Unforgettable Memories

Unforgettable Memories
Chapter 22



Areum terbangun ditempat yang sangat asing, didengarnya suara tangisan seorang bayi yang teramat kencang. Dia berlari tak tentu arah mencari dari mana suara tangisan tersebut berasal. Hingga dia menemukan seorang bayi yang tergeletak sambil menangis dengan kencang. Dia menggendong bayi itu sambil mencoba membuat bayi itu berhenti menangis. Areum tersenyum senang saat bayi itu berhenti menangis. Namun seketika seseorang mengambil bayinya dan melemparnya keatas lalu memotong kepala bayinya hingga terputus menggunakan pedang. Areum berteriak meminta tolong untuk menyelamatkan bayinya tapi teriakannya tak terdengar siapapun. Bayinya mati dengan bersimbah darah. Areum mendekati bayinya yang mati dengan beurai tangisan.


"Tidak" Teriak Areum terbangun dari mimpi buruknya, Hwon yang tidur disampingnya ikut terbangun karena kaget.


"Chunjeon, ada apa? kenapa berteriak" Ujar Hwon khawatir, Areum menatap Hwon.


"Seseorang mengambil bayiku lalu membunuhnya, tolong aku selamatkan bayiku. tolong aku" Racau Areum putus asa.


"Kau hanya mimpi buruk Chunjeon, kau bermimpi buruk. Memang kita kehilangan bayi kita, bukan karena seseorang membunuhnya. Karena kondisimu yang masih sakit membuatnya tidak bisa bertahan" Ujar Hwon menjelaskan. Areum pasti kehilangan akalnya karena kemalangan yang menimpanya bertubi-tubi. Areum menatap Hwon lalu menangis terisak-isak.


"Tenanglah Chunjeon, kita pasti akan memiliki bayi lagi" Ujar Hwon memeluk Areum, menenangkannya. Areum terdiam, pandangannya kosong. Layaknya boneka yang hidup. Hatinya mulai mati saat itu juga. Pandangan Hwon miris melihat Areum hancur seperti ini. Malam masih larut, Hwon tidak bisa tertidur melihat Areum seperti ini. Dia masih menangis terisak-isak, biasanya Areum bersikap tegar dan tangguh. Kali ini Hwon melihat sisi rapuh Areum.


"Istirahatlah Chunjeon, malam masih larut." Ujar Hwon, Areum menatap Hwon lalu berbalik. Dia tidur memunggungi Hwon. Hwon memeluk Areum sambil membisikkan kata-kata menenangkan. Seperti lullaby yang membuat Areum jatuh tertidur dengan nyenyaknya.


Ibusuri berhasil mengusir Selir Jang, saat ini dia tengah menyusup keluar istana untuk menemui kepala mentri fraksi Noron untuk sebuah tugas. Dia harus menggulingkan Ratu saat ini dan membuat malu Ibusuri Agung.


"Begini Yang Mulia, kami kurang setuju dengan anda mendukung Selir Seok untuk naik takhta nantinya." Ujar orang yang ditemui ibusuri. Kepala Mentri Perang.


"Kenapa?"


"Anda tau sendiri, Selir Seok berasal dari kalangan bangsawan rendah dan pengaruhnya tidak ada. Sedangkan kita perlu orang yang berpengaruh untuk itu."


"Lalu bagaimana? apa kau mempunyai kandidatnya?" Tanya Ibusuri kepada mentri itu.


"Anak dari Mentri Perpajakan, dia salah satu orang yang berpengaruh. Kita harus bisa mengalahkan fraksi Soron agar Yang Mulia bisa memimpin." Ujar Mentri itu menghasut Ibusuri. Ibusuri pun mengangguk menyetujui dan pergi untuk kembali ke kediamannya di Istana.


Matahari terbit kearah timur seperti biasanya, para dayang dan kasim memulai aktivitas mereka. Hwon bersiap untuk kembali ke istananya, namun saat dilihatnya Areum masih tertidur dengan pulas diapun enggan meninggalkan Areum. Areum terbangun saat dilihatnya Hwon tengah menatapnya. Hwon canggung saat ketahuan tengah menatap Areum, Hwon langsung berdiri dan pergi dari kediaman Areum. Areum hanya diam, bingung dengan apa yang dilakukan Hwon.


Areum bergegas ke Kediaman Ibusuri saat dirinya dipanggil. Areum memberikan salam sebelum duduk dihadapan Ibusuri yang tengah menunggunya. Ibusuri tersenyum dengan kedatangan Areum. Tentu saja senyum itu palsu, dia membenci Areum karena latar belakang keluarganya.


