
Seperti yg dijelaksan di bagian Awal,bahwa aku seorang wanita dunia malam ( bebas kalian mau mikir aku kotor,atau wanita nakal )
Hari itu dimana pertama kalinya aku bertemu sosok seorang Hervin. Dan sama sekali sampai sekarang aku masih ngerasa bahwa ini mimpi bisa bertemu dan pernah bersama dalam waktu 1tahun bersamanya.
Malam itu,seperti biasa aku bekerja disebuah karoeke di Semarang. Tidak ada tanda-tanda khusus. Setelah selesai makeup dan siap menunggu tamu yg akan nyanyi dan minum aku stay duduk dan main Hp di dalam ruangan khusus untuk kami pemandu lagu. Jam 10 tiba-tiba Papih,dia adalah orang yg duduk didepan ruanganku menyambut tamu datang dan yg memanggil kita saat ada tamu yg memilih.
" Ayo, Icha, Yulia di Manilla" ucap papih . Manilla adalah room yg dimaksud. Ditempat kerjaku,roomnya menggunakan nama negara.
setelah mendengar itu,aku langsung bangun dan memakai parfum bersiap untuk keluar untuk mencari uang. Aku keluar bersama Yulia temanku sambil berbisik padanya.
" Semoga dapet rezeky banyak " kataku
" Amin " jawab Yulia dan hanya ku jawab dengan tawa.
Diroom,bukan cuma aku dan Yulia, pastinya ada Hervin dan ada 2 orang temannya yaitu.. Angga dan Benson,dan ada 1 anak terapis spa ditempat kerjaku. Iya,ditempatku bukan hanya Karoeke,melainkan ada Spa dan juga Lounge atau Hall untuk Dj dan Live band.
Malam itu aku ga sama Hervin,tapi aku nemenin org yg namanya Benson,Angga sama Yulia,dan Hervin ya sama terapis tadi. Setelah memperkenalkan diri kita ngobrol banyak hal layaknya org yg udah kenal lama. Tanpa disadari aku bisik ke Yulia
" Yg pake kacamata cakep ya " kataku
" Iya,itu Donny cha,aku tau dia dlu sering kesini " ucap Yulia dan hanya ku oh-riakan.
Ya, Donny itu Hervin, dia lelaki tinggi putih manis memakai kacamata. Aku ga tau kenapa Yulia sebut nama Donny padahal pas aku kenalan dia bilang namanya Hervin.
1 jam di dalam room, aku merasa canggung dengan ada nya Dia. Ntah bagaimana itu terjadi rasanya aneh, seperti ada yang mengganjal padahal tidak ada apa-apa. Perasaanku kacau,, gak karuan, bingung harus bagaimana saat itu,. Saat ku pandangi dia yang memang tidak memandangku sama sekali.
Setelah beberapa menit kemudian, ntah bagaimana perasaan tertarik padanya muncul, padahal saat itu aku sudah punya pacar yaitu Gia, Andrigia. Sebetulnya wajar aja yaaa punya rasa tertarik sama orang lain, secara aku baru pacaran, belum menikah dengan Gia. Kurasa itu hal biasa,dan mungkin banyak orang juga yang mengalami hal yang sama denganku.
Ketika semua orang bernyanyi dan minum, aku hanya duduk diam sambil menikmati Louders,, sejenis minuman alcohol yang ku pegang sejak tadi. Tiba-tiba Angga, yang bersama Yulia saat itu bertanya.
" Orang mana? " katanya
β" Bandung" kujawab datar.
β" Oh, Bandungnya mana? " tanya lagi, " aku juga ada saudara di Bandung"
β" Di Ciganitri hehe" kujawab.
Kamu heran ketika ku jawab dari Bandung. Ya, karna memang aku punya keluarga disana, tepatnya di Ciganitri. Sebetulnya bisa saja aku jawab dari Subang. Tapi, ntah bagaimana rasanya aku tidak ingin memberitau asalku, atau identitasku sebenarnya kepada meraka yang belum aku kenal jelas.
Di sana, aku berusaha agar tetap kelihatan happy, karna memang pekerjaanku seperti itu. Aku coba bernyanyi yaa walaupun suaraku pas-pasan dan kadang-kadang falsπ
Kalau gak salah waktu itu aku nyanyi lagu nya Bon Jovi yang Bed Of Rosess.
Aah, rasanya tetap canggung, melihat dia yang memang menarik untuk dijadikan teman bicara malam itu.
Mungkin karna aku gak banyak ngobrol dan gak banyak tingkah, Angga pun nanya lagi.
β " Suka lagu-lagunya Bon Jovi? " tanyanya.
β " Lumayan hehe. " kujawab.
β " Kalo Dream Teather? " tanyanya serius.
