga niat udah sombong.” Tegur Latifah.
“Maksudnya?” tanyaku tidak mengerti.
“Anti baru niat hijrah juga, udah mandang orang rendah kayak gitu. Ngerasa lebih baik. Belum juga kelangkah selanjutnya.”
Aku ingin menyela apa yang dikatakannya tapi kutahan karena ustad Hafidz tiba-tiba saja melewat dari hadapanku dan Latifah hendak keluar. Kami serentak tersenyum pada beliau sambil menunduk. Tidak berapa lama kemudian, orang yang tadi menelpon itu kembali dan menyerahkan handphone itu padaku. Aku lalu melangkah kebelakang rumah ustad agar tidak ada siapapun yang mendengar pembicaraanku nanti dengan Key tanpa terkecuali Latifah. Karena kalau sampai ada yang tau aku menelpon laki-laki yang bukan kerabatku, bisa-bisa itu jadi gosip panas di asrama.
Aku mulai mengetik nomor handphone Key di layar handphone. Aku sudah hafal nomornya diluar kepala karena sudah terlalu sering menghubunginya dari dulu. Jujur aku merasa sedikit malu untuk menghubunginya mengingat tingkahku akhir-akhir ini yang tidak mau menemuinya sama sekali setelah kepergian Mada. Aku merasa diriku sangat jahat karena mengabaikannya tanpa memberitahu alasanku padanya terlebih dahulu. Meskipun begitu ia tetap mengunjungiku kemarin. Padahal sudah 3 kali dia tidak kutemui. Dalam hati aku berniat akan menjelaskan semuanya kalau seandainya Key mengangkatnya. Juga kalau keadaannya mendukung.
“Halo?”
“Assalamu ‘alaikum, Key..”
“Wa ‘alaikum salam.. Tam??”
“Iya.”
“Ooh. Sayang apa kabar?”
“Iih, Key.. jangan genit.”
“Hahaha.. iya deh, kenapa? Tam kemana aja kok gak pernah datang kalo aku ngunjungin?”
“I-iya ituh..”
“Law samahti, bisyur’ah ya ukhti kabiroh.. ”
Seseorang menegurku dari belakang tepat dipintu belakang rumah Ustad. Dan orang itu adalah salah satu orang yang kubentak saat antri makan siang waktu itu. Entah kenapa aku merasa seperti melihat wajah-wajah orang menyebalkan sejak kemarin.
“Tam?”
“Eh.. iya kapan-kapan aku jelasin yah, sekarang kamu bilangin ke mamah, besok kemari bawain baju syar’i”
“Baju syar’i?! Kok bisa Tam-“
“Udah bilang aja ke mamah..”
“Yaudah..yaudah, entar aku bilangin.”
“Jangan lupa! Yang lengkap sama handsocknya.”
“Handsock? Entar kepanasan loh."
“Enggak.. udah Key nurut aja loh.. crewet banget sih.”
“Habibal qolbi. ”
Jawab seseorang yang lain menanggapi pertanyaan orang sebelumnya. Mereka semua langsung serentak geleng-geleng sambil memandangiku dengan pandangan membenci. Kurasa mereka adalah preman pesantren ini. Bodohnya aku sudah bermain api dengan mereka sebelumnya, rutukku pada diriku sendiri.
“Key, udah dulu ya, assalamu ‘alaikum..”
“Eeh.. kenapa kok cep-tut..tut..tut..”
Aku langsung menutup telpon tanpa menunggu jawaban dari Key. Kuulurkan handphone ditanganku kesalah satu orang yang berkerumun dibelakangku itu. Aku sengaja memberikan handphone pada orang yang baru saja datang agar aku tidak melihat ekspresi wajah orang yang sejak tadi meledekiku itu. Mereka terdengar bergumam kesal padaku. Dan aku senang itu. Aku lalu berlalu dari hadapan mereka tanpa menoleh sedikit pun samping kiri dan kananku, mengabaikan keberadaan mereka dengan pandangan membenci mereka padaku.
Kutundukkan kepalaku sambil terus mengepalkan tanganku untuk menguatkan perasaanku dengan keadaan ini. Aku tidak tau yang barusan salah atau tidak, yang kutahu aku bisa puas dan mereka bisa sadar apa yang baru saja mereka lakukan itu tidak akan bisa melecehkanku. Itu saja. Kuharap itu tidak akan merusak jalan hijrahku. Aku tidak ingin semangat hijrahku hilang karena apa yang mereka katakan tentangku. Aku tidak boleh menyerah sebelum berperang. Karena ini masih permulaan. Dan aku baru saja berdiri di garis Start.
