Unforgettable Memories

Unforgettable Memories
Chapter 14



Hwon menggendong sendiri Areum dan membaringkannya di Tandu Istana, disana Sooyoung sudah duduk menunggu sebagai sandaran Areum. Hwon merapikan selimut yang menutupi Areum dan mengecup kening Areum.


"Jaga dia dengan baik. Jangan lupa untuk meminumkan obatnya" Ujar Hwon kepada Sooyoung. Sooyoung mengangguk paham. Hwon menutup tirai tandu tersebut lalu memerintahkan pengawalnya untuk mengantar Areum dengan selamat. Departemen Kehakiman juga ikut mengawal Areum untuk kembali ke Kediamannya.


Kyungsoo terlebih dahulu memacu kudanya untuk pergi ke kediamannya. Ibu Kyungsoo menunggu didepan gerbang dengan keadaan yang khawatir.


"Dimana Yang Mulia Ratu, Kyungsoo?" Tanya Jinhae khawatir. Kyungsoo segera merangkul ibunya dan membawa nya masuk. Cuaca sangat dingin, ibunya tidak memakai pakaian tebal. Dia takut ibunya akan sakit.


"Ibu tenang saja, sebentar lagi tandu yang membawa Yang Mulia akan datang" Ujar Kyungsoo.


Benar saja, Tandu yang membawa Areum datang bersama para pengawal kerajaan dan bawahan Kyungsoo. Kyungsoo membuka tirai tandu lalu segera menggendong Areum untuk masuk ke kediaman mereka.


Kyungsoo membawa Areum kekamarnya, dan membaringkannya diatas Fuuton yang sudah disiapkan Jinhae. Jinhae segera menyelimuti Areum dengan tangisan.


"Kenapa ibu menangis?"Tanya Kyungsoo menatap Jinhae.


"Aku bersalah Kyungsoo, seandainya aku bisa menghentikan ambisi ayahmu mungkin putriku tidak akan berakhir seperti ini" Tangisan Jinhae semakin pecah sambil menggenggam tangan lemah putrinya.


"Lagi-lagi kau mengatakan omong kosong itu lagi. Posisinya adalah takdir dan tugasnya sebagai anggota Klan Kim" Ujar Daehyun masuk ke kamar Areum. Jinhae menatap tajam suaminya.


"Kau lihat putriku. kau lihat dia, tidakkah kau kasian padanya. Dia menderita, karena ambisi konyol mu dan Ibusuri Agung" Marah Jinhae.


"Itu bukan ambisi konyol, ini demi kepentingan keluarga" Bela Daehyun. Areum meringis tak tenang. Kyungsoo segera menghentikan pertengkaran orang tua mereka.


"Berhenti Ayah, Ibu. Yang Mulia tengah sakit." Daehyun segera keluar dari ruangan itu disusul Kyungsoo. Sedangkan Jinhae tinggal dikamar Areum.


"Ayah" Panggil Kyungsoo menghentikan langkah Daehyun.


"Ada apa?" Tanya Daehyun menatap Kyungsoo.


"Yang Mulia Ratu, Hamil" Ujar Kyungsoo, Daehyun tersenyum sumringah.


"Jadi itu alasan kau meminta Yang Mulia untuk dipindahkan ke rumah?"


"Benar, karena tanpa sengaja aku mendengar jika Yang Mulia Ratu hamil maka Yang Mulia Raja akan segera membunuh bayinya. Keselamatan mereka bisa terancam" Jelas Kyungsoo.


"Kau tenang saja, Ayah tidak akan membiarkan itu terjadi." Ujar Daehyun sambil menepuk bahu Kyungsoo.


#


"Apa benar Chunjeon tengah hamil?" Tanya Hwon kepada Kepala Tabib Istana yang tadi memeriksa Areum.


"Benar Yang Mulia, meskipun samar-samar denyut nadi yang saya rasakan. tapi bisa saya pastikan jika Yang Mulia Ratu Hamil Yang Mulia." Ujar Tabib tersebut.


Hwon tampak terdiam. Dengan wajah murung dia kembali ke kediamannya. Disana sudah menunggu Selir Jang yang ingin menemuinya.


"Yang Mulia" Ujar Selir Jang sambil membungkuk.


"Ada Apa Selir Jang datang kemari?" Tanya Hwon.


"Semalam Yang Mulia tidak mengunjungi hamba, padahal semalam waktunya anda tidur dikediaman hamba." Ujar Selir Jang dengan lirih. Hwon teringat akan hal itu.


"Maafkan aku, Chunjeon di kondisi yang sangat buruk malam itu. Aku harus menjaganya, jadi tidak jadi mengunjungimu malam itu" Jelas Hwon. Selir Jang pura-pura khawatir dengan kondisi Areum.


"Lalu bagaimana kondisi Yang Mulia Ratu saat ini Yang Mulia? benarkah anda mengirimnya kembali ke kediamannya?"


