Unforgettable Memories

Unforgettable Memories
Chapter 17



"Jika anda menghukum Kepala Departemen Kehakiman, anda harus menghukum saya juga karena menyebabkan kecelakaan itu terjadi" Tantang Areum kepada Hwon. Hwon tersenyum, lalu mengacak rambut Areum.


"Aku bercanda. Siapa juga yang berani menghukum kakak yang disayangi istriku ini" Gombal Hwon. Kyungsoo panas, Hwon sepertinya sengaja menekannya. Daehyun paham kenapa Areum tidak jujur kalau dia diserang. Jika mereka mengatakan itu, Areum akan diminta untuk kembali ke Istana. Bisa saja, ini jebakan. Daehyun berpikir untuk mengawasi gerak-gerik Hwon.


"Apa anda akan langsung kembali ke Istana, Yang Mulia?" Tanya Daehyun kepada Hwon.


"Tidak, aku akan menginap disini. Aku akan kembali saat Chunjeon juga kembali" Ujar Hwon, dia mencoba mengulur waktu sebisa mungkin untuk mencari hal penting yang terdapat dikediaman ini. Dia sudah menyuruh bawahan kepercayaannya untuk melihat tempat-tempat yang dirasa menyimpan benda itu.


"Kalau begitu sebaiknya anda mengganti pakaian terlebih dahulu Yang Mulia" Ujar Daehyun. Hwon menatap Areum lalu memegang tangannya.


"Chunjeon, bantu aku menukar pakaian." Ajaknya.


"Bukankah itu tugas dayang?" Ujar Areum menolak.


"Dayang Istana tidak berada disini begitu juga kasim, membantu suami menukarkan pakaian adalah tugas seorang istri bukan?" Goda Hwon, lagi-lagi mencoba mengumbar kemesraannya dengan Areum didepan Kyungsoo. Areum membantu Hwon mengganti pakaiannya. Pakaian yang dipakai Hwon bewarna sama dengan yang dikenakan Areum, seolah baju itu khusus untuk pasangan.


"Aku ingin mengelilingi pasar, maukah kau menemaniku Chunjeon" Ajak Hwon. Areum menggeleng, beralasan jika dia sedang lelah. Setelah membantu Hwon, Areum hendak keluar dari kamar itu, namun tangannya ditahan Hwon. Hwon menarik Areum dalam pelukannya.


"Kau kenapa hari ini, terlihat murung sekali? Apa ada yang mengganjal?" Tanya Hwon. Areum bungkam, dia enggan menjawab.


"Bukan apa-apa" Jawab Areum, Hwon berpikir jika Areum bersikap seperti ini karena rasa bersalah dan juga karena efek kehamilannya. Areum keluar dari kamar mereka, Kyungsoo berdiri diluar pintu kamar Areum.


"Kakak? Ada apa?" Tanya Areum. Kyungsoo lalu melihat lengan Areum.


"Apa Yang Mulia baik-baik saja?, Apa lukanya terbuka lagi?" Tanya Kyungsoo khawatir. Areum tersenyum.


"Kakak tidak perlu khawatir" Ujar Areum, Kyungsoo hendak mengacak rambut Areum namun tangannya di hentikan Hwon. Hwon menatap tajam Kyungsoo.


"Tidak baik seorang pejabat pemerintahan menyentuh istri seorang Raja" Ujar Hwon menatap Dingin Kyungsoo. Areum menghela nafasnya, lalu mendorong kedua pria itu untuk keluar. Areum membawa mereka kesebuah rumah pagoda atau Gazebo yang berada di tepian kolam ikan. Areum ingin menikmati waktunya disini, tempat yang selalu menenangkannya.


Sesampainya disana, Areum duduk sambil menatap kolam Ikan yang berada dibawah gazebo itu. Jinhae mengantarkan buah-buah asam yang diminta Areum padanya.


"Ini sayang, makanan yang kau minta pada ibu tadi." Ujar Jinhae, sambil menyelimuti tubuh Areum dengan Jangot karena cuaca yang dingin.


"Terima Kasih Ibunda" Ujar Areum, Pelayan datang membawakan berbagai macam makanan ringan dan juga teh yang akan dinikmati majikan mereka yang tengah menikmatibwaktu siang hari sambil bersantai. Areum memakan buah-buah asam itu dengan wajah sumringah. Hwon yang menatapnya pun ikut tersenyum, Hal itu tak luput dari pandangan Kyungsoo.


"Yang Mulia Ratu terlihat sangat cantik saat tersenyum" Ujar Kyungsoo, Hwon lalu menatap Kyungsoo.


