Unforgettable Memories

Unforgettable Memories
Chapter 21



Selir Jang dibawa ke sel tahanan sebelum besok dipindahkan keluar istana. Hwon sangat marah saat ini, dia tak tau siapa dalang sebenarnya. Areum sangat pucat, dia baru keguguran dan menolak untuk makan. Kondisinya buruk, pikirannya kacau. Areum hampir tumbang jika saja Dayang Han tidak menahannya.


"Yang Mulia, Ayo kembali ke kediaman anda. Anda harus istirahat" Ujar Dayang Han khawatir.


"Chunjeon, sebaiknya kau kembali ke kediamanmu." Ujar Ibusuri Agung. Areum mengangguk dan beranjak pergi. Langkahnya terhenti saat Hwon memegang tangannya, menahannya.


"Bawa tandu kemari" Perintah Hwon, bawahan Hwon bergegas membawa tandu.


"Apa yang anda lakukan?" Tanya Areum, melihat Hwon masih memegang tangannya erat. Hwon bungkam, tidak menjawab pertanyaan Areum. Tandu datang, Hwon menyuruh Areum masuk kedalam tandu. Areum menurut dan masuk kedalam tandu. Tandu membawa Areum ke kediamannya. Areum turun dari tandu dan berjalan masuk ke kediamannya. Langkahnya terhenti saat Selir Seok datang mengunjunginya.


"Selir Eui, ada apa?" Tanya Areum. Selir Eui adalah gelar Selir Seok. Selir Seok menunduk memberikan salam hormat.


"Apa kedatangan saya mengganggu anda Yang Mulia?" Tanya Selir Seok. Areum menggeleng. Areum membawa Selir Seok masuk kedalam kediamannya.


"Katakan apa yang ingin kau katakan" Ujar Areum menatap Selir Seok. Selir kesayangan Hwon. Selir Seok atau Seok Haebin. Haebin tersenyum menatap Areum.


"Apa kabar anda baik-baik saja Yang Mulia?" Tanya Hwajin khawatir. Kemalangan bertubi-tubi menimpa Areum. Dimulai dari racun yang menggerogoti tubuhnya sekarang dia mengalami keguguran.


"Aku baik. Kau tidak perlu khawatir, Euibin" panggilan itu adalah panggilan akrab seorang selir. Hwajin tersenyum senang, Areum tidak menjaga jarak dengannya dan mau akrab dengannya.


"Yang Mulia, jika anda merasa kesepian. Anda bisa memanggil saya, saya akan membantu anda" Ujar Hwajin tulus. Dia tidak menginginkan takhta yang ditempati Areum. Baginya mendampingi Hwon dan berada disisi Hwon sudah cukup. Saat Areum mempertaruhkan nyawa demi menolong dirinya membuat Hwajin berhutang budi kepada Areum. Hwajin yakin, Areum bukanlah seperti apa yang dipikirkan Hwon.


"Kau perhatian sekali, kau tidak takut padaku? bisa saja aku menjebakmu bukan atau menyingkirkan mu dari istana?" Ujar Areum, Hwajin tampak bingung.


"Karena kepolosanmu Yang Mulia menyukaimu, tapi Euibin maukah kau mendengarkan saran dariku?" Tanya Areum kepada Hwajin. Hwajin mengangguk mengiyakan.


"Seberapa dekatnya kau dengan seseorang, jangan pernah terlalu percaya padanya. Bisa saja dia hanya memanfaatkan kepercayaanmu. Istana adalah tempat dimana kita tidak bisa percaya siapapun, termasuk diri sendiri" Ujar Areum, Hwajin tercenung mendengar ungkapan bijak Areum.


"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Hwon khawatir.


"Saya baik Chaona, tidak perlu khawatir" Ujar Areum.


"Aku tidak menyangka jika dibalik ini semua adalah Selir Hui. Berani sekali dia melukaimu" Marah Hwon, Areum tersenyum mengejek.


"Anda juga berusaha membunuh saya Chaona?" Ujar Areum. Hwon terdiam,


"Bukankah sudah ku katakan jika aku berubah pikiran, Aku tidak berniat melakukannya lagi. Aku menerima bayi itu" Kilah Hwon.