Aku melangkah keluar. Kulihat Latifah tengah berdiri dibawah pohon didepan rumah. Ia memandangiku penuh kekhawatiran. Ia menanyaiku tentang apa yang mereka perbuat padaku tadi. Aku malah merasa geli mendengarnya bertanya seperti itu. Ia memperlakukanku seperti aku baru saja dianiaya habis-habisan. Dia beranggapan pesantren ini sama seperti di jalanan. Bisa menganiaya seseorang dengan bebas. Aku hanya menanggapi pertanyaan Latifah dengan gelengan singkat sambil memandangnya aneh, membuatnya sadar bahwa ia terlihat bodoh dengan pertanyaan itu.
Keesokan harinya Key datang mengantar sekoper baju syar’i untukku. Aku langsung tersenyum lebar melihatnya membawa baju sebanyak itu tanpa kuminta. Wajahku bahkan sampai merona saking senangnya. Key menceritakan padaku bagaimana respon Mama kemarin saat ia datang menyampaikan apa yang kuminta. Mama sampai nangis terguguk mengira bahwa aku sudah berubah menjadi wanita sholehah berakhlakul karimah. Bukan Tam yang kasar dan suka mengoceh dalam hati menjelek-jelekkan orang lain. Kurasa Mama sudah memikirkan satu hal yang salah besar. Aku belum jadi seperti yang dikatakan Mama, seupil pun belum ada.
Key mengatakan Mama langsung belanja pakaian syar’i besar-besaran untuk memastikan aku benar-benar berubah. Mama juga meminta Key untuk membawa pulang semua baju-bajuku yang selama ini kupakai. Mama ingin aku betul-betul berubah, tidak buka lepas baju syar’iku walau hanya terkadang. Aku harus istiqomah katanya. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan pesan-pesan Mama itu. Lalu kemudian aku beranjak kembali ke asrama untuk mengambil semua baju-bajuku yang kedepannya pasti tidak akan kupakai dan membawanya ke Key untuk dibawa pulang.
Ketika aku membuka koper berisi baju-baju syar’i itu di kamar, jantungku langsung berdegup kencang. aku merasa keberanianku mulai menciut saat melihat satu persatu baju syar’i itu. Semuanya memang cantik-cantik, tapi sangat lebar, panjang dan warnanya kebanyakan gelap. Tidak ada satupun yang bermotif, seperti yang dipakai kakak-kakak pengurus. Begitu pula dengan jilbabnya.
“Eh.. baju-bajunya udah datang?” Tanya Latifah dari belakangku. Ia berdiri sambil menenteng keranjang sabunnya. Ia menanyaiku seolah memastikan apa yang didepan matanya itu jawaban dari pertanyaannya. Aku mengangguk dengan ekspresi sedihku. Latifah langsung menghambur melihat satu persatu baju-baju dalam koperku, tentunya setelah ia menaruh keranjang sabunnya ditempat yang semestinya.
Kuperhatikan Latifah yang sedang sibuk dengan baju-baju ditangannya itu. Ia terlihat sangat senang sambil sesekali mengoceh memuji baju-baju itu. Berbeda denganku yang justru merasa ketakutan melihatnya. Belum juga memakainya. Aku berniat tidak memakainya, tapi aku sudah tidak punya baju lain selain baju-baju dikoper ini. Jujur, bukannya aku tidak suka. Aku hanya merasa perubahanku terlalu mendadak. Aku memikirkan bagaimana respon orang-orang di sekelilingku nanti. Aku seharusnya melakukannya secara perlahan dan bertahap. Bodohnya aku yang langsung mengembalikan semua baju-bajuku tanpa pikir-pikir dulu.
Latifah yang sedang asyik dengan baju-bajuku itu, akhirnya menyadari kekhawatiranku. Ia perlahan merapikan baju-bajuku ke tempatnya semula, lalu duduk di sebelahku di tepi ranjang.
“Anti kenapa? Takut?”
Kuanggukkan kepalaku sambil memandangi tanganku yang sedang mempermainkan ujung jilbabku.
“Anti takut apa?”
“Ana takut sama kata-kata orang nanti, kalo ana tiba-tiba pake baju kayak gitu, tanpa merubah diri ana terlebih dulu.”
Aku mulai menggunakan kata ‘ana’ dalam bahasaku. Memang awalnya aku merasa geli sendiri karena merasa belum cocok. Tapi coba kulawan untuk memunculkan kebiasaan.
“Anti takut keceplosan bertingkah laku gak baik?” Latifah mengambil kesimpulan dari perasaanku. Aku hanya mengangguk dan langsung dibalasnya dengan senyuman tipis.
