ViRus

ViRus
Penjara Suci



Aku duduk sambil menopang dagu dengan tangan kananku. Mataku menatap kosong ke arah jalanan melalui kaca mobil di sebelahku. Saat ini aku sedang dalam perjalanan menuju Pesantren yang aku sendiri tidak tau dimana dan seperti apakah tempatnya. Aku hanya diam dan pasrah membiarkan orangtuaku membawaku pergi, aku sudah terlalu lelah untuk kembali menolak setelah banyak hal yang terjadi kemarin saat aku menentang keras keinginan Mama. Lagian aku sudah menyetujui semuanya melalui Key, jadi tidak ada gunanya berubah pikiran sekarang. Mungkin sudah takdirku untuk hidup seperti boneka yang diperlakukan sesuka hati.


Saat ini, aku hanya diantar oleh kedua orangtuaku. Key tidak bisa ikut. Ia sedang ada urusan katanya saat kutelpon sebelum berangkat tadi. Perjalanan menuju Pesantren terasa begitu cepat. Tanpa sadar mobil yang kami naiki sudah berada di depan gerbang Pesantren yang megah. Ternyata Pesantren itu bernama Dar al-Ma’ruf. Aku tau Pesantren itu, tapi orangtuaku sama sekali tidak memberitahuku sebelumnya atau mungkin aku yang tidak pernah ingin tau apa yang mereka katakan tentang Pesantren ini.


Jantungku berdegup kencang. Dadaku terasa ngilu. Aku terlalu takut menghadapi kenyataan di hadapanku. Lingkungan dan suasana baruku yang begitu berbeda hingga 180 derajat dari yang selama ini kujalani. Aku bingung, seperti apakah aku harus memulainya. Jujur, aku sangat tidak pandai dalam hal bersosialisasi. Karena diriku terbiasa cuek dan tidak peduli dengan keadaan orang lain serta selalu mengurung diri di rumah. Kuremas jemariku menahan rasa takutku. Ya Tuhan… bisakah aku?? Bisikku dalam hati.


Seorang laki-laki separuh baya mengenakan seragam serba hitam tengah berdiri di dekat gerbang menyambut kedatangan kami. Ia menoleh ke arah jendela mobil depan bagian supir yang terbuka memperlihatkan wajah Papa yang sedang tersenyum ramah padanya. Ia langsung membalas senyum Papa sambil membungkukkan tubuhnya dan membiarkan mobil yang kami naiki melewatinya masuk ke dalam area Pesantren.


Papa menghentikan mobil dan melangkah keluar, kemudian disusul oleh Mama dan aku. Mataku langsung menatap sekelilingku, lingkungan yang luar biasa berbeda. Pesantren ini sangat bagus, dengan gedung-gedung sekolah sebagian berwarna putih keseluruhan, dan beberapa gedung sebagiannya lagi berwarna hijau toska dengan merah bata. Mungkin itu adalah asramanya, karena aku bisa melihat santri-santri lalu lalang di teras gedung itu dengan pakaian berwarna warni, bukan seragam. Aku bertanya-tanya mengenai gedung asrama santriah, aku tidak melihatnya.


Kupandangi orang-orang di sekitarku. Rata-rata mereka mengenakan pakaian syar’i tanpa motif dengan warna gelap. Begitu juga dengan orang-orang yang sedang lalu lalang di hadapan kami sambil membawa tas-tas besar mereka dan juga perlengkapan asrama lainnya. Wajah mereka terlihat lebih muda dariku. Mungkin mereka adalah santriah di tingkat Tsanawiyah. Tapi ada satu hal yang membuatku kagum. Mereka seperti datang tanpa didampingi orangtua atau saudara mereka. Buktinya mereka berjalan masuk dari gerbang itu tanpa diantar oleh siapapaun selain bus yang kulihat baru saja berangkat setelah berhenti beberapa menit menurunkan penumpangnya. Mereka tidak menggunakan kendaraan pribadi sepertiku. Mereka hanya datang beramai-ramai, sambil mengulas senyum manis di wajah mereka. Seolah masuk ke Pesantren ini adalah sebuah kebahagiaan bagi mereka. Sangat jauh berbeda denganku. Berbeda dari segi segalanya.


****


Flashback off


“Mendaftarnya kapan?”


Tanya Albi merasa ada kejanggalan dalam ceritaku. Aku langsung memukul keningku pelan ketika mendengarnya.


“Oh.. iya.. ana lupa nyebutin.” Jawabku sambil tertawa kecil.


“Belum tua juga.. udah pikun si pesseeeek.”


