Unforgettable Memories

Unforgettable Memories
Chapter 12



Hwon dengan Eunwoo tengah berada diluar Istana, mereka tengah berdiskusi mengenai rencana Kudeta yang akan mereka laksanakan pada hari Berburu Kerajaan. Mereka akan mengungkapkan bukti korupsi yang dilakukan klan Kim dan menghukum Klan Kim. Namun, untuk melaksanakan itu mereka harus mempunyai bukti yang kuat mengenai kudeta yang dilakukan Klan Kim dan juga mereka butuh Klan yang mendukung mereka. Saat ini cuma Klan dari Fraksi Namin yang bisa mendukung mereka. Hanya saja Klan itu lemah tidak memiliki pengaruh sebesar pengaruh Klan Kim. tapi mereka mempunyai cukup waktu untuk itu. Sekarang yang harus mereka lakukan adalah mencari buku yang merupakan catatan kejahatan Klan Kim.


"Menurut Yang Mulia apakah buku tersebut memang ada?" tanya Eunwoo memastikan.


"Aku belum tau pasti, hanya saja dulu aku pernah mencuri dengar perdana menteri membahas mengenai buku itu dengan salah satu mentri kepercayaannya."


"Berarti Buku itu berada di Kediaman Perdana Menteri Yang Mulia"


"Benar, namun penjagaan Rumah Perdana Menteri sangat ketat. Tidak ada sedikitpun celah untuk masuk kesana." Ujar Hwon mencoba memikirkan cara. Hanya satu cara yang bisa mereka lakukan, yaitu menggunakan Ratu.


Areum menatap botol penawar racun yang diberikan Hwon. tengah malam ini adalah batas dia meminum penawar tersebut, jika tidak dia bisa mati. Dadanya sesak dan sakit bukti jika racun tersebut belum ternetralisir dengan sempurna. Areum menyimpan botol penawar racun tersebut didalam laci mejanya berniat untuk tidak meminumnya. Dia tak ingin hidup, Dia tidak ingin memuaskan ambisi Ibusuri Agung dan Ayahnya dan membuat orang lain menderita.


"Ibunda, maafkan putrimu ini ya. pergi meninggalkan ibunda terlebih dahulu. Kak Kyungsoo, maaf ya. Aku ngga bisa membalas perasaan kakak, karena aku menganggap kakak sebagai kakak kandung ku. Ayah, meskipun ayah hanya memanfaatkan aku demi kekayaan bagaimanapun aku tetap mencintai ayah. Dan juga, Yang Mulia. meskipun anda membenci hamba, tapi terima kasih untuk bantuan anda, dan maafkan hamba pergi dengan cara begini. Semoga anda bisa berbahagia" begitu isi surat Areum tulis.


Sedangkan Hwon bergegas kembali ke Istana, perasaannya tidak enak. Wajah Areum menghantui pikirannya. Ucapan Areum ditaman tadi tak bisa Hwon enyahkan. Hatinya kalut dia harus memastikan keadaan wanita itu. Apakah penawar racun itu sudah diminumnya mengingat tengah malam ini adalah waktu terakhir. Hwon memacu kudanya dengan sangat kencang, Eunwoo mengikutinya dibelakang. Penjaga Istana bergegas membukakan gerbang Istana saat Hwon meneriaki mereka. Sesampainya di Istana Hwon berlari dengan kencang ke kediaman Areum. Disana Hwon tidak menemukan dayang yang berjaga seorangpun. Hwon berlari masuk kekamar Areum dan dia terkejut saat melihat Areum tak sadarkan diri dimeja nya. 'Jangan bilang dia tidak meminumnya' batin Hwon kalut. Segera diperiksanya denyut nadi Areum dan benar saja pikirannya. Denyut nadi itu sangat lemah.


"Sial" Hwon segera menggeledah kamar Areum, mencari dimana Areum menyembunyikan penawar racunnya. waktunya tidak banyak. Setelah berupaya mencari akhirnya Hwon menemukannya di dalam laci meja dikamar Areum. Hwon segera meneguknya dan memindahkannya dari mulutnya ke mulut Areum. Areum terbatuk menerima obat yang Hwon berikan kesadarannya kembali saat merasakan pahitnya obat yang masuk ke kerongkongannya. Areum segera mendorong Hwon.


"Apa yang anda lakukan" Marah Areum. Hwon kaget, wanita yang dia ketahui orang yang sangat lembut itu bisa memarahinya juga.


" Kau yang apa-apaan? kenapa kau tidak meminum penawar racunnya? kau ingin mati?" Teriak Hwon.


