Unforgettable Memories

Unforgettable Memories
Chapter 9



Areum membuka matanya. Denyut nadi dan nafasnya kembali secara mendadak. seolah-olah dia bangkit dari kematian. semua yang ada disana senang akhirnya ratu mereka bisa diselematkan. Namun wajah tabib tidak menunjukkan raut senang. dia lebih khawatir.


"Tuan, dimana anda menemukan penawar ini?" tanya Tabib.


"Dikota seberang, ada apa?" Tanya Kyungsoo lagi kepada Tabib. mereka yang ada disana tampak khawatir.


"Kita membutuhkan 1 botol penawar lagi. karena racun ditubuh Yang Mulia Ratu sudah menyebar ke seluruh tubuhnya sehingga Yang Mulia Ratu berhenti bernafas. beruntung kita memberikan penawar pertama dengan tepat waktu. kita membutuhkan 1 botol lagi untuk menetralisirkan semua racun ditubuh Yang Mulia Ratu." ujar Tabib. Penawar racun itu sudah tidak ada dikota Hanyang, bawahan Kyungsoo hanya berhasil membawa 1 botol kecil. Kyungsoo memerintahkan bawahannya untuk mencari lagi, mereka masih punya waktu.


"Apa kau tak bisa membuat penawarnya?" Tanya Hwon kepada tabib. tabib menggeleng. penawar racun ini butuh bahan-bahan khusus, tak hanya itu butuh waktu lama mengekstrak sari-sari dari bahan itu. Areum merintih kesakitan. Hwon yang tengah merengkuh Areum menatap Areum yang tengah kesakitan. Areum memuntahkan cairan bewarna ungu pekat. Sooyoung segera mengambil kain dan membersihkan cairan tersebut.


"Tabib, bagaimana ini apa yang terjadi?" Tanya Hwon panik.


"Racun itu sedang dinetralisirkan oleh penawarnya Yang Mulia, yang sedang Yang Mulia Ratu muntah kan ini adalah racun yang berhasil di netralisirkan." Ujar Tabib.


"Jangan tinggalkan Yang Mulia Ratu sendirian, ini saat-saat kritisnya" Ujar Tabib kepada Dayang Han dan Sooyoung.


"Kasim Jang, malam ini aku akan mendampingi Chunjeon dan tidur disini, kalian kembalilah." usir Hwon, biar dia yang merawat Areum.


"Saya akan berjaga disini"Ujar Kyungsoo menolak pergi dari tempat Areum.


"Tidak perlu, biar aku yang merawat Chunjeon"


"Yang Mulia bisa kembali kekediaman anda, saya tidak tenang jika orang lain yang merawat Yang Mulia Ratu" perkataan Kyungsoo membuat Hwon menatapnya Tajam.


"Apa kau takut aku akan mencelakai Chunjeon?" Tanya Hwon.


"Mungkin saja itu terjadi"Ujar Kyungsoo balas menatap sengit Hwon.


"Aku tau aku tak memiliki kekuasaan, namun bagaimanapun aku tetaplah raja di negeri ini. Dan dia adalah istriku. Jadi aku berhak merawatnya. Kau hanya Kakak angkatnya, kau tidak berhak merawat wanitaku."Kyungsoo terdiam, kata Hwon menohok nya.


Kyungsoo ingin membalas namun tak bisa karena Areum berteriak kesakitan sambil memegang perutnya. Hwon segera mengambil obat pereda nyeri yang diberikan tabib untuk menghentikan rasa nyeri ditubuh Areum. Karena Areum tidak bisa meminum obatnya, Hwon meminum obat itu lalu memindahkannya dari mulutnya kemulut Areum dengan ciuman, dan itu disaksikan Kyungsoo didepan matanya. Kyungsoo pergi dari hadapan Hwon karena terlalu sakit melihat kejadian itu didepan matanya.


#


Selir Jang mendapatkan laporan jika Selir Seok diselamatkan dari eksekusi oleh Ratu, Dan sekarang Ratu di kondisi kritis. Rumor beredar sangat cepat di Istana, mereka tidak percaya Ratu mencoba membunuh dirinya sendiri, mereka juga tak percaya jika Selir Seok yang mencelakai Ratu. Karena, Selir Seok orang yang sangat baik.


"Bagaimana perkembangannya?" Tanya Selir Jang kepada bawahannya. Seseorang yang tidak terlihat keberadaannya, seperti pembunuh bayaran.


"Kerja bagus, pantau terus perkembangannya dan laporkan padaku" Ucap Selir Jang.


"Baik, Nyonya" Ujar orang tersebut lalu menghilang.


Sedangkan dikediaman Keluarga Kim, Ibu Areum terus menangis dan meminta untuk ke Istana menemui putrinya. setelah mendengar dari dayang yang menyampaikan pesan jika Areum kritis hatinya sebagai ibu tidak tenang. Kyungsoo pulang kerumah, segera dihampiri Jinhae (ibu Areum) dan Daehyung.


"Bagaimana Kondisi Yang Mulia Ratu, Kyungsoo?" Tanya Jinhae menangis. Hatinya sangat sakit saat putrinya diracuni.


"Tenanglah Jinhae, putri kita baik-baik saja" Jelas Daehyun.


"Ini semua salah Kau. Jika saja kau tak mengirimnya ke Istana ini tidak akan terjadi."Marah Jinhae.


"Kau menyalahkan ku?, ini semua demi kepentingan Klan Kim" Marah Daehyun membalas ucapan istrinya.


"Bukan, ini semua karena ambisimu dan ambisi Ibusuri Agung. Jika terjadi sesuatu kepada putriku, aku tak akan tinggal diam" Marah Jinhae, Daehyun hanya diam tak mau membalas.


"Kyungsoo, bawa aku ke Istana. aku ingin bertemu Yang Mulia Ratu." Pinta Jinhae, dia ingin menemui putrinya.


"Ibu, sekarang kita tidak bisa menemui Yang Mulia. Kediamanannya di Jaga ketat. Yang Mulia Raja yang merawatnya. Besok ya kita kesana, saat ini ibu istirahat. Tenangkan diri Ibu" Pinta Kyungsoo. Hwon melarang siapapun mengunjungi Areum, keamanan kediaman Areum di Istana dijaga sangat ketat.


#


Hwon terus menatap Areum yang masih belum sadarkan diri, setiap menit dia selalu memeriksa denyut nadi Areum. Takut, jika nanti Areum berhenti bernafas lagi tanpa dia sadari. Hwon menatap dalam wajah Areum, diperhatikannya setiap detail wajah wanita dihadapannya.


Hwon merasa sangat bersalah, karena dendamnya dengan Klan Kim membutakan hatinya. dia ingat semua kekejaman keluarga Kim kepada keluarganya. Ayahnya diracuni karena menentang keluarga Kim, Istrinya Yeonhwa atau putri mahkota terdahulu juga diracuni karena bukan dari klan Kim.


Semenjak saat itu hanya satu yang selalu dia tanamkan, jangan percaya siapapun. Istana adalah musuh. Sehingga dia tak pernah percaya dengan siapapun. Eunwoo adalah sahabat kecilnya, ayah Eunwoo adalah bawahan setia ayahnya dulu. Namun, saat ayahnya meninggal ayah Eunwoo diasingkan dan tidak boleh kembali menjadi pejabat istana oleh klan Kim. Dendamnya kepada klan Kim, membuatnya tidak menyadari jika Areum berbeda dari keluarganya. Padahal gadis itu sambil ketakutan kabur dari rumah karena tak ingin menikahinya, Padahal gadis itu bisa saja tidak terlibat kekacauan ini andai dia tak membawanya keistana. Semua kata andai berputar dikepalanya.


"Kumohon Kim Areum, sadarlah. Beri aku kesempatan untuk meminta maaf. Beri aku waktu untuk menunjukkan bahwa aku menyesal." Lirih Hwon sambil menggenggam tangan Areum, namun tak ada tanggapan. tangan dingin itu masih tetap diam, wajah pucat itu tak mau bangun. Seolah dia tengah memimpikan sesuatu yang indah. Hwon melepas jubah tidurnya dan berbaring disebelah Areum sambil memeluk tubuh rapuhnya. Hwon perlahan tertidur setelah merasakan kenyamanan pelukan Areum.


#


Hwon tersadar dan kebingungan saat dia tengah duduk di singgasananya di ruang rapat istana. Disana tampak para menteri dan dewan pengadilan istana tengah menertawainya. mereka tengah menunjuknya dan mencaci makinya sebagai Raja tak berguna dan raja bodoh. dia ingin melawan namun tak bisa, banyak sekali benang yang melilit tubuh dan tangannya. dia seperti boneka yang dikendalikan oleh benang untuk menggerakkannya. Tanganya dipaksa untuk memberikan stempel kerajaan untuk semua petisi yang merugikan rakyatnya. Dirinya dikendalikan oleh Ibusuri Agung yang dengan senang hati menggerakkan kekang pada tubuhnya. Hwon berteriak marah meminta untuk dihentikan. Namun teriakannya tak ada yang menggubris, mereka masih dengan senang hati mempermainkan dirinya.