Unforgettable Memories

Unforgettable Memories
Chapter 11



Jinhae masih setia menunggu Areum terbangun. ditatapnya wajah cantik putrinya yang tidak lagi berseri, wajah itu pucat dan kehilangan rona indahnya. Dia mengusap lembut helaian rambut putrinya, sambil bercerita. Berharap putrinya mendengarkan ceritanya dan mau bangun. Harapan Jinhae terkabul, Areum membuka perlahan matanya saat Jinhae terus mengoceh mengenai masa kecil Areum.


"Ibunda" Lirih Areum, suaranya serak. Jinhae mengalihkan perhatiannya ke Areum dan tersenyum senang saat putrinya terbangun.


"Kenapa Yang Mulia? apa Yang Mulia haus? atau lapar?" Tanya Jinhae beruntun, dia segera bangun hendak memanggil para dayang saat Areum menahan tangannya.


"Aku rindu masakan Ibunda"rengek Areum. Jinhae tersenyum. Dayang Han masuk ke kamar Areum saat Areum memanggilnya.


"Iya Yang Mulia Ratu"


"Dayang Han, apakah boleh aku meminjam dapur istana sebentar? aku ingin masakan ibuku" Pinta Areum, Dayang Han mengangguk dan meminta Dayang Kepala yang lain untuk meminta izin ke Dapur Istana, Dayang Han mengambil pakaian ganti Areum dan membantu Areum mengganti pakaiannya untuk keluar.


Awalnya Jinhae menolak saat Areum ingin mengikutinya ke Dapur Istana. Namun, Areum merengek pada ibunya untuk ikut ke Dapur Istana. Dia ingin melihat ibunya memasak. Akhirnya Jinhae hanya menuruti kemauan putrinya. Areum dibantu Jinhae berjalan ke arah Dapur Istana di Ikuti oleh para dayang bawahan Areum.


Sesampainya di Dapur Istana Areum menghampiri kepala dayang yang bertanggung jawab untuk urusan di Dapur Istana, dia meminta izin untuk menggunakan dapur untuk ibunya memasak. Kepala dayang menyetujuinya dan Jinhae pun mulai memasak makanan kesukaan putrinya, dayang yang bertugas di dapur Istana membantu Jinhae memasak untuk putrinya. Areum ingin membantu namun dilarang Jinhae, sehingga dia hanya duduk sambil menunggu masakan Ibunya di Dapur Istana.Masakan pun siap. Jinhae memerintahkan dayang istana membawa makanannya ke kediaman Areum.


"Tidak perlu, aku ingin makan disini dan menikmatinya bersama"Ujar Areum sambil mengambil mangkok yang ada di Dapur Istana.


"Tidak boleh Yang Mulia, anda harus kembali ke Kediaman anda, anda belum pulih. Hamba khawatir anda akan sakit lagi." Pinta Dayang Han. Areum menggeleng.


"Benar ucapan Dayang Han, Yang Mulia. sebaiknya kita kembali." Ucap Jinhae. Areum menggeleng dan mulai menyantap makanan ibunya.


"Makanan ibunda adalah yang terbaik. Sakitku perlahan menghilang" Ucap Areum tersenyum senang, Dayang yang berada disana juga ikut tersenyum. Ratu mereka sangat baik, siapa yang tega meracuni orang sebaik ratu mereka.


Areum hanya memakan masakan ibunya namun tidak dihabiskannya. Bukan karena tidak enak, ***** makannya hilang begitu saja.


"Dayang Han, panggilkan tandu istana. ayo kita kembali" Ujar Areum, kehilangan semangatnya tadi karena rasa tak nyaman ditubuhnya.


"Kenapa Yang Mulia? apa anda baik-baik saja?" Tanya Jinhae khawatir. Areum tersenyum.


"Aku hanya lelah berjalan ibunda, aku baik-baik saja." Ujar Areum menenangkan Ibundanya. Areum dibantu untuk memasuki tandu dan mereka membawanya kembali ke kediamannya. Sesampainya di kediamannya Areum memasuki kamarnya. Sedangkan Jinhae pamit pulang karena ingin Areum beristirahat. Areum duduk bersandar dikamarnya ditemani Sooyoung dan Dayang Han. Sooyoung membawakan obat yang diberikan tabib kepada Areum. Areum meminum obat itu.


Eunwoo kembali dan segera menemui Hwon, dia berhasil menemukan penawar racun untuk Areum.


"Benarkah? kau berhasil menemukannya?" Ujar Hwon antusias. Eunwoo mengangguk dan memberikannya kepada Hwon.


"Dimana kau menemukannya?"