β " Suka juga kok hehe " jawabku.
β " Ok,, nyanyi bareng yaa. " pintanya.
Saat itu kami nyanyi lagunya Dream Teather yang The Spirit Carries On. Dan masih banyak hal lain yang memang tak bisa keceritakan detail,atau lebih tepatnya. Cukup kami berenam yang tau kejadian malam itu, bagaimana hangatnya Louders ditemani berbagai musik dan lawakan.
Sekedar memperjelas. Setelah kejadian itu, Aku, Benson, Angga menjadi kawan baik sampai sekarang. Dan masih ada beberapa tokoh yang akan ku ceritakan nanti.
Banyak sekali hal yang memang masih kuingat dengan samar pada malam itu, bagaimana senyumnya, caranya berbicara, caranya memperlakukan wanita memang sangat baik, ku akui. Dia memang laki-laki sempurna,beruntunglah dia yang menjadi Istrinya. Hehe..
Dua hari berlalu, bayangku tentang dia memang hanya sekilas, atau bisa dibilang hanya pada malam itu saja. Selepasnya sama sekali aku tidak pernah mencari tau siapa Dia, apa pekerjaanya, atau sebagainya. Ya memang seperti itu aku, saat itu aku hanya berfikir kenapa juga harus mikirin orang yang mungkin hanya akan bertemu denganku sekali saja? Kurasa itu tidak perlu.
Dua hari setelah kejadian malam aku bertemu Dia. Dia datang kembali, tapi hanya berdua dengan Benson. Aku tau Dia datang, karna pada saat Dia datang aku sedang berbincang di meja depan GRO. Ya,aku duduk di tempat Papih biasa duduk menunggu tamu.
Tak lama, Papih memanggil namaku untuk segera keluar.
Kupikir ada tamu lain yang memilihku. Tapi ternyata tidak, karna yang memilihku salah satu diantara mereka. Ya, Hervin dan Benson.
Kupikir lagi, yang memilihku tetaplah Benson. Nyatanya, salah. Dialah yang memilihku. Aku kaget, sempat tak percaya, bagaimana bisa? Ntahlah, apa karna kemarin dia memang ingin aku, atau bagaimana? Bahkan sampai sekarang akupun gak tau.
Kita lupakan masalahku yang merasa bingung mengapa Dia memilihku.
Bergegas keluar, lalu bertemu Dia yang kudapati sedang duduk di depan Kasir, Dia pun menyapa, aku pun begitu.
" Hei " katanya.
β" Heii " kusapa juga sambil berjabat tangan.
" Udah handle tamu cha?" katanya .
" Belum baru juga jam segini " jawabku datar.
Dari situlah kita banyak berbincang ini itu yang tidak perlu, hanya sekedar mencairkan suasana agar tidak cenderung aku yang merasa canggung,gugup dan ntah harus bagaimana karna duduk bersebelahan dengannya.
Tepatnya malam minggu, kami gak nyanyi. Melainkan hanya sekedar tongkrong di Lounge karna memang malam itu di Lounge ada Band dan Dj.
Setelah duduk , dia langsung buka bicara agar ada pembahasan.
" Ditipu gimana?" jawabku sambil mendekatkan mulut ke telinganya karna brisik.
" Kemarin aku mau pilih kamu,tapi keduluan sama Benson " katanya lagi.
" Itumah bukan ditipu tapi telat " jawabku dengan tawa,dan kamipun tertawa.
" Kamu Manis " katanya yg membuatku melotot saat minum minuman yg digelasku. Dan dia hanya senyum melihatku melotot.
Kami diam bisu ga ada topik pembicaraan apapun tapi dia memegang tanganku erat yg bikin aku salah tingkah.
Berlalu, kamipun mulai diam masing-masing dengan saling meminum Congyang, minuman khas Semarang yang menurutku enak dan sering kudapati saat sedang bekerja.
β
Tak lama dari itu, Hanna. Server karoeke teriak manggil namaku seperti ada sesuatu yang darurat. Benar saja, Hanna memberiku kabar bahwa kawanku, kawan terbaikku. Wina, masuk UGD dan belum tau apa peyebabnya.
" Hah???!! Kok bisa? " tanyaku kaget.
β" Gak tau, tadi baik-baik aja " jawab hanna bingung.
Tanpa basa-basi aku langsung turun untuk membenarkan kabar itu. Dan benar, Wina masuk UGD dikarenakan mulutnya berbusa.
Setelah ganti baju, aku naik ke Lounge untuk memastikan bahwa mereka akan segera pulang dan aku bisa datang kerumah sakit.
" Ada apa? Kok buru-buru? " tanya dia.