"Kalau begitu, hamba undur diri Yang Mulia, silahkan beristirahat" Ujar Selir Jang keluar dari kediaman Hwon. Selir Jang berpapasan dengan Eunwoo. Eunwoo menyapa Selir Jang tapi wanita itu tak menggubrisnya dan berlalu pergi.


Eunwoo masuk ke kamar Hwon, dilihat Raja nya itu tengah merenung dimeja kerjanya.


"Ada apa Yang Mulia?" Tanya Hwon penasaran.


"Chunjeon, dia hamil" Lirih Hwon, Eunwoo terdiam tak tau harus bereaksi bagaimana.


"Lalu bagaimana langkah anda?" Tanya Eunwoo.


"Aku harus membunuhnya, aku tak ingin anak itu lahir" Ujar Hwon. Eunwoo miris,


"Sebenci apapun anda kepada Klan Kim. Yang Mulia Ratu dan janin yang tengah dikandungnya tidak bersalah Yang Mulia, malam itu anda yang memperkosanya" Jelas Eunwoo.


"Tapi itu bukan kemauan ku, Aku dijebak malam itu. Aku tidak menginginkan anak dari rahimnya. Aku membenci keluarganya" Marah Hwon. Dendam dan kebencian kepada Klan Kim membutakan hatinya.


"Jika anda ingin membunuh bayi malang itu, saya tidak akan melarang. Itu keputusan anda, apapun akan saya dukung. Hanya saja satu permintaan saya." Ujar Eunwoo menatap Hwon.


"Jangan menyesal nantinya" Ujar Eunwoo undur diri dari hadapan Hwon, meninggalkan Hwon yang dibalut dengan rasa tak nyaman dalam dirinya. pergolakan batin antara membunuh janin tak bersalah atau membiarkan dia hidup menjadi alasan batinnya tak tenang. Barang disekitarnya menjadi pelampiasan amarahnya saat itu.


#


Mentari pagi memunculkan sinar kehangatannya, meskipun musim dingin sinar panas dari mentari pagi tetap menghangatkan orang-orang yang tengah beraktivitas. Kediaman Areum seperti biasanya selalu sibuk, para budak tengah sibuk memasak dan melaksanakan tugas masing-masing. Nyonya Kim atau Jinhae tengah memasakkan sarapan pagi untuk putri tersayangnya. Didapur dia tengah berkutat dengan bahan masakan ditemani oleh pembantunya. Meskipun mempunyai banyak pembantu, Jinhae selalu memasakkan sendiri untuk makanan yang akan dimakan keluarganya. Pembantu hanya akan membantunya saja. Jinhae membawa sarapan yang telah dimasak nya kedalam kamar Areum, putri cantiknya itu masih tertidur nyenyak seolah tak mau bangun. Jinhae menaruh makanan tersebut didekat Fuuton Areum. Jinhae mengusap lembut surai nya. Kelopak mata yang semula terpejam, terbuka menampilkan bola mata kecoklatan yang indah. Areum terbangun dari tidur yang lumayan panjang. Jinhae tersenyum sangat senang saat putrinya akhirnya bangun.


"Syukurlah Yang Mulia akhirnya anda sadar" Haru Jinhae, sambil membantu Areum bangun untuk duduk.


"Ibunda, ini dimana?" Tanya Areum lirih.


"Dikamar anda Yang Mulia." Ujar Jinhae sambil memegang lembut tangan putrinya.


"Ibunda, cukup panggil namaku saja. Jangan berbicara terlalu formal. Bagaimanapun, aku tetaplah putri Ibunda"


Jinhae tak dapat lagi membendung tangisannya. Dipeluknya Areum sambil menangis terisak-isak.


"Maafkan Ibu sayang. Maafkan Ibu" Racau Jinhae disela tangisannya.


"Kenapa Ibunda meminta maaf, ini bukanlah kesalahan Ibunda" Ujar Areum menenangkan Ibunya. Dia tak pernah sekalipun menyalahkan Ibunya. Dia paham, Ibunya tidak akan bisa melawan Ayahnya.


Jinhae menghapus air matanya, segera ditaruhnya makanan yang disiapkannya tadi didepan Areum.


"Sekarang makanlah terlebih dahulu. Putri Ibu pasti lapar" Ujar Jinhae menyuapi Areum. Namun baru mencium baunya saja Areum sangat mual. Areum akan muntah dan Jinhae segera memberikannya wadah untuk menampung muntahnya.


"Maaf Ibunda, aku mual saat mencium masakan Ibunda" Jinhae tersenyum.


"Ibu mengerti Areum, karena kau tengah hamil. Makanya kau mual" Ujar Jinhae. Areum terkejut mendengar ucapan ibunya.


"Apa ibunda? Aku hamil?" Tanya Areum memastikan, semoga saja dia salah dengar.


"Benar sayang kau tengah mengandung penerus kerajaan" Jelas Jinhae dengan senyum sumringah. Bagaikan mendengar petir di siang bolong, Areum sangat kaget dengan apa yang didengarnya.


'bagaimana ini?' batin Areum gusar.