“Kalo keceplosan bertingkah laku gak baik itu biasa bagi orang yang baru berhijrah. Gak mungkin langsung bisa berubah total dalam waktu singkat. Kita itu butuh waktu lama buat berubah jadi lebih baik. Semuanya butuh tahapan tapi disertai dengan pembiasaan. Makanya supaya gak keceplosan itu, kita butuh teman yang setia negur kita kalo kita salah, bukan malah ngejelekin kita dibelakang atau semacamnya.”
Sambil mengoceh panjang lebar ia melipat rapi lalu menyusun satu persatu bajuku ke dalam lemari. Aku membantunya sambil mencerna baik-baik nasehatnya itu.
“Tapi selain bantuan dari luar, kita juga sangat butuh dorongan dari dalam diri kita. Yah.. caranya dengan memotivasi diri sendiri, berusaha ngendaliin emosi dan perasaan kita kalo lagi ngehadapin kata-kata yang gak baik dari orang-orang sekitar.”
Aku hanya diam mendengarkan apa yang dikatakannya. Tidak memprotes seperti yang biasa kulakukan setiap kali ia menasehatiku.
“Jadi kalo kita bisa ngendalikan diri kita, seburuk apapun lingkungan kita, kita pasti bisa menghadapinya. Tapi kalo yang namanya baru hijrah yah.. wajar dong, kalo pengendalian dirinya masih lemah.”
Tambahnya lagi sambil tertawa kecil. Aku hanya tersenyum, mencoba menyimpan baik-baik semua yang dikatakannya ke dalam hatiku. Agar suatu saat jika aku melemah, aku bisa mengingat dan mengulangnya untuk memotivasi diriku.
Setelah menyusun pakaian yang disertai dengan nasehat yang panjang itu selesai, aku kemudian beranjak untuk mandi sebelum tiba waktu magrib. Karena mandi di waktu magrib merupakan salah satu pelanggaran bagian keamanan.
Selesai mandi aku langsung mengenakan salah satu baju syar’i di lemariku itu. Dalam hati aku terus berdoa agar diberi kekuatan untuk menghadapi semua yang akan terjadi setelah ini. Aku tidak bersiap-siap untuk sholat magrib karena sedang uzur, tapi meskipun begitu aku harus tetap mengikuti kegiatan zikir bagi yang uzur setiap tiba waktu sholat. Kegiatan ini dilakukan dirumah ustadz Hafidz.
Sambil menghela nafas aku mengepalkan kedua tanganku mengumpulkan nyali sebanyak mungkin untuk kubawa melangkah keluar. Baju yang kukenakan ini pasti akan menarik perhatian dan juga bibir-bibir lancip para penggosip untuk memulai obrolan hangat mereka. Setelah puas menghela nafas berkali-kali yang mungkin kurasa seperti orang bodoh, aku pun keluar. Baru saja aku mengeluarkan sebelah kakiku, aku sudah mendengar suara keterkejutan dari pintu sebelah alias tetanggaku. Aku diam tidak melanjutkan langkah dan juga tidak menoleh ke arah mereka sedikit pun. Dan kali ini kurasa aku benar-benar sukses menjadi orang bodoh dihadapan mereka.
“Tam... masyaAllah, anti..”
Tegur orang itu akhirnya sambil lalu menghampiriku. Kuangkat kepalaku sambil menyiapkan kata-kata perlawanan yang baik jika mereka berniat untuk melecehkanku. Beberapa menit kami diam, orang itupun hanya ternganga melihatku. Sepertinya ia masih merasa kaget, jadi kurasa ini hanya bentuk jeda beberapa detik sebelum pertempuran dimulai.
“Alhamdulillah.. anti akhirnya berubah.. “ ujarnya sambil tersenyum lebar ke arahku. Kuperhatikan orang itu. Aku merasa seperti pernah melihatnya, tapi aku tidak ingat dimana. Ini diakibatkan kebiasaanku yang hanya mau memperhatikan hal aneh atau bodoh, seperti perempuan ikan asin itu misalnya. Dan hasilnya kami tidak berteman sama sekali. Aku malah mengabaikan orang yang sepetinya baik, seperti yang dihadapanku saat ini.
“Anti kenal ana?” Tanyanya.
“Afwan..” jawabku malu-malu sambil menggelengkan kepalaku yang kemudian langsung dibalasnya dengan tawa kecilnya.
“Ana yang kemarin ngebantu anti ngangkat kardus waktu baru datang kemari.”