"Bukankah ini yang anda mau? Kematian saya?" Hwon terdiam dengan ucapan Areum.


"Jadi jangan bertindak seolah anda peduli dengan saya disaat anda menginginkan kematian saya." Tukas Areum.


"Apa? bagaimana bisa?" Tanya Areum tak percaya.


"Karena aku yang meminumkannya. Jangan berpikir untuk mati disaat kau belum menebus dosa keluargamu" Ujar Hwon.


"Lalu anda mau saya bagaimana?" lirih Areum. Dia muak berada disituasi ini. Dia benci dengan kehidupannya.


"Tetap menjadi Ratu Negeri ini dan bantu aku melawan klan mu. Setidaknya itu adalah penebusan dosa terbaik." Ujar Hwon tegas. Areum tercenung, jadi dia harus mengkhianati keluarganya?. Namun, bukankah itu tujuannya masuk ke Istana?. Areum terdiam, nafasnya sesak dan dadanya terasa sakit, Areum memuntahkan cairan bewarna ungu dari mulutnya, Eunwoo yang baru saja datang segera berlari keluar mencari tabib saat Hwon meneriakinya memanggil tabib. Dayang Han dan Sooyoung segera berlari memasuki kamar Areum saat mendengar suara gaduh disana.


"Dari mana saja kalian? kenapa kalian tidak mengawasinya?" Marah Hwon kepada kedua dayang tersebut. Mereka membungkuk meminta maaf. Areum berada dalam rengkuhan Hwon, Areum masih memuntahkan cairan ungu tersebut dari mulutnya. Cairan yang tercampur dengan darah Areum. Tabib datang dan segera memeriksa Areum. Tabib menyuruh Dayang menyiapkan Air di Kolam pemandian Areum.


"Kau gila, tengah malam begini kau mau menyuruhnya berendam, disaat kondisinya memburuk." Ujar Hwon marah.


"Hamba mohon percaya dengan hamba Yang Mulia, dengan cara ini bisa menyelamatkan Yang Mulia Ratu" Tabib itu tak punya banyak waktu menjelaskan. Kolam pemandian Areum sudah terisi. Hwon segera menggendong Areum ke tempat pemandiannya. Hwon dan Areum sama-sama masuk kedalam kolam pemandian itu. Hwon memangku Areum dan menahan tubuh Areum. Areum menggigil kedinginan begitu juga Hwon. Areum menggigit tangannya untuk meredam rasa sakitnya. Sakitnya teramat luar biasa. Hwon kasian dengan kondisi Areum. Dayang Han masuk dengan membawa cawan berisikan ramuan obat yang dibuat oleh tabib. Areum meminum obat itu menggunakan bantuan Hwon. Hwon masih memeluk Areum dikolam pemandian itu, sedangkan Areum sudah tak sadarkan diri setelah meminum ramuan itu. Dayang Han meminta mereka berdua keluar, karena menurut tabib sudah selesai. Hwon menggendong tubuh Areum dan membawanya ke Kamar. Dayang Areum menggantikan pakaian Areum dan membaringkan Areum di tempat tidur fuuton-nya. Sedangkan Hwon, pakaiannya digantikan oleh Kasimnya yang segera datang dipanggil Eunwoo. Tabib memeriksa keadaan Areum dan bernafas lega.


"Bagaimana kondisinya?" Tanya Hwon, menghampiri fuuton Areum dan memegang tangan kecil itu.


"Racun nya berhasil dikeluarkan Yang Mulia, sekarang tinggal menunggu waktu untuk pemulihan Yang Mulia Ratu, mengingat banyaknya darah yang beliau keluarkan."


"Aku mengerti, kerja bagus. sekarang kalian keluarlah. Malam ini aku akan tidur disini" Ujar Hwon mengusir dayangnya. Dayang Areum keluar dari kamar Areum begitu juga tabib. Eunwoo juga undur diri dari sana. Hwon berbaring disamping Areum. Hwon tersadar saat mencari penawar racun tadi dia menemukan kertas di nakas kamar Areum. Segera Hwon bangkit dan menemukan kertas tersebut. Ternyata itu surat yang ditulis Areum tadi. Hwon membacanya dan merasa bersalah.


"Maafkan aku jika tadi aku berkata kasar, aku hanya tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan sayang kepada seseorang. Setidaknya aku berjanji untuk tidak melukai hatimu lagi" Ujar Hwon mengecup kening Areum. Dan berbaring tertidur disebelah Areum.