Ejek Albi sambil menarik hidungku ke depan membuat kepalaku mengikuti arah tarikan jemarinya.


“Albi lepasin...”


Rengekku kesal sambil memukul-mukul tangannya agar segera lepas dari hidungku. Dia hanya tertawa setengah terbahak tanpa menghentikan tarikan jemarinya dari hidungku.


“Ketawa.”


“Suara antum lucu sih...”


Ujarnya setelah melepas tangannya dari hidungku dan berpindah ke wajahku. Kurasakan ia membelai pipiku lembut, membuat wajahku terasa memanas. Mungkin wajahku sudah memerah seperti udang rebus. Ia kembali terkekeh kurasa tengah menertawakan wajahku yang merona. Aroma nafasnya yang terasa begitu dekat membelai wajahku, menunjukkan jarak kami hanya sedikit saja. Dan itu berhasil membuat kepalaku serasa nyaris meledak.


“Hahaha... antum kenapa sih?”


Kali ini ia berhasil tertawa lepas. Kupukul dadanya pelan karena merasa jengkel mendengar tawanya yang super mengejek itu. Meskipun entah kenapa sebenarnya, suara tawa itu sangat merdu bagiku, dan perlahan memberi kehangatan di dadaku. Kehangatan yang terasa tidak asing, namun sudah begitu lama menghilang.


Taqin...


Sebuah suara berbisik dari dalam hatiku. Bisikan lembut, namun berhasil menggema dalam dadaku. Membuatku langsung mengerutkan keningku menahan rasa nyeri yang kembali menyiksa dadaku, seolah menghambat pernafasanku. Helaan nafas Albi segera mengalihkan perhatianku. Ia menyandarkan kepalaku ke bahunya seolah mencoba memberi ketenangan. Membuatku semakin merasa curiga bahwa dia memang bisa membaca pikiranku. Atau memang wajahku yang seolah seperti buku terbuka, setiap apa yang kurasakan begitu mudah terbaca dan diketahui orang lain.


“Mau dilanjutin lagi gak ceritanya?” Tanyaku berusaha menahan sakit di dadaku. Terlalu sakit membuat keningku berkerut cukup lama. Aku tau, jika terus mengungkit masa laluku, aku pasti akan merasakan ini. Tapi ini saatnya bagiku untuk terbuka kepada Albi. Mungkin dengan mengetahui ceritaku, ia bisa lebih mudah membantuku berbaikan dengan masa laluku itu. Dan melepas semuanya dengan ikhlas.


“Mau dong. Masa gak mau.”


Aku tersenyum. Kuberanikan diri menggenggam jemarinya untuk pertama kali. Biasanya dia yang terlebih dahulu menggenggam jemariku. Albi meremas jemariku lembut membalas genggamanku, membuatku merasakan desiran aneh mengalir dalam dadaku. Kulanjutkan ceritaku tanpa melepaskan genggaman tanganku darinya.


“Papa udah ngedaftarin ana ke Pesantren sendirian, sekaligus minta izin sama kepala sekolah yang kebetulan teman lama Papa, supaya ana bisa mulai masuk asrama pas habis lebaran saja.”


****


Flashback on


“Tam...”


Panggilan Mama membuatku segera memalingkan wajahku dari mereka dan menoleh kearahnya. Ia sedang menarik koper kecil dari dalam bagasi. Koper itu sudah pasti berisi pakaian yang akan kukenakan selama berada disini, dan modelnya sudah pasti tidak seperti orang yang kusaksikan tadi-pakaian syar’i dengan warna gelap. Papa juga terlihat sedang sibuk mengangkat kardus berukuran sedang berisi alat tulis dan pastinya peralatan melukisku. Hal itu juga karena bujuk rayu Key, jadi aku tetap bisa membawanya ke Pesantren.


“Mamah sama Papah gak bisa ngantar Tam sampai asrama. Jadi Tam bakal dibantu sama teman-teman disini buat ngangkat barang Tam, yah...”


Ujar Mama santai tanpa merasa sedih sedikit pun untuk melepasku. aku merasa seperti diusir secara lembut dari rumah. Aku hanya menganggukkan kepalaku, tidak ingin berbicara karena takut kalau suaraku bergetar aku akan semakin ingin menangis. Memang saat ini aku sedang ingin menangis dan ingin segera menghambur ke pelukan Mama. Tapi melihat ekspresi Mama tadi, aku jadi merasa dongkol dan memilih untuk menahan diri dan menutupinya. Dan lagian aku tidak ingin menjadi pusat perhatian orang-orang disini. Meskipun sebenarnya ada juga santriah baru yang kulihat di dekat kami, sampai nangis sesenggukkan saat ingin ditinggal orangtuanya. Dan bahkan ia sampai berteriak-teriak minta ikut pulang.


