Unforgettable Memories

Unforgettable Memories
Chapter 15



Areum tampak terlihat murung dikamarnya. Makanan yang disajikan Jinhae tidak disentuhnya sama sekali. Perutnya mual, dia Ingin makan sesuatu namun perasaan ingin memuntahkan makanan tersebut membuatnya tak jadi makan. Jinhae masuk kekamar putrinya itu.


"Kenapa tidak makan? ibu bersusah payah membuatkannya" Ujar Jinhae pura-pura sedih.


"Maafkan aku Ibunda, perut ku mual" Ujar Areum memegang perutnya.


"Kalau begitu bagaimana kalau kita keluar? Kita pergi kepasar dan makan di Kedai makanan yang ada disana. Sudah lama ibu tidak pergi jalan-jalan dengan putri Ibu" Ujar Jinhae, hal itu menarik perhatian Areum. Dengan antusias dia menyetujui ajakan ibunya. Jinhae membantu Areum mengganti pakaiannya. Areum dipakaikan Hanbok bewarna lembut yang sangat cantik.


Setelah mendandani Areum, Jinhae membawa putrinya itu pergi keluar. Menikmati suasana ramai pasar di tengah hari. Mereka membeli perhiasan dan pernak-pernik. Tak hanya itu Jinhae juga memesan Hanbok baru untuk putrinya. Setelah lelah mengelilingi pasar. Mereka berhenti di sebuah Kedai makanan. Jinhae memesankan sebuah makanan untuk Areum. Saat makanan itu sampai, mualnya seakan hilang, malah dia lapar karena Aroma makanan itu menggugah seleranya. Disantapnya makanan yang ada dihadapannya dengan lahap. Jinhae tersenyum saat putrinya mau makan. Entah apa yang telah dilaluinya hingga tubuhnya sangat kurus dan lemah. Melihat Areum makan dengan lahap dihadapannya saat ini membuat Jinhae tampak senang.


Hwon tengah sibuk disebuah perpustakaan membaca buku. Kegiatannya terus diawasi bawahannya. Mereka pikir Hwon tengah membaca novel dewasa yang biasanya Hwon baca dihadapan mereka. Padahal mereka tengah dikelabui, sampul nya saja yang novel dewasa. Isinya merupakan tentang taktik berperang dan ilmu pemerintahan yang dia pelajari secara diam-diam. Dia tidak boleh mempelajari itu oleh Ibusuri Agung. Geraknya dipemerintahan juga dibatasi sehingga saat ini dia hanya bisa secara diam-diam melakukan hal itu.


Ibusuri datang mengunjungi Hwon. Hwon membungkuk hormat menyapa Ibundanya.


"Sepertinya putra ibu tengah sibuk" Ujar Ibusuri. Hwon tersenyum kepada ibunya.


"Tidak terlalu sibuk Ibunda"


"Begitukah, ada yang ingin Ibunda bahas dengan Chusang"


"Apa itu Ibunda?" Tanya Hwon penasaran.


"Ibunda tidak bisa membahasnya disini. Bagaimana jika kita bahas dikediaman Ibunda?" Hwon menyetujui dan mereka berjalan ke kediaman Ibusuri. Ibusuri segera menyuruh dayangnya untuk keluar meninggalkannya dengan Hwon di ruangannya.


"Ada Apa Ibunda?" Tanya Hwon penasaran.


"Benarkah, Jika Chunjeon tengah hamil?" Tanya Ibusuri serius.


"Benar Ibunda?" Jawab Hwon.


"Lalu kau akan membiarkannya saja?" Tanya Ibusuri.


"Apa yang akan kau lakukan?" Tanya Ibusuri.


"Aku akan membunuh janin itu Ibunda." Jelas Hwon dingin. Ibusuri tersenyum.


"Bagus, Jangan biarkan Klan Kim terus menginjak harga diri Kita. Ingat apa yang telah Keluarga itu buat kepada mendiang ayahmu dan mendiang putri mahkota" Ujar Ibusuri membangkitkan dendam Hwon.


"Ibunda tenang saja, Aku akan membunuh janin itu" Ujar Hwon mantap. Hati nuraninya dia butakan, membunuh darah dagingnya sendiri demi kepentingannya. Padahal janin kecil itu tidak bersalah, ibunya juga tidak berdosa. Namun, kenapa mereka yang menjadi korban.