Ujarnya masih dengan nada tanya memastikan aku ingat atau tidak. Tentu saja aku mengingatnya. Sambil langsung tersenyum lebar aku menyalami tangannya, tentunya aku mengetahui ini karena Latifah sudah mengajariku terlebih dahulu. Ia tau aku jenis orang yang cuek, jadi ia beranggapan suatu saat ini pasti akan terjadi. Seseorang menegurku dan aku tidak mengenalnya.
“Dia udah ngasi tau ana, kalo anti pasti lupa. Anti sih orangnya..” ujarnya sambil tertawa. Aku hanya tersenyum malu. Tapi aku bingung dengan kata ‘dia’ yang diucapkannya.
“Dia siapa yah?” tanyaku memastikan.
“Dia yang waktu itu nyuruh ana buat ngebantu anti.”
Jawabnya dan aku tidak ingat sama sekali. Aku hanya pura-pura menganggukkan kepalaku sambil menunjukkan ekspresi seolah aku mengingat orang yang dikatakannya itu. Aku tidak ingin membahasnya terlalu panjang karena aku memang tidak mengingatnya sama sekali. Lagian waktu sudah hampir magrib, jika terus meladeninya aku bisa terlambat sampai kerumah ustadz. Bisa-bisa aku kena hukum lagi. Baru juga kemarin hukumanku selesai.
Aku mengajak mereka untuk pergi kerumah ustadz bersama, kebetulan mereka juga sedang tidak sholat. Dan ia balik mengajakku bermain ke kamarnya setelah kegiatan zikir selesai. Aku juga penasaran, tapi juga keberatan ketika mengetahui kamarnya terletak dilantai 3. Aku bisa putus nafas kalau menurutinya. Tapi mengingat nasehat Latifah mengenai belajar bersosialisasi yang baik, sepertinya aku harus berkorban malam ini.
Aku mengikutinya dan 2 orang temannya berjalan menaiki menuju lantai 3. Kamarnya terletak bersebelahan dengan tangga turun kelantai 2. Aku tercengang saat memasuki kamarnya. Kamarnya sangat rapi dan wangi. Dindingnya banyak tempelan-tempelan mufrodat bahasa arab dan bahasa inggris dengan berbagai bentuk hewan dan bunga. Susunannya yang rapi menambah keindahan kamar itu. Kamarnya sangat berbeda dengan kamarku yang lengang tidak ada kreatifitas sedikit pun.
“Hei, kok bengong? Ayok duduk sini bareng kita.”
Tegurnya membuatku langsung tersenyum malu. Aku duduk bersama temannya yang lain di atas karpet tipis yang tergelar di atas lantai. Ia menyuguhi kami keripik ubi pedas buatan ibunya. Ibunya menitipkan keripik itu ke orangtua teman sekampungnya yang datang tadi sore. Ternyata ia sama sepertiku, orangtuanya juga tidak pernah datang. Hanya saja alasannya berbeda. Orangtuaku tidak datang dikarenakan sibuk dengan pekerjaan, sedangkan orangtuanya justru sibuk bekerja sambil mencari tumpangan untuk bisa sampai ke Pesantren ini. Tapi karena selalu tidak bisa menumpang dengan gratis, ibunya selalu menitipkan makanan sebagai gantinya. Itu juga harus sampai memohon agar titipannya bisa dibawakan. Dia bukan orang berada sepertiku. Aku merasa iba sekaligus iri padanya. Ia masih bisa mendapat titipan masakan orangtuanya sendiri, berbeda denganku yang selalu dititipi makanan-makanan yang sudah sering dijual di toko-toko. Mama tidak pernah menitipiku makanan buatannya sendiri.
Kuambil sepotong kecil keripik ubi itu dan memakannya. Rasanya sangat enak. Terasa manis tapi ada sensasi pedas yang membuatku tidak merasa muak memakannya.
“Tam gak perlu malu-malu loh..” tegurnya melihatku hanya mengambil sepotong kecil keripik ubinya. Aku hanya mengangguk sambil kembali mengambil keripik itu, dan kali ini lebih banyak karena katanya tidak perlu malu-malu.
“Maaf sebelumnya nama anti siapa ya?” Tanyaku karena sejak tadi ia tidak pernah memperkenalkan dirinya padaku.
“Aila, panggil Ai aja.”
Sejak malam itu dan malam selanjutnya, aku selalu datang ke kamar Ai. Kali ini aku yang selalu membawa makanan untuknya. Katanya makanan buatan toko juga enak. Aku sangat senang mendengarnya. Jadi ketika Key datang dan membawakanku makanan aku selalu membaginya dengan Ai. Aku berharap kami bisa berteman baik. Setidaknya bisa mengurangi musuhku di Pesantren ini.
cttn
: Law samahti, bisyur’ah ya ukhti kabiroh ( tolong cepat ya kak!)