Memalukan dan sangat tidak dewasa, cibirku dalam hati.


Kuperhatikan anak itu. Seorang perempuan yang terlihat tidak jauh lebih tua dariku. Mungkin hanya sekitar setahun diatasku. Dia bertubuh kecil, kurus, berkulit hitam, dengan bibir tipis dan lebar yang sesekali melengkung ke bawah karena menangis, juga hidung peseknya yang terkadang mengeluarkan cairan kuning kehijauan yang kental membuatnya terlihat semakin menyebalkan, serta matanya yang lebar tetapi tidak belok, membuatku tega berpikir bahwa dia sangat cocok dengan perumpamaan ikan asin yang baru saja dikeringkan di bawah panas matahari.


Ikan asin... astaga..


Kuulangi kata-kata itu dalam hati sambil menahan tawaku. Yah... setidaknya itu bisa sedikit menghiburku di hari yang menyebalkan ini. Hari dimana aku harus mulai merubah semua gaya hidup hingga 180 derajat.


“Dia murid pindahan. Dia baru aja dikeluarin dari sekolahnya yang sebelumnya.”


Mataku melirik kearah suara itu berasal, tepat di sebelah kiriku. Laki-laki bermasker hitam dengan kedua mata sipitnya yang terbingkai kacamata bulat. Aku tidak mengenalnya. Aku hanya memandangnya beberapa detik dengan ujung mataku. Lalu kemudian berpaling memandang Mama yang sedang mengorek-ngorek isi dalam dompetnya dan menyerahkan beberapa lembar uang ratusan kepadaku sambil tersenyum.


“Nanti, kalo uang Tam udah tinggal dikit, hubungi Mamah Papah ya... pinjem handphone Ustad Hafidz aja.” Pesan Mama sambil memasukkan dompetnya ke dalam tas yang tergantung di pergelangan tangannya.


“Mamah udah bilang ke beliau kok, memang beliau itu tempat minjam handphone buat ngehubungin orangtua santri.” Lanjut Mama.


Setelah berbincang sebentar dan memberiku nasehat sedikit, Mama dan Papa kemudian berpamitan pulang. Aku langsung menghambur ke pelukan Mama dan menangis sejadi-jadinya, menumpahkan rasa yang tadi sempat kutahan. Kupikir aku sudah hampir sama dengan perempuan seperti ikan asin tadi. Karena tanpa sadar aku menangis begitu keras, sampai-sampai orang di sekitar kami menoleh kearah kami. Ditambah aku menangis sambil menghentak-hentakkan kakiku ke tanah, sangat tidak cocok dengan tingkah perempuan di usiaku saat ini.


Memalukan dan sangat tidak dewasa


Mataku melirik ke arah sekitarku sambil terus memeluk Mama, dan aku baru sadar melihat semua orang tengah menatap kami sekarang. Begitu juga dengan lelaki bermasker hitam yang beberapa saat tadi berdiri di sebelahku. Ia terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memalingkan wajah dariku. Mungkin ia tengah menertawakan kebodohanku. Kurangajar sekali dia mengejekku, umpatku dalam hati. Sayangnya aku tidak mengenalnya.


Aku berusaha untuk tidak peduli dengan semua itu. Yang kumau saat ini hanyalah menangis di pelukan Mama sampai puas. Baru kemudian membiarkan mereka pulang.


Ujar Mama dari dalam mobil sambil melambaikan tangannya ke arahku. Kubalas lambaian tangan itu sambil mengusap sisa-sisa air mata di wajahku dengan tanganku. Setelah kemudian mobil yang mereka kendarai meluncur keluar gerbang Pesantren dan menghilang di balik belokan.


Beberapa saat aku terdiam. Mataku menatap kosong ke arah gerbang itu. Kuhela nafasku kasar seolah beban di dadaku akan segera hilang bersamaan dengan helaan nafasku. Aku ingin segera beranjak dari tempat itu, pemandangan gerbang itu terlalu buruk dan menyesakkan untuk ditatap berlama-lama. Mataku beralih ke koper dan kardus yang tergeletak didekat kakiku, dan aku tertegun.


Ya Tuhan... gimana cara bawanya nih??


Batinku.