"Hamba menemukannya didekat perbatasan kota Hanyang. saya membutuhkan waktu lama kembali karena ada orang yang mencurigakan yang menghalangi perjalanan saya." Jelas Eunwoo. Seolah-olah mereka tidak boleh menyelamatkan Areum. Hwon pun penasaran, siapa yang berada dibalik kasus ini. Jika memang keluarga Kim, mereka tidak mungkin melakukan ini. Siapa dalangnya?


Hwon dan Eunwoo berjalan kearah kediaman Areum. Disana Areum tak sendirian, Kyungsoo berada disana. Entah kenapa Hwon tidak menyukai Kyungsoo berada disana. Areum bangkit dari duduknya dan membungkuk hormat kepada Hwon..


"Apa Departemen Kehakiman sedang senggang? sedang apa Kepala Departemen berada disini?" Sarkas Hwon. Kyungsoo menatap tajam Hwon.


"Maafkan kakak hamba Yang Mulia karena berlaku tidak sopan."


"Tidak masalah Chunjeon, lagian apakah salah jika seorang suami mengunjungi istrinya?" Tukas Hwon. sambil menarik Areum kerangkulannya. Hal itu membuat Kyungsoo panas.


Hwon tau jika kakak angkat istrinya ini mencintai Istrinya. entah kenapa membuatnya tidak suka dengan Kyungsoo.


"Sebentar lagi Tabib Istana akan kemari, Bawahan ku sudah menemukan penawar racunnya" Ujar Hwon menatap Areum. Kyungsoo tertegun, bagaimana bisa pengawal Hwon menemukannya disaat bawahannya tidak bisa menemukan penawar itu lagi.


"Bagaimana anda menemukannya Yang Mulia?" Tanya Kyungsoo penasaran.


"Bagaimana aku bisa menemukannya bukanlah urusan anda, Kepala Departemen Kehakiman" Ujar Hwon sarkas. Kyungsoo terdiam.


"Dan juga bisakah anda meninggalkan kami, ada hal yang harus dibicarakan antara suami dan istri." Kyungsoo memberikan hormat dan pergi dari sana dengan perasaan yang berkecamuk. persepsinya bisa saja benar, jika Raja orang dibalik ini semua. Hwon memberikan penawar itu kepada Areum.


"Ini apa Yang Mulia?" Tanya Areum.


"Ini penawar racun itu, jika kau meminumnya. Kau akan selamat." Ujar Hwon.


"Dan juga maafkan aku, aku sudah salah paham kepadamu" Lanjut Hwon, meminta maaf kepada Areum. Areum hanya terdiam.


"Tak masalah Yang Mulia" Ujar Areum sambil tersenyum. Areum menerima botol penawar itu.


"Apa Yang Mulia ada waktu?"


"Ada, kenapa?" Ujar Hwon heran.


"Maukah Yang Mulia menemani hamba berjalan-jalan sebentar" Ucap Areum. Hwon mengangguk setuju dan mereka pun keluar dari kediaman Areum dan berjalan beriringan ke Taman Istana. Areum menikmati udara dan pemandangan disana. Hwon terkesima melihat wajah damai Areum.


"Terima kasih Yang Mulia" Ujar Areum.


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih untuk waktu yang telah Yang Mulia luangkan buat hamba, meskipun Yang Mulia membenci hamba namun Yang Mulia mau menemani hamba kesini. Terima kasih Yang Mulia, karena sudah mencarikan penawar racun untuk mengobati hamba Dan juga terima kasih Yang Mulia, untuk pertolongan Yang Mulia saat itu, rahasia itu akan hamba simpan sampai nafas terakhir hamba" Balas Areum. Hwon terdiam mencerna kata-kata Areum. Namun, dia tak tau mau membalas apa dan berkata apa. Lidahnya kelu, dia sangat canggung. Dia membenci Klan Kim, tapi dia tidak bisa membenci Areum dan dia juga tidak bisa menerima Areum. Hati nya dilema, bayangan Yeonhwa masih terngiang-ngiang dikepalanya. Namun, kematian Yeonhwa bukan salah Areum.


"Kau berterima kasih seolah-olah akan pergi jauh saja" Ujar Hwon memecahkan suasana canggung. Areum hanya tersenyum.


"Siapa tau ajal menjemput hamba hari ini" Ujar Areum.


"Itu tidak mungkin, penawar racunnya sudah ada. Setelah kau meminumnya kau akan sembuh. Jadi jangan berpikir macam-macam" Ujar Hwon, ini hari ke 9 semenjak racun menggerogoti tubuh Areum. Nyawa Areum masih bisa selamat.


"Saya hanya berandai-andai Yang Mulia" Ucap Areum.