"Bagaimana keadaanmu Chunjeon? Kudengar kau keguguran?" Tanya Ibusuri pura-pura prihatin. Areum tersenyum.


"Saya baik-baik saja Ibusuri" Ujar Areum kalem.


"Syukurlah kalau kau baik-baik saja, kedatanganmu kali ini ada yang ingin aku diskusikan" Ujar Ibusuri.


"Apa itu Yang Mulia?" Tanya Areum penasaran dengan perkataan Ibusuri.


Areum mengunjungi kediaman Ibusuri Agung, kedatangannya disambut hangat Ibusuri Agung. Ibusuri Agung menyuruh Areum untuk duduk. Areum pun duduk dihadapan Ibusuri Agung. Basa-basi Areum mengobrol ringan dengan Ibusuri Agung sebelum mengutarakan maksudnya datang mengunjungi Ibusuri Agung.


"Ada apa Chunjeon?" Tanya Ibusuri Agung langsung pada intinya.


"Saya ingin mendiskusikan mengenai pengangkatan Selir baru untuk Yang Mulia Raja, Ibusuri Agung" Ujar Areum menjelaskan maksud kedatangannya.


"Kita bisa menobatkan Selir dari kerabat kita bukan?" Ujar Ibusuri Agung. Areum mencoba mengalihkan.


"Bagaimana jika calon selir dari keluarga Fraksi Namin?"


"Kenapa kau berpikiran begitu?" Tanya Ibusuri Agung.


"Anda tau sendiri jika Fraksi Namin kekuasaannya lemah." Jelas Areum.


"Aku akan memikirkan masalah ini. Apa Ibusuri memiliki calon?" Ujar Ibusuri Agung bertanya, Areum mengangguk membuat Ibusuri Agung memikirkan sebuah rencana dalam pikirannya.


"Aku mengerti itu, kembalilah ke kediamanmu Chunjeon" Ujar Ibusuri Agung, Areum mengangguk lalu undur diri dari hadapan Ibusuri Agung.


Areum berjalan menyusuri Istana untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Dia bisa melihat jika Ibusuri tidak menyukainya. Dia paham akan hal itu, tak hanya anak, ibunya juga membenci dirinya yang hanya alat ambisi keluarganya. Areum berhenti disebuah pohon sakura yang tengah bermekaran. Menatap bunga itu seketika kenangan menyesakkan muncul dibenaknya.


Sekelebat bayangan seorang lelaki yang tersenyum kepadanya sambil mengatakan 'Aku akan menikahimu dan memintamu kepada orang tuamu, Tunggu aku' Ujar bayangan lelaki itu didalam benak Areum. Seketika dada Areum sangat sesak. Areum tumbang dengan memegang dadanya yang teramat sakit, nafasnya putus-putus. Para dayang sangat panik, mereka mencoba menyadarkan Areum yang tengah mencoba bernafas. Saat Kasim akan menggendong Areum, entah dari mana datangnya Hwon datang lalu menggendong Areum bridal style dan membawanya ke kediamannya. Areum kembali bernafas, Areum terkesima melihat wajah Hwon yang tengah menggendongnya membawanya ke Daejejeon Hall. Jantungnya berdetak tak beraturan, pipinya bersemu merah merona. Hwon yang melihat itu panik, berpikir jika Areum sakit dia segera memerintahkan kasimnya memanggil tabib yang segera ditahan Areum.


"Tapi kau sempat tidak bernafas, wajahmu memerah." Jelas Hwon khawatir. Areum menggeleng, dia baik-baik saja. Hwon menghela nafasnya sambil membaringkan Areum di kasurnya. Areum menolak untuk berbaring.


"Kenapa tidak berbaring, kau harus istirahat" Ujar Hwon mengomeli Areum, melihat itu Areum tertawa kecil.


"Kenapa kau tertawa?" Tanya Hwon heran.


"Anda mengingatkan saya kepada Ibunda saya, melihat anda yang mengomel seperti seorang ibu saja" Ujar Areum tersenyum hangat, Hwon yang melihat senyum itu terkesima, entah apa yang merasuki Hwon. Hwon mencium bibir merah Areum, Areum terkejut tapi ntah dorongan dari mana, dia membalas ciuman Hwon. Tak ada yang mau berhenti hingga Areum memukul pelan dada Hwon karena kehabisan nafas. Wajah mereka merona karena malu.


"Chunjeon izinkan aku untuk belajar mencintaimu" Ujar Hwon yang membuat Areum terdiam.


'Ini bukan mimpikan?' batin Areum