Kupandangi sekelilingku, mencari satpam yang tadi menyambut kedatangan kami. Aku sangat berharap dia ada dan bisa membantuku membawa barang-barangku ke dalam asrama. Tapi sejauh mata memandang, aku tidak juga melihat batang hidungnya. Kuurut-urut keningku mencoba berpikir, aku tidak mengenal siapapun disini selain satpam tadi. Itu juga karena dia teman Papaku.


Tiba-tiba saja seorang perempuan yang terlihat seumuranku datang menghampiriku. Ia berpakaian syar’i bermotif bunga-bunga pink dengan jilbabnya yang panjang menjuntai ke bawah hingga menutupi pahanya dari belakang. Ia menghampiriku sambil memperlihatkan senyum bersahabatnya padaku. Kubalas senyumnya malas.


Paling cuman numpang nanya, Pikirku.


“Ukhti mau ngangkat barang?”


Mataku terbelalak tapi langsung kutahan, hatiku sempat bersorak seolah menerima sinyal bantuan, tapi segera kuenyahkan, mungkin saja ia hanya bertanya tapi tidak berniat memberi bantuan. Mungkin ia hanya berbasa-basi dan tujuan sebenarnya bukan yang kuharapkan.


Kuanggukkan kepalaku sambil tersenyum tipis menjawab pertanyaannya.


“Ukhti sendirian? Ana bisa bantu kok.”


“Eeh..Iya nih… tolong ya..” Jawabku gugup sambil bersorak dalam hati.


“Sebenarnya akhi itu yang ngasi tau ana kalo anti lagi butuh bantuan.”


Ujarnya sambil tetap tersenyum. Tangannya perlahan mengangkat kardusku setelah sekilas menoleh ke samping menunjukkanku laki-laki yang dimaksudnya.


“Oh ya..”


Jawabku singkat tapi tidak langsung menoleh kearah orang yang dimaksudnya itu. Aku tidak begitu ingin tahu, yang terpenting aku sudah dibantu, pikirku. Lagian orang-orang yang suka memantau dalam suasana seperti ini pasti ustad atau ustazah di Pesantren ini. Dan menurutku itu sudah bagian dari tugas mereka.


Kami berjalan beriringan menuju asrama. Tanpa sengaja mataku menoleh kearah sosok lelaki dibawah pohon di dekat pos itu. Dia lelaki bermasker hitam yang sebelumnya berbicara padaku. Ia berdiri disana memandangi kami. Entah kenapa ada desiran aneh mengalir di dadaku saat mata kami tanpa sengaja bertemu. Mataku langsung mengerjap, berpaling darinya.


“Anti kenapa?”


“Hmm.. gak papa kok.”


Jawabku pendek sambil terus berjalan bersamanya memasuki gedung asrama.


****


Kususun satu persatu bajuku ke dalam lemari yang sudah tersedia dikamar baruku ini. Pesantren ini memang menyediakan lemari untuk setiap santrinya, jadi orangtuaku tidak perlu repot-repot membeli lemari untuk kubawa kemari. Tidak hanya lemari, Kasur, ember dan beberapa keperluan lain seperti beberapa seragam untuk dikenakan dalam waktu atau acara-acara tertentu pun mereka sediakan. Meskipun begitu aku tetap tidak merasa senang. Hatiku tidak bisa berhenti merutuk dari tadi karena merasa tidak nyaman dengan tempat baruku ini. Tempat yang ramai serta berisik, terlalu berbeda dengan kamarku yang sepi dan tenang.


Setelah membereskan bagian lemari, tempat tidur, dan juga buku-buku serta alat lukis, aku lalu bersiap-siap untuk mandi karena tubuhku sudah terasa sangat lengket. Segera kuambil handuk, alat-alat mandi dan baju ganti, karena tempat ini sudah tidak memungkinkanku bisa keluar dengan sehelai handuk, jangankan dengan handuk, keluar tanpa mengenakan jilbab saja sangat dilarang keras. Yah… dengan terpaksa aku harus meninggalkan kebiasaanku yang satu itu, mungkin akan segera disusul dengan kebiasaan yang lain yang lebih menyusahkan.


Aku melangkah keluar kamar, kebetulan saja ada seseorang yang berjalan melewati pintu kamarku dan berjalan lebih dulu didepanku. Jika dilihat dari barang yang dibawanya, sepertinya dia juga ingin ke kamar mandi. Jadi aku tidak perlu menanyai orang lain mengenai letak kamar mandi. Cukup mengikuti orang ini saja mungkin aku bisa sampai tujuan.


Aku lalu berjalan dibelakang orang itu dengan santai merasa percaya dengan dugaanku. Kami menaiki tangga demi tangga tanpa henti, membuatku merasa aneh dan beranggapan bahwa kamar mandi asrama ini terletak di dekat atap.


Apa iya??


Aku bertanya pada diriku sendiri dalam hati, sambil terus berjalan tanpa ingin bertanya sedikit pun pada orang itu. Sampai akhirnya ia berhenti tepat di satu anak tangga terakhir yang berhadapan dengan sebuah pintu. Aku  ikut berhenti dengan nafas terengah, tangga yang kami naiki cukup banyak membuatku nyaris putus nafas. Sedangkan orang di depanku itu hanya terlihat santai saja, meski ia pun sediki ngos-ngosan. Sedikit. Hanya sedikit. Ia terdiam beberapa detik lalu menoleh padaku.


“Mau ngangkat baju juga?”


Baju??


Gumamku dalam hati sambil mengerutkan kening.


“Iya... ehh.. bukkan.. kamar mandi.”


Jawabku pelan nyaris tak terdengar. Aku berhasil terlihat bodoh sekarang.


“Oh.., saya juga.”


Ujarnya santai mengabaikan kebodohanku dan berjalan masuk ke pintu didepannya yang tentunya langsung kuikuti. Dan mataku terbelalak.


Inikan jemuran, ******!!


Teriakku dalam hati. Kurutuki kebodohanku yang suka percaya dengan dugaanku sendiri tanpa ingin bertanya terlebih dahulu untuk memastikan.


“Tapi saya mau ngangkat baju dulu, nanti keburu malam. Kamu juga kan?”


Aku hanya tersenyum pura-pura sibuk membolak-balik baju-baju yang berjejer di jemuraan di hadapanku. Walaupun sebenarnya aku tidak tau siapa pemilik baju-baju itu, setidaknya aku terlihat sedikit tidak bodoh kalau hanya berdiri memperhatikannya. Ketika dia sudah selesai, kami kembali turun dan pastinya kali ini benar-benar menuju kamar mandi.


Satu hal yang membuat kejadian ini semakin menyebalkan, ternyata kamar mandi asrama ini terletak dilantai dasar dibagian belakang asrama, tidak sampai 20 langkah dari kamarku yang juga berada di lantai dasar. Dan yang paling penting, tidak sampai membuatku nyaris putus nafas seperti yang dilakukan orang yang waktu itu kuikuti. Benar-benar orang yang menyebalkan. Yah.., kuakui, aku terlalu sibuk menyalahkan orang lain tanpa ingin mengintropeksi diri sendiri terlebih dulu.


Sesampainya di kamar mandi tercinta, lagi-lagi aku terkejut-selama baru berada disini aku memang terlalu sering terkejut dari biasanya. Mungkin hidupku bisa berakhir karena jantungku terlalu sering terkejut. Dan kali ini aku terkejut melihat kamar mandi yang dipadati oleh santriah lain yang juga sibuk mandi. Bahkan ada juga yang mencuci baju luar biasa banyak hingga berember-ember.


Kuusap wajahku kasar mencoba menahan rasa kesal, aku belum pernah melihat ini sebelumnya atau bahkan hanya membayangkannya sekali saja. Dan saat ini aku dipaksa untuk menjalani hidup seperti ini selama 3 tahun. Kuacak rambutku dengan rasa kesal luar biasa mengingat diriku yang bahkan belum pernah mencuci baju. Kalau hanya mencuci piring atau membereskan tempat tidur mungkin aku masih bisa. Tapi kalau harus mencuci baju sendiri aku tidak bisa. Mungkin tidak sampai berapa minggu aku sudah gila karena sengsara akibat kehabisan pakaian. Atau mungkin orangtuaku bisa bangkrut karena memiliki anak bodoh yang mengenakan baju sekali pakai langsung buang karena tidak memiliki pengetahuan mengenai cara mencuci pakaian. Aku bahkan tidak sempat berpikir mengenai laundry karena mengingat betapa sederhananya gaya hidup orang-orang disekitarku ini. Kurasa orangtuaku benar-benar keterlaluan membuangku kemari.


Kuhela nafas berat menutup semua omelanku sambil membuka pakaianku satu persatu lalu mengenakan selembar kain untuk menutupi tubuhku selama mandi. Kuikat rambutku dengan bentuk melingkar seperti sanggul, hingga menyisakan helaian rambut kecil didekat telingaku. Sambil kembali menghela nafas mengawali langkahku sebelum bergabung dengan mereka, teman seperjuanganku mulai saat ini.