β" Temanku, masuk UGD,mulutnya berbusa " kujawab sambil mengatur nafas karna berlari.
β" Rumah sakit mana? " tanyanya lagi
β" Elizabeth " kujawab sambil merapihkan kaos yang kupakai.
β" Hmm, mau kuantar? " dia menawarkanku untuk pergi bersama
β" Ngga apa-apa gitu? " aku memastikan
β" Ayok. " ajak dia tanpa menjawab pertanyaanku.
Akhirnya kamipun pergi kerumah sakit, kami menggunakan mobil Ayla putih milik Benson.
Didalam mobil, ada Aku, Hervin, Benson, dan 2 kawanku Risma dan Malika. Sehingga jadi lebih sempit karna memang mobil itu kecil. Aku dibelakang bersama malika, dan Dia. Sedangkan benson nyetir bersama risma di sebelahnya.
Tiba kami di Rumah sakit, bergegas aku menemui kawanku, Wina. Kudapati dia belum juga sadar, ntah bagaimana bisa itu terjadi,tapi yang jelas. Aku langsung berfikiran dia habis make atau mengkonsumsi narkoba. Aku tau Wina, aku mengenalnya sangat baik. Dia memang suka dengan hal-hal yang menurutku membahayakan dirinya sendiri. Sudah berapa kali kunasehati untuk berhenti, tapi tetap saja tak pernah di dengar.
Tuhan, jangan sampai aku terlibat apalagi sampai mencoba nya. Dan semoga kawanku cepat menyadari atas perbuatannya bahwa itu hal yang berdampak buruk bagi dirinya sendiri.
Setelah melihat kondisi Wina. Aku keluar menuju mobil, untuk berbincang dan menjelaskan kondisi didalam.
β" Gimana? " katanya
β" Belum sadar, abis make deh kayaknya " kataku.
β" Sini duduk " dia memintaku duduk didalam mobil seperti semula.
β" Kamu, kalo mau pulang,, pulang aja. " kataku
β" Terus kamu? " tanyanya.
β" Aku disini, sampe dia sadar, pulangnya mah gampang bisa naik taxi " kujawab dia.
β" Gapapa, aku tunggu kamu, biar aku yang nganterin pulang " jawabnya ingin.
β" Apa kamu ga kerja? " tanyaku, padahal aku tau itu minggu.
β" Ngga, cuma ada ketemu orang nanti jam 9 " dia jawab memastikan.
β" Udah gapapa pulang aja, aku gamau ngerepotin kamu, apalagi mau ketemu orang pagi ini. " itu sekitar jam 5shubuh.
β" Pulang aja, tidur istirahat, aku gapapa kok. " kataku lagi memberi dia pengertian. Maksudku, aku hanya tidak ingin dia jadi gak tidur hanya karna nunggu aku pulang dari Rumah sakit.
β" Yaudah, makan dulu tapi, " jawabnya mengajak. " Yukk, ajak yang lain juga "
β" Iya, " kujawab. Sambil manggil yang lain untuk makan diwarteg depan rumah sakit.
Berkesan, hari dimana aku bisa makan satu meja bersamanya. Bertukar makanan dipiring kami. Sederhana, tapi menyenangkan mengenal seorang Hervin dari sudut pandang berbeda, kurasa Dia bukan tipekal orang yang gengsian atau malu untuk makan dengan lauk yang menurutku hambar, di warteg pinggir jalan.
" Aku pengen pipis, " setelah makan ku bicara padanya.
β" Bentar, dimana ya" jawabnya, seperti nanya sendiri. " Gak ada toilet disini "
β" Terus gimana dong? " kataku bingung. " Masa harus lari ke toilet RS, kejauhan " kataku lagi.
β" Sini aja, " katanya sambil jalan. " Indomart, aku sekalian beli rokok "
β" Iyaa " jawabku, yang ikut jalan dibelakangnya.
Setelah itu Dia pamit pulang padaku dan kawan-kawan yang ada disana.
Ohya, pada saat makan, ada beberapa orang disana. Seperti, Risma dan Malika itu sudah pasti ada, karna kami berangkat bersama.
Ada, Pak meme, dia supervisor, ada Pa bani,dia adalah keamanan karoeke tempat kerjaku. Dan ada Papi.
Sebelumnya, aku berterimakasih untuk semua tokoh yang ada dalam setiap cerita ku bersamanya. Yang senantiasa slalu mendengarkan ocehan-ocehan ku bersama Dia. Atau banyolan yang sering kali kita lakukan jika sedang bersama. Atau seperti perdebatan yang mungkin sedikit berbeda dengan pasangan lainnya. Terimkasih, mungkin, tanpa kalian cerita ini akan sangat membosankan dan cenderung hanya mengaitkan 2 belah pihak.