Rumor mengenai Areum hamil beredar di Istana, Ibusuri Agung sendiri yang menyampaikan hal itu di persidangan Istana. Kehamilan Areum disambut dengan suka cita oleh Fraksi Soron. Mereka mengirimkan berbagai hadiah di Kediaman Daehyun. Daehyun menunjukkan berbagai macam hadiah tersebut kepada Areum. Namun Areum hanya menatap hadiah itu dengan tidak berminat. Kyungsoo yang melihat wajah tak berminat Areum membawa Areum keluar dari kediaman mereka. Kyungsoo membawa Areum kesebuah Jembatan dimana malam itu terdapat festival Lampion kertas. Puluhan Lampion kertas dihanyutkan disungai dengan harapan permintaan akan dikabulkan. Pasangan muda mudi tengah menikmati moment tersebut. Areum hanya menatap dari jauh saat gadis sebayanya tengah melukiskan permohonan mereka di lampion yang akan mereka hanyutkan. Kyungsoo membelikan sebuah lampion dan memberikannya kepada Areum.


"Lukislah permohonan anda di lampion ini Yang Mulia" Ujar Kyungsoo memberikan sebuah lampion kepada Areum. Areum menuliskan permohonannya di atas lampion tersebut dan bersama-sama mereka menghanyutkan lampion tersebut disungai.


"Terima Kasih,kak" Ujar Areum tersenyum menatap Kyungsoo. Kyungsoo membalas senyuman Areum sambil mengusap rambut Areum. Mereka berjalan menjauh dari acara festival itu mengunjungi sebuah rumah bordir yang ada disana, Kyungsoo meminta Areum menemaninya karena ada urusan penting. Kyungsoo meninggalkan Areum disebuah ruangan yang dekat dari ruangan tempat dia akan bertemu seseorang. Hidangan makanan tengah disajikan didepan Areum. Areum ditemani seorang pemain Gayageum yang akan menghiburnya dan menemaninya. Areum telah selesai menyantap makanannya. Areum berencana untuk pulang terlebih dahulu. sehingga dia hanya menitip pesan kepada pemain Gayageum yang menemaninya untuk menyampaikan kepada Kyungsoo dia akan pulang terlebih dahulu.


Areum keluar dari ruangannya, ditutupnya tubuhnya dengan Jangot dan berlalu keluar dari rumah bordir tersebut. Areum berjalan menelusuri jalan yang lumayan sepi untuk kembali ke rumahnya. Tiba-tiba seseorang menyerang Areum, serangan itu meleset dan hanya mengenai lengan Areum. Areum terduduk sambil memegang lengan nya yang terluka. Dihadapannya orang asing yang memakai pakaian serba hitam dan menggunakan kain menutup sebagian wajahnya itu tengah mengangkat pedangnya tinggi, hendak menebas tubuh Areum. Areum menutup matanya pasrah sambil memegang perutnya yang nyeri. Kyungsoo datang tepat waktu dan menangkis serangan itu menggunakan sebatang kayu yang ditemukannya saat melihat seseorang hendak mencelakai Areum. Pertarungan sengit tak dapat dielakkan. Karena penutup wajahnya terlepas orang itu segera kabur dari hadapan Kyungsoo, Kyungsoo hendak mengejarnya namun diurungkannya melihat Kondisi Areum yang terluka. Kyungsoo tidak bisa melihat wajahnya, namun penutup wajah yang terjatuh setidaknya bisa sebagai barang bukti untuk mencari orang dibalik ini. Kyungsoo menggendong Areum dan berlari pulang kerumah mereka. Sesampainya dirumah Daehyun segera memanggilkan tabib saat melihat lengan putrinya terluka. Jinhae segera mengganti pakaian putrinya dengan pakaian bersih. Namun Jinhae terkejut saat tak hanya lengan Areum yang berdarah. Bagian *********** juga berdarah.


"Gawat, Areum pendarahan" Ujar Jinhae kaget, segera diusirnya Daehyun dan Kyungsoo yang berada disana untuk keluar. Jinhae membersihkan kekacauan itu dengan bantuan Sooyoung.


"Apa yang terjadi bagaimana bisa Yang Mulia kembali dengan kondisi begitu?" Tanya Daehyun marah.


"Maafkan kelalaian saya Ayah, seseorang menyerang Yang Mulia disaat saya meninggalkan Yang Mulia untuk urusan sebentar." Sesal Kyungsoo. Daehyun tak mau lagi memarahi Kyungsoo, semoga saja kandungan Areum baik-baik saja.


"Apa kau tau siapa yang menyerang Yang Mulia?" Tanya Daehyun serius.


"Wajahnya ditutupi kain sehingga hamba tak melihatnya dengan jelas. Namun, dia meninggalkan ini" Ujar Kyungsoo sambil menunjukkan potongan kain sutra yang dijatuhkan orang itu.


"Selidiki ini diam-diam, jangan beritaukan siapapun jika ada yang berniat membunuh Yang Mulia dikediamannya. mengerti?"


"Mengerti Ayah" Ujar Kyungsoo mantap. Apapun yang terjadi dia tak akan tinggal diam, dia akan mencari dan membuat perhitungan kepada orang yang melukai Areum.