"Benar, wanita yang kucintai itu sangat cantik dan menawan saat tersenyum" Ujar Hwon menatap Areum, Areum tidak mendengar perkataan mereka karena posisi duduk yang lumayan jauh. Kyungsoo tersenyum remeh mendengar ucapan Hwon.


"Anda tidak mencintai Yang Mulia Ratu, Yang Mulia" Ujar Kyungsoo tajam. Hwon terdiam, menunggu lanjutan ucapan Kyungsoo.


"Lalu, karena aku belum mencintainya kau pikir bisa berbuat sesuka hati kepada wanitaku?" Ujar Hwon dingin menatap Kyungsoo.


"Dia istriku, wanitaku, milikku. Lancang sekali kau mencintai wanita milik raja" Sambung Hwon dingin.


"Jika bukan karena anda, sayalah yang akan menjadi suaminya, jika bukan karena anda saya yang akan berdiri disisinya membahagiakannya." Balas Kyungsoo dingin.


"Kau lupa? bukan karena aku, karena Kim Daehyun dan Ibusuri Agung yang membuatnya menjadi istriku. Jangan lupa, ini semua terjadi bukan karena aku, tapi karena ambisi busuk klan kim." Kyungsoo terdiam, dia tak sanggup menjawab, dia kalah telak.


"Kau harus menjadi raja dulu, baru bisa mendapatkannya. Sekarang cukup lakukan saja peranmu sebagai Kakak kandungnya, jangan bermimpi untuk memiliki wanita yang telah menjadi milikku." bisik Hwon, lalu beranjak menghampiri Areum yang tengah asik memandangi ikan Koi sambil menyantap makanannya. Kyungsoo tak dapat meredam emosinya, dia segera bangkit untuk pergi dari sana, langkahnya terhenti saat Areum memanggilnya?.


"Kakak, mau kemana?" Tanya Areum. Kyungsoo menoleh, memaksa senyumnya.


"Kakak akan keluar, ada hal mendesak yang perlu di urus" Bohong Kyungsoo, dia hanya ingin menenangkan pikirannya.


"Begitukah? Jangan lupa pulang bawa manisan ya?" Ujar Areum seperti anak kecil, Kyungsoo tersenyum namun senyum itu pudar, saat mendengar ucapan Hwon.


"Biar aku yang belikan Chunjeon. Tuan Kyungsoo bisa repot mencarikan cemilan disaat urusannya mendesak"


"Benarkah itu kak?" Tanya Areum.


"Saya akan pulang terlambat, apa tidak apa-apa jika Yang Mulia menunggunya?" Kilah Kyungsoo.


"Akan ku tunggu, manisan yang selalu kakak belikan sangat enak. aku merindukannya" Ujar Areum, Kyungsoo tersenyum lalu pergi. Hwon hanya menatap punggung Kyungsoo lalu beralih menatap wajah Areum.


"Kenapa wajahmu kembali dingin lagi? padahal didepan kakakmu kau bertingkah seperti anak kecil, Chunjeon" Ujar Hwon merajuk.


"Berhenti berpura-pura Yang Mulia, saya tau jika anda sebenarnya jijik bersikap seperti itu kepada saya." Ujar Areum. Hwon terdiam apa maksud Areum.


"Apa maksudmu Chunjeon? Apa kau marah karena sikap kasarku selama ini?" Tanya Hwon.


"Bukan karena itu, anda bersikap kasar kepada saya pun saya terima, mengingat perlakuan kasar keluarga saya kepada anda pun tidak termaafkan." Balas Areum.


"Lalu kenapa? kenapa kau berubah dingin?. Aku tau jika ucapan ku selama ini salah, aku janji tidak akan mengulanginya. Jika memang karena itu yang membuatmu marah" Jelas Hwon.


"Saya marah bukan karena itu, lagian untuk apa saya marah, semua ini karena karma keluarga saya. saya harus menanggungnya bukan?" Ujar Areum menatap dingin Hwon, Hwon mencoba berpikir dengan keras, apa yang membuat Areum menatap benci dirinya. Keheningan menemani mereka, tak ada satu orang yang berbicara. Sibuk dan fokus dengan pikiran masing-masing, mencoba mencari jawaban atas beberapa kemungkinan. Hingga Areum memecahkan Keheningan.


"Semalam, anda kan yang menyerang saya?" Tanya Areum, Hwon terdiam dan kaget. 'bagaimana dia bisa tau?' batin Hwon bertanya dengan khawatir.