"Bayi itu sudah mati sesuai keinginan anda, siapapun itu baik Selir Hui atau anda sendiri yang melakukannya. Fakta jika bayi saya telah mati tidak bisa diubah. Siapapun yang melakukannya, bukankah tujuan kalian sama? Lagian, kehadirannya hanya kecelakaan bukan? malam itu anda terpaksa melakukannya karena pengaruh ramuan bukan?" Areum menangis, Hwon bungkam.


"Jadi sebaiknya anda simpan kata maaf anda karena saya tidak akan memaafkan anda. Bukankah keberadaan saya sebagai tameng untuk anda dari keluarga saya? Saya akan melakukan tugas saya, jadi jika semua ini berakhir lepaskan saya." Sambung Areum, Hwon masih bungkam, tak ingin pergi. Kata-kata maaf sangat berat diucapkannya.


"Kenapa kau selalu berpikir buruk kepadaku? kenapa kau tidak bisa mempercayaiku? Aku menyesal. Aku bersalah, maukah kau mempercayaiku?" Bela Hwon putus asa.


"Bagaimana saya bisa percaya pada anda, kata-kata kasar anda dan perlakuan buruk anda selama ini. Lalu disaat saya mulai percaya anda mulai menerima saya, anda mencoba membunuh saya dan sekarang saya kehilangan buah hati saya. Bagaimana saya bisa menerima keadaan ini. Menyesal? Setelah anda lukai saya berkali-kali anda tidak sedikitpun menunjukkan rasa menyesal. Seharusnya kata itu anda katakan setelah malam anda memperkosa saya. Seharusnya kata itu anda ucapkan setelah mencoba melukai saya. Tapi pernahkan anda mengucapkannya? Tidak sama sekali." Racau Areum emosi.


"Apa anda pikir saya ingin posisi mendiang kekasih anda? Apa anda pikir saya merengek kepada Ayah saya untuk dinikahkan dengan anda? Apa anda pikir saya menghalalkan semua cara untuk mendapatkan posisi ini? Tidak sama sekali, saya tidak menginginkan ini semua, saya pun sama seperti anda membenci keluarga saya. Tapi saya bisa apa? saya lemah, saya tidak bisa melawan takdir yang keluarga saya buat. Kalian memanfaatkan orang lemah untuk memperkuat diri kalian. Janin saya tidak bersalah, dia mungkin tidak ingin hidup dalam tubuh kotor ini. Asalkan anda tau beberapa kali saya mencoba membunuh diri ini tapi Ibu selalu berkata, saya harus hidup, bayi saya tidak berdosa. Itu yang mencoba membuat saya kuat. Tapi kalian merenggutnya dari saya. Kenapa? Kenapa?" Areum meluapkan semua kegundahannya, meluapkan semua perasaan kacau dihatinya, menyampaikan jika hatinya juga terluka. Tak ada kata hormat lagi, tak ada perbedaan status, Areum melupakan tata krama yang selama bertahun-tahun dipelajarinya demi membebaskan perasaan sakitnya kepada Hwon.


Hwon bungkam, dia salah paham. Dia pikir Areum sama saja dengan keluarganya sehingga dia selalu menyerang Areum dengan kata-kata kasar. Tapi dia lupa, jika wanita dihadapannya ini juga korban, sama sepertinya. Korban keegoisan, korban keserakahan keluarga Kim yang ingin memiliki semuanya. Dia salah menargetkan, seharusnya bukan Areum yang dilawannya. Hwon memeluk Areum, Areum berontak. Dia benci semua orang, dia membenci mereka yang merenggut bayinya.


"Kita masih bisa memiliki anak, kita masih punya kesempatan. Aku berjanji kita akan mempunyai bayi. Hanya saja, bukan sekarang" Ujar Hwon menenangkan Areum. Areum terdiam dalam tangisan pilu, dia tidak ingin percaya dengan janji-janji manis yang Hwon ucapkan. Dia takut terluka, karena Areum tau. Hwon hanya memanfaatkannya untuk mengalahkan keluarganya. Mata itu perlahan terpejam, dia kelelahan setelah menumpahkan semua beban dipundak kecil itu. Hwon masih memeluk Areum sambil membisikkan kata-kata indah yang bisa menenangkan Areum. Hwon bersalah, Hwon menyesal. Namun, kata penyesalan terlambat baginya. Tidak ada kata memaafkan baginya dari Areum. Dia telah melukai hati itu terlalu dalam. Hwon menangis dalam keterdiamannya. Wanita ini tidak berdosa, kenapa dia tidak bisa melihat itu dan terus